PAHIT MANISNYA BERTETANGGA
Ditulis oleh Mulla Kemalawaty
Tuesday, 30 November 2004
Merupakan kebahagiaan bagi saya pernah tinggal di
Kampung Melayu , wilayah Miyamae-ku, Kawasaki (Den-en
toshi line) karena bisa mengenal dan berinteraksi
dengan ibu-ibu muslimah di daerah itu.
Apalagi bagi saya yg tujuh tahun yg lalu notabene adalah penganten
baru, belum pengalaman ngurus rumah tangga, adanya
teman-teman Indonesia yg tinggal berdekatan tentu
besar artinya bagi saya. Dari mereka saya belajar
masak dan bikin kue, cara-cara ngadepin suami, ngurus
anak dsb. Disamping saya bisa curhat, mendapatkan
keceriaan dan kegembiraan shg saya nggak kesepian
berada jauh di negeri orang.
Di apato Hikari Haitsu, apato yg kami tempati waktu
itu selain keluarga Indonesia ada juga keluarga muslim
dari Pakistan dan Bangladesh. Dari mereka saya
beruntung bisa mengenal adat istiadat dan kebudayaan
mereka. Makanan dan kue-kuenya oishii banget lho.
Saya sempet belajar mutton curry ala Pakistan yg
rasanya nggak beda jauh ama gulai kambing ala Aceh,
padahal cara masaknya beda banget. Satu kebiasaan
mereka yg saya ingat sampai sekarang adalah mereka
selalu nyiapin minuman dan kue-kue tiap kali saya main
ke rumahnya. Padahal saya takut memberatkan dan
selalu bilang ? Don?t prepaire anything to me. Tapi
mereka menjawab, No, no, everything was prepaired.
Saya juga disuruh duduk di atas futon atau bantal
duduk Jadi ngerasa tersanjung gitu. Rupanya budaya
memuliakan tamu sudah begitu melekat dalam kebudayaan
mereka.
Dari pengalaman teman-teman lain yg pernah saya
dengar juga banyak manfaat yg diperoleh karena tinggal
berdekatan dg sesama muslim. Saling kirim makanan,
bisa nitip anak, bisa nitip belanjaan ke supa, ada
temen jalan. Yah pokoke banyak deh. Tetangga itu kan
saudara kita yg paling dekat, jadi kalo ada apa-apa
kita pasti larinya ke sana dulu. Beruntunglah kita yg
punya tetangga yg baik-baik dan nggak reseh. Apalagi
Mbak Ulya yg pernah ngerasain punya tetangga super
baik spt Mbak Demmy. Yokatta neh?! (You are lucky!)
Kita juga bisa mewarisi sifat-sifat baik yg ada pada
tetangga, misalnya ramah, humoris, suka menolong,
pinter masak, hemat, qona?ah (merasa cukup dengan apa
yg ada), tabah dalam menghadapi kesulitan, berwawasan
luas, dsb.
Namun dunia tak selamanya indah. Kepala boleh sama
hitam, tapi insan manusia punya sifat dan tabiat yg
berbeda. Tinggal berdekatan dengan sesama muslim
kadang malah membawa masalah. Bisa jadi karena
pribadi yg bertolak belakang. Mis : Yg satu rajin ke
mesjid yg lain rajin ke cafe; yg satu hobi
ngerumpi yg lain kutu buku; yg satu tukang jalan yg
lain hobi bersemedi?ya?susah?nggak kompak, ternyata
si dia (tetangga) tak seperti yg diharapkan. Belum
lagi saling iri hati karena suami tetangganya lebih
romantis, lebih royal karena okane mochi (have much
money), lebih sering makan di luar dan ngajak
jalan-jalan istri ?membuat sakit perut si tetangga.
Alhasil berdekatan dg sesama muslim bukannya membawa
nikmat, malah kesengsaraan yg didapat. Bisa-bisa
terjadi perang dingin, saling benci, saling hasad dan
dengki. Na udzubillaahi min dzalik.
