assl.wr.wb.
Sebuah renungan .... di sebuah keadaan di pinggiran rel kereta tanah abang
( yang terkadang saya lewati ketika berangkat kerja dari rumah menuju
kampung bandan ) ....
Bersyukur kepada Alloh ..... ( lagu Opick ) kita tidak seperti mereka....
tetapi lihat di lingkungan kita ... ada yang perlu bantuan ( khususnya
mereka yang ingin berjihad dengan dana ataupun tenaga ) yakni pembangunan
masjid Ar-Royyan, yang setelah dibongkarnya gudang developer Gaperi, ketika
melihat masjid dari sisi dekat TK NF ( sengaja disingkat biar tidak dibilang
promosi ) betapa "kecil" nya masjid Ar-Royyan serta "kecil" nya gedung TPA
ketimbang rumah dibelakangnya ( punya siapa ya ? ). Padahal disanalah kita
sholat ( terlebih sholat Jum'at ) . Apalagi kalo mengingat betapa "go
international" nya website Arroyyan ( yang sedang diperbaiki disana sini dan
update ). Kalo saja mereka yang buka website tersebut, melihat masjid
Arroyyan .... masya Alloh ....
Sayang hal ini tidak disertai gambarnya ....yang tentunya lebih bisa
meyakinkan ( dari segi visual )...
akhirul kalam.
wassl.wr.wb.
Agus Rasidi
----- Original Message -----
From: "abd Rahman" <[EMAIL PROTECTED]>
BALADA WARGA MISKIN KOTA
berderik pintu hatimu
pada galau resah himpitan hidup
tagihan biaya sekolah anak-anak yang menanti
padahal tagihan beras dan gula dari warung pojok
bulan lalupun
belum lagi dilunasi...
berjingkat menerawang sendu
pada pilu melihat anak-anak yang hanya makan 2 kali sehari
hanya jajan seminggu 2 kali ( itupun bila sedang ada )
tak seperti teman-temannya di sekolah
ahh...kasian mereka punya orangtua miskin sepertiku, gumamnya
sekarang si sulung ikut jualan bantu jualan kue ibunya
sepulang sekolah berjalan di gang-gang kampung
atau perempatan jalan menjajakan kue cucur dan serabi
dan pulang sore menjelang magrib
kadang sampai malam bila sedang sepi
tapi...mungkin lebih baik begitu
daripada ikut ayah yang jadi pemulung berbaju kumal
berselendang karung
bertongkat besi panjang penancap barang-barang bekas
gelas plastik air mineral, botol-botol bekas, kardus-kardus
kertas koran, atau apa saja yang bisa di kiloin ( baca : di
jual perkilo ke
mandor penerima barang-barang hasil pemulung jalanan )
soalnya pasti anaknya akan lebih malu
kalau ketemu teman-teman sekolahnya bila jadi pemulung seperti
ayah
menjerit perih tak tahu pada siapa
berita buruk datang bagai petir tak diundang
rumah petak dari kayu dan kardus usang dipinggir rel kereta
api
keluarga miskin ini minggu depan akan di gusur Tramtib
( rumah mereka memang ilegal di jalur ini )
juga semua tetangga-tetangganya di sepanjang pinggir rel
kereta ini
baginya tergusur adalah hal yang biasa
waktu si sulung masih kecil ( rumah mereka memang ilegal di
jalur ini )
tapi itu sudah lama sekali setelah sekian lama
dan sekarang....
belum terbayang mau pindah kemana keluarga ini?
dikolong jembatan atau tidur menggelosor sembarangan di depan
toko?
dengan istri dan 2 anak ( untung si bungsu sudah 4 tahun jadi
sudah biasa
diajak jalan ibunya jualan kue )
karena kalau ngontrak rumah pasti tak mungkin punya biayanya
sang ayah melamun sendu
sambil berjalan lemah diterik siang ini
mengaduk-aduk kotak sampah rumah mewah di komplek depan
hari terasa semakin kusut
tak tahu pada siapa galau ini harus dibagi
sambil terbayang wajah si sulung
yang pasti tak konsentrasi lagi belajar di kelas sejak tahu
masalah ini
langit terik terasa gelap menggantung di dadanya
'kumaha engke waelah*...."begitu pikirnya
karena otaknya jadi lebih penat dan buntu setiap
mengingatnya......
Epri ....15/05/06 ( untuk orang-orang yang tinggal di pinggir
rel kereta di tanah
abang )
*kumaha engke wae = Bagaimana Nanti sajalah
--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com