Ass. WW
Katanya Aa Gym istrinya sudah menjadi dua. Jadi pengurus Ar Royyan kasih
contoh dong ?
Wass.
Djarot


                                                                       
                      jaerony                                          
                      <[EMAIL PROTECTED]         To:      "[email protected]" 
<[email protected]>
                      sa.co.id>                cc:                     
                                               Subject: Re: [Ar-Royyan-5312] 
Terobsesi Hijaukan Arafah [bcc][faked-from][abs]
                      11/30/2006 09:34                                 
                      AM                                               
                      Please respond                                   
                      to                                               
                      "[EMAIL PROTECTED]                                 
                      .com"                                            
                                                                       
                                                                       




Asslmkm.Wr.Wb.

Pak Jojo, Jika ada  akses dan kesempatan insya Allah.
Tapi, kata Aa Gym, lebih baik dari kita sendiri  yang mulai melakukannya.
Semakin berharap kepada orang lain, semakin kecewalah  kita!

Ingat soal "masjid raya" di lingkungan  kita?
Itu antara lain kebanyakan wacana bahwa "akan ada  sumber sumbangan
besar"!! Dan hasilnya : NIHIL!

Sama dengan hal itu, kalau kita cuma pandai  berwacana, akan bernasib sama.
Jadi, kita harus kembali ke track : "dakwah bil  hal"!

Wass / Jaerony.-

----- Original Message -----
From:  jojo  wahyudi
To: [email protected]
Sent: Wednesday, November 29, 2006 5:11  PM
Subject: Re: [Ar-Royyan-5312] Terobsesi  Hijaukan Arafah

Wah  Pak Jaerony, boleh juga nich kita minta bibit juga dari beliau
siapa  tahu di kasih untuk di tanam di lingkungan RW kita......
wuiiihhh   nggak bisa di bayangkan kalau komplek kita jadi ASRI
(bukan  cuma penuh pohon bambu doank he he he)

Boleh  tuh Pak di follow up..............

salam,
Jojo
-----  Original Message ----
From: jaerony <[EMAIL PROTECTED]>
To:  [email protected]
Sent: Wednesday, November 29, 2006 4:27:50  PM
Subject: [Ar-Royyan-5312] Terobsesi Hijaukan Arafah

Minggu, 23 April  2006
Andi Tenri Gappa
Terobsesi Hijaukan  Arafah



Bekerja sebagai bankir ternyata belum cukup bagi Andi Tenri Gappa yang
akrab disapa Onny. Di sela-sela kesibukannya, pria kelahiran Jakarta pada 1
Desember 1958 ini belakangan menambah kesibukannya dengan giat melakukan
pembibitan pohon-pohon untuk penghijauan.

Berbagai jenis bibit tanaman pun dikembangkan suami A Soraya Mattalatta ini
dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah yang luasnya `hanya' 1.000 meter
persegi itu. Halaman rumah tersebut tidak pernah kosong dari bibit tanaman.
Setelah bibit-bibit tersebut cukup besar, ayah dari Ahmad Yani (9 tahun)
ini  kemudian membagi-bagikan kepada siapa saja yang berminat tanpa
memungut  bayaran. Bagi Ketua Harley Davidson Club Indonesia (HDCI)
Sulawesi ini,  menanam pohon adalah investasi yang tak terhingga.

Onny tak pernah menghitung berapa banyak uang yang sudah dikeluarkannya
untuk pengadaan bibit-bibit tersebut. Baginya, pohon bukanlah kembang api
yang  sekali meletup setelah itu mati. `'Pohon ini akan menyala dan tumbuh
makin  lama makin besar, dan saya akan menyalakan api di mana-mana,'' ujar
anak  kesembilan dari sepuluh bersaudara itu pada wartawan Republika Andi
Nur  Aminah.

Niatnya yang tanpa pamrih untuk menghijaukan bumi disadarinya tak bisa
dilakoni sendiri. Alumni Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada ini
kemudian menggandeng Universitas Hasanuddin untuk membentuk sebuah
komunitas  bernama `Unhas Green Community'. Lewat komunitas tersebut,
keponakan almarhum  Jenderal M Jusuf ini berangan-angan bisa menghijaukan
Nusantara dari Kota  Makassar. Bertepatan dengan peringatan Hari Bumi yang
jatuh pada 22 April,  Onny kemudian memproklamirkan lahirnya `Unhas Green
Community' yang diharapkan  bisa menjadi pelopor untuk pelaksanaan
penghijauan di berbagai daerah.

