"WONG CILIK"
" Dan Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rejeki
..." (Al-Nahl 16 : 71)
" Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu ? Kamilah yang membagi-bagikan
penghidupan diantara mereka dalam kehidupan dunia dan Kami meninggikan derajat
sebagiannya atas sebagian yang lain, supaya sebagiannya dapat menggunakan
sebagian yang lain sebagai orang yang membantu ... (Az Zukhruf 43 : 32)
Islam menganggap wong cilik, wong gedhe, kaya dan miskin merupakan sesuatu yang
alami. Tuhan memberikan kesempatan sama untuk memperoleh rejeki. Superioritas
satu atas yang lain tidak bergantung pada derajat bangsawan-jelata,
laki-perempuan, tua-muda, melainkan karena perbedaan kecermatan melaksanakan
tugas dan kesempatan yang diberikan Allah. Kecermatan adalah faktor pembeda.
Malas-rajin, boros-hemat, keberhasilannya harus beda..
Islam membiarkan ketidakmerataan ekonomi dan tidak satupun ayat yang mendukung
penghapusannya. Semua itu agar ada keadilan diantara yang rajin, malas, hemat,
boros dsb. Harus ada insentip ekonomi di dunia seperti halnya di akherat nanti
(ini dijalankan dengan baik di negara kapitalis).
Islam tidak mengusung "pemerataan ekonomi", namun Islam sangat concern dengan
"pemerataan sosial". Setiap orang harus punya kesempatan sama secara sosial,
raja, pejabat, pegawai biasa, budak, orang kaya, miskin, wong cilik, wong gede,
harus sederajat secara sosial. Sederajat dalam meraih kesempatan yang diberikan
Allah. Sama kesempatan untuk menjadi kaya, menjadi pintar dsb. Hasil akhir
diserahkan pada pribadi masing-masing dalam mencermati hidup.
Kesalahan yang sering terjadi, kadang kita ini merasa menjadi mahkluk paling
hebat. Membantu Tuhan dalam mebagi-bagikan rahmat Allah. Sombongnya kita ini.
"Dan tidak ada suatu yang melata di bumi melainkan Allah yang memberi rezkinya
." (Hud 11:6)
"Dan Kami menjadikan di bumi keperluan kehidupan kamu dan keperluan kehidupan
orang yang bukan kamu memberi rezkinya" (Al Hijr 15 : 20)
Lantas Islam mendiamkan masalah kemiskinan ? Perbedaaan kelas ? Tidak, sekali
lagi tidak. Kebanyakan ayat Al Quran isinya berbicara dan menyatakan perang
terhadap kemiskinan, tapi sekaligus aturannya. Zakat, sedekah, infaq, dsb
merupakan aturan main orang-orang yang diberi kelebihan, dalam koridor
kemlasahatan dan kepentingan orang banyak.
"Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya
harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) ... tetapi peliharalah mereka dari
hasil harta itu " (An Nisaa' 4 : 5 ).
"
Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka akan nafkahkan. Jawablah !
Apapun harta yang kamu nafkahkan maka adalah untuk ibu-bapak, keluarga yang
dekat , anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang sedang dalam
perjalanan (ibnus sabil) " (Al Baqarah 2 : 215)
Termasuk dalam pengertian harta disini adalah "ilmu pengetahuan" yang kita
kuasai. Belum sempurna akal, harus diartikan orang yang tidak bisa
bertanggung-jawab dengan hartanya (dan atau ilmunya). Keluarga dekat termasuk
kerabat, teman sekelompok, teman satu tujuan, teman satu paham dll. Islam tegas
dan hati-hati dalam memberikan harta, kepada siapa, apa yang diberikan, kapan
diberikan, dan bagaimana memberikannya. Daripada merusak tatanan yang ada,
lebih baik memelihara mereka dengan hasil dari harta yang sedianya akan kita
berikan. Biarlah perawatan harta diserahkan kepada orang yang mampu, dengan
kewajiban memelihara mereka yang kurang mampu.
Demikian pemahaman saya tentang wong cilik. Tidak semua petani atau wong cilik
harus bekerja dengan "harta " sendiri seperti "marhaen" yang dicita-citakan
Bung Karno. Mereka bisa bekerja di lahan orang, buruh atau plasma binaan
seperti yang dilakukan Mr. ToNny dan Mr. BJ. Tidak perlu petani bisa semuanya,
punya semuanya dsb. Ingat sebelum menikah, Nabi Muhhamad s.a.w adalah buruh
Siti Khadijah. Meski berdagang, tapi pemilik modal tetap Siti Khadijah. Meski
penggembala, kambing tetap milik Siti Khadijah.
"Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah" adalah konsep keadilan/pemerataan
sosial bukan keadilan/pemerataan ekonomi. Insentip ekonomi tetap harus ada bagi
yang hemat, rajin, ulet, gigih, pantang menyerah, pintar dan pandai.
Pemberian harus pada tempatnya. Jangan hanya karena mendengar cita-cita
pengamen jalanan ingin jadi Peterpan, lalu difasilitasi. Apakah dia sudah siap,
punya bakat, potensi, mampu menjaga, dan bertanggung jawab dengan fasilitas
yang diberi. Harta adalah titipan Tuhan untuk dirawat, dipelihara, agar dapat
lebih bermanfaat bagi alam ini, bagi kebaikan semua orang. Kalau kemudian kita
serahkan kepada yang belum sempurna akal, apa jawaban kita kelak kepada Tuhan ?
Maaf jadi seperti aa' Gym
Ganggeng Kanyoet