Antara Spion dan Hidup. Sebuah pelajaran buat kita semua.
 
------------------------------------------------------------------------------------------
Spion
 
Seorang siswa setir mobil begitu menyimak arahan-arahan dari instrukturnya. Sesekali, ia mengangguk-angguk seperti memahami sesuatu. “Prinsipnya, kita harus hati-hati dan konsentrasi dalam berkendaraan,” ucap sang instruktur sambil menyudahi bicaranya.

Sesaat setelah itu, mereka pun praktek lapangan. Mobil latihan sudah disiapkan. Satu per satu, siswa akan diberikan kesempatan untuk mengendarai mobil di jalan umum. “Ingat, kita harus hati-hati dan konsentrasi,” ujar instruktur sambil mengawasi salah seorang siswanya yang mulai melajukan mobil yang mereka tumpangi.

Siswa ini tampak tenang ketika mobil masih di areal sepi. Tapi, ia mulai gelisah saat mobil memasuki jalan umum. Mobil-mobil lain seperti tak peduli kalau mereka  sedang belajar. Berbagai kendaraan saling mendahului dari sebelah kanan dan kiri mobil latihan. “Tiiin…!” suara klakson mobil yang mendahului kian menciutkan hati si siswa. Tapi, ucapan sang instruktur terus saja menyadarkan, “Hati-hati dan konsentrasi!”

Ada satu kebiasaan siswa yang sangat mengganggu konsentrasinya sendiri. Siswa begitu sering menatap kaca spion mobil. Kadang spion kiri, kadang tengah, kadang yang kanan. Setiap kali siswa menatap spion, kali itu juga konsentrasinya buyar. Ia seperti dihantui bayang-bayang seram.

“Murid-muridku,” ucap sang instruktur sambil mengawasi seorang siswa yang memarkir mobil di tempat yang aman. “Kalian dapat pelajaran berharga dari teman kita,” tambahnya seraya menatap satu per satu siswa yang ada dalam mobil.

Para siswa mulai menyimak. “Jangan pernah menatap kaca spion selama kalian tidak ingin berbelok atau berhenti. Karena kebiasaan itu akan mengganggu kenyamanan kalian dalam berkendaraan. Semakin sering kalian menatap spion, sebanyak itu pula kalian dihantui rasa takut,” jelas sang instruktur begitu gamblang.
**

Menjadi pemimpin dalam keluarga, perusahaan, organisasi, tim, dan berbagai kumpulan lain mirip seperti mengendarai mobil. Di tangan sopirlah proses melajunya kendaraan, dan di tangannya pula keputusan diambil.

Para sopir pemula biasanya punya kebiasaan menoleh ke arah kaca spion. Ia pun dipermainkan dengan pemandangan di situ. Terlihatlah dari kaca itu berbagai kendaraan di belakang seolah saling berkejaran untuk menabraknya. Kalau kebiasaan ini tidak segera diakhiri, sang sopir akan terus dibayang-bayangi rasa takut. Padahal, tantangannya ada di depan, bukan di belakang.

Karena itu, seorang sopir bukan saja mesti mampu menyetir dan menguasai jalan yang akan ditempuh, ia pun harus mampu mengusai diri. Di antara penguasaan diri, ia tidak mudah dipermainkan rasa takut dengan situasi di belakang. Pandangannya terus ke depan. Dan, baru menoleh ke belakang manakala kendaraan akan berhenti, berbelok atau berputar.

M. Nuh


Hidup
 
Mbok Inah masih celingukan memeriksa ruangan rumah majikan barunya. Begitu besar dan mewah. Begitu rapi dan bersih. Setidaknya untuk ukuran pembantu yang masih awam dengan gaya hidup di kota besar seperti Jakarta.

Satu hal yang menarik perhatian Mbok Inah. Di tiap ruangan, selalu ia jumpai tanaman bunga yang berdiri di atas pot. Ada pohon melati, mawar, ros, dan sri rejeki. Sebuah tanaman yang ‘menjual’ keindahan dedaunan.Tiap kali mendapati tanaman-tanaman itu, Mbok Inah secara reflek menyiapkan kemampuan penciumannya. Duh, betapa harumnya bunga-bunga itu.

 

Tapi, ia menemukan sebuah keanehan. Pasalnya, tak secuil pun aroma harum menyeruak dari bunga-bunga itu. “Aneh! Kok, ndak wangi?” batin Mbok Inah seperti memeriksa. Ketika Mbok Inah mendekati tanaman melati, hal yang sama terjadi. Padahal, aroma melati begitu tajam. Aneh!

 

“Ada yang mau Mbok tanyakan?” tanya ibu majikan ketika menangkap kebingungan Mbok Inah.

 

“Anu, Nya. Hmm, gimana saya bisa nyiram pot-pot bunga ini? Kalau disiram di sini, sayang sama lantainya yang bagus. Kalau dibawa keluar, saya ndak kuat. Pohonnya lumayan besar!” ungkap Mbok Inah menutupi kebingungannya.

 

“Mbok keliru!” ucap ibu majikan sambil senyum. “Keliru?” balas Mbok Inah spontan. “Iya. Pohon-pohon ini tidak asli. Ini dari plastik. Mbok Inah tak perlu menyiraminya,” jelas ibu majikan sambil mengajak pembantu barunya itu menyentuh salah satu tanaman bunga.

 

“Oalah! Pantas tidak wangi!” ucap Mbok Inah sambil tetap terkesima dengan keindahan dan kemiripan tanaman bunga-bunga itu.

**

 

Orang banyak bisa saja terpikat. Mereka begitu takjub dengan keindahan luar yang mempesona: penampilan, retorika, dan slogan. Tapi, tetap saja kalau kesegaran dan keharuman jiwa cuma bisa diraih dari sesuatu yang hidup.

 

Pegiat dakwah persis seperti tanaman bunga yang tidak hanya hadir memberikan keindahan dan ketentraman orang sekitar melalui pesona luarnya. Lebih dari itu, ia mestinya hadir memberikan kesegaran ruhani melalui sentuhan hidup hatinya. Dan, ruhani hanya akan bisa tersegarkan dengan kucuran air kehidupan: jernih, terus mengalir, dan tidak tebang pilih.

 

Hanya yang segar yang bisa memberikan kesegaran. Dan hanya yang hidup yang bisa memberikan kehidupan. Kesegaran ruhani, dan kehidupan hati.

 

 

Muh. Nuh

 

sumber : Majalah Saksi

Kirim email ke