Minggu, 23 April 2006
Andi Tenri Gappa 
Terobsesi Hijaukan Arafah 

Bekerja sebagai bankir ternyata belum cukup bagi Andi Tenri Gappa yang akrab 
disapa Onny. Di sela-sela kesibukannya, pria kelahiran Jakarta pada 1 Desember 
1958 ini belakangan menambah kesibukannya dengan giat melakukan pembibitan 
pohon-pohon untuk penghijauan.

Berbagai jenis bibit tanaman pun dikembangkan suami A Soraya Mattalatta ini 
dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah yang luasnya `hanya' 1.000 meter 
persegi itu. Halaman rumah tersebut tidak pernah kosong dari bibit tanaman. 
Setelah bibit-bibit tersebut cukup besar, ayah dari Ahmad Yani (9 tahun) ini 
kemudian membagi-bagikan kepada siapa saja yang berminat tanpa memungut 
bayaran. Bagi Ketua Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Sulawesi ini, menanam 
pohon adalah investasi yang tak terhingga. 

Onny tak pernah menghitung berapa banyak uang yang sudah dikeluarkannya untuk 
pengadaan bibit-bibit tersebut. Baginya, pohon bukanlah kembang api yang sekali 
meletup setelah itu mati. `'Pohon ini akan menyala dan tumbuh makin lama makin 
besar, dan saya akan menyalakan api di mana-mana,'' ujar anak kesembilan dari 
sepuluh bersaudara itu pada wartawan Republika Andi Nur Aminah.

Niatnya yang tanpa pamrih untuk menghijaukan bumi disadarinya tak bisa dilakoni 
sendiri. Alumni Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada ini kemudian 
menggandeng Universitas Hasanuddin untuk membentuk sebuah komunitas bernama 
`Unhas Green Community'. Lewat komunitas tersebut, keponakan almarhum Jenderal 
M Jusuf ini berangan-angan bisa menghijaukan Nusantara dari Kota Makassar. 
Bertepatan dengan peringatan Hari Bumi yang jatuh pada 22 April, Onny kemudian 
memproklamirkan lahirnya `Unhas Green Community' yang diharapkan bisa menjadi 
pelopor untuk pelaksanaan penghijauan di berbagai daerah. 

Bagaimana awalnya hingga Anda terjun dan terlibat dalam pembibitan pohon-pohon 
untuk penghijauan?
Awalnya pada tahun 2004, pertama kali saya membibitkan sekitar 12.000 bibit 
saja. Setahun kemudian menjadi lebih banyak lagi karena saya bikin bukan lagi 
hanya untuk Makassar. Ada banyak permintaan dari berbagai daerah seperti 
Manado, Gorontalo, Palu, Kendari. Boleh jadi karena di awal tahun 2005 saya 
pernah diberitakan di salah satu media nasional, tidak lama kemudian surat dari 
mana-mana masuk, dari Ternate sampai NTT, yang minta pohon ke saya. Saya sudah 
kepalang basah, dan itu konsekuensinya. Tapi tidak apa, karena itu pekerjaan 
yang saya suka. 

Kepedulian lingkungan juga yang mendorong Anda membentuk suatu komunitas 
lingkungan yang menjalin bekerja sama dengan Unhas?
Saya merasa tangan saya hanya dua. Makanya, saya lantas berpikir, dalam bidang 
ini harus dibentuk satu komunitas. Saya tidak mau jalan sendiri. Saya kemudian 
ngomong ke Prof Idrus Paturusi (Rektor Universitas Hasanuddin, red) dan 
beberapa teman-teman. Ternyata, disambut baik oleh rektor. Bahkan, kita lantas 
dikasih lahan di kampus Unhas, di samping danau, lalu kita bikinlah pembibitan 
di situ. 

