Senin, 13 Maret 2006
Kapitalisasi Erotisme
Abdul Munir Mulkhan
Guru Besar UIN Sunan Kalijaga
'Permusuhan' Raja Dangdut Haji Rhoma Irama dan Inul 'Ngebor' Daratista
yang marak kembali dalam rapat dengar pendapat Panitia Khusus (Pansus)
RUU Antipornografi dan Pornoaksi, mencerminkan dilema erotisme estetis
dan kesalehan. Ketika ratusan korban bencana alam, busung lapar, dan flu
burung kehabisan air mata, selebriti seni, politisi dan agamawan
berdebat tentang legalitas erotisme keindahan tubuh. Lebih indah jika
para selebriti itu menghibahkan sebagian honorariumnya guna membebaskan
penderitaan rakyat kecil tersebut, atau bangsa ini mungkin telah
benar-benar kehilangan empati dan sensitivitas kemanusian.
Lekak-lekuk tubuh pria atau wanita memiliki nilai estetis amat indah
sebagai seni teologis. Tuhan menyukai keindahan dengan maha karya
indah-Nya. Tapi, apakah orang bisa bebas mengekspresikan keindahan tubuh
dan hasrat seksualnya ke ruang publik? Selingkuh mungkin menarik, indah
dan menyenangkan bagi pelakunya, tapi apakah hal itu benar dan baik?
Problem etis ini sudah menjadi perdebatan filosofis sejak zamannya
Socrates.
Manusia cenderung munafik ketika harus memilih hasrat pribadi atau
kepentingan publik. Gejala itu bisa dilihat dari tingginya rating
tayangan erotis di berbagai stasiun televisi, koran, atau majalah.
Erotisme dikecam sekaligus dinikmati. Sensualitas erotis sebatas
komodifikasi bagian-bagian tubuh yang membangkitkan birahi seksual bagi
kerakusan kekayaan dan popularitas (kapitalisasi) tanpa kaitan mutu
peradaban.
Ketertarikan seksual pria-wanita berkait apresiasi keindahaan tubuh yang
berfungsi bagi kelangsungan sejarah. Tapi, apakah memamerkan keindahan
tubuh yang erotis atau melampiaskan hasrat seksual itu bebas dilakukan
di ruang publik? Argumen bahwa hal itu merupakan privasi subjektif atas
nama estetika, tidaklah relevan ketika dipertontonkan di ruang publik.
Kesalehan memang wilayah privasi di mana Tuhan sendiri hakim pemutusnya.
Tapi jika suatu tindakan dilakukan di ruang publik, sejumlah persyaratan
dan batasan harus dipenuhi. Setiap bangsa memiliki tradisi yang dibangun
dari pengalaman panjang warga dengan seperangkat nilai religius atau
estetis. Goyang ngebor, mengumbar paha atau payudara, lirik lagu dan
sejumlah kosa kata erotis mungkin indah. Tapi, banyak yang menilai
sebagai tindak maksiat yang tak indah.
Mati dengan bom syahid dengan banyak korban jiwa bisa bernilai spiritual
tinggi bagi pelaku, tapi banyak orang yang menilai sebagai teror tanpa
nilai spiritual ketuhanan.
Seni untuk seni
Dalil seni untuk seni, rasa estetis sebagai privasi, dan kitab suci
untuk Tuhan, tak dapat dijadikan pembenar tiap kreasi seni dan goyang
erotis. Keyakinan atas kebenaran firman Tuhan tidak bisa dijadikan
pembenar tindakan yang mengganggu privasi orang lain. Penting disadari
bahwa subjektivitas seni, estetika dan erotisme, atau spiritualitas
memiliki dimensi objektif ketika berhubungan dengan orang lain.
Hidup sosial memerlukan sejumlah batasan antara apa yang termasuk ruang
publik dan privasi. Semua orang memiliki apresiasi seni dan keindahan,
tapi orang bisa berdebat tentang apa yang disebut indah atau estetis dan
erotis. Hasrat seksual merupakan bakat bawaan manusia, juga hewan. Tapi
hasrat seksual tidak bisa dilampiaskan di sembarang waktu dan tempat.
