|
Dari 100 % bibit
wirausaha yang tumbuh, biasanya hanya 20 % saja yang bertahan,
dan 80 % mati, begitulah tutur Jahja B. Soenarjo, Chief
Consulting Officer DIREXION yang ditemani Ir. R. Budi
Setiawan dari Assosiate Partner kepada tim liput EI Herlina
Lisa, ketika berbincang mengenai fenomena kegagalan dan
kebangkrutan entrepreneur di Indonesia dalam menjalankan
usaha. Meski fenomena ini adalah hal yang alami, menurut Jahja
bukan berarti tidak bisa dihindari. Konsultan binis dan
pemasaran ini juga melontarkan sejumlah gagasan-gagasannya
bagi entrepreneur untuk meminimalisir risiko dari kegagalan
dan kebangkrutan. Berikut petikan wawancaranya.
Bagaimana Anda melihat fenomena kebangkrutan
entrepreneur di Indonesia? Biasanya begini, dari
100 bibit wirausaha yang tumbuh, biasanya 80 % mati dan 20 %
hidup dan tetap bertahan. Tetapi dari 20% yang bertahan ini, 5
tahun kemudian akan menyusut kembali. Dalam jangka waktu 1-3
tahun pertama akan rontok, dan selebihnya akan bertahan sampai
5 tahun dan yang bertahan dalam jangka waktu lebih dari 5
tahun juga akan tersaring lagi. Jadi bangkrutnya macam-macam.
Ada yang bangkrut pada usaha dini (prematur), baru mulai juga
sudah bangkrut. Bangkrut pada saat mulai tumbuh dan bangkrut
pada tahap dewasa. Fenomena ini biasa terjadi. Kalau
bangrutnya pada saat tahap perkenalan hingga tumbuh, jarang
ada penyelamatan. Tetapi bangkrut pada saat dewasa, itu lebih
gampang. Perusahaan bisa di jual, di take over, dan cari
investor. Pada tahun 2000-2003, paling banyak perusahaan yang
bangkrut. Diantaranya perusahaan Dotcom. Komunitas ini
menjamur di mana-mana tetapi usianya tidak kurang dari 2
tahun.
Menurut Anda, apa
penyebabnya? Biasanya, mereka hanya punya ide
tetapi tidak memiliki business skill yang kuat. Jadi bibit
entrepreneur itu sangat bagus sekali, tetapi juga harus
diiringi dengan business skill sebagai fundamental yang kuat.
Oleh karena itu, harus ada pendidikan entrepreneur yang benar
agar orang-orang bisa belajar bagaimana menjadi seorang
entrepreneur yang bisa me-manage perusahaan dan bisa
menghindari jerat-jerat risiko kegagalan bisnis. Secara garis
besar kebangkrutan itu bisa disebabkan karena faktor internal,
misalnya karena miss-manajemen, seperti manajemen keluarga,
kolusi, dll. Faktor eksternal, misalnya adanya krisis moneter.
Contohnya, perusahaan yang sempat merosot dan kemudian bangkit
kembali, adalah tas Eksport. Ketika menghadapi krismon karena
tekanan cost push-nya terlalu tinggi, akhirnya mereka
melakukan revitalisasi secara total. Manajemen membuat
strategi corporate rejuvenation (peremajaan-red) biar yang
sudah mulai loyo ini tidak mati
benaran.
Penyebab yang paling dominan?
Mismanajemen. Banyaknya entrepreneur berangkat
dari sebuah hobi, atau keisengan dan tiba-tiba menjadi
pengusaha. Tetapi mereka tidak dipoles. Ya kasihan, sehingga
jalannya liar. Mereka kaget, peluang dapat dimanfaatkan, dan
order besar sehingga mereka tidak siap menyusun semuanya.
Jadinya mereka asal saja yang penting terpenuhi buat menutupi
order. Mereka tidak mengembangkan dan membuat perhitungan yang
matang. Tetapi kalau manajemen dan organisasi kuat, serta
business skill-nya bagus, dalam siatuasi dan tekanan
bagaimanapun, mereka akan bisa bertahan dan berkelit. Mereka
tahu rencana-rencana cadangan dalam menghadapi situasi sulit.
Tetapi kalau tidak memiliki itu semua, akan
jebol.
Pendapat Anda mengenai sekolah
entrepreneur yang telah ada sekarang? Kebanyakan
entrepreneur itu lahir secara alami. Embrio-embrio alami yang
tidak pernah sekolah entrepreneur yang benaran. Pendidikan
entrepreneur yang benaran itu adalah kurikulum yang sudah
dibakukan. Bagimana membuat business plan, melakukan
pengendalian usaha, dan menyusun organisasi yang baik. Nah,
sebaiknya seperti itu. Berangkat dari sebuah ide yang benar
-benar unique dan ada market-nya. Disitu dipoles kemudian
disusun business plan, di dalamnya ada sebuah strategi untuk
menggarap pasar sehingga jangan sampai embrio-embrio yang ada
tersebut tumbuh lalu hilang. Ada memang entrepreneur yang
alami, kemudian belajar secara otodidak dan sukses. Pada fase
tertentu dia bertahan bukan karena kepiawaian
entrepreneurship-nya tetapi karena kepiawaiannya memadukan
entrepreneurship dengan unsur profesionalisme. Dia mulai
mengenal manajemen dan profesional. Kalau tidak pakai
manajemen dan profesional tidak akan mungkin bertahan. Salah
satu kelemahan entrepreneur adalah mencampuradukan bisnis dan
keuangan pribadi atau keluarga.