Bagaimana awalnya hingga Anda terjun dan terlibat dalam pembibitan
pohon-pohon untuk penghijauan?
Awalnya pada tahun 2004, pertama kali  saya membibitkan sekitar 12.000
bibit saja. Setahun kemudian menjadi lebih  banyak lagi karena saya bikin
bukan lagi hanya untuk Makassar. Ada banyak  permintaan dari berbagai
daerah seperti Manado, Gorontalo, Palu, Kendari.  Boleh jadi karena di awal
tahun 2005 saya pernah diberitakan di salah satu  media nasional, tidak
lama kemudian surat dari mana-mana masuk, dari Ternate  sampai NTT, yang
minta pohon ke saya. Saya sudah kepalang basah, dan itu  konsekuensinya.
Tapi tidak apa, karena itu pekerjaan yang saya suka.

Kepedulian lingkungan juga yang mendorong Anda membentuk suatu komunitas
lingkungan yang menjalin bekerja sama dengan Unhas?
Saya merasa tangan  saya hanya dua. Makanya, saya lantas berpikir, dalam
bidang ini harus dibentuk  satu komunitas. Saya tidak mau jalan sendiri.
Saya kemudian ngomong ke  Prof Idrus Paturusi (Rektor Universitas
Hasanuddin, red) dan beberapa  teman-teman. Ternyata, disambut baik oleh
rektor. Bahkan, kita lantas dikasih  lahan di kampus Unhas, di samping
danau, lalu kita bikinlah pembibitan di  situ.

Komunitas ini namanya Unhas Green Community yang diluncurkan bertepatan
dengan Hari Bumi. Pertama memang di Unhas, nanti dalam waktu dekat akan ke
Universitas Sam Ratulangi Manado, Universitas Tadulako Palu, Universitas
Haluoleo Kendari. Teman-teman di Unhas akan menjadi pelopor atau inspirator
terhadap kampus-kampus lain untuk bisa berbuat hal yang sama. Saya bilang,
saya siap memfasilitasi teman-teman mahasiswa untuk membuat hal serupa,
saya  akan memberikan mereka bibit tanaman, bersinergi dengan pihak-pihak
yang  memiliki kepentingan-kepentingan yang sama.

Anda juga berperan menghijaukan Kota Makassar. Apa ini juga menjadi  tekad
Anda?
Oh ya, saya pernah menyiapkan 15.000 bibit pohon untuk  ditanam di
Makassar. Semuanya saya berikan gratis. Cita-cita saya begini. Kota
Makassar ini kan ada kotamadya, kecamatan, sampai kelurahan. Yang bagus
memulai dari kelurahan. Satu kelurahan ada beberapa jenis jalan, ada yang
kelas besar, kecil, sampai kecil sekali. Saya sudah memikirkan, untuk jalan
yang besar itu pohonnya jenis apa yang cocok, mungkin raintree, jalan
kecil pohon apa, sampai jalan kecil sekali mungkin cocoknya jenis palem,
sehingga setiap kepala desa atau lurah bisa merencanakan sendiri. Nanti
diketahui, satu kelurahan itu butuh tanaman sekian banyak dan jenis apa
saja.  Kalau sudah terdata, tinggal order ke mahasiswa, dan kegiatan ini
harus  melibatkan untuk menanamnya.

Bagaimana untuk skala yang lebih luas lagi?
Saya siap ke mana  saja, keliling Indonesia untuk menanam pohon. Saya punya
uang dan siap lakukan  apa saja. Saya mengeluarkan uang dan tidak berharap
untuk kembali. Ini  investasi bagi saya, besok-besok kalau kita dipanggil
sama Tuhan dan ditanya  kita sudah berbuat apa saja di dunia ini. Makanya,
sekarang saya merasa punya  kesempatan, saya harus tanam
sebanyak-banyaknya. Pohon-pohon ini umurnya bukan  10 atau 20 tahun, tapi
ratusan tahun. Yang saya inginkan adalah bagaimana  keinginan saya ini bisa
dilaksanakan oleh saya atau oleh siapa pun. Yang  penting pohon itu
tertanam, bisa besar, dan bisa berfungsi mengurangi efek  panas bumi.

Saya tidak perlu itu kembali, saya sudah cukup makan tiga kali sehari  kok.
Menanam pohon ini bukan membuat api. Tapi, pohon itu bisa menyala  terus
dan tambah lama tambah besar. Bukan kembang api yang cuma sekali  buuum,
setelah itu mati. Yang saya tanam ini insya Allah akan menyala  terus, dan
saya akan nyalakan api di mana-mana. Pokoknya selama saya masih  punya
uang, saya tidak akan berhenti. Dan uangnya juga memang tidak
kurang-kurang tuh, selalu ada saja. Saya tidak khawatir akan jadi  miskin
hanya karena menanam pohon-pohon ini. Saya percaya itu tidak akan  terjadi.
Jadi, saya ingin mengajak teman-teman yang lain supaya punya  pemikiran
mengenai ini juga.

