|
KEPEDULIAN SOSIAL DALAM ISLAM
Nadirsyah Hosen
Dalam kesempatan kali ini izinkan saya untuk
pertama-tama menyampaikan beberapa kisah yang terjadi pada masa Rasulullah.
Boleh jadi sebagian dari kita sudah hafal isi kisah tersebut namun kesibukan
sehari-hari membuat kita sejenak terlupa, boleh jadi sebagian dari kita sudah
paham betul esensi dari kisah yang akan disampaikan di bawah ini, namun tak ada
salahnya untuk sedikit merenungi kembali kisah-kisah ini dan berkaca ke lubuk
hati kita. Di bagian lain kita akan lihat sejumlah ayat Qur'an yang berkenaan
dengan tema utama kita kali ini.
Kita terbang lima belas abad kebelakang. Di suatu
tempat terlihat Rasulullah saw berkumpul bersama para sahabatnya yang kebanyakan
orang miskin. Sekedar menyebut beberapa nama sahabat yang hampir semuanya bekas
budak, yaitu Salman al-Farisi, Ammar bin Yasir, Bilal, Suhayb Khabab bin
Al-Arat. Pakaian mereka lusuh, berupa jubah bulu yang kasar. Tetapi mereka
adalah sahabat senior Nabi, para perintis perjuangan Islam.
Serombongan bangsawan yang baru masuk islam datang
ke majelis Nabi. Ketika melihat orang-orang di sekitar Nabi, mereka mencibir dan
menunjukkan kebenciannya. Mereka berkata kepada Nabi, "Kami mengusulkan kepada
Anda agar Anda menyediakan majelis khusus bagi kami. Orang-orang Arab akan
mengenal kemuliaan kita. Para utusan dari berbagai kabilah arab akan datang
menemuimu. Kami malu kalau mereka melihat kami duduk dengan budak-budak ini.
Apabila kami datang menemui Anda, jauhkanlah mereka dari kami. Apabila urusan
kami sudah selesai, bolehlah anda duduk bersama mereka sesuka
Anda."
Uyainah bin Hishn menegaskan lagi, "Bau Salman
al-Farisi mengangguku (Ia menyindir bau jubah bulu yang dipakai sahabat nabi
yang miskin). Buatlah majelis khusus bagi kami sehingga kami tidak
berkumpulbersama mereka. Buat juga majelis bagi mereka sehingga mereka tidak
berkumpul bersama kami."
Tiba-tiba turunlah malaikat jibril menyampaikan
surat al-An'am [6] ayat 52:
"Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang
menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki
keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan
mereka. Begitu pula mereka tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap
perbuatanmu,yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu
termasukorang-orang yang zalim."
Nabi saw segera menyuruh kaum fukara duduk lebih
dekat lagi sehingga lutut-lutut mereka merapat dengan lutut Rasulullah saw.
"Salam 'Alaikum," kata Nabi dengan keras, seakan-akan memberikan jawaban kepada
usul para pembesar Quraisy.
Setelah itu, turun lagi surat al-Kahfi [18] ayat
28:
"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan
orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap
keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena)
mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang
yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa
nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas."
Sejak itu, apabila kaum fukara ini berkumpul
bersama Nabi, beliau tidak meninggalkan tempat sebelum orang-orang miskin itu
pergi. Apabila beliau masuk ke majelis, beliau memilih duduk dalam kelompok
mereka.Seringkali beliau berkata, "Alhamdulillah, terpuji Allah yang menjadikan
di antara umatku kelompok yang aku diperintahkan bersabar bersama mereka.
Bersama kalianlah hidup dan matiku. Gembirakanlah kaum fukara muslim dengan
cahaya paripurna pada hari kiamat. Mereka mendahului masuk surga sebelum
orang-orang kaya setengah hari, yang ukurannya 500 tahun. Mereka
bersenang-senang di surga sementara orang-orang kaya tengah diperiksa
amalnya."
Sekarang bukalah cermin di hati kita. Tariklah
nafas sejenak untuk berkaca ke dalam cermin itu. Apakah kita seperti pembesar
Quraisy yang terganggu dengan bau tubuh orang miskin. Apabila tamu datang, kota
kita bersihkan dan mereka, kaum fukara, dipinggirkan. Kota baru gemerlap bila
mereka disingkirkan. Pemandangan baru indah bila rumah-rumah kumuh digusur.