Komunitas ini namanya Unhas Green Community yang diluncurkan bertepatan dengan 
Hari Bumi. Pertama memang di Unhas, nanti dalam waktu dekat akan ke Universitas 
Sam Ratulangi Manado, Universitas Tadulako Palu, Universitas Haluoleo Kendari. 
Teman-teman di Unhas akan menjadi pelopor atau inspirator terhadap 
kampus-kampus lain untuk bisa berbuat hal yang sama. Saya bilang, saya siap 
memfasilitasi teman-teman mahasiswa untuk membuat hal serupa, saya akan 
memberikan mereka bibit tanaman, bersinergi dengan pihak-pihak yang memiliki 
kepentingan-kepentingan yang sama. 

Anda juga berperan menghijaukan Kota Makassar. Apa ini juga menjadi tekad Anda?
Oh ya, saya pernah menyiapkan 15.000 bibit pohon untuk ditanam di Makassar. 
Semuanya saya berikan gratis. Cita-cita saya begini. Kota Makassar ini kan ada 
kotamadya, kecamatan, sampai kelurahan. Yang bagus memulai dari kelurahan. Satu 
kelurahan ada beberapa jenis jalan, ada yang kelas besar, kecil, sampai kecil 
sekali. Saya sudah memikirkan, untuk jalan yang besar itu pohonnya jenis apa 
yang cocok, mungkin raintree, jalan kecil pohon apa, sampai jalan kecil sekali 
mungkin cocoknya jenis palem, sehingga setiap kepala desa atau lurah bisa 
merencanakan sendiri. Nanti diketahui, satu kelurahan itu butuh tanaman sekian 
banyak dan jenis apa saja. Kalau sudah terdata, tinggal order ke mahasiswa, dan 
kegiatan ini harus melibatkan untuk menanamnya. 

Bagaimana untuk skala yang lebih luas lagi?
Saya siap ke mana saja, keliling Indonesia untuk menanam pohon. Saya punya uang 
dan siap lakukan apa saja. Saya mengeluarkan uang dan tidak berharap untuk 
kembali. Ini investasi bagi saya, besok-besok kalau kita dipanggil sama Tuhan 
dan ditanya kita sudah berbuat apa saja di dunia ini. Makanya, sekarang saya 
merasa punya kesempatan, saya harus tanam sebanyak-banyaknya. Pohon-pohon ini 
umurnya bukan 10 atau 20 tahun, tapi ratusan tahun. Yang saya inginkan adalah 
bagaimana keinginan saya ini bisa dilaksanakan oleh saya atau oleh siapa pun. 
Yang penting pohon itu tertanam, bisa besar, dan bisa berfungsi mengurangi efek 
panas bumi.

Saya tidak perlu itu kembali, saya sudah cukup makan tiga kali sehari kok. 
Menanam pohon ini bukan membuat api. Tapi, pohon itu bisa menyala terus dan 
tambah lama tambah besar. Bukan kembang api yang cuma sekali buuum, setelah itu 
mati. Yang saya tanam ini insya Allah akan menyala terus, dan saya akan 
nyalakan api di mana-mana. Pokoknya selama saya masih punya uang, saya tidak 
akan berhenti. Dan uangnya juga memang tidak kurang-kurang tuh, selalu ada 
saja. Saya tidak khawatir akan jadi miskin hanya karena menanam pohon-pohon 
ini. Saya percaya itu tidak akan terjadi. Jadi, saya ingin mengajak teman-teman 
yang lain supaya punya pemikiran mengenai ini juga. 

Boleh dibilang Onny beranjak besar di Jakarta. Jenjang pendidikan dari SD 
hingga SMA dituntaskan di kota ini dan beberapa bulan di kota Bandung. Setamat 
dari SMA 6 Bulungan, penggemar motor besar ini kemudian melanjutkan kuliah di 
UGM hingga lulus pada tahun 1983. Setahun berselang, Onny pulang ke kampung 
halaman orang tuanya dan mengerjakan empang di Kajuara, kabupaten Bone.

