|
Produktivitas Sebagai Slogan, Methode atau Budaya
? Seperti yang kita ketahui
dalam globalisasi ini kompetitivenes menjadi kunci bagi perusahaan untuk survive
dan berkembang. Berbagai methode untuk meningkatkan produktivitas mulai
bermunculan. ISO, Malcolm Baldrige, Six Sigma dan Kaizen adalah beberapa
diantaranya. Dari beberapa pengalaman perusahaan/institusi yang menerapkan
methode tersebut ternyata sangat beragam hasilnya. Lalu apa sebenarnya
produktivitas itu? Menurut Dewan Produktivitas Nasional, secara filosofis
Produktivitas adalah sikap mental yang memiliki pandangan bahwa mutu kehidupan
hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan hari depan harus lebih baik dari
hari ini. Dari hal tersebut inti dari Produktivitas adalah mental untuk
melakukan perbaikan secara terus menerus. Seseorang yang produktif akan selalu
mengupayakan apa yang diperbuat secara efektif, efisien dan berkualitas. Yang
menjadi patokan bukan bekerja keras namun bagaimana bekerja secara cerdas.
Produktivitas juga tidak hanya seberapa besar yang dihasilkan dan seberapa besar
hasil yang didapat tapi juga berkait dengan kepuasan untuk memberi yang terbaik
dan kepuasan menerima penghargaan yang baik. Produktivitas tidak hanya berlaku
bagi mereka yang bekerja secara operasional di lapangan tapi juga para manajer
dan pimpinan. Produktifitas memacu orang untuk berpikir apa yang bisa saya
lakukan dan bukan menghindar dari pekerjaan. Produktivitas adalah salah satu
bentuk aktualisasi diri sesorang untuk menunjukkan kemapuan dan
prestasinya. Setelah kita memahami arti
dari Produktivitas maka sekarang saatnya bagi kita untuk membangun budaya
Produktif. Apa yang bisa kita lakukan supaya produktifitas tidak hanya sebatas
slogan atau methode yang dilakukan. Usulan yang bisa saya berikan adalah sebagai
berikut : Pertama adalah membangun awareness pentingnya produktivitas.
Dimulai dengan promosi produktivitas baik itu berupa poster, spanduk, bacaan,
diskusi, jinggle, film dan sebagainya di tingkat perusahaan/institusi. Dengan
promosi ini orang menjadi mengerti apa sebenarnya makna dan isi dari
produktifitas itu. Disampaikan pula keuntungankeuntungan apa saja yang didapat
dengan adanya budaya produktif. Jadi tidak hanya mengenal kata produktivitas
saja. Dari kesadaran yang ditimbulkan mengenai produktivitas maka perilakunya
pun akan mulai berubah. Perubahan yang terjadi pun tidak perlu dilakukan secara
frontal dan besar. Tapi bagaimana perbaikan itu terjadi secara alami namun terus
berkelanjutan. Kedua adalah membangun sebuah komitmen bersama baik itu dari
top management sampai staf operasional. Hal ini penting karena kalau staf
operasional sudah produktif namun ditingkat top management tidak produktif atau
sebaliknya maka hasil yang didapat tidak akan maksimal. Dengan komitmen bersama,
maka satu dengan yang lain akan saling memberi masukan, mengingatkan dan
berdiskusi untuk mencapai tujuan bersama. Jadi tidak ada dikriminasi untuk
berlaku produktif baik bagi staf sampai top
management. Ketiga adalah membangun win-win condition. Memberikan
penghargaan sesuai dengan apa yang dihasilkan. Artinya adalah apabila semua
pihak sudah produktif dan mendapatkan hasil baik sesuai yang diharapkan maka
semua pihak haris mendapatkan perhargaan yang sesuai dengan kontribusi yang
diberikan. Jadi jangan sampai orang yang telah menunjukkan prestasinya
mendapatkan penghargaan yang sama dengan yang biasa saja. Atau ketika semua
pihak sudah produktif memberikan kontribusi besar sehingga menguntungkan
perusaan /instansi tapi penghargaan yang diberikan sama saja seperti sebelumnya.
Hal ini terkait bagaimana membangun hubungan Industrial/Hubungan keja yang baik.
Dan hal ini yang seringkali menjadi perselisihan mengenai penghargaan yang
diberikan. Seperti di ketahui dengan methode penjumlahan dalam value added kita
mengenal pajak, bunga bank, depresiasi, biaya tenaga kerja dan keuntungan. Yang
menjadikan perselisihan dan menjadikan unmotivated antara tenaga kerja dan
pemberi kerja adalah prosentase biaya tenaga kerja. Yang sering terjadi adalah
untuk mendapatkan keuntungan yang besar maka seringkali biaya tenaga kerja
ditekan. Karena pajak, bunga bank dan depresiasi telah mempunyai prosentase yang
tetap maka prosentase yang bisa digeser adalah prosentase biaya tenaga kerja.