Ah...betapa perilaku kita lebih menyerupai pembesar quraisy daripada perilaku
Nabi Yang Mulia.
Dalam kesempatan lain Nabi bertemu dengan seorang
sahabat, Sa'ad al-Anshari yang memperlihatkan tangannya yang melepuh karena
kerja keras. Nabi bertanya, "mengapa tanganmu hitam, kasar dan melepuh?" Sa'ad
menjawab, "tangan ini kupergunakan untuk mencari nafkah bagi keluargaku." Nabi
yang mulia berkata, "ini tangan yang dicintai Allah," seraya mencium tangan yang
hitam, kasar dan melepuh itu. Bayangkanlah, Nabi yang tangannya selalu berebut
untuk dicium oleh para sahabat, kini mencium tangan yang hitam, kasar dan
melepuh.
Bukalah cermin hati kita lagi. Turunlah kita ke
bawah. Tengoklah jutaan tangan yang hitam dan melepuh menunggu uluran kasih
sayang kita. Setelah Nabi, adakah di antara kita yang mau mencium tangan orang
miskin? Bukankah dengan status yang kita miliki, gelar akademik yang kita raih,
kesejahteraan yang kita nikmati, kita merasa jauh lebih pantas bila orang miskin
mencium tangan kita. Kalau hati terasa berat, andaikata kultur tak mengizinkan
kita berbuat hal itu, manakala ego terasa meningkat, bukankah paling tidak kita
ganti rasa hormat yang seharusnya kita berikan dengan kasih sayang pada mereka.
Bila Nabi mau mencium tangan mereka, maukah kita untuk paling tidak menyisihkan
sebagian rezeki yang kita peroleh sebagai rasa sayang kita pada
mereka.
Di atas kita telah mengutip sejumlah kisah dalam
hidup Nabi. Bukankah sebagai ummatnya kita telah berikrar untuk menjadikan
segala perilaku beliau sebagai contoh teladan (uswatun hasanah). Untuk
menguatkan bahwa Islam sangat menonjolkan kepedulian sosial, mari kita buka
Al-Qur'an. Bukankah Al-Qur'an adalah rujukan kita yang pertama dalam hidup
ini.
1. Surat al-Balad [90] ayat 10 -18
"Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan
Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuhjalan yang mendaki lagi
sukar? Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan
budakdari perbudakan, atau memberi MAKAN pada hari kelaparan (kepada) anak YATIM
yang ada hubungan kerabat, atauorang MISKIN yang sangat fakir. Dan dia termasuk
orang-orang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dansaling berpesan untuk
berkasih sayangMereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah
golongankanan"
Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa ada dua jalan
yang bisa kita pakai dalam memanfaatkan harta kita. Al-Qur'an menyarankan kita
untuk mengambil jalan yang sukar dan mendaki, yaitu memerdekakan budak atau
memberi makan pada anak yatim atau orang miskin. Allah tidak menjelaskan tentang
jalan yang mudah, melainkan memberi contoh jalan yang sukar.
Mengapa disebut jalan yang sukar? karena kebanyakan
manusia enggan atau merasa berat atau merasa sukar untuk melakukannya. Bila kita
mampu mengalahkan rasa berat dan rasa sukar pada diri kita dalam beramal, maka
Allah menjanjikan kita termasuk golongan yang kanan; ahli surga. Bukalah cermin
hati kita sekali lagi. Apakah kita merasa sukar untuk beramal pada orang miskin
dan anak yatim? Hanya cermin hati yang teramat dalam yang mampu menjawabnya
dengan jujur.
2. Surat al-Ma'arij [70] ayat 19-25
"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh
kesah lagi KIKIR, Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,dan apabila ia
mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan SHALAT,
yang mereka itutetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam HARTAnya
tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin)yang meminta dan orang yang tidak
mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)"
Secara tegas Allah menyebutkan bahwa keluh kesah
dan kikir itu telah menjadi sifat bawaan manusia sejak ia diciptakan. Allah
melukiskan sifat manusia dengan sangat baik. Bagi saya pribadi, ayat di atas
telah menelanjangi sifat kita. Bukankah kalau kita tidak memiliki harta kita
sering berkeluh kesah, sebaliknya, kalau memiliki banyak harta kita cenderung
untuk kikir. Lalu bagaimana caranya agar sifat bawaan (keluh kesah & kikir)
kita tersebut tidak menjelma atau dapat kita padamkan.
