http://www.eramuslim.com

Dakwah Tetapi Melupakan Mencari Nafkah
Assalamualaikum wr wb.

Bagaimana pandangan Ustadz mengenai suatu kelompok yang berdakwah dengan
cara mengembara, berkeliling ke masjid-masjid di seluruh Indonesia. Saya
sendiri kurang tahu kegiatan mereka, tetapi kemarin ada teman saya yang
diajak menikah oleh orang dari kelompok itu, tetapi teman saya masih
ragu-ragu.
Kalau tidak salah, mereka berkeliling ke pelosok-pelosok sampai
berbulan-bulan, dan (mungkin) kadang-kadang melupakan kewajiban
menafkahi anak-istri. Terima kasih atas jawabannya.

Wassalamualaikum wr. wb.

Nur Widiyanto


Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dakwah adalah bentuk kegiatan mengajak orang untuk mengenal dan
menjalankan agama Islam. Metode yang bersiat filosofis memang telah
diajarkan oleh Rasulullah SAW. Misalnya, dakwah itu harus lemah lembut,
penuh hikmah dan mau'idzah hasanah, sebagaimana disebutkan di dalam ayat
Al-Quran.

Adapun bentuk teknis pendekatannya, lebih banyak diserahkan kepada
realitas di lapangan dakwah. Sebab realitas dakwah di lapangan akan
selalu berbeda. Apa yang terjadi di masa nabi tentu berbeda dengan yang
terjadi 100 tahun kemudian. Dan tentu sangat jauh berbeda dengan yang
terjadi di masa sekarang ini.

Apa yang dilakukan oleh kelompok yang anda sebutkan itu, dalam pandangan
kami adalah merupakan variasi bentuk teknis dakwah. Mereka secara
bersama-sama melakukan perjalanan dari satu negeri ke negeri lainnya,
dari satu masjid ke masjid lainnya. Tujuannya adalah untuk mengajak
orang-orang meramaikan masjid dengan ibadah, mencari ilmu dan juga
bersilaturrahim.

Sampai pada taraf ini, rasanya tidak ada yang salah atas bentuk teknis
dakwah seperti itu. Sebab cara seperti itu ternyata juga banyak
membuahkan hasil. Begitu banyak orang yang tadinya bermalasan ke masjid
untuk shalat, kemudian memiliki semangat yang tinggi dalam berIslam.
Bahkan di banyak negeri, bentuk pendekatan dakwah seperti ini seringkali
bisa menjadi non muslim untuk masuk Islam.

Apalagi ketika di dalam masjid, mereka menerapkan pola hidup sederhana,
makan bersama dan berbagi seadanya. Mereka menerapkan keikhlasan dalam
beramal, tidak mengejar kemegahan duniawi, bahkan memberikan sebuah
kenikmatan yang seringkali tidak dirasakan oleh orang lain.

Meski demikian, belum tentu dalam kehidupan nyata mereka termasuk
orang-orang miskin dan kekurangan. Tidak sedikit di antara mereka yang
orang kaya dan bahkan berkecukupan. Banyak juga para bos dan pemilik
beberapa perusahaan yang ikut dalam dakwah mereka. Di mana secara
finansial, mereka boleh dibilang sudah makmur dan kaya. Salah satu
buktinya adalah mereka tidak pernah minta proposal dana ketika melakukan
jaulah. Semua biaya perjalanan yang terkadang sampai berbulan-bulan itu
dari hasil merogoh kocek sendiri. Padahal kalau dihutung-hitung, mereka
harus naik pesawat dari satu negara ke negara lain, juga naik kendaraan
di darat atau laut, di mana semuanya pasti membutuhkan biaya. Sepanjang
yang kami ketahui, juga tidak pernah ada discount khusus buat mereka
dalam masalah ongkos perjalanan.

