|
MLM dan Silaturahmi
"
...Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah
keadaannya yang ada pada diri mereka sendiri... Surat Ar rad ayat
11" MLM boleh saja
berasal dari barat. Namun, dalam praktek dan implementasinya, bisnis ini penuh
nuansa Islam, baik silaturahmi, tolong menolong dan tawakal dalam merubah nasib.
Islam, sebagai agama rahmatan lil alamin, tidak melulu mengatur hubungan antara
manusia dengan pencipta-Nya (hablum minallah). Melainkan hubungan antara manusia
dan sesamanya (hablum minannas). Kedua hal tersebut tak dapat dipisahkan.
Lebih-lebih dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi,
suatu tugas yang tak dapat diemban oleh malaikat, hamba Allah yang paling taat
menjalankan perintah-Nya. Dalam melaksanakan
kekhalifaannya itu, Ilahi menyiapkan beberapa perangkat kepada manusia, sesuatu
yang tak diberikan sempurna kepada mahluk lainnya, seperti akal, nafsu, naluri,
budi, ilmu dan agama. Karena itu, manusia merupakan mahluk paling sempurna
diantara mahluk ciptaan-Nya. Dan perangkat-perangkat tadi digunakan, setelah
manusia menjalankan shalat (hablum minallah), seperti diamanatkan dalam Al
Quran surat Al Jumuah, ayat 62: Apabila telah ditunaikan shalat, maka
bertebaranlah kami di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah
sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung. Carilah karunia
Allah pada ayat tersebut, banyak menyebut kewajiban manusia untuk bekerja dan
berusaha, bukan semata-mata uang. Kata K.H Abdullah Gymnastiar, dalam tulisannya
di Republika, rubrik Taushiyah, alat ukur keuntungan dalam
berbisnis atau bekerja itu ada lima. Pertama, keuntungan amal shaleh. Kedua,
keuntungan membangun nama baik. Ketiga, keuntungan menambah ilmu, pengalaman dan
wawasan. Keempat, keuntungan membangun relasi atau silahturahmi. Kelima,
keuntungan yang tidak sekadar mendapatkan manfaat bagi diri sendiri, melainkan
bagi banyak orang dan memuaskan orang lain. Ternyata, dari lima
alat ukur itu, semua terakomodir dalam bisnis MLM. Misalnya, keuntungan
membangun relasi dan silaturahmi, merupakan hal pokok dalam bisnis MLM. Sebab,
dalam bisnis MLM, dibangun atas dasar dua prinsip: menjual dan mensponsori orang
lain ke dalam bisnis ini. Kedua hal tersebut, hanya dapat dilakukan dengan
melakukan silaturahmi (dalam MLM disebut home sharing, home meeting). Dalam
silaturahmi itu, pelaku bisnis ini mempresentasikan tentang keunggulan produk
maupun peluang bisnisnya untuk menjadi jutawan). Silaturahmi, dalam
bisnis MLM, dianjurkan dari orang-orang terdekat dahulu, seperti anggota
keluarga dan sahabat. Kepada merekalah, kunjungan dilakukan untuk memperkenalkan
bisnis ini. Lalu, dilanjutkan dalam aspek yang lebih luas, tetangga, relasi,
maupun kenalan-kenalan baru. Lagi-lagi dalam
perspektif Islam, silaturahmi dan menjual, juga dianjurkan. Silaturahmi dalam
hadis nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari, Siapa yang ingin murah rezekinya dan
panjang umurnya maka hendaklah ia mempererat hubungan silaturahmi. Begitupun
saat ditanya oleh sahabatnya tentang usaha yang terbaik, Rasullah menjawab:
kerja dengan seseorang dan semua jual beli yang mabrur. Kebetulan, sebelum
diangkat menjadi rasul, profesi nabi adalah berdagang yang dilakukannya sejak
usia 12 tahun. Dalam berdagang, nabi dikenal jujur, sehingga dijuluki Al Amin
(orang yang dapat dipercaya). Kejujuran nabi dalam berdagang, sampai ke negeri
Syam, membuat investornya, konglomerat Siti Khadijah, jatuh cinta. Keduanya
menikah dalam usia yang terpaut jauh: Siti Khadijah berusia 40 tahun, sedang
nabi 25 tahun. Setelah berhasil
mensponsori, maka peran upline selaku orang tua kepada downline dilakukan.
Layaknya orang tua, upline memberikan pengarahan, bimbingan dan mengajarkan
tentang seluk beluk bisnis ini. Ataupun mengikuti training dan pelatihan yang
dilakukan perusahaan maupun para leader, yang dalam Islam, dikenal Taushyiah
(saling berbuat kebaikan). Dalam kegiatan ini, seperti dikatakan oleh Aa Gym demikian sebutan akrab K.H Abdullah Gymnastiar diperoleh keuntungan menambah ilmu, pengetahuan dan wawasan. Katanya, jika punya banyak uang, tapi tidak berilmu, sebentar saja uang itu bisa hangus. Tidak sedikit orang punya uang, tetapi tidak memiliki banyak pengalaman, sehingga mereka mudah tertipu. Sebaliknya, misalkan uang kita habis dirampok, kalau kita memiliki ilmu, kita bisa mencarinya lagi dengan mudah, tulisnya di harian tersebut. |

