---------- Forwarded message ----------
From: jundi 007 <[EMAIL PROTECTED]>
Date: May 28, 2006 7:38 PM
Subject: [myQers] Indonesia (Kembali) Menangis
To: "[email protected]" <[email protected] >, "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>, " [EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>, "[EMAIL PROTECTED]" < [EMAIL PROTECTED]>
Indonesia (Kembali) Menangis
Muchus Budi R. - detikcom
Yogyakarta - Sabtu 27 Mei pukul 05.54 WIB, terjadi gempa bumi besar.
Goncangannya dapat dirasakan di seantero Pulau Jawa bagian tengah.
Yogyakarta, salah satu kota terpenting di Jawa --bahkan mungkin juga di
Indonesia saat ini-- lumpuh. Indonesia kembali menangis.
Bagi sebagian orang, mungkin pagi itu masih dinilai terlalu dini untuk
memulai akivitas kehidupan. Apalagi bagi yang sedang menikmati liburan
panjang. Namun sepagi itu, gempa mengayun mereka. Guncangannya terasa
teramat besar.
Semula banyak orang menduga gempa tersebut adalah akibat aktivitas Gunung
Merapi yang memang sudah sejak tiga pekan terakhir dinyatakan dalam status
'awas'.
Badan Meterologi dan Geofisika (BMG) mencatat bahwa pusat gempa berada di
37 km selatan Yogyakarta pada kedalaman 33 km di bawah dasar laut Samudera
Indonesia. Kekuatan gempa mencapai 5,9 pada skala richter.
Cukup mengerikan, pusat gempa yang berada di selatan pulau, guncangannya
yang besar dapat dirasakan di kota-kota Pulau Jawa yang berada di pesisir
utara seperti Semarang, Pati, Kendal dan lain-lainnya.
Dampak lebih mengerikan lagi, terutama di daerah-daerah sisi selatan Pulau
Jawa bagian tengah. Seluruh bagian DI Yogyakarta, Klaten, Boyolali,
Sukoharjo, Karanganyar, Solo, Sragen, Wonogiri, Magelang, Wonosobo semua
menderita.
Ribuan rumah roboh seketika, ribuan orang meninggal tertimpa material
bangunan. Puluhan ribu lainnya harus menderita luka berat maupun ringan
dan kehilangan tempat tinggal. Dan tentu saja, karena jaraknya paling
dekat dengan pusat gempa, Yogyakarta menjadi korban paling parah.
Di Kabupaten Bantul, daerah yang paling menderita. 80% bangunan di daerah
tersebut mengalami kerusakan total maupun ringan. Banyak gedung-gedung
roboh. Data terakhir menyebutkan dari 2.874 korban meninggal, 2.159
merupakan warga Bantul.
Di Jawa Tengah, daerah yang paling parah adalah Klaten. Pemukiman di
perbukitan Jabalkat dihantam parah. Ribuan rumah roboh, 522 orang
meninggal. Sedangkan di daerah lain rumah roboh yang dapat dipantau adalah
di Sukoharjo sebanyak 125 rumah, Karanganyar 70 rumah, Boyolali ratusan
rumah.
Yogyakarta mengalami kelumpuhan akibat rusaknya sejumlah infrastruktur.
Bandara Adi Sucipto rusak parah dan ditutup untuk aktivitas. Penerbangan
dialihkan ke Bandara Adi Sumarmo, Solo. Sedikitnya sembilan penerbangan
dipindahkan ke Solo. Sebagian lagi dialihkan ke Bandara A Yani, Semarang.