Belum lagi kebutuhan makan dan minum mereka, yang pastinya juga banyak
memakan biaya. Kecuali biaya penginapan yang boleh dibilang gratis,
karena biasa tidur di masjid. Maka kalau dipikir secara nalar, dakwah
yang mereka lakukan itu justru membutuhkan biaya yang besar. Kalau
sampai mereka bisa tetap eksis melakukannya, secara hitungan matematis
dan logikanya, pastilah mereka adalah orang yang berkecukupan. Tentu
saja mereka tidak mungkin melakukan perjalanan lama ke berbagai kota,
kecuali mereka telah menyiapkan bekal untuk anak dan istri di rumah.

Kalau sampai melupakan mencari nafkah, mungkin secara husnudzdzon boleh
kita katakan bahwa merka memang sudah berkecukupan. Atau kalau mereka
memang miskin tapi melalaikan kewajiban, mungkin sudah ada yang
menanggungnya. Atau kalau pun tidak, hal itu sifatnya kasuistik saja dan
memang perlu diingatkan.

Namun secara umum sebagai sebuah alternatif bentuk pendekatan dakwah,
rasanya tidak ada yang salah dengan format seperti ini. Kecuali bila
sampai mengklaim bahwa hanya cara seperti iniah yang benar, sedangkan
cara lainnya salah. Maka hal itu tidak bisa dibenarkan.

Sebagaimana kita juga tidak boleh mengatakan bahwa bentuk dakwah yang
kita lakukan inilah yang paling benar. lantas yang dikerjakan oleh orang
lain pasti salah. Sebab bentuk teknis dakwah itu cukup banyak dan
masing-masing punya keunikan tersendiri. Semua merupakan khazanah
kekayaan umat Islam yang harus kita syukuri.

Kita mengenal ada banyak bentuk teknis dalam berdakwah seperti tabligh
akbar, majelis zikir, pengajian, mendirikan madrasah, membangun
pesantren atau mendirikan yayasan sosial. Bahkan dalam skala tertentu,
berdakwah di dalam parlemen pun bisa menjadi sebuah alternatif. Maka
janganlah kita saling menjelekkan atau saling memandang rendah sambil
mencari-cari kesalahan saudara kita sendiri.

Sebab kalau kita secara sengaja mulai mencari titik kelemahan atau
kesalahan saudara kita, tentu wajar bila yang bersangkutan pun membalas
dan melakukan tindakan yang sama. Dia pun akan mencari-cari kelemahan
kita. Kalau tindakan ini bisa diteruskan menjadi saling memperbaiki diri
masing-masing, tentu hal itu positif. Namun yang paling sering terjadi
justru sebaliknya. Setelah saling mencari kelemahan dan kekurangan
saudaranya, langkah selanjutnya adalah saling ejek, saling tuding,
saling hujat dan saling fitnah. Akhirnya kita bukan berdakwah, tetapi
sibuk mencaci maki ke kanan dan ke kiri. Nauzubillahi min zalik.

Yang paling penting sekarang adalah bagaimana kita meningkatkan
kemesraan di dalam tubuh umat Islam. Seharusnya kita perlu lebih sering
bersilaturrahim dan saling berziarah satu sama lain. Alangkah indahnya
bila masing-masing pemimpin dari beragam gerakan Islam duduk
bersama-sama dan shalat dalam satu shaf secara berjamaah. Lantas para
pendukungnya mengikuti langkah pemimpin mereka, bukan malah saling sikut
dan saling hajar sesama saudara.

Ketahuilah bahwa perbedaan pandangan yang seringkali diributkan itu,
sesungguhnya hanyalah dalam masalah furu' (cabang) bukan pada masalah
ushul (pokok). Sungguh sebuah sikap yang sangat tidak produktif buat
kebesaran Islam.

Semoga Allah SWT menyatukan hati kita semua dalam sebuah kecintaan
kepada-Nya. Semoga Allah SWT mempertemukan hati kita dalam ketaatan
kepada-Nya. Semoga Allah SWT menyatukan hati kita dalam mengajak manusia
ke dalam Islam. Semoga Allah SWT merekat hati kita dalam upaya membela
syariat-Nya. Amien

Wallahu a'lam bishshawab wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ahmad Sarwat, Lc.


Kirim email ke