Larangan bermewah-mewah berlaku untuk semua orang tidak pandang bulu,
Qur'an surat Al Muzzammil ayat 11-13
Dan biarkanlah Aku bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu,
orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang
sebentar. ( 11 )
Karena sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan
neraka yang menyala-nyala. (12)
Dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan azab yang pedih. (13)
Jadi bikin-bikin segmen dan itu tidak lebih dari mendustakan ayat-ayat Al
Qur'an. Cuman mengada-ada saja.
Djarot D
"FPS Indonesia
(Jkt) - Mr. To: "[email protected]"
<[email protected]>
Jaerony S" cc:
<[EMAIL PROTECTED] Subject: Re: [Ar-Royyan-5133]
Bisnis Aglaonema Kian Laju [bcc][faked-from][abs]
esia.co.id>
11/10/2006 08:44
AM
Please respond to
"[EMAIL PROTECTED]
com"
Padahal saya tidak bermaksud jamaah suruh BELI lho ...
kalau bisa justru JUALAN yang segmennya tentu saja tertentu orangnya.
Jadi jelas ya perbedaannya?
Wass / Jaerony.-
----- Original Message -----
From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Thursday, November 09, 2006 5:13 PM
Subject: Re: [Ar-Royyan-5133] Bisnis Aglaonema Kian Laju
[bcc][faked-from][abs]
Periksa terhadap ayat bermewah-mewah..
Jangan tergiur kegiatan yang kurang bermanfaat.
Djarot D
"FPS Indonesia
(Jkt) - Mr. To:
"[email protected]" <[email protected]>
Jaerony S" cc:
<[EMAIL PROTECTED] Subject: [Ar-Royyan-5133]
Bisnis Aglaonema Kian Laju [bcc][faked-from][abs]
esia.co.id>
11/09/2006 04:08
PM
Please respond to
"[EMAIL PROTECTED]
com"
Komentar:
Sekedar masukan saja, coba lihat harga-harga yang ada di artikel bawah
ini.
Pandainya mereka memanfaatkan kesempatan yang ada dan .... "sim salabim"
... jutaan rupiah masuk kantong.
Wass / Jaerony.-
*********************************
Bisnis Aglaonema Kian Laju
Rabu, 01 Maret 2006 12:42:21
Sumber : www.trubus-online.com
Malangnian widuri itu. Selama 2 bulan aglaonema di kebun Fransiskus
Wiratmahusada itu harus menggendong 14 pot plastik transparan yang dijepit
erat ke batang. Puncak derita terjadi ketika sebilah pisau tajam dan
steril membelahnya menjadi 14 bagian. Empat bulan kemudian, saat tunas
dalam keempat belas pot itu berdaun 5 lembar, pecahan widuri itu laku
Rp4-juta per pot. Dengan pendapatan Rp56- juta, pengorbanan sang induk
seharga Rp5-juta yang rusak karena dipaksa melahirkan 14 anakan terbayar
sudah.
Aglaonema hasil silangan Gregori Garnadi Hambali itu tidak sendirian.
Selain sepot di atas, masih ada 4 pot widuri lain. Namun, keempatnya hanya
dipaksa menghasilkan 5- 6 anakan sehingga kondisi induk tetap sehat.
Dengan harga jual sama, berarti Frans-sapaan akrab Fransiskus
Wiratmahusada-memperoleh tambahan pendapatan minimal Rp80-juta dari
penjualan 20-24 anakan. Padahal pemilik nurseri Gama Cactus di Semarang
itu juga mencangkok bertingkat-begitu Frans mengistilahkan cara
perbanyakan aglaonemanya-hibrida turunan Aglaonema kochinensis asal
Bangkokseharga Rp40-juta.
Aglaonema terdiri atas 1 induk dan 11 anakan itu dicangkok menjadi 12
tanaman baru. Harga jual anakan Rp5-juta per pot. Tambahan Rp60- juta
kembali masuk kantong alumnus Jurusan Lanskap Universitas Trisakti,
Jakarta Barat, itu.