Jalur KA Selatan yang melintasi Yogyakarta juga lumpuh akibat rel yang
terangkat di dekat Stasiun Prambanan, Klaten. Belum lagi ditambah rusaknya
jaringan komunikasi dan penerangan. Bahkan beberapa bangunan di Kraton
Kasultanan, simbol utama kota itu, tak luput dari kerusakan fatal. (bal)
Relawan Berkumpul, Evakuasi Lanjutan Dimulai Pk 07.00
Iqbal Fadil - detikcom
Jakarta - Sejumlah relawan dan petugas medis sudah tiba di Posko
Satkorlak, Kepatihan, Yogyakarta sejak tadi malam. Tepat pukul 07.00 WIB
pagi ini, kegiata evakuasi di seluruh wilayah yang terkena gempa akan
dimulai kembali.
"Sekitar pukul 07.00 WIB nanti akan dimulai. Kita akan melakukan
koordinasi dulu sebelum bergerak," ujar Koordinator Lapangan Satkorlak
DIY, Suseno ketika dihubungi detikcom di Yogyakarta, Minggu, (28/5/2006).
Dijelaskannya hingga pagi ini sejumlah relawan dan tenaga medis sudah
melapor ke satkorlak. Diantaranya dari Universitas Soedirman, Purwokerto
sebanyak 25 orang, Gabungan Mahasiswa Pencinta Alam dari Jawa Timur,
Gerakan Pemuda Islam Yogyakarta, dan Islamic Relief Indonesia.
"Jumlah petugas evakuasi sekitar 600 orang. Nanti kita yang akan
koordinasikan," kata Suseno. (bal)
Evakuasi Lanjutan Difokuskan ke Daerah Bantul
Iqbal Fadil - detikcom
Yogyakarta - Proses evakuasi lanjutan yang akan dilakukan hari ini
terhadap para korban gempa di Yogyakarta akan difokuskan ke sejumlah
daerah di Bantul. Diduga masih ada ratusan jenazah yang belum berhasil di
evakuasi kemarin.
"Tim akan dikerahkan ke Desa Blauran, Desa Bundong dan Desa Dlingo,
semuanya di bantul," jelas Koordinator Lapangan Satkorlak DIY, Suseno
ketika dihubungi detikcom di Yogyakarta, Minggu, (28/5/2006).
Menurut Suseno, Daerah Bantul merupakan daerah dengan jumlah korban
meninggal paling banyak. data korban meninggal di Satkorlak yang berlokasi
di Kepatihan, Yogyakarta belum mengalami penambahan.
Laporan terakhir yang diterimanya menyebutkan jumlah korban meninggal di
Yogyakarta 101 orang, Kulonprogo 7 orang, Gunungkidul 27 orang, Sleman 55
orang dan Bantul 2.283 orang.
Suseno tidak bisa memperkirakan berapa banyak jumlah korban yang belum
dievakuasi. "Saya enggak berani mengira-ngira," ujarnya. (bal)
Evakuasi Hari Ke-2, Obat-obatan dan Tenaga Medis Masih Kurang
Iqbal Fadil - detikcom
Yogyakarta - Walaupun bantuan sejumlah relawan, tenaga medis, dan
obat-obatan sudah berdatangan sejak tadi malam, namun pihak Satkorlak DIY
menilai masih diperlukan lebih banyak lagi bantuan yang dibutuhkan.
Hingga pukul 07.00 WIB pagi ini, sejumlah bantuan tersebut masih berada di
Posko Satkorlak menunggu instruksi untuk segera didistribusikan.
"Kita akan melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk distribusi
obat-obatan dan tenaga medis," ujar Koordinator Lapangan Satkorlak DIY,
Suseno ketika dihubungi detikcom di Yogyakarta, Minggu, (28/5/2006).
Menurutnya, yang paling penting saat ini adalah pemerataan distribusi
obat-obatan dan tenaga medis agar semua daerah yang terkena gempa
mendapatkan penanganan dengan segera.
"Gubernur memerintahkan agar distribusi tidak hanya di satu tempat saja,"
jelas Suseno.
