Peluang Usaha di Bisnis Makanan
Berbasis Tepung
JAKARTA Pelaku bisnis jika ingin survive
harus cerdik melihat peluang usaha sebagai kesempatan. Memang tidak setiap
pebisnis mampu menerapkannya. Pengalaman dan naluri bisnis yang tajam amat
membantu mereka untuk membaca situasi di mana harus masuk. Ini berlaku bukan
hanya bagi pengusaha besar, namun juga pengusaha kecil. Hal yang seringkali
dianggap sepele, namun hasilnya bisa dahsyat sebab pengusaha kecil dalam waktu
singkat bisa menjadi besar.
Contoh gamblang untuk hal ini adalah bagaimana
memanfaatkan perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi lahan bisnis yang
menguntungkan. Ini banyak dimanfaatkan oleh pengusaha kecil dan menengah (UKM).
Di Sidoarjo, Jawa Timur, misalnya, banyak nelayan yang biasa membawa kue terang
bulan untuk sarapan dan konsumsi mereka selama berlayar. Kue yang terbuat dari
tepung terigu itu cukup mengenyangkan, rasanya enak, dan bergizi.
Selain
digemari nelayan, kue terang bulan disukai juga oleh buruh pabrik sebagai menu
sarapannya. Sebagai daerah industri terbesar di Jawa Timur, di Kota Kerupuk
itu banyak pekerja pabrik. Karena itu, wajar saja jika bisnis kue terang bulan
di sana melejit. Sentra produk-sinya terletak di Kemantren, sebuah desa di
Kecamatan Talangan, Sidoarjo.
Menurut Wacana Mitra, yakni media UKM makanan
berbasis tepung, pengusaha kue terang bulan nyaris tidak mengenal risiko rugi
walau tidak laku. Sebab mereka memproduksi berdasarkan pesanan pedagang dan
hebatnya penjualannya dilakukan dengan cara kontan. Kue itu dijajakan pedagang
di pasar-pasar sekitar Sidoarjo, seperti Pasar Mojosari dan Pasar
Krian.
Melihat bentuk dan cara pembuatannya kue ini, sederhana sekali.
Bentuknya bulat kemudian dilipat dua, dengan diameter 10 cm dan tebal 3 cm.
Panganan kecil ini baru berkembang di Kemantren sekitar tahun 1980-an. Salah
satu pelopornya adalah Salamun, yang sekarang mampu menghabiskan 6 sak terigu
sehari untuk kebutuhan produksinya.
Kue terang bulan hanya salah satu contoh
bagaimana sebuah produk berbahan baku tepung terigu, bisa menjelma menjadi
pilihan makanan pokok masyarakat, di samping nasi.
Dalam skala yang lebih
luas, mie dan roti merupakan contoh jenis makanan berbahan baku tepung lain,
yang sekarang sudah menjadi bagian dari kebiasaan konsumsi masyarakat di mana
saja. Karena itu, potensi bisnis kedua jenis makanan itu terus berkembang dan
banyak usaha skala kecil menengah (UKM) yang berhasil
memanfaatkannya.
Berbagi Pasar
Saking besarnya potensi tersebut,
pengusaha skala industri dan UKM pun tampak bisa saling berbagi pasar. Misalnya,
jika mie instan banyak dikuasai industri karena membutuhkan investasi yang
sangat besar pula, maka mie basah yang menjadi bahan baku mie siap saji banyak
digarap oleh UKM. Begitu pula roti. Hadirnya produsen skala industri yang
mengusung merek terkenal tidak menghambat produsen kelas UKM. Masing-masing
sudah memiliki pasar sendiri-sendiri.
Roti misalnya yang semula berduit, tapi
kemudian dengan cepat merambah ke semua kalangan.
Di sini pengusaha skala UKM
banyak memberikan andil. Dengan kreativitas dan naluri bisnis, mereka lantas
membuat roti yang harganya bisa dijangkau konsumen lapisan
menengah-bawah.
Setelah roti, berbagai jenis makanan berbahan baku tepung
terigu lain menyusul menjadi komoditi bisnis UKM. Misalnya, cake, donat, dsb.
Belakangan, roti burger dan pizza pun dijajakan UKM untuk masyarakat luas,
melalui gerobak mangkal atau yang bisa bergerak dengan roda kayuh menyusuri
kampung-kampung.
Pada beberapa kasus, perkembangan industri jenis makanan
tertentu malah menjadi pilihan utama bagi orang berkantong cekak, karena
harganya lebih murah. Misalnya, di beberapa tempat, harga mie atau roti bisa
lebih murah dari sepiring nasi berikut lauknya.
Pola Konsumsi
Menurut
Prof. Dr. Deddy Muchtadi, pakar teknologi pangan dari IPB, dalam telaahnya
mengatakan, perubahan pola konsumsi tersebut antara lain didorong oleh
keterbatasan persediaan beras di satu sisi, dan pesatnya perkembangan industri
makanan berbasis tepung di sisi lainnya. Meningkatnya daya masyarakat juga
menjadi daya dorong yang cukup besar, ungkap Deddy.
Dilihat dari sisi ini,
lokomotif perubahan pola konsumsi adalah masyarakat menengah-atas. Misalnya,
merekalah yang pertama kali mengkonsumsi roti burger atau pizza sehingga makanan
tersebut memiliki gengsi tinggi.
Karenanya, ketika ada UKM yang memasarkan
jenis makanan itu dengan harga murah, masyarakat menengah bawah bisa dengan
cepat menyambarnya, antara lain karena ingin meniru pola konsumsi orang berduit.
Lama-kelamaan, yang bicara bukan soal gengsi lagi, tapi kebiasaan, jelas
Deddy.
Perubahan pola atau gaya hidup, juga menjadi faktor pemicu terjadinya
perubahan pola konsumsi. Misalnya, orang zaman sekarang semakin sibuk dengan jam
kerja lebih panjang, mendorong mereka untuk memilih makanan yang penyajiannya
lebih praktis tapi tetap beragam.
Apapun yang menjadi faktor pendorongnya,
kecenderungan perubahan pola konsumsi yang tampak berkembang cepat itu, Deddy
menilai sebagai hal positif.
(SH/gatot irawan)
sumber : sinar harapan
online