Cara serupa tapi tak sama ditempuh Ukay Saputra di Jakarta Barat. Pria
yang gemar mengumpulkan tanaman mutasi itu memborong 30 pot golden lipstik
terdiri dari 6-7 daun dari Thailandpada Februari 2005. Harga per pot
Rp3-juta. Tiba di tanahair, siamese rainbow itu digenjot dengan pemupukan
rutin agar rajin beranak.
Tiga bulan kemudian, dari setiap pot muncul 2 tunas. Anakan terdiri atas
3-4 daun siap dipisahkan 3-4 bulan kemudian. Setelah dirawat selama 4
bulan, anak-anak manee lompetch-nama asli sri rejeki itu di
Thailand-berdaun 7-8 helai siap dijual. Setiap anakan dilepas Rp1-juta.
Hingga awal Februari 2006, saat Trubus mewawancarai, Ukay sudah menjual
150-200 anakan. Dengan pendapatan Rp150-juta-Rp200-juta, modal membeli
indukan Rp90-juta pun tertutup.
Kencang
Sukses dengan golden lipstik, Ukay pun mengkarantina golden red peacock,
red hot chilli pepper, princess noble, butterfly, joey alias manee
daeng-sekadar menyebut puluhan aglaonema asal Thailand yang tengah
diperbanyak-di nurseri terpisah, berjarak selemparan batu dari showroom.
Setiap tunas yang tumbuh susul-menyusul, berarti rupiah buat pria yang
sudah hobi mengoleksi sri rejeki sejak awal 1990-an itu.
Di Semarang, Frans pun kian getol menggandakan anggota famili Araceae itu.
Trubus melihat, hampir tak ada tanaman dewasa yang utuh. Frans rela
mencacah aglaonema-aglaonema berharga total ratusan juta rupiah itu
lantaran begitu anakan siap dijual, pembeli sudah antre. Bisnis aglaonema
sekarang sedang kencang, tuturnya.
Itu pulalah yang dialami Indri Greg Hambali. Perempuan kelahiran
Jakartaitu pusing tujuh keliling oleh dering telepon genggamnya. Itu
telepon dari para kolektor dan pemilik nurseri yang meminta anakan
aglaonema-aglaonema hasil silangan Greg Hambali-sang suami. Saking
derasnya permintaan, Indri pun mesti menerapkan sistem pesanan.
Untuk widuri, misalnya, Ini sudah ada 60 pohon diinden. Mereka (calon
pembeli, red) berani membayar Rp1,5-juta per lembar, kata perempuan yang
bersama sang suami bahu-membahu menelurkan sri rejeki-sri rejeki anyar
itu. Permintaan serupa datang untuk tiara, hot lady, dan adelia-yang kini
paling banyak diincar. Belum lagi permintaan santi, JT-2000, petit, merah
delima, dan diana. Kencangnya tarikan bisnis tanaman yang dipercaya
membawa hoki itu juga dirasakan pula oleh Suhandono, Iwan Hendrayanta, dan
Ansori di Jakarta Selatan, Harry Setiawan di Jakarta Timur, Gunawan Wijaya
dan Tri Rahmadi di Bogor, Yopie Joko Pramono di Semarang, serta nurseri
Yanti & Linda di Medan. Sekarang ini kalau ada 100 tiara pasti langsung
ludes dalam sehari, ujar Suhandono menggambarkan kencangnya pasar.
Investor
Munculnya pemain-pemain baru yang berani membeli tanaman-tanaman mahal
jadi pemicu gairah bisnis aglaonema. Sebut saja A Kiong di Jakarta.
Penggemar anyar yang tergila-gila pada sri rejeki itu rela membenamkan
duit miliaran rupiah untuk 30 pot widuri dan 200-an pot adelia. Padahal
harga widuri saat ini Rp1,5-juta per daun; adelia, Rp350.000 per lembar.
Masih di ibukota, Sukardi dan Santi Pieters juga keranjingan mengumpulkan
ratu tanaman hias daun. Hampir setiap hari Santi menyambangi
nurseri-nurseri penyedia aglaonema. Kerapkali ia membeli jenis yang sama
dengan koleksi di rumah lantaran kondisi tanaman lebih bagus.