Boleh dibilang Onny beranjak besar di Jakarta. Jenjang pendidikan dari SD
hingga SMA dituntaskan di kota ini dan beberapa bulan di kota Bandung.
Setamat  dari SMA 6 Bulungan, penggemar motor besar ini kemudian
melanjutkan kuliah di  UGM hingga lulus pada tahun 1983. Setahun berselang,
Onny pulang ke kampung  halaman orang tuanya dan mengerjakan empang di
Kajuara, kabupaten Bone.

Ketika itulah dia sempat mengalami masa sulit. Maklum, ia sudah terbiasa
dengan hiruk-pikuk Jakarta dan tiba-tiba dia berada di perkampungan yang
listriknya pun belum ada. Setelah empangnya gagal panen sebanyak dua kali,
Onny kemudian kembali ke Jakarta dan melanjutkan sekolah perbankan di Panin
pada 1987. Karier di Bank Panin dimulainya sebagai junior officer.  Setahun
kemudian ia kembali ke Makassar dan bekerja di Bank Panin Makassar.
Perlahan tapi pasti, kariernya semakin menanjak hingga akhirnya menjabat
sebagai pimpinan cabang Bank Panin Wilayah Indonesia Timur dari tahun 1995
hingga sekarang.

Sebenarnya, apa obsesi terbesar Anda dalam penanaman  pohon?
One day, jika saya diberikan kesempatan, saya ingin  menghijaukan Arafah,
seperti yang dilakukan (mantan presiden) Soeharto dulu.  Saya pernah
mengirim e-mail ke pemerintah Saudi Arabia, tapi belum ada  respons. Tapi,
mungkin kalau Pak Jusuf Kalla yang ngomong, barangkali  direspons, saya
akan pergi ke sana. Tidak semua Saudi Arabia itu padang pasir.  Di Riyadh
itu, daerah pertanian yang bagus. Saya bisa bibitkan raintree  dan pohon
ini tepat sekali untuk daerah itu.

Kalau di Indonesia, saya yakin bisa kita lakukan. Saya ingin menghijaukan
Indonesia dari Makassar. Tapi, saya tidak mau main sendiri sekarang. Saya
ingin memberdayakan teman-teman mahasiswa. Saya tidak ingin membuat mereka
bergantung pada saya, tapi membuat mereka termotivasi. One day, mereka
sudah bisa berpikir dan berbuat sendiri. Merekalah yang akan pergi NTT, ke
Jogya, dan ke mana saja. Obsesi saya memang, kalau kita sudah bisa masuk di
Sumatra, di Jawa, suatu saat niatnya akan Arafah. Kalau sudah sampai ke
sana,  luar biasa sekali. Mereka sudah punya teknologi penyiraman yang
bagus, tapi  kenapa mereka tidak melakukan. Saya pikir kenapa Soeharto yang
waktu itu  sekitar tahun 1970-an teknologinya belum secanggih sekarang saja
bisa  melakukan, masak saya nggak bisa.

Adakah tempat yang menjadi inspirasi bagi Anda sehingga begitu ingin
menanam ribuan pohon di mana-mana?
Singapura dan Malaysia. Dua negara  itu tidak sebanding dengan negara kita
yang luar biasa kayanya. Tapi, mereka  bisa melakukan penghijauan yang
sangat bagus. Itu membuat saya iri sekali.  Lantas saya berpikir, ini bisa
kok saya lakukan, makanya saya lakukan.

Jadi, saya mencoba sekarang menginspirasi teman-teman lain yang mungkin
sepikiran dengan saya, memfasilitasi mereka, supaya pembibitannya bisa
lebih  besar. Selama ini pembibitan saya lakukan di rumah saya saja. Tapi,
halamannya  cuma 1.000 meter, bisa bikin berapa banyak. Tahun lalu saya
bisa bikin 15.000  bibit, kemudian saya pakai pollybag (kantong bibit) yang
besar, hanya  sekitar 2.000 (bibit), sudah penuh halaman saya. Akhirnya
saya telepon-telepon  teman-teman, relasi, (bilang) 'Tolong dong diambil
nih bibit'.  Sekarang yang sisa tinggal palem saja. Sebetulnya banyak orang
yang ingin  terlibat dan memberikan kontribusinya, tapi masalahnya siapa
yang bisa  dipercaya. Ibaratnya, kalau kita ingin naik Gunung Mahameru,
kita harus naik  Gunung Latimojong dulu, baru Semeru, baru lebih tinggi,
jadi bertahap.

