Produktivitas Sebagai Slogan, Methode atau Budaya ?

 

 

Seperti yang kita ketahui dalam globalisasi ini kompetitivenes menjadi kunci bagi perusahaan untuk survive dan berkembang. Berbagai methode untuk meningkatkan produktivitas mulai bermunculan. ISO, Malcolm Baldrige, Six Sigma dan Kaizen adalah beberapa diantaranya. Dari beberapa pengalaman perusahaan/institusi yang menerapkan methode tersebut ternyata sangat beragam hasilnya. Ada yang signifikan terhadap pertumbuhan usaha, tetapi ada juga yang hasilnya tidak jauh berbeda dengan sebelum menerapkan methode diatas. Pertanyaanya kemudian, apa yang membedakannya? Produktivitas sering disebut-sebut, namun dilapangan ternyata hal tersebut tidak terjadi. Kita mungkin tahu arti produktivitas tapi terkadang tidak benar-benar memahami maknanya. Kita juga seringkali terjebak bahwa Produktivitas adalah sebatas methode yang harus dilakukan, tanpa benar-benar memahami substansinya. Maka setelah dikaji secara mendalam produktivitas tidaklah hanya sebatas methode tapi berkait dengan sikap dan cara berpikir sehari-hari. Lebih lengkapnya kita sebut sebagai Budaya Produktivitas. Hal inilah yang menyebabkan perbedaan hasil dari perusahaan/institusi yang menerapkan methode produktivitas. Bagi yang sekadar menerapkan methode produktifitas, maka segala prosedur, sistem, dan susunan organisasi hanyalah sebatas standar yang harus dipenuhi. Tapi orang-orang yang menjalankannya tidak melaksanakannya sepenuh hati karena tidak memahami inti dari produktifitas. Proses yang terjadipun alakadarnya hanya untuk memenuhi standar yang ada. Tidak ada suatu pemikiran, semangat dan cita-cita untuk melakukan yang terbaik.

 

Lalu apa sebenarnya produktivitas itu? Menurut Dewan Produktivitas Nasional, secara filosofis Produktivitas adalah sikap mental yang memiliki pandangan bahwa mutu kehidupan hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan hari depan harus lebih baik dari hari ini. Dari hal tersebut inti dari Produktivitas adalah mental untuk melakukan perbaikan secara terus menerus. Seseorang yang produktif akan selalu mengupayakan apa yang diperbuat secara efektif, efisien dan berkualitas. Yang menjadi patokan bukan bekerja keras namun bagaimana bekerja secara cerdas. Produktivitas juga tidak hanya seberapa besar yang dihasilkan dan seberapa besar hasil yang didapat tapi juga berkait dengan kepuasan untuk memberi yang terbaik dan kepuasan menerima penghargaan yang baik. Produktivitas tidak hanya berlaku bagi mereka yang bekerja secara operasional di lapangan tapi juga para manajer dan pimpinan. Produktifitas memacu orang untuk berpikir apa yang bisa saya lakukan dan bukan menghindar dari pekerjaan. Produktivitas adalah salah satu bentuk aktualisasi diri sesorang untuk menunjukkan kemapuan dan prestasinya.

 

Setelah kita memahami arti dari Produktivitas maka sekarang saatnya bagi kita untuk membangun budaya Produktif. Apa yang bisa kita lakukan supaya produktifitas tidak hanya sebatas slogan atau methode yang dilakukan. Usulan yang bisa saya berikan adalah sebagai berikut :

 

Pertama adalah membangun awareness pentingnya produktivitas. Dimulai dengan promosi produktivitas baik itu berupa poster, spanduk, bacaan, diskusi, jinggle, film dan sebagainya di tingkat perusahaan/institusi. Dengan promosi ini orang menjadi mengerti apa sebenarnya makna dan isi dari produktifitas itu. Disampaikan pula keuntungankeuntungan apa saja yang didapat dengan adanya budaya produktif. Jadi tidak hanya mengenal kata produktivitas saja. Dari kesadaran yang ditimbulkan mengenai produktivitas maka perilakunya pun akan mulai berubah. Perubahan yang terjadi pun tidak perlu dilakukan secara frontal dan besar. Tapi bagaimana perbaikan itu terjadi secara alami namun terus berkelanjutan.

 

Kedua adalah membangun sebuah komitmen bersama baik itu dari top management sampai staf operasional. Hal ini penting karena kalau staf operasional sudah produktif namun ditingkat top management tidak produktif atau sebaliknya maka hasil yang didapat tidak akan maksimal. Dengan komitmen bersama, maka satu dengan yang lain akan saling memberi masukan, mengingatkan dan berdiskusi untuk mencapai tujuan bersama. Jadi tidak ada dikriminasi untuk berlaku produktif baik bagi staf sampai top management.