Ketika itulah dia sempat mengalami masa sulit. Maklum, ia sudah terbiasa dengan 
hiruk-pikuk Jakarta dan tiba-tiba dia berada di perkampungan yang listriknya 
pun belum ada. Setelah empangnya gagal panen sebanyak dua kali, Onny kemudian 
kembali ke Jakarta dan melanjutkan sekolah perbankan di Panin pada 1987. Karier 
di Bank Panin dimulainya sebagai junior officer. Setahun kemudian ia kembali ke 
Makassar dan bekerja di Bank Panin Makassar. Perlahan tapi pasti, kariernya 
semakin menanjak hingga akhirnya menjabat sebagai pimpinan cabang Bank Panin 
Wilayah Indonesia Timur dari tahun 1995 hingga sekarang. 

Sebenarnya, apa obsesi terbesar Anda dalam penanaman pohon?
One day, jika saya diberikan kesempatan, saya ingin menghijaukan Arafah, 
seperti yang dilakukan (mantan presiden) Soeharto dulu. Saya pernah mengirim 
e-mail ke pemerintah Saudi Arabia, tapi belum ada respons. Tapi, mungkin kalau 
Pak Jusuf Kalla yang ngomong, barangkali direspons, saya akan pergi ke sana. 
Tidak semua Saudi Arabia itu padang pasir. Di Riyadh itu, daerah pertanian yang 
bagus. Saya bisa bibitkan raintree dan pohon ini tepat sekali untuk daerah itu. 

Kalau di Indonesia, saya yakin bisa kita lakukan. Saya ingin menghijaukan 
Indonesia dari Makassar. Tapi, saya tidak mau main sendiri sekarang. Saya ingin 
memberdayakan teman-teman mahasiswa. Saya tidak ingin membuat mereka bergantung 
pada saya, tapi membuat mereka termotivasi. One day, mereka sudah bisa berpikir 
dan berbuat sendiri. Merekalah yang akan pergi NTT, ke Jogya, dan ke mana saja. 
Obsesi saya memang, kalau kita sudah bisa masuk di Sumatra, di Jawa, suatu saat 
niatnya akan Arafah. Kalau sudah sampai ke sana, luar biasa sekali. Mereka 
sudah punya teknologi penyiraman yang bagus, tapi kenapa mereka tidak 
melakukan. Saya pikir kenapa Soeharto yang waktu itu sekitar tahun 1970-an 
teknologinya belum secanggih sekarang saja bisa melakukan, masak saya nggak 
bisa. 

Adakah tempat yang menjadi inspirasi bagi Anda sehingga begitu ingin menanam 
ribuan pohon di mana-mana?
Singapura dan Malaysia. Dua negara itu tidak sebanding dengan negara kita yang 
luar biasa kayanya. Tapi, mereka bisa melakukan penghijauan yang sangat bagus. 
Itu membuat saya iri sekali. Lantas saya berpikir, ini bisa kok saya lakukan, 
makanya saya lakukan. 

Jadi, saya mencoba sekarang menginspirasi teman-teman lain yang mungkin 
sepikiran dengan saya, memfasilitasi mereka, supaya pembibitannya bisa lebih 
besar. Selama ini pembibitan saya lakukan di rumah saya saja. Tapi, halamannya 
cuma 1.000 meter, bisa bikin berapa banyak. Tahun lalu saya bisa bikin 15.000 
bibit, kemudian saya pakai pollybag (kantong bibit) yang besar, hanya sekitar 
2.000 (bibit), sudah penuh halaman saya. Akhirnya saya telepon-telepon 
teman-teman, relasi, (bilang) 'Tolong dong diambil nih bibit'. Sekarang yang 
sisa tinggal palem saja. Sebetulnya banyak orang yang ingin terlibat dan 
memberikan kontribusinya, tapi masalahnya siapa yang bisa dipercaya. Ibaratnya, 
kalau kita ingin naik Gunung Mahameru, kita harus naik Gunung Latimojong dulu, 
baru Semeru, baru lebih tinggi, jadi bertahap. 