Setelah tsunami di Aceh, Anda juga pernah membawa bibit-bibit tanaman ke
sana ketika orang-orang belum memikirkan untuk menanam pohon. Apa Anda juga
bermaksud menghijaukan Aceh atau ada tujuan lain?
Sebetulnya itu bukan  penghijauan. Waktu itu hanya simbol persaudaraan
antara Aceh dan Sulawesi.  Saya hanya bawa beberapa bibit. Ada lima ditanam
di sekitar Masjid  Baiturrahman dan tiga di RS Zainul Arifin. Beberapa lagi
di daerah Bireun.  Tapi nanti, lewat komunitas ini, Unhas bisa melakukan
kontak dengan  Universitas Syiah Kuala. Kalau mereka bersedia, kita akan ke
sana, membawa  bibit, pollybag, kita saranai, sehingga dia bisa membuat
satu komunitas  sendiri juga. Kita berharap Unhas dengan komunitas ini bisa
menjadi inspirasi  dan menularkan apa yang telah dilakukan ke kampus-kampus
lain se-Indonesia.  Jadi, hijau dari Makassar.

''Saya kadang bertanya sendiri, saya tidak pernah merencanakan hidup,
tahu-tahu saya ada saja, dan suatu waktu saya akan mati. Makanya, saya
berpikir, selama saya masih hidup, saya harus menjadi orang
bermanfaat.''Tidak  cuma untuk diri sendiri dan keluarga, Onny juga memilih
untuk bermanfaat lebih  banyak lagi untuk orang lain. ''Lebih banyak, lebih
besar, lebih bagus.''

Akhirnya, langkah melestarikan lingkungan lewat bibit-bibit pohon itulah
yang diambilnya. Dengan langkahnya itu, Onny berangan orang-orang dari
Ambon  misalnya akan mendatanginya untuk meminta bibit. Keinginan Onny
tidak muluk.  ''Saya kepingin orang-orang melihat, mendengar, dan melakukan
hal yang  sama dengan saya. Saya tidak ingin menjadi populer. Mudah-mudahan
besok akan  banyak orang-orang yang berpikiran sama seperti saya.''

Apakah ada pengalaman masa kecil yang mewarnai sehingga saat ini begitu
jatuh cinta pada pepohonan?
Sebetulnya tidak ada. Saya lahir dan besar  di Jakarta. Hanya ceritanya,
suatu hari saya naik mobil dengan bapak saya dari  Bone ke Makassar. Itu
sekitar tahun 1988, dan saya tidak kecil lagi waktu itu.  Bapak saya
bilang, Onny kamu tahu, semua pohon asam yang ada di pinggir jalan,  dari
Pampanua, Bone Utara sampai di sini, semuanya Bapak saya yang tanam.

Mendengar itu, saya berpikir, 'Wah hebat juga. Kakek saya sudah meninggal,
tapi pohonnya masih hidup semuanya'. Di situ saya mulai kepikiran, saya mau
menanam pohon. Saya memulainya dengan biji palem. Waktu masih kuliah, kalau
saya lagi punya duit banyak, saya bibitkan banyak, Kalau duitnya lagi
sedikit  ya bibitkan sedikit, tapi tidak pernah berhenti.

Sekarang, saya pikir sudah waktunya saya membuat yang banyak. Memang,
kadang-kadang orang mikir saya ini aneh. Kadang ada yang bilang, Onny  kamu
ini mau jadi apa? Mau jadi wali kota, mau jadi gubernur. Tidaklah, mau
jadi gubernur ngapain? Saya bilang, taruh-taruhan kalau hanya soal gaji
gubernur dengan saya, gajinya lebih gedean saya. Itu kalau tidak  korupsi
lho ya. Mungkin tiga kali lipat. Buat apa jadi gubernur. Kalau  jadi
presiden mungkin mau, ha ha ha.

Anda berharap di keluarga Anda juga akan mengikuti jejak mencintai  pohon?
Bagi saya, keluarga masing-masing sajalah. Mereka punya pikiran
masing-masing. Saya tidak pernah memengaruhi mereka untuk harus cinta
tanaman.  Mereka bisa cinta sama binatang, pakaian, atau apa saja, terserah
merekalah.  Tapi, setidaknya kita telah menggambarkan. Seperti anak saya
kadang  berkomentar, 'Papa ngapain sih, buat apa ini, banyak begini mau
dibawa  ke mana'?
( )
sumber:  www.republika.co.id



Check out the  all-new Yahoo! Mail beta - Fire up a more powerful email and
get things  done faster.



--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com


Kirim email ke