Rencananya sebelum berangkat tim relawan dan petugas evakuasi akan diberi
pengarahan oleh Sekretaris Daerah Provinsi DIY Bambang Susanto. (bal)
Korban Luka Akan Dirujuk ke RS di Luar Yogya
Iqbal Fadil - detikcom
Jakarta - Mengantisipasi jumlah korban luka dan meninggal akibat gempa di
Yogya terus bertambah, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X berencana
memindahkan korban-korban yang luka ke sejumlah rumah sakit di daerah
sekitar Yogya termasuk ke Jakarta.
Hal ini dilakukan agar beberapa rumah sakit di Yogya masih bisa terus
menampung korban yang diperkirakan masih akan terus bertambah.
"Pemindahan akan dilakukan ke rumah sakit di sekitar Yogya termasuk ke
Jakarta apabila diperlukan," jelas Koordinator Lapangan Satkorlak DIY,
Suseno ketika dihubungi detikcom di Yogyakarta, Minggu, (28/5/2006).
Mengenai teknis pemindahan, dijelaskan dia, hal itu akan dilakukan oleh
Dinas Kesehatan DIY. "Koordinatornya Dinkes, tapi kita masih menunggu
perkembangan lebih lanjut," tandas Suseno.
Seperti diketahui, akibat jumlah korban luka akibat gempa yang berlangsung
Sabtu 27 Mei kemarin yang terus bertambah, beberapa rumah sakit seperti RS
Bethesda, RS Panti Rapih, dan RS PKU Muhammadiyah terpaksa merawat para
korban di halaman rumah sakit. Stok obat dan darah pun dikabarkan semakin
menipis. Akibatnya banyak korban luka-luka yang tidak mendapatkan
perawatan maksimal. (bal)
Warga Yogyakarta Mulai Membersihkan Puing-puing
Bagus Kurniawan - detikcom
Yogyakarta - Setelah dihantui ancaman gempa susulan tadi malam, warga
Yogyakarta mulai beraktivitas membersihkan puing-puing reruntuhan
rumahnya. Aktivitas warga ini tampak di berbagai sudut kota Yogyakarta dan
Sleman, Minggu (28/5/2006) pukul 07.30 WIB.
Selain membersihkan puing-puing reruntuhan bangunan, warga juga mencari
sisa-sisa harta bendanya yang masih bisa diselamatkan. Sebagian warga yang
masih trauma memilih bertahan di tenda-tenda yang dibuat di
pinggir-pinggir jalan.
Dari pantauan detikcom di jalan-jalan sepanjang kota Yogyakarta dan Sleman
tampak kerusakan bangunan di mana-mana. Di Jl Sudirman, Jl Urip Sumoharjo,
Jl Adisucipto, dan Jl Solo hampir sulit ditemui bangunan yang masih utuh.
Sebagian besar mengalami kerusakan pada atap, kaca serta tembok-temboknya
yang retak.
Di beberapa tempat warga masih tampak melakukan evakuasi. Di Dusun
Karanggayam, Siti Mulyo, Bantul misalnya, warga masih mencari beberapa
orang warga yang belum ditemukan. Kemarin, di dusun ini 6 orang warganya
telah dimakamkan.
Sedangkan warga Piyungan, Bantul, saat ini sangat membutuhkan suplai bahan
makanan, serta tenda-tenda plastik untuk tempat mereka berteduh dari panas
dan hujan.
Sementara itu Tugu Yogyakarta yang terletak di perempatan Jl Mangkubumi
masih tampak berdiri kokoh. Padahal pada tahun 1864 bangunan yang
tingginya 25 meter ini hancur dan hanya tersisa 15 meter saja. (fjr)
Alun-alun Yogyakarta Sudah Sepi
Nurfajri Budi Nugroho - detikcom
Jakarta - Alun-alun Yogyakarta yang tadi malam sempat menjadi tempat
pengungsian warga Yogyakarta saat ini sudah sepi. Ribuan warga yang telah
memenuhi alun-alun utara dan selatan sejak tadi malam, saat ini sudah
kembali ke rumah mereka masing-masing sejak pukul 05.30 WIB.
Saat ini hanya tersisa sekitar 10-20an orang saja di alun-alun selatan.