Setelah tsunami di Aceh, Anda juga pernah membawa bibit-bibit tanaman ke sana 
ketika orang-orang belum memikirkan untuk menanam pohon. Apa Anda juga 
bermaksud menghijaukan Aceh atau ada tujuan lain?
Sebetulnya itu bukan penghijauan. Waktu itu hanya simbol persaudaraan antara 
Aceh dan Sulawesi. Saya hanya bawa beberapa bibit. Ada lima ditanam di sekitar 
Masjid Baiturrahman dan tiga di RS Zainul Arifin. Beberapa lagi di daerah 
Bireun. Tapi nanti, lewat komunitas ini, Unhas bisa melakukan kontak dengan 
Universitas Syiah Kuala. Kalau mereka bersedia, kita akan ke sana, membawa 
bibit, pollybag, kita saranai, sehingga dia bisa membuat satu komunitas sendiri 
juga. Kita berharap Unhas dengan komunitas ini bisa menjadi inspirasi dan 
menularkan apa yang telah dilakukan ke kampus-kampus lain se-Indonesia. Jadi, 
hijau dari Makassar. 

''Saya kadang bertanya sendiri, saya tidak pernah merencanakan hidup, tahu-tahu 
saya ada saja, dan suatu waktu saya akan mati. Makanya, saya berpikir, selama 
saya masih hidup, saya harus menjadi orang bermanfaat.''Tidak cuma untuk diri 
sendiri dan keluarga, Onny juga memilih untuk bermanfaat lebih banyak lagi 
untuk orang lain. ''Lebih banyak, lebih besar, lebih bagus.''

Akhirnya, langkah melestarikan lingkungan lewat bibit-bibit pohon itulah yang 
diambilnya. Dengan langkahnya itu, Onny berangan orang-orang dari Ambon 
misalnya akan mendatanginya untuk meminta bibit. Keinginan Onny tidak muluk. 
''Saya kepingin orang-orang melihat, mendengar, dan melakukan hal yang sama 
dengan saya. Saya tidak ingin menjadi populer. Mudah-mudahan besok akan banyak 
orang-orang yang berpikiran sama seperti saya.''

Apakah ada pengalaman masa kecil yang mewarnai sehingga saat ini begitu jatuh 
cinta pada pepohonan?
Sebetulnya tidak ada. Saya lahir dan besar di Jakarta. Hanya ceritanya, suatu 
hari saya naik mobil dengan bapak saya dari Bone ke Makassar. Itu sekitar tahun 
1988, dan saya tidak kecil lagi waktu itu. Bapak saya bilang, Onny kamu tahu, 
semua pohon asam yang ada di pinggir jalan, dari Pampanua, Bone Utara sampai di 
sini, semuanya Bapak saya yang tanam.

Mendengar itu, saya berpikir, 'Wah hebat juga. Kakek saya sudah meninggal, tapi 
pohonnya masih hidup semuanya'. Di situ saya mulai kepikiran, saya mau menanam 
pohon. Saya memulainya dengan biji palem. Waktu masih kuliah, kalau saya lagi 
punya duit banyak, saya bibitkan banyak, Kalau duitnya lagi sedikit ya bibitkan 
sedikit, tapi tidak pernah berhenti.

Sekarang, saya pikir sudah waktunya saya membuat yang banyak. Memang, 
kadang-kadang orang mikir saya ini aneh. Kadang ada yang bilang, Onny kamu ini 
mau jadi apa? Mau jadi wali kota, mau jadi gubernur. Tidaklah, mau jadi 
gubernur ngapain? Saya bilang, taruh-taruhan kalau hanya soal gaji gubernur 
dengan saya, gajinya lebih gedean saya. Itu kalau tidak korupsi lho ya. Mungkin 
tiga kali lipat. Buat apa jadi gubernur. Kalau jadi presiden mungkin mau, ha ha 
ha.

Anda berharap di keluarga Anda juga akan mengikuti jejak mencintai pohon?
Bagi saya, keluarga masing-masing sajalah. Mereka punya pikiran masing-masing. 
Saya tidak pernah memengaruhi mereka untuk harus cinta tanaman. Mereka bisa 
cinta sama binatang, pakaian, atau apa saja, terserah merekalah. Tapi, 
setidaknya kita telah menggambarkan. Seperti anak saya kadang berkomentar, 
'Papa ngapain sih, buat apa ini, banyak begini mau dibawa ke mana'? 

( ) 
sumber:  www.republika.co.id

Kirim email ke