Secara sekilas dan sesaat hal ini paling mudah dilakukan bagi para pemberi kerja
dengan hasil yang besar. Tapi bila dikaji lebih jauh dampak yang dihasilkan
adalah terjadinya overhead cost disetiap bagian. Tenaga kerja menjadi kehilangan
semangat kerjanya. Mereka akan berpikir memberikan yang terbaik kepada
perusahaan/institusi ataupun tidak akan mendapatkan penghargaan yang sama saja.
Dari sini akan menimbulkan banyak ketidak efisienan, ketidak efektifitasan dan
dapat menurunkan kualitas. Ketidak teraturan tempat kerja yang akan menambah
waktu proses dan meghambat kerja. Sebagai contoh peralatan yang dibiarkan
berserakan. Ketidak beresan dan kerusakan mulai dibiarkan. Sebagai contoh olie
yang menetes dari mesin akan dibiarkan dan dianggap sebagai hal biasa dan wajar.
Konsentrasi kerja yang buyar karena sibuk mencari pendapatan sampingan untuk
mencukupi kebutuhan hidup. Atau ekstrimnya malah justru menggergoti perusahaan
dengan melakukan korupsi kecil-kecilan. Maka yang terpenting adalah bukan
menggeser prosentase biaya tenaga kerja tapi bagaimana berpikir dan bertindak
secara bersama untuk membangun keuntungan yang lebih besar. Prosentase bisa sama
saja, tapi bila keuntungan membesar maka yang didapatpun akan membesar. Hal ini
memamng membutuhkan kepercayaan dari tenaga kerja maupun pemeberi kerja. Bila
memang keuntungan yang dihasilkan bertambah maka akan ada penambahan
gaji/fasilitas kepada staf, demikian juga sebaliknya. Keberlangsungan
perusahaan/institusi tidak lagi menjadi tanggung jawab pemebri kerja namun
menjadi tanggung jawab semua pihak. Keuntungan perusahaan/institusi adalh
keuntungan bagi semua. Keberlanjutan nasib perusahaan/isntitusi juga merupakan
keberlanjutan nasib dari semua pihak. Hal ini yang akan memacu semua pihak untuk
produktif. Keempat adalah adanya pengukuran/penilaian dan penghargaan.
Pengkuran/penilaian perlu untuk dilakukan karena dengan hail dari
pengukuran/penilaian tersebut bisa menjadi bahan evaluasi sejauh apa
produktifitas telah dilakukan. Pengukuran bisa dilakukan untuk setiap individu,
setiap bagian dan juga di tingkat perusahaan. Dari hasil pengukuran/penilaian
yang ada bisa dilakukan pengambilan keputusan yang tepat. Namun jangan lupa
setelah dilakukan penilaian harus ada penghargaan yang yang diberikan. Dari hal
ini pula akan muncul suatu kompetisi untuk menghasilkan yang terbaik yang pada
kahirnya akan menguntungkan bagi perusahaan/institusi itu sendiri. Kelima adalah benchmark. Proses
benchmarking perlu dilaksanakan ik di tingaktindividu, bagian dan perusahan. Hal
ini dimaksud untuk memberikan gamabaran sejauh mana tingkat produktivitas
dihasilkan. Apakah sudah maksimal atau ada yang perlu dan
bisa untuk ditingkatkan.
Dengan bencmarkin bisa diketahui dimana letak kelebihan dan
kekurangannya. Pada akhirnya bila budaya
produktivitas sudah terbentuk baik di tingkat individu, bagian atau
perusahaan/institusi, maka secara alami dan natural akan terjadi perbaikan
secara terus menerus dan akan menghasilkan keuntungan yang membesar. Sustainable
dari perusahaan/institusi pun akan lebih terjamin.Segala methode yang digunakan
untuk meningkatkan produktivitas akan bekerja secara maksimal. Dan yang terjadi
adalah hubungan industrial yang semakin baik sehingga keberadaan
perusahaan/institusi akan benar-benar menjadi tanggung jawab bersama.
Baskhoro Agung Nugroho
Staf Bidang Produktifitas DPN APINDO
sumber : www.apindo.or.id |
[Ar-Royyan-4172] Produktivitas sebagai Slogan, Methode atau Budaya?
IHB Jakarta - Jaerony Setyadhi Tue, 09 May 2006 21:40:40 -0700