Nun di Pekanbaru, Riau, ada Hj Andriani Lubis kolektor aglaonema sejak 3
tahun silam. Wanita 37 tahun itu memiliki minimal 400 pot terdiri atas
ratusan jenis. Aglaonema-aglaonema silangan Greg Hambali bersama
jenis-jenis asal Thailandtertata indah di lantai atas kediamannya. Dalam 2
bulan terakhir, ia menggelontorkan dana ratusan juta rupiah untuk menambah
koleksi. Masih di provinsi yang kaya minyak itu, Solimin juga mulai getol
mengumpulkan sri rejeki.
Tak heran, dengan stok terbatas, harga aglaonema-terutama silangan Greg
Hambali-meroket tajam. Pertama kali dilepas pada April 2004, widuri hanya
berbandrol Rp750.000 per lembar. Kini harga melonjak 2 kali lipat. Setahun
silam harga adelia Rp60.000 per daun, sekarang Rp350.000 per helai.
Sementara hot lady naik dari Rp900.000 per lembar menjadi Rp1,5-juta per
helai dalam hitungan bulan. Suhandono membeli tiara Rp750.000 per lembar
pada Agustus 2004, kini Rp1-juta per daun. Toh, para kolektor tak peduli,
mereka tetap menginden sang incaran.
Dengan kondisi seperti itu, pantas bila para penangkar mengantre anakan
sebagai bahan indukan. Mereka tak khawatir membenamkan rupiah lantaran
yakin keuntungan bakal cepat dituai. Buktinya, para pedagang dan kolektor
berkali-kali mengontak Harry Setiawan untuk menjadi yang pertama memiliki
anakan hot lady. Padahal, pemilik pabrik mi itu sendiri masih menginden
aglaonema merah cerah itu pada sang penyilang.
Daerah
Kehadiran jenis-jenis baru yang tak habis-habisnya diduga kian menggenjot
pasar. Lelang aglaonema-aglaonema anyar silangan Greg Hambali pada 2001
sebagai titik tolak. Bermunculanlah adelia, JT-2000, diana, tiara, widuri,
dan lain-lain. Lalu itu diikuti oleh masuknya jenis-jenis asal Thailand.
Sebut saja misalnya sweet rosy, siamaurora, dan twinkle pink-jenis asal
Thailand.
Ramainya pasar pun ditunjang oleh penampilan sang ratu tanaman daun.
Warna-warni aglaonema yang seperti warna bunga abadi-tidak tergantung
musim. Lain halnya dengan tanaman bunga yang keindahannya hanya dinikmati
saat bunga muncul, tutur Ansori. Pantas Harry hampir 2 kali dalam sebulan
ulang-alik Jakarta-Bangkok. Hal serupa dilakukan Gunawan Widjaja dan Iwan
Hendrayanta.
Penyebaran aglaonema ke daerah membuat permintaan pasar kian melebar.
Pembeli yang datang ke tempat Harry berasal dari Semarang, Purwokerto,
Yogyakarta, Pekanbaru, dan Makassar. Di Medan, nurseri Yanti & Linda
mengimpor pride of sumatera, lady valentine, dan siam aurora dari Thailand
untuk melayani pelanggan dari Pekanbaru, Bandung, Yogyakarta, Semarang,
dan Bali. Penyebaran itu antara lain didorong oleh publikasi media
massadan pameran. Menurut Ukay, setiap kali mengikuti ekshibisi terjaring
25-30% konsumen baru. Apalagi harga beberapa jenis sang ratu sudah lebih
terjangkau kantong masyarakat umum.
Bisa diusahakan di lahan sempit dengan keuntungan menggiurkan. Itu pula
yang membuat orang berbondong-bondong menerjuni bisnis aglaonema. Hanya
bermodalkan pekarangan rumah di kawasan kompleks perumahan kelas menengah
di Bogor, Tri Rahmadi sanggup meraup omzet Rp100- juta per minggu. Dengan
penjualan itu alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Atmajaya itu meraup
keuntungan Rp10-juta-Rp20-juta per minggu. Padahal pria yang pernah
bekerja di perusahaan platting and undercoating itu baru terjun berbisnis
sri rejeki. Segmen pedagang dipilih lantaran perputaran uang lebih
kencang.