Sementara di alun-alun utara hanya tampak sekitar 50an warga.
Sementara aktivitas pedagang makanan yang biasa berdagang pada pagi hari
di alun-alun selatan juga buka sebagaimana biasanya. Meski pada pedagang
ini menaikkan harga dagangannya lebih mahal dari biasanya.
"Alun-alun sudah hampir kosong. Cuma ada sisa-sisa sampah dan beberapa
orang yang belum pulang. Mereka masih sarapan di warung-warung tenda yang
harganya sudah dinaikkan," ujar Atiq, warga Jl Patehan Lor No 2,
Yogyakarta, saat dihubungi detikcom, Minggu (28/5/2006) pukul 08.00 WIB.
Atiq juga menceritakan, sebagian warga di sepanjang Kali Code dan
Lempuyangan sudah mulai beraktivitas. Mereka mulai membersihkan sisa-sisa
puing runtuhan bangunan serta memperbaiki bangunan rumah mereka yang rusak
ringan.(fjr)
Cerita Korban Gempa:
Naik Sepeda, Terlempar 5 Meter
Bagus Kurniawan - detikcom
Bantul - Para korban gempa Yogya sudah mulai bercerita, sehari setelah
berlalunya musibah dahsyat itu. Mereka mulai mengenang detik-detik saat
gempa 5,9 SR menghantam.
"Saking kuatnya gempa, kita kayak di-kopyok (dikocok). Mau lari saja saya
nggak bisa," cerita Lasiman, warga Karanggayam, Desa Sitimulyo, Kecamatan
Piyungan, Kabupaten Bantul, pada detikcom, Minggu (28/5/2006) pukul 07.30
WIB.
Piyungan adalah salah satu kawasan bencana paling parah di Bantul. Dari
150 rumah di kampung Karanggayam, hampir seluruhnya hancur.
Lasiman menceritakan, meski dia gagal lari, namun dia berusaha keras
menyelamatkan istrinya. Alhasil, dia pun terlempar. Dia lalu tertimpa
reruntuhan rumahnya sendiri. Istrinya berhasil menyelamatkan diri di
sebuah pekarangan yang ada di utara rumahnya.
Warga Karanggayam lainnya, Sihana, menceritakan bahwa tetangganya berusaha
menyelamatkan diri dengan naik sepeda. "Tapi sepedanya malah terlempar 5
meter," kata perempuan ini.
"Suara gempa kayak gemuruh, tanah bergerak-gerak terus," kenangnya.
Setelah musibah itu, warga Karanggayam mengungsi di pekarangan kosong
dengan tenda plastik seadanya. Mereka terpaksa kedinginan saat hujan lebat
turun Sabtu sore hingga malam hari. Saat ini tanah masih becek. Cuaca
mendung. Sejumlah warga tampak mengais-ais reruntuhan di rumahnya.
Di dapur umum, korban gempa menggoreng tempe dan mi. Mereka memenuhi
kebutuhannya dengan iuran. Belum ada bantuan datang.(nrl)
Parangtritis Sepi, Warung Penuh Makanan Ditinggal Kabur Pemilik
Bagus Kurniawan - detikcom
Bantul - Pantai Parangtritis di Kabupaten Bantul yang sangat dekat dengan
pusat gempa, tampak sunyi senyap sehari setelah diguncang gempa, Minggu
(28/5/2006) pukul 08.00 WIB. Tidak ada pengunjung satu pun. Padahal pantai
ini biasanya selalu riuh di pagi hari, saat sang surya menampakkan
semburat merahnya.
Meski sepi, aktivitas sejatinya sudah mulai berdenyut. Beberapa toko
cinderamata di parking area mulai buka.
Dari puluhan los di kawasan wisata favorit itu, hanya ada 3 los yang
roboh. "Yang paling rusak rumah makan/penginapan Laras milik Pak
Pujihartono," kata Suwarno, pemilik rumah makan/penginapan Sabar Menanti.
