----- Original Message -----
From: "Wanda Yulianto" <[EMAIL PROTECTED]>
Gelas, Kolam & Memaafkan
Minggu pagi yang cerah, dihalaman rumput taman ganesha Salman ITB. Tampak
sesosok mentor yang sedang asyik memberikan simulasi kepada peserta
mentoringnya.
"Adik-adik ini ada secangkir gelas yang berisi air putih! dan disamping
kita juga ada kolam ikan yang cukup luas." Sekarang kalau air digelas ini
kita masukkan 1 sendok makan garam dapur, bagaimanakah kira-kira rasanya?"
Ungkap sang mentor.
Adik-adik mentoring : "Rasanya Asin kak!"
Mentor : "Sekarang kolam yang luas ini, kakak masukkan 1 sendok garam
juga, bagaimanakah kira-kira rasanya?"
Adik-adik mentoring : "Tidak asin kak!"
Mentor : " Betul adik-adik!" ada yang bisa menjelaskan?"
Adik : " Air digelas sangatlah sedikit, hal ini disebabkan kapasitas gelas
yang kecil sehingga menyebabkan air menjadi sangat asin. Berbeda dengan
kolam yang sangat luas yang mudah melarutkan garam dengan sangat cepat dan
menguraikannya hingga tak berasa.
Mentor : "Yap!"Sekaranng kita anggap Gelas dan Kolam melambangkan hati
didada kita sedangkan garam adalah racun seperti kata-kata negatif dan
perbuatan yang menyakitkan kita". Manakah yang lebih baik?"
Adik-adik Mentoring : "Kolam yang luas kak!"
Mentor :" Andai saja kita selalu berlapang dada setiap mendapat garam,
tentunya tidak akan ada dendam dan khilaf yang membekas. Dan apalagi jika
kita bisa berlapang dada seluas-luasnya, kita akan bisa menahan marah,
memaafkan, dan berbuat baik kapan saja.
Menahan marah, memaafkan dan berbuat baik adalah kesatuan nilai yang
mendasari ketaqwaan. Menahan marah saja tanpa memaafkan bukan ciri orang
taqwa, tapi ciri orang pendendam.
Memaafkan jelas tak bisa direkayasa secara artifisial hanya dengan halal
bihalal, maaf yang tulus lahir dari perkataan yang tulus kepada orang lain.
Orang yang hanya memperhatikan dirinya tak akan pernah dapat memaafkan.
Karena itu, untuk dapat memaafkan, kita harus memusatkan perhatian kita
kepada orang lain. Kita harus beralih dari pusat ego kepada posisi orang
lain, kepada egoisme kepada altruisme.
Orang-orang altruis, dalam Al-Qur'an disebut sebagai orang yang berbuat
baik (Al-Muhsinin).
Nabi Muhammad SAW, sangat dikenal sebagai orang yang pemaaf, beliau
taburkan maafnya kepada orang-orang yang menyakitinya.
Tetapi, ciri orang taqwa bukan hanya suka memaafkan. Ia juga mampu meminta
maaf. Tak jarang meminta maaf lebih sult dari memaafkan.
Kita ingat salah satu ayat di Al Qur'an.
Orang-orang yang apabila berbuat keji atau berbuat dosa, mereka ingat
kepada Allah dan meminta maaf atas dosa-dosanya. Siapa lagi yang mengampuni
dosa selain Allah?. Dan ia tidak mengulang lagi apa yang dikerjakannya
padahal mereka mengetahuinya. (Holy Qur'an Ali imron :135)
Pertemuanpun ditutup dengan simulasi maaf dan Game Samaa..!
Wa Allahu a'lam bi al-showwab
Semoga bermanfaat,
Wanda Yulianto
NB: Untuk Game dan Simulasi lebih lengkap bisa menghubungi penulis (0815
720 666 16)
--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com