Padahal dalam hadits Nabi disebutkan bahwa :
?Hendaklah kalian menjauhi prasangka, karena
prasangka adalah sedusta-dusta perkataan. Janganlah
kalian melakukan tahassus dan tajassus, saling
mendengki, memancing emosi, dan saling membenci. Akan
tetapi jadikanlah hamba-hamba Alloh yg berukhuwah?
(Imam Bukhari)
?Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya,
tidak mendzalimi atau mencelakakannya. Barang siapa
membantu kebutuhan saudaranya sesama muslim dengan
menghilangkan satu kesusahan darinya, niscaya Allah
akan menghilangkan darinya satu kesusahan diantara
kesusahan-kesusahan di hari kiamat. Dan barangsiapa
menutup aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutup
aibnya pada hari kiamat ? (Al-Bukhari dari Abdullah
bin Umar ra)
?Sesungguhnya iri dan dengki akan memakan kebaikan
laksana api memakan kayu bakar?.
?Tidak dihalalkan bagi seorang muslim untuk
mengucilkan saudaranya lebih dari tiga malam. Apabila
keduanya berjumpa, maka yg satu berpaling sedangkan yg
lainpun berpaling. Yg paling baik diantara keduanya
adalah yg memberi salam terlebih dahulu.? (Imam
muslim dari Abu Ayyub Al-Anshari).
Akan halnya dengan tetangga saya yg orang Pakistan
dan Bangladesh, walaupun banyak perbedaan diantara
kami, namun hal itu tidaklah menjadi masalah karena
kami berusaha mencari titik temu. Kalo lagi ngobrol
biasanya kami menceritakan keadaan negara
masing-masing. Mungkin karena sama-sama muslim, tentu
saja banyak persamaan diantara kami sehingga perbedaan
yg ada menjadi terabaikan.
Bertetangga juga bisa menjadi ajang silaturahmi.
Dengan mengunjungi tetangga, banyak masalah yg bisa
terungkap, mis : tetangga yg sedang kesulitan uang,
anaknya yg sedang sakit, sedang stress, dll. Sehingga
kedatangan kita bisa menjadi obat pelipur lara yg
sangat dibutuhkan saat itu, syukur-syukur kalo bisa
bantu. Sebaliknya dengan melihat keadaan orang lain
yg sedang mengalami masalah kadangkala kita jadi lupa
dengan masalah yg sedang kita hadapi. Sebelumnya
mungkin kita merasa jadi ?orang termalang di dunia?.
Namun setelah mendengar persoalan yg dialami orang
lain, persoalan sendiri kok jadi seperti ?nggak ada
apa-apanya?.
Bagaimana kalo sikap tetangga kurang berkenan ?
Misalnya cuek, tidak peka terhadap penderitaan orang
lain, merasa terganggu kalo kita datang ke rumahnya,
pelit, dll. Perlu kita ingat bahwa hal tsb tidak
terlepas dari latar belakang keluarganya. Mis :
Seseorang yg dibesarkan di lingkungan keluarga yg
pelit, kemungkinan anaknya akan pelit juga, walaupun
hal ini relatif sifatnya. Tetangga yg cuek bisa jadi
disebabkan karena sebelumnya dia tinggal di kota besar
yg hubungan dengan tetangga nggak begitu dekat, malah
kadang-kadang kenal juga enggak dengan tetangganya.
Kita harus memahami hal ini. Dengan banyak bergaul
kita akan menemukan berbagai macam karakter yg
berbeda. Untuk itu perlu waktu dan proses untuk
memahami perbedaan karakter tsb.
Kesimpulan :
1.Setiap muslim adalah bersaudara, tetangga adalah
saudara kita yg paling dekat.
2.Persaudaraan karena seagama, lebih kokoh
dibandingkan persaudaraan berdasarkan ikatan keturunan
3.Kita tidak boleh bersikap iri hati dan pamer
terhadap orang lain, sebaliknya kita harus bersikap
lapang dada terhadap kebahagiaan yg diterima orang
lain dan juga sensitive terhadap kesulitan yg dihadapi
orang lain.
Ditulis oleh Mulla Kemalawaty
--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com