Bagi pelaku, hubungan intim hingga orgasme merupakan sesuatu yang indah
dan bernilai spiritual tinggi, tapi menjijikkan jika dipertontonkan ke
ruang publik. Alih-alih mengapai spiritualitas, sebaliknya justru
mendegradasi martabat kemanusiaan. Pornografi dan pornoaksi adalah
wilayah publik yang bergantung pada apresiasi banyak orang sebagai
pengguna, tapi juga berhubungan dengan konsep martabat kemanusiaan. Ada
dimensi kecerdasan di dalam ekspresi seni, estetika, sensualitas dan
erotisme yang membedakan manusia dari binatang.
Mereka lupa
Banyak pihak beragumen hanya Tuhan yang berhak menilai apakah
tindakannya tergolong erotis atau saleh sehingga orang lain tidak berhak
menilai. Mereka lupa bahwa Tuhan menurunkan wahyu dan mengutus nabi dan
rasul-Nya sebagai pedoman menilai. Referensi tindakan juga bisa dicari
dari tradisi yang tersusun dari pengalaman universal manusia tanpa
bimbingan wahyu. Di sini pertanyaan tentang apa tujuan tindakan erotis
atau maksiat dalam praktik seni dan estetika itu selalu penting
diajukan.
Orang bertanya tentang efek negatif seni erotis dan siapa penanggung
jawab moral bangsa. Bagaimana pun tindakan maksiat dan erotis atau
sebaliknya di ruang publik menyumbang perkembangan moral bangsa
tersebut. Soalnya, apa ukuran keindahan seni, erotisme dan kemaksiatan,
atau kesalehan? Di sini ada sejumlah nilai otentik universal dari semua
agama dan peradaban seperti judi, selingkuh, hubungan intim tanpa ikatan
perkawinan dan erotisme. Masyarakat dan bangsa memiliki tujuan-tujuan
ideal tentang kehidupan manusia dan peradabannya.
Senang atau benci kepada sesuatu bukan ukuran indah atau tidak indah,
baik atau benar, tapi berkaitan dengan mutu kehidupan manusia. Jumlah
orang yang menyukai judi atau hubungan seksual tanpa ikatan perkawinan,
bukan ukuran judi atau hubungan intim itu boleh dilakukan. Pengalaman
bangsa-bangsa berkemajuan dan sejarah adalah guru terbaik jika bangsa
ini ingin meraih kehidupan yang lebih bermartabat.
Ikhtisar
*Apakah orang bisa bebas mengekspresikan keindahan tubuh dan hasrat
seksualnya ke ruang publik? Problem etis ini sudah menjadi perdebatan
filosofis sejak zamannya Socrates.
* Argumen bahwa hal itu merupakan privasi subjektif atas nama estetika,
tidaklah relevan ketika dipertontonkan di ruang publik.
*Dalil seni untuk seni, rasa estetis sebagai privasi dan kitab suci
untuk Tuhan, tak dapat dijadikan pembenar tiap kreasi seni dan goyang
erotis.
*Penting disadari bahwa subjektivitas seni, estetika dan erotisme, atau
spiritualitas memiliki dimensi objektif ketika berhubungan dengan orang
lain.
*Hidup sosial memerlukan sejumlah batasan antara apa yang termasuk ruang
publik dan privasi.
*Bagi pelaku, hubungan intim hingga orgasme merupakan sesuatu yang indah
dan bernilai spiritual tinggi, tapi menjijikkan jika dipertontonkan ke
ruang publik. Alih-alih mengapai spiritualitas, sebaliknya justru
mendegradasi martabat kemanusiaan.
*Ada dimensi kecerdasan di dalam ekspresi seni, estetika, sensualitas
dan erotisme yang membedakan manusia dari binatang.
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=239243&kat_id=16
--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com