Yanti & Linda menanamkan modal Rp100-juta untuk membeli tanaman dari
Thailandpada Mei 2004. Setahun kemudian, modal dan keuntungan sudah di
tangan. Ansori mengakui 75% pendapatan nurseri Zikita diperoleh dari
aglaonema. Pria asal Cirebonitu membudidayakan dan memasarkan tanaman hias
daun lain.
Batu sandungan
Toh, untuk memasok pasar itu bukan tanpa kendala. Delapan dari 18 red hot
chilli pepper yang Ukay boyong dari Thailandmati sia-sia. Musababnya,
pemilik nurseri Annisa itu lalai mengecek kesehatan tanaman. Ternyata
tanaman itu baru ditanam ulang di sana. Baru akan berakar sudah dicabut
lagi, lalu dikemas untuk perjalanan Bangkok-Jakarta, tutur Ukay. Pantas
setiba di tanahair, siamese rainbow seharga Rp9-juta per tanaman itu
lemah, layu, dan akhirnya mati. Perkara salah kemas juga pernah dialami
Harry Setiawan dan Yopie.
Iwan pernah ditipu pedagang di negeri Gajah Putih. Mantan manajer
pemasaran salah satu bank swasta nasional itu membeli red peacock. Sang
empunya menyebut, jenis itu belum diperbanyak. Lantaran yakin jenis itu
satu-satunya, Iwan pun rela melepas uang jutaan rupiah. Namun, begitu
kolektor enchephalartos itu berbelanja lagi ke Thailand, ternyata stok si
merak merah ditemukan di nurseri lain. Makanya beberapa penangkar lebih
suka mengincar aglaonema silangan lokal.
Kenal baik dengan para penangkar di Thailandpun belum jaminan bisa dengan
mudah mendapatkan barang. Maklum, pasar sri rejeki di Thailandpun cukup
kencang. Akhir Januari silam, Gunawan Widjaja terpaksa gigit jari. Mantan
bankir itu semula hendak berpikir 2-3 hari dulu sebelum membeli aglaonema
incaran. Eh, waktu besoknya saya datang lagi ke nurseri itu, barang sudah
tidak ada. Diambil oleh kolektor kawakan di sana, kata Gunawan.
Setelah tiba di tanahair, belum tentu siamese rainbow itu cocok dengan
kondisi iklim Indonesia. Perawatan berbeda membuat tanaman rentan
serangan hamapenyakit. Sepot chao praya seharga Rp5-juta koleksi Santi
Pieters tahu-tahu layu dan mati. Santi menduga serangan cendawan-lah biang
keladinya. Sementara Greg Hambali dipusingkan dengan serangan ulat dari
famili Noctuidae. Ulat berwarna putih itu sangat aktif bergerak di malam
hari. Ia gemar bersembunyi di dalam media, lantas menyerang batang
tanaman. Begitu sang ulat menggerogoti batang, dipastikan sang ratu daun
bakal tak terselamatkan.
Salah perawatan pun menjadi kendala. Dua aglaonema seharga total 40-juta
milik dr Purbo Djojokusumo-kolektor di JakartaUtara-roboh karena dipupuk
berlebih. Mereka yang bermain dengan jenis-jenis mahal pun mesti siap-siap
menggandakan pengamanan. Yopie menggelontorkan Rp100- juta untuk membuat
pagar rapat setelah ratusan pot aglaonema senilai Rp50- juta digondol
maling. (baca: Berlapis Pengamanan untukmu, sang Ratu, halaman 22-23).
Best seller
Namun, bila sandungansandungan itu teratasi, dipastikan rupiah bakal
mengalir deras. Yang menikmati keuntungan bukan melulu mereka yang bermain
di kelas-kelas mahal dan jenis-jenis anyar. Sri rejeki-sri rejeki lawas
seperti pride of sumatera dan donna carmen dengan harga terjangkau kantong
pun tetap diincar pasar. Ukay menghitung, Sebanyak 70% penjualan dari
tanaman dengan harga Rp100.000-Rp300.000 per pot. Berikutnya, kelas
Rp300.000-Rp500.000 (15-17%), sisanya kelas Rp500.000-Rp1.000.000 per
tanaman.