Apakah ada hal
lain yang harus diperhatikan? Jejaring.
Entrepreneurship itu bisa besar karena kemampuannya membangun
jaringan dan kemampuan ini sangat penting. Jadi, ada baiknya
perusahaan yang lebih besar atau BUMN-BUMN untuk mewadahi
UKM-UKM sehingga ada kelembagaannya, dan membuat modul
pendidikan praktis dan sistematis yang bisa dijadikan panduan
bagi para pelaku UKM ini.
Basic apa saja yang
harus dimiliki seorang entrepereneur? Pengetahuan
manajemen, jejaring dan market. Ketiga hal ini penting.
Seorang entrepreneur harus mengetahui pasar produk atau
jasanya ada atau ngga, lalu bagaimana membangun pasar, dan
kemampuan marketing-nya juga harus ada. Rumusnya
SE = MC2 , Successfull Entrepreneur = Marketing,
Competensi, dan Conection.
Selama ini, bagaimana
pengusahaan entrepreneur terhadap market yang Anda
lihat? Masih sangat kurang. Mereka bisa membuat
sebuah produk tetapi tidak bisa mengemas produk itu dengan
baik. Kemasannya tidak menarik, brand-nya jelek bahkan
kadang-kadang tidak ada, atau ada tetapi kurang komersil
sehingga untuk masuk pasar moderen saja ngga bisa sementara
masuk pasar tradisional kemahalan. Contohnya, di Jawa Tengah
banyak sekali pelaku bisnis yang bergerak dalam bidang minuman
tradisonal. Pada awalnya mereka tidak mengerti mengenai
branding, dan market. Tetapi mereka mempunyai penguasaan pada
satu bidang. Akhirnya mereka belajar sehingga lama kelamaan
saya melihat banyak yang sukses. Mereka belajar secara
otodidak, bereksperimen untuk membuat produk lebih menarik dan
bisa masuk pasar moderen bahkan kalau lebih dikembangkan juga
bisa di ekspor.
Bagaimana Anda melihat geliat
entrepeneur di tanah air saat ini? Banyak
entrepreneur muncul karena faktor kondisi. Contohnya, orang
yang dulunya bekerja, memiliki modal, lalu jadilah dia
entrepreneur tetapi mereka tidak memiliki basic. Tetapi saya
cukup senang dengan era kepemimpinan sekarang. Banyak sekali
tumbuh bibit-bibit entrepreneur baru dengan kreatifitas yang
luar biasa. Mereka begitu berani mengambil risiko yang lebih
tinggi, melakukan terobosan-terobosan baru. Sebab entrepreneur
yang benar-benar bisa dikatakan entrepreneur adalah seorang
yang mau mengambil risiko dan melahirkan sebuah gagasan.
Tetapi juga ada follower (pengikut-red) entrepreneur yaitu
orang yang ikut-ikutan. Menjadi entrepreneur karena melihat
apa yang lagi trend dan laku, ia merasa itu adalah peluang dan
ia masuk. Contohnya, ketika Mr Celups laku yang lain itu
bukan entrepreneur murni hanya follewer dan mereka mengklaim
mereka yang pertama padahal tidak begitu. Jadi, ada orang yang
memang mengambil risiko pertama dan ada juga yang hanya
ikut-ikutan. Biasanya yang paling cepat tumbang adalah yang
kedua. Tetapi itu juga tergantung kepada yang pertama atau
perintis bagaimana dia me-manage pasarnya. Kalau tidak ia akan
bisa disalip dan ia yang tumbang.
|
|
Strategi apa yang
bisa diterapkan untuk menghindari kebangkrutan?
Salah satunya kita akan berbicara pemasaran.
Bagaimana menciptakan diffresiansi. Pesaing-pesaing bisa saja
datang silih berganti tetapi seorang entrepreneur harus
melakukan improvisasi dan inovasi. Improvisasi dalam hal
bisnis, kualitas manajemen, dan inovasi dalam hal produk.
Sehingga kompetensi Gap-nya semakin jauh dan semakin sulit
untuk di tiru dan jadilah market leader (pemimpin pasar-red)
Saran Anda bagi entrepreneur?
Dalam memulai suatu bisnis kenali diri sendiri.
Artinya, kompetensi apa yang dimiliki dan apa yang akan di
jual kepada pasar. Kedua, kenali pasarnya, konsumen dan
pesaingnya siapa. Ketiga, bangun fundamental sejak dini. Jadi,
sudah mulai menerapkan asas-asas administratif yakni, adanya
pemisahan yang jelas antara pribadi dan usaha. Keempat, bangun
jejaring bisnis serta lakukan improvisasi dan inovasi secara
berkelanjutan. Sisihkanlah dari keuntungan bisnis yang didapat
untuk melakukan improvisasi dan inovasi produk sehingga bisa
membuat perusahaan bisa semakin
bertumpuk.
oleh Herlina Lisa ( sumber
cybermqdotcom
) |