Sabar Menanti terletak 100 meter dari bibir pantai.
Waktu gempa datang, Suwarno langsung melarikan istri dan seorang anaknya
ke arah Gunung Kidul yang lebih tinggi. Hingga kini keluarganya masih
mengungsi.
Yang menarik adalah gubug-gubug penjual makanan yang ada di bibir pantai.
Semua gubug itu ditinggal lari pemiliknya dalam keadaan masih utuh.
Di gubug yang menjual nasi pecel, tampak nasi, sayur mayur, sambal,
krupuk, masih teronggok tak tersentuh. Piring-piring, gelas, air minum,
juga ditinggalkan begitu saja. Tampaknya keselamatan jiwa adalah
segalanya, barang dagangan tidak perlu direken.
Di gubug penjual mi ayam, soto, gado-gado, nasibnya setali tiga uang.
Masih utuh tuh. Hingga kini juga belum ditengok oleh pemiliknya. Cuaca
saat ini berawan. (nrl)
Evakuasi di Klaten Dilanjutkan
Triono Wahyu Sudibyo - detikcom
Klaten - Kegiatan evakuasi korban gempa pada hari Ke-2 mulai dilaksanakan
di Klaten. Di Sejumlah desa diperkirakan masih banyak korban yang masih
tertimbun reruntuhan rumahnya. Fokus pencarian dipusatkan di Desa
Gantiwarno dan Bayat.
Di dua desa tersebut, jumlah korban yang terdata terhitung banyak. Namun
tim evakuasi juga malakukan penyisiran di desa-desa lain.
Sejak Pukul 08.00 WIB, Minggu (28/5/2006), dari pantauan detikcom, sambil
melakukan evakuasi Tim SAR melakukan pendataan ulang jumlah korban tewas,
luka-luka maupun rumah roboh. Hal itu dilakukan karena hingga kini data
jumlah korban banyak yang simpang siur.
"Banyak yang tidak terdata karena ada yang menyelamatkan diri tak tahu
kemana," ujar seorang anggota SAR Klaten kepada detikcom sebelum berangkat
ke lokasi evakuasi.
Ketika detikcom mencoba mencari data jumlah korban di posko Satlak Klaten,
terlihat petugas posko kurang siap. Di posko yang terletak di Komplek
Kantor Bupati, Jl Pemuda, data yang dimiliki tidak di-update. Alhasil,
mereka hanya memajang data kemarin.
Sementara data SAR menunjukkan, korban meninggal di Klaten sebanyak 781
orang dan 1224 rumah roboh. Korban tersebar di 20 desa dari beberapa
kecamatan. Data tersebut dipastikan akan masih terus bertambah. (bal)
Gempa Yogya
Dusun Nganyang Hancur Total
Bagus Kurniawan - detikcom
Bantul - Akibat gempa kemarin, Dusun Nganyang yang terletak di Desa
Sitimulyo Piyungan, Bantul, hancur total. Dari 290 rumah, 280 rumah rata
dengan tanah. 700 warga dari 278 KK saat ini tinggal di kamp pengungsian.
Bantuan pemerintah yang diharapkan tak kunjung tiba.
Dari pantauan detikcom, pada pukul 8.30 WIB, Minggu (28/5/2006),
rumah-rumah warga yang rata dengan tanah semuanya terbuat dari kayu.
Sedangkan beberapa rumah yang terbuat dari tembok tampak retak dan roboh
pada bagian tertentu.
"Warga sangat mengharapkan bantuan terutama makanan dan tenda dari
pemerintah," ujar Kepala Dusun Nganyang Tubi SB ketika ditemui detikcom di
lokasi pengungsian warga.
Dijelaskan dia, hingga kini 6 warganya meninggal dan 30 orang luka-luka.
Saat ini korban luka sudah dirawat ke puskesmas dan rumah sakit terdekat.
Mengenai kerugian harta benda, Tubi tidak bisa memperkirakannya.