Allah menyebutkan, paling tidak, dua jalan.
Pertama, mengerjakan sembahyang secara kontinu. Kedua, menyadari bahwa dalam
harta yang kita miliki terkandung bagian tertentu untuk fakir miskin. Dua resep
ini insya Allah akan mampu memadamkan sifat keluh kesah dan sifat kikir yang
kita miliki.
Sekali lagi, bukalah cermin hati kita. Tahanlah
nafas kita untuk sejenak. Tidakkah kita rasakan bagaimana Allah menyinggung
perilaku buruk kita dalam ayat-ayat-Nya yang suci. Subhanallah....
3. Surat al-Qalam [68] ayat 17-33
"Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin
Mekkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilikkebun, ketika mereka
bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil) nya di pagi hari,
dan merekatidak mengucapkan : insya Allah
Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang)
dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun ituhitam seperti
malam yang gelap gulita, lalu mereka panggil memanggil di pagi hari
"Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu
hendak memetik buahnya."
Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan. "Pada
hari ini janganlah ada seorang MISKINpun masuk ke dalamkebunmu." Dan
berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin)
padahal merekamampu (meonolongnya),
Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata:
"Sesungguhnya kita benar-benar oarng-orang yang sesat (jalan),bahkan kita
dihalangi (dari memperoleh hasilnya)"
Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di
antara mereka: "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu,hendaklah kamu bertasbih
(kepada Tuhanmu)?"
Mereka mengucapkan: "Maha Suci Tuhan kami,
sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim."
Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain
seraya cela mencela Mereka berkata: "Aduhai celakalah kita;sesungguhnya kita ini
adalah orang-orang yang melampaui batas.Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan
gantikepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita
mengharapkan ampunan dari Tuhan kita"
Seperti itulah azab (dunia). Dan sesungguhnya azab
akhirat lebih besar jika mereka mengetahui"
Sekelompok ayat di atas menceritakan sebuah kisah
nyata yang terjadi sebelum masa Rasulullah. Kisah pemilik kebun di atas
melukiskan dengan sangat baik betapa harta manusia itu tak ada artinya
dibandingkekuasaan Allah. Kebun yang sudah sekian lama diurus dan tinggal
sekejap mata saja untuk dipetik hasilnya menjadi musnah terbakar. Apa kesalahan
pemilik kebun tersebut sehingga mendapat azab sedemikian rupa?
Pertama, mereka lupa bahwa Allah berkuasa atas
segala sesuatu. Ini dilukiskan dalamayat di atas ketika mereka tidak menyebut
insya Allah; mereka merasa pasti akan meraih hasil yang luar biasa. Mereka lupa
bahwa sedetik kedepan kita tak tahu apa yang terjadi dengan hidup kita. Kita tak
tahu "skenario" Allah terhadap diri kita.
Kedua, mereka bersifat kikir. Mereka sudah
bersiap-siap agar orang miskin tak bisa masuk ke kebun mereka saat panen tiba.
Allah murka pada mereka. Allah turunkan azab-Nya pada mereka. Di akhir ayat
Allah mengingatkan bahwa azab yang Allah timpakan pada pemilik kebun hanyalah
azab dunia; sedangkan azab akherat jauh lebih besar lagi!
Cermin hati kita mengatakan bahwa agar tidak
tertimpa azab Allah di dunia, manakala kita memiliki kelebihan rezeki maka
janganlah sungkan untuk memberi sebagian pada orang miskin. Cermin hati telah
berkata, mampukah kita melaksanakan kata-hati kita?
Kalau Allah mampu memusnahkan dengan amat mudah
kebun yang siap dipanen, jangan-jangan Allah pun akan memusnahkan sumber
penghasilan kita, bila kita berlaku kikir! Na'udzu billah...
Demikianlah sekedar pengantar untuk pengajian kita;
sekedar saling ingat mengingatkan bahwa di cermin hati kita telah tergambar
sejumlah orang yang membutuhkan kepedulian kita. Persoalannya, maukah kita
melihat ke dalam cermin tersebut?
(*)
Catatan : Naskah di atas saya sampaikan untuk
pengajian al-Hikmah, Armidale-Australia.Tentu saja karena sifatnya pengajian,
maka sejumlah buku rujukan yang semestinya tertera tidak dituliskan, semata
karena alasan praktis saja.
Semoga bermanfaat
|