Setiap bulan Suhandono mendapat pesanan 300 pot pride of sumatera. Jumlah
yang sama juga terjual di kebun milik Yopie di Semarang. Lantaran
permintaan pasar tidak sebanding dengan stok barang, harga aglaonema
pertama berwarna merah itu pun melonjak. Pada 2004, selembar pride of
sumetera hanya Rp12.500-Rp15.000. Dua-tiga bulan ke belakang harganya naik
Rp20.000 per lembar daun.
Pantas Yopi pun mulai memperbanyak pride of sumatera dengan teknik
cangkok. Masih juga kurang pasokan, para importir pun mendatangkan
aglaonema kelahiran Bogoritu dari Thailand. Sekali datang 2.000 pot
langsung habis dalam seminggu, datang lagi 2.000 pot habis lagi.
Sampai-sampai orang Thailandsendiri kebingungan, papar Suhandono.
Saat ini aglaonema pertama berwarna merah itu memang menduduki peringkat
teratas yang paling banyak diperdagangkan bersama lady valentine. Ukay
menghitung, setidaknya 8.000 lady valentine yang diimpor sejak Desember
2004-Februari 2006 ludes terjual. Itu tanaman terdiri atas 6-7 daun
setinggi 10-15 cm dengan harga Rp125.000 per pot. Kini permintaan 500 pot
lady valentine terus mengalir. Dalam kurun waktu sama, Tri Rahmadi sanggup
mendistribusikan 10.000 lady valentine kepada konsumen di Bandung,
Yogyakarta, Medan, Makassar, dan Pontianak. Jenis lain yang juga best
seller adalah heng-heng, butterfl y, lipstik, snow white, dan legacy.
Kencangnya pasar pun membuat seorang penangkar berani membuka gerai khusus
aglaonema di kawasan sentra tanaman hias di Jakarta Selatan. Di lahan
seluas 4 m x 20 m sekitar 700-750 pot aglaonema beragam jenis dan ukuran
distok. Sejak dibuka pada Desember 2005, omzet sekarang sudah mencapai 2
kali lipat, tutur sang empunya sambil menyebut angka Rp50-juta untuk omzet
per bulan.
Ekspor ke Belanda
Parapemain tak khawatir pasar bakalan jenuh. Sekarang ini kalau ada 5
pemain besar lagi pun kebutuhan pasar belum tercukupi, kata Ukay yang
menginvestasikan dana hingga 9 digit untuk mengumpulkan induk-induk
aglaonema asal Thailanddan silangan lokal itu. Menurut hitungan Iwan
Hendrayanta yang ketua Perhimpunan Florikultur Indonesiaitu, perbandingan
antara permintaan dan pasokan saat ini 10: 1.
Apalagi aglaonema bukan barang pabrikan yang dapat dicetak massal dalam
waktu singkat. Kini memang ada yang mencoba memproduksi sri rejeki dengan
cara kultur jaringan. Tapi tidak akan semudah itu, ujar Greg Hambali.
Anggota famili Araceae itu terbilang rewel bila diperbanyak dengan kultur
jaringan. Setiap jenis menuntut perlakuan berbeda, misal formula media.
Padahal untuk menghasilkan media tepat dibutuhkan riset bertahun-tahun.
Kecepatan pertumbuhan pun lambat. Pantas bila Greg menilai secara ekonomis
perbanyakan itu tidak menguntungkan. Lantaran sulit diperbanyak pula,
harga sang ratu tanaman daun itu bakal terus bertahan.
Peluang ekspor pun sebetulnya terbentang bila pemain lokal bisa
memanfaatkan. Thailandmendapat pesanan 40.000 pride of sumatera dari
Belanda. Ini kankecolongan, padahal pride of sumatera asli Indonesia,
kata Greg. MasterdariUniversityof Birminghamitu yakin Indonesiabakal
sanggup bersaing dengan negeri Siam. Apalagi jika semakin banyak penangkar
dan penyilang bermunculan. Terbukti penangkar dari Thailandikut mengincar
aglaonema-aglaonema karya Greg. Saat angin bisnis aglaonema berembus
kencang, siap-siaplah untuk ikut ambil bagian. (Evy Syariefa/Peliput:
Hanni Sofia, Lastioro Anmi, Rahmansyah Darmawan, Rosy Nur Apriyanti, Sardi
Duryatmo, Syah Angkasa, dan Syalita Fawnia)
****************
--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com
--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com
--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com