Untuk mencukupi kebutuhan logistik pengungsi, selain mereka patungan
mengumpulkan uang, mereka juga menerima sumbangan dari warga sekitar yang
selamat.
Karena keterbatasan dana itulah, menu masakan yang dimasak pagi ini sangat
sederhana yakni sayur lodeh pepaya, dan tempe goreng. Warga sangat
mengharapkan bantuan segera datang karena stok logistik sudah menipis.(bal)
Bensin di Yogya Masih Sulit, Warga Rela Antre Berjam-jam
Anwar Khumaini - detikcom
Yogyakarta - Gempa dahsyat yang terjadi Sabtu kemarin membuat hidup
penduduk Yogyakarta semakin sulit. Bukan saja kesulitan makanan, warga
Yogya juga harus rela antre berjam-jam untuk mendapatkan bensin.
Kesulitan mendapatkan bahan bakar ini disebabkan masih banyaknya Stasiun
Pengisian Bahan Bakar (SPBU) yang tutup.
Dari pengamatan detikcom, Minggu (28/5/2006) pukul 07.30 WIB, SPBU yang
berada Jalan Gejayan, daerah Terban dan beberapa daerah lainnya masih
tutup.
Kondisi SPBU-SPBU tersebut tampak utuh dan tidak rusak akibat gempa. Hanya
saja karyawan yang bertugas melayani sama sekali tidak ada.
Hanya ada dua SPBU yang masih buka yaitu di daerah Sagan dan Jalan
Kaliurang. SPBU yang terletak di daerah Sagan sudah dari pagi 'diserbu'
penduduk Yogya.
Sejak pukul 06.00 WIB pembeli sudah berdatangan ke pom bensin itu. Sampai
saat ini ada sekitar 600 kendaraan yang mengantre dan jumlahnya terus
bertambah.
Antrean ini terjadi karena dari delapan mesin yang ada hanya empat yang
dapat beroprasi. Dua mesin digunakan untuk melayani motor dan mesin yang
lainnya untuk mobil.(nal)
Bus Kota Yogya Mulai Beroperasi
Mohammad Yanuar Firdaus - detikcom
Yogyakarta - Meski masih dilanda sedih dan kocar-kocir, namun aktivitas
warga Yogyakarta mulai berdenyut, Minggu (28/5/2006) pagi.
Angkutan-angkutan umum kota Yogyakarta seperti Kopata, Aspada, Kobutri,
Damri, Pemuda dan Puskopkar, sudah kembali berjalan. Namun di dalam perut
angkutan umum itu masih terlihat kosong penumpang.
Berdasarkan pemantauan detikcom di beberapa sudut kota Yogyakarta seperti
Kecamatan Gondokusuman, Depok, Muja Muju dan Umbulharjo, warga sudah mulai
beraktivitas seperti biasa meski serba terbatas.
Beberapa SPBU-SPBU di daerah kota yang sehari sebelumnya tutup juga mulai
buka. Antrean kendaraan pun terlihat normal, tidak seperti Sabtu malam
yang penuh antrean.
Anjungan Tunai Mandiri (ATM) beberapa bank juga beroperasi normal.
Transaksi pun lancar. Hal ini karena listrik di daerah tertentu sempat
mati kini telah pulih kembali.(nrl)
Rel Kereta Kuno Yogya-Bantul Bengkok Bak Ular
Nurul Hidayati - detikcom
Jakarta - Saking kuatnya gempa, benda-benda yang sudah terkubur lama
muncrat ke permukaan. Misalnya saja rel kereta kuno Yogya-Bantul yang
sudah lama terpendam. Rel itu terangkat ke atas, bengkok seperti ular.
Demikian diceritakan Feri Istanto, warga Gendeng, Bangunjiwo, Kasihan,
Bantul, pada detikcom, Minggu (29/5/2006).
