Papa Ron's Pizza, Buah Sukses Bekas Pencuci Piring
Tuesday, 16 May 2006 13:9:35 WIB

Andai ada sebuah perusahaan waralaba nasional ternama, memasang lowongan di 
surat kabar, mencari seorang presiden direktur (presdir) dengan syarat, 
berpengalaman menjadi tukang cuci piring, mahir menyemir sepatu, dan cekatan 
sebagai loper koran, apakah di antara Anda ada yang tertantang?

Ah, jangan-jangan hanya main-main! Pasti itulah komentar Anda. Sebab, untuk 
menjadi seorang presdir, kendati hanya perusahaan sapu lidi, tentu 
persyaratannya tidak main-main. Tentu, bunyi lowongan kerja itu hanya secuil 
gambaran masa lalu seorang Ron Mullers, pemilik Papa Ron's Pizza, ketika masih 
menjadi pekerja muda dan bersahaja di negeri Paman Sam.

Kini, tak ada lagi yang membantah bahwa dia merupakan salah satu sosok dari 
segelintir orang orang-orang yang mengecap di negeri ini. Dia pula yang menjadi 
nahkoda atas puluhan perusahaan waralaba lokal, yang berada di bawah atap PT 
Eatertainment International Tk ini (PT Eatt). Tapi ketika melihat wajahnya 
nampang di Tabloid ini, mungkin Anda bergumam dalam hati: "wajar saja sukses, 
dia kan bule. Bule-bule selalu dapat privilege lebih dari pemerintah." Eiit, 
jangan beranggapan begitu, kawan! Karena kamus kata previlege tidak ada dalam 
diri Ron.

Dalam suatu kesempatan berbincang dengan Bisnis Uang, Ron pernah berkata, "Saya 
bukan berasal dari orang kaya dan saya terbiasa cuci piring, sikat sepatu. 
Mungkin sebagian kita di sini malu mengakuinya, tapi saya tidak," katanya.

Mungkin benar kata pepatah bahwa jika Anda berpikir tentang hari kemarin tanpa 
rasa penyesalan dan hari esok tanpa rasa takut, berarti Anda sudah berada di 
jalan yang benar menuju sukses. Karena itu, dia menolak anggapan kalau 
orang-orang indo seperti dia, ibarat orang yang born with the silver spoon. 
Untuk menjadi yang terbaik, segalanya bukan berada di tangan modal atau sebuah 
ras tertentu, melainkan ditunjukkan dengan kegigihan dalam bekerja keras.

Menurut pendapat dia, empati seorang pemimpin yang sejati bisa tumbuh jika dia 
pernah terlibat langsung kepada problematika kenyataan yang dialami orang-orang 
kecil. "Kalau kita dari bawah, kita bisa merasakan kenyataan yang 
sesungguhnya," ujar pria Sagitarius ini.

Menemukan identitas
Ron lahir di Pekanbaru 53 tahun lalu, dari seorang ibu berdarah Sunda Belanda. 
Hampir 5 tahun Ron kecil bermukim bersama orangtuanya di Kota Bertuah itu. 
Namun atas ajakan sang ayah-yang juga berdarah Sunda Belanda, terpaksa Ron dan 
keluarga hijrah ke Amerika Serikat (AS). Karena waktu itu banyak orang-orang 
indo seperti Ron bingung menentukan identitas kewarganegaraan. Ayah Ron pun 
tidak kerasan tinggal di negeri nenek moyangnya, Belanda, kata ayah berputeri 
dua ini mengenang.

Hanya AS yang dianggap ayah Ron waktu itu sebagai satu-satunya negara yang 
sangat terbuka dalam menampung orangorang yang confused kewarganegaraan. "Kami 
adalah sekelompok orang yang tidak tahu lagi mesti harus ke mana. Di sini 
[Indonesia] susah, di Belanda juga susah," ujar Ron menuturkan keluh-kesah 
ayahnya.

Akhimya, sejak dari sekolah dasar hingga lulus perguruan tinggi, Ron 
merampungkan semuanya di AS. Ron sendiri tidak merasa sebagai orang Belanda. 
Karena itu, sejauh-jauhnya mengembara, kampung halaman adalah tempat yang 
terbaik. Ron kembali juga ke Indonesia karena mencintai negeri ini. Selain itu, 
kakek nenek, dan keluarga besarnya telah lama bermukim di Indonesia. "Sejak 
Indonesia merdeka, saya merasa orang Indonesia," tegas mantan Ketua Perhimpunan 
Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) ini.

Kerja sebagai hobi
Alumnus sekolah perhotelan dari University of Hawaii, AS, inilah yang kemudian 
diketahui sebagai pelopor pembaw~ aneka macam bisnis franchise asing ke 
Indonesia. Dia sempat menukangi Pizza Hut dan Dairy Queen, sebelum akhirnya 
mendirikan perusahaan waralaba milik sendiri. Menurut Ron, dalam mengembangkar 
bisnis seseorang harus fokus dan total. Ha ini untuk menunjukkan keseriusan 
seseorang dalam bekerja sehingga mampu untuk memberikan yang terbaik buat tanah 
air dan disegani di dunia bisnis internasional.

Tak pelak bahwa waktu senggang sand pemilik jaringan Choice Hotel ini, otomatis 
dihabiskan untuk memonitor seluruf kelompok usahanya, sekaligus berkesempatan 
besar menjalin ikatan emosional kepada seluruh karyawannya.

"Dulu saya sering mancing dan renang Kalau sekarang, kerja merupakan hobi. Hobi 
kerja ini diakui anak-anaknya yang mengatakan bahwa Ron hobinya kini cuma 
kerja. "Jadi, saya memang senang di kantor dan jarang ada di rumah," kata pria 
yank menikahi gadis Semarang pada 1978 silam.

Dari sisi bisnis, wajah bule bisa mendatangkan manfaat tapi sekaligus 
tantangan. Misalnya untuk menjual bisnisnya ke luar negeri menjadi lebih 
gampang. "Says bisa meyakinkan mereka kalau Indonesia adalah tempat yang baik 
untuk berbisnis.

Tapi ketika mengurus segala keperlu an yang berkaitan dengan bisnis, tak jarang 
Ron dipersulit oleh oknum-oknum yang sengaja memanfaatkan tampang indonya. 
Karena dikira orang asing, maka biaya untuk mengurus segala sesuatu menjadi 
demikian mahal. "Padahal saya ini orang Indonesia dan warga negara Indonesia," 
kata Ron.

Faktor 'luck'
Untuk menjadi besar, berhasil, atau terkenal, seringkali orang memerlukan 
faktor 'luck'. Di mata Ron, faktor 'luck' bukanlah sesuatu yang datang dari 
alan gaib atau tanpa sebab seperti hoki, melainkar barang yang sangat rasional. 
'Luck', kata presdir yang terkenal deka dengan wartawan ini, adalah singkatan 
dari Location, Understanding, Connection, dan Knowledge. Tak jarang, faktor 
'luck' di sini bisa mengantarkan orang meraih kesuksesan.

Mengapa ada dua orang yang sama-sama menjadi GM di sebuah hotel tapi yang satu 
bisa jadi owner? "Ini karena dia punya luck, bisa koneksi, bapak atau omnya ada 
yang suka dengan dia," katanya. Namun, semua orang juga perlu menyadari kalau 
sukses berjalan dari sate kegagalan ke kegagalan yang lain, tanpa kita harus 
kehilangan semangat. Dan, Ron Mulers telah membuktikannya.

--
Salam
A. Yahya Sjarifuddin


--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com


Kirim email ke