-----Original Message-----
From: Joko Wicaksono 
Sent: Wednesday, October 18, 2006 11:50 AM
Subject: FW: : Daging Sapi Glonggongan & Oplosan



----------
From: Nuraeni 
Sent: Monday, October 16, 2006 2:14 PM
Subject: Daging Sapi Glonggongan & Oplosan




Daging Sapi Glonggongan & Oplosan

Di Indonesia, puasa masih dikaitkan dengan kesempatan pemenuhan
kebutuhan pangan yang lebih istimewa. Setiap sahur dan berbuka biasanya 
tersedia makanan-minuman yang khusus, bukan yang biasa dinikmati sehari-
hari.
Konsumsi daging sapi demikian juga. Apalagi masakan dari daging sapi
seperti rendang dapat disimpan dan tahan lama. Namun sayangnya harga
daging 
sapi tidaklah murah.

Sejak tahun 1999, disaat bulan puasa dan hari raya tatkala permintaan
daging sapi sangat meningkat, biasanya akan muncul akal-akalan dari para

pedagang daging untuk meraih keuntungan yang lebih besar.

Kasus ini kembali muncul, beberapa belakangan hari ini terutama di 
pasar-pasar tradisional.
Para pembeli biasanya tidak jeli dan teliti mengamati mutu daging sapi
yang dibelinya.

Di Bekasi, Bogor dan di beberapa pasar tradisional di beberapa daerah 
terungkap 'penipuan' daging sapi glonggongan dan oplosan.

Daging sapi glonggongan mulanya berasal dari Boyolali - Jateng sentra
sapi potong yang terkenal.
Agar sapi kelihatan 'gemuk', dengan tidak berperikehewanan sapi itu di 
'suntikkan' - mulut sapi digelontor berliter-liter air yang mungkin
tidak 
higenis dengan secara paksa bahkan dengan tekanan pompa air hingga tubuh
sapi 
membengkak. Otomatis bobot sapi bertambah secara drastis.

Praktik ini juga kadang-kadang menyebabkan sapi mati sebelum dipotong.
Oleh karenanya MUI mengharamkan daging sapi glontongan, karena dianggap 
daging bangkai.

Masyarakat awam biasanya tidak mengerti. Jika pembeli menanyakan,
mengapa harga daging lebih murah?

Biasanya si pedagang seringnya mengatakan, bahwa mereka menyembelih
sendiri tidak di RPH - Rumah Pemotongan Hewan.
Sedangkan daging sapi oplosan; yakni mencampur daging sapi dengan daging
celeng - babi hutan.

Biasanya daging babi hutan yang tekstur dagingnya mendekati sapi diberi 
sedikit pewarna kue - warna merah darah atau diguyur dengan darah sapi.

Banyak masyarakat awam juga tidak mengerti, bahwa yang haram hanyalah
daging babi ternak.
Padahal seluruh daging babi (nama latinnya- Sus) diharamkan bagi segenap



Umat Islam
----------------

"Sesungguhnya Allah Hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, 
daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain nama
Allah, 
tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan
tidak 
pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang". 
- [An Nahl; 16:115]

-----------------------------------


Nuraeni
111006/18ramadhan1427h


Disclaimer 
This message (and any associated files) is intended only for the use of the 
individual or entity to which it is addressed and may 
contain information that is confidential, subject to copyright or constitutes a 
trade secret. If you are not the intended recipient 
you are hereby notified that any dissemination, copying or distribution of this 
message, or files associated with this message, 
is strictly prohibited (PT Datascrip). If you have received this message in 
error, please notify us immediately by replying to the message and deleting it 
from your computer. 



--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com


Kirim email ke