Rel KA Yogya-Bantul merupakan jalur kereta api lokal di Yogya. Jalur ini
sudah lama tidak ada lagi, bahkan bekas jalur relnya juga sudah tidak
tampak dan di sepanjang jalur rel kereta api Yogya-Bantul tumbuh
pemukiman. Tapi saking kuatnya gempa, rel yang sudah menyatu dengan tanah
itu unjuk gigi.
Lebih lanjut, Feri menceritakan, desa wisata Kasongan, Kelurahan
Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Bantul, yang terletak di pinggir jalan
Bantul mengalami kerusakan parah, dengan skala kerusakan sekitar 10%.
Berbagai benda keramik bernilai tinggi hancur. Jembatan di tengah desa
juga anjlok.
"Padahal desa ini diperkirakan sebentar lagi sedianya akan banyak
dikunjungi banyak wisatawan domestik yang memanfaatkan liburan sekolah,"
kata Feri.
Warga berharap tidak ada pembatalan kunjungan wisatawan pada bulan Juni
mendatang, agar kondisi ekonomi masyarakat sekitar tidak semakin terpuruk.
Salah satu titik terpatah akibat gempa terjadi di Dongkelan, sebuah daerah
perbatasan antara Bantul dan Yogya. Di daerah tersebut, jalan aspal
mengalami retakan setiap 3-5 meter. Rumah-rumah roboh dan rel kereta kuno
Yogya-Bantul terangkat.
"Secara umum, sepanjang Jalan Bantul mulai dari Ringroad Selatan Yogya
hingga Kota Bantul rusak parah," ujar Feri.
Bagaimana di daerah Anda? Ceritakan pada kami di
[EMAIL PROTECTED](nrl)
Satkorlak Butuh Bantuan Tenda
M. Budi Santosa - detikcom
Bantul - Berbagai jenis bantuan berdatangan setelah gempa mengguncang DIY.
Namun hingga pagi ini Satkorlak Penanggulangan Bencana Provinsi DIY belum
mendapatkan bantuan tenda.
Hal ini disampaikan salah satu petugas Satkorlak Penanggulangan Bencana
Propinsi DIY, Agus, kepada detikcom, Minggu (28/5/2006). Menurutnya, saat
ini bantuan yang lebih mendesak adalah bantuan logistik, makanan siap
saji, air minum dan tenda.
"Tapi untuk tenda pagi ini belum ada bantuan," ujarnya.
Dikatakannya, bantuan tenda sangat dinantikan karena banyak rumah warga di
Bantul sudah roboh. Bantuan tenda ini juga akan berguna untuk rumah sakit
lapangan yang terletak di lapangan Dwi Windu, Bantul, DIY.
Kirim 30 Orang ke Bantul
Tim Satkorlak juga kembali mengirimkan 30 orang untuk mengevakuasi para
korban gempa di wilayah Bantul. Mereka memperkirakan masih banyak korban
yang tertimbun reruntuhan.
"Hari ini kita sudah mengirim 30 orang untuk melakukan penyisiran," kata
Agus.
Agus menambahkan, untuk bantuan relawan saat ini sudah banyak berdatangan
ke Yogyakarta. Namun dia berharap pasukan relawan sebelumnya telah
melakukan koordinasi dengan Satkorlak.
"Sejauh ini untuk bantuan relawan pagi ini kita pending dulu, karena tim
dari Satkorlak termasuk di dalam PMI DIY dirasa masih cukup," tambah Agus.
Sementara, korban meninggal dunia akibat gempa yang tercatat oleh
Satkorlak masih belum menunjukkan penambahan. Di Bantul, sebanyak 2.091
korban meninggal dunia, 1.017 korban luka berat, 872 korban luka ringan,
dan 2.938 rumah roboh.(wiq)
--
Using Opera's revolutionary e-mail client: http://www.opera.com/mail/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "myQuran - Komunitas Muslim Indonesia" group.
To post to this group, send email to [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe from this group, send email to [EMAIL PROTECTED]
For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/myquran
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