 

Ketiga adalah membangun win-win condition. Memberikan penghargaan sesuai dengan apa yang dihasilkan. Artinya adalah apabila semua pihak sudah produktif dan mendapatkan hasil baik sesuai yang diharapkan maka semua pihak haris mendapatkan perhargaan yang sesuai dengan kontribusi yang diberikan. Jadi jangan sampai orang yang telah menunjukkan prestasinya mendapatkan penghargaan yang sama dengan yang biasa saja. Atau ketika semua pihak sudah produktif memberikan kontribusi besar sehingga menguntungkan perusaan /instansi tapi penghargaan yang diberikan sama saja seperti sebelumnya. Hal ini terkait bagaimana membangun hubungan Industrial/Hubungan keja yang baik. Dan hal ini yang seringkali menjadi perselisihan mengenai penghargaan yang diberikan. Seperti di ketahui dengan methode penjumlahan dalam value added kita mengenal pajak, bunga bank, depresiasi, biaya tenaga kerja dan keuntungan. Yang menjadikan perselisihan dan menjadikan unmotivated antara tenaga kerja dan pemberi kerja adalah prosentase biaya tenaga kerja. Yang sering terjadi adalah untuk mendapatkan keuntungan yang besar maka seringkali biaya tenaga kerja ditekan. Karena pajak, bunga bank dan depresiasi telah mempunyai prosentase yang tetap maka prosentase yang bisa digeser adalah prosentase biaya tenaga kerja. Secara sekilas dan sesaat hal ini paling mudah dilakukan bagi para pemberi kerja dengan hasil yang besar. Tapi bila dikaji lebih jauh dampak yang dihasilkan adalah terjadinya overhead cost disetiap bagian. Tenaga kerja menjadi kehilangan semangat kerjanya. Mereka akan berpikir memberikan yang terbaik kepada perusahaan/institusi ataupun tidak akan mendapatkan penghargaan yang sama saja. Dari sini akan menimbulkan banyak ketidak efisienan, ketidak efektifitasan dan dapat menurunkan kualitas. Ketidak teraturan tempat kerja yang akan menambah waktu proses dan meghambat kerja. Sebagai contoh peralatan yang dibiarkan berserakan. Ketidak beresan dan kerusakan mulai dibiarkan. Sebagai contoh olie yang menetes dari mesin akan dibiarkan dan dianggap sebagai hal biasa dan wajar. Konsentrasi kerja yang buyar karena sibuk mencari pendapatan sampingan untuk mencukupi kebutuhan hidup. Atau ekstrimnya malah justru menggergoti perusahaan dengan melakukan korupsi kecil-kecilan. Maka yang terpenting adalah bukan menggeser prosentase biaya tenaga kerja tapi bagaimana berpikir dan bertindak secara bersama untuk membangun keuntungan yang lebih besar. Prosentase bisa sama saja, tapi bila keuntungan membesar maka yang didapatpun akan membesar. Hal ini memamng membutuhkan kepercayaan dari tenaga kerja maupun pemeberi kerja. Bila memang keuntungan yang dihasilkan bertambah maka akan ada penambahan gaji/fasilitas kepada staf, demikian juga sebaliknya. Keberlangsungan perusahaan/institusi tidak lagi menjadi tanggung jawab pemebri kerja namun menjadi tanggung jawab semua pihak. Keuntungan perusahaan/institusi adalh keuntungan bagi semua. Keberlanjutan nasib perusahaan/isntitusi juga merupakan keberlanjutan nasib dari semua pihak. Hal ini yang akan memacu semua pihak untuk produktif.

 

Keempat adalah adanya pengukuran/penilaian dan penghargaan. Pengkuran/penilaian perlu untuk dilakukan karena dengan hail dari pengukuran/penilaian tersebut bisa menjadi bahan evaluasi sejauh apa produktifitas telah dilakukan. Pengukuran bisa dilakukan untuk setiap individu, setiap bagian dan juga di tingkat perusahaan. Dari hasil pengukuran/penilaian yang ada bisa dilakukan pengambilan keputusan yang tepat. Namun jangan lupa setelah dilakukan penilaian harus ada penghargaan yang yang diberikan. Dari hal ini pula akan muncul suatu kompetisi untuk menghasilkan yang terbaik yang pada kahirnya akan menguntungkan bagi perusahaan/institusi itu sendiri. Kelima adalah benchmark. Proses benchmarking perlu dilaksanakan ik di tingaktindividu, bagian dan perusahan. Hal ini dimaksud untuk memberikan gamabaran sejauh mana tingkat produktivitas dihasilkan. Apakah sudah maksimal atau ada yang perlu dan

bisa untuk ditingkatkan. Dengan bencmarkin bisa diketahui dimana letak kelebihan dan kekurangannya.

 

Pada akhirnya bila budaya produktivitas sudah terbentuk baik di tingkat individu, bagian atau perusahaan/institusi, maka secara alami dan natural akan terjadi perbaikan secara terus menerus dan akan menghasilkan keuntungan yang membesar. Sustainable dari perusahaan/institusi pun akan lebih terjamin.Segala methode yang digunakan untuk meningkatkan produktivitas akan bekerja secara maksimal. Dan yang terjadi adalah hubungan industrial yang semakin baik sehingga keberadaan perusahaan/institusi akan benar-benar menjadi tanggung jawab bersama.

 

Baskhoro Agung Nugroho

Staf Bidang Produktifitas DPN APINDO

 

sumber :  www.apindo.or.id

Kirim email ke