| User Online : 8 | Kamis, 30 November 2006 |

----- Original Message ----- 
From: bambang kusharyono 

MENU UTAMA
H O M E TENTANG WARINTEK PERPUSTAKAAN BANTUL HUBUNGI KAMI BERBAGI PENGETAHUAN 

Teknologi Tepat Guna
Alat Pengolahan Budidaya Pertanian Budidaya Perikanan Budidaya Peternakan 
Pengolahan Air dan Sanitasi 
Pangan & Kesehatan
Tanaman Obat Pangan 
Industri
Briket Batubara 

LINK BANNER


>> Teknologi Tepat Guna > Budidaya Peternakan
Budidaya Peternakan << Kembali
BUDIDAYA TERNAK SAPI POTONG
( Bos sp. ) 

1. SEJARAH SINGKAT Sapi yang ada sekarang ini berasal dari Homacodontidae yang 
dijumpai pada babak Palaeoceen. Jenis-jenis primitifnya ditemukan pada babak 
Plioceen di India. Sapi Bali yang banyak dijadikan komoditi daging/sapi potong 
pada awalnya dikembangkan di Bali dan kemudian menyebar ke beberapa wilayah 
seperti: Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi. 

2. SENTRA PETERNAKAN Sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan 
sapi Madura banyak terdapat di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi. 
Sapi jenis Aberdeen angus banyak terdapat di Skotlandia. Sapi Simental banyak 
terdapat di Swiss. Sapi Brahman berasal dari India dan banyak dikembangkan di 
Amerika. 

3. J E N I S Jenis-jenis sapi potong yang terdapat di Indonesia saat ini adalah 
sapi asli Indonesia dan sapi yang diimpor. Dari jenis-jenis sapi potong itu, 
masing-masing mempunyai sifat-sifat yang khas, baik ditinjau dari bentuk 
luarnya (ukuran tubuh, warna bulu) maupun dari genetiknya (laju pertumbuhan).

Sapi-sapi Indonesia yang dijadikan sumber daging adalah sapi Bali, sapi Ongole, 
sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura. Selain itu juga sapi
Aceh yang banyak diekspor ke Malaysia (Pinang). Dari populasi sapi potong yang 
ada, yang penyebarannya dianggap merata masing-masing adalah: sapi Bali, sapi 
PO, Madura dan Brahman.

Sapi Bali berat badan mencapai 300-400 kg. dan persentase karkasnya 56,9%. Sapi 
Aberdeen angus (Skotlandia) bulu berwarna hitam, tidak bertanduk, bentuk tubuh 
rata seperti papan dan dagingnya padat, berat badan umur 1,5 tahun dapat 
mencapai 650 kg, sehingga lebih cocok untuk dipelihara sebagai sapi potong. 
Sapi Simental (Swiss) bertanduk kecil, bulu berwarna coklat muda atau 
kekuning-kuningan. Pada bagian muka, lutut kebawah dan jenis gelambir, ujung 
ekor berwarna putih.

Sapi Brahman (dari India), banyak dikembangkan di Amerika. Persentase karkasnya 
45%. Keistimewaan sapi ini tidak terlalu selektif terhadap pakan yang 
diberikan, jenis pakan (rumput dan pakan tambahan) apapun akan dimakannya, 
termasuk pakan yang jelek sekalipun. Sapi potong ini juga lebih kebal terhadap 
gigitan caplak dan nyamuk serta tahan panas. 

4. MANFAAT Memelihara sapi potong sangat menguntungkan, karena tidak hanya 
menghasilkan daging dan susu, tetapi juga menghasilkan pupuk kandang dan
sebagai tenaga kerja. Sapi juga dapat digunakan meranih gerobak, kotoran sapi 
juga mempunyai nilai ekonomis, karena termasuk pupuk organik yang dibutuhkan 
oleh semua jenis tumbuhan. Kotoran sapi dapat menjadi sumber hara yang dapat 
memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi lebih gembur dan subur.

Semua organ tubuh sapi dapat dimanfaatkan antara lain:

1) Kulit, sebagai bahan industri tas, sepatu, ikat pinggang, topi, jaket. 

2) Tulang, dapat diolah menjadi bahan bahan perekat/lem, tepung tulang dan 
barang kerajinan 

3) Tanduk, digunakan sebagai bahan kerajinan seperti: sisir, hiasan dinding dan 
masih banyak manfaat sapi bagi kepentingan manusia. 

5. PERSYARATAN LOKASI Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah 
yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh 
kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 
meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat 
dengan lahan pertanian. Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di 
tengah sawah atau ladang. 

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA 

6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah 
sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada 
satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda 
penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling 
bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk 
jalan.

Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal 
apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan 
penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan 
lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak.

Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai 
penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan 
dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas 
kandang yang hangat.

Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan 
terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahanbahan 
lainnya.

Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5x2 m atau 
2,5x2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8x2 m dan untuk anak sapi 
cukup 1,5x1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di 
sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%. 
Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga 
dataran tinggi (> 500 m).

Kandang untuk pemeliharaan sapi harus bersih dan tidak lembab. Pembuatan 
kandang harus memperhatikan beberapa persyaratan pokok yang meliputi 
konstruksi, letak, ukuran dan perlengkapan kandang.


1) Konstruksi dan letak kandang
Konstruksi kandang sapi seperti rumah kayu. Atap kandang berbentuk kuncup dan 
salah satu/kedua sisinya miring. Lantai kandang dibuat padat, lebih tinggi dari 
pada tanah sekelilingnya dan agak miring kearah selokan di luar kandang. 
Maksudnya adalah agar air yang tampak, termasuk kencing sapi mudah mengalir ke 
luar lantai kandang tetap kering. Bahan konstruksi kandang adalah kayu 
gelondongan/papan yang berasal dari kayu yang kuat. Kandang sapi tidak boleh 
tertutup rapat, tetapi agak terbuka agar sirkulasi udara didalamnya lancar. 
Termasuk dalam rangkaian penyediaan pakan sapi adalah air minum yang bersih. 
Air minum diberikan secara ad libitum, artinya harus tersedia dan tidak boleh 
kehabisan setiap saat.
Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan 
sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang. Pembuatan
kandang sapi dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah/ladang. 

2) Ukuran Kandang
Sebelum membuat kandang sebaiknya diperhitungkan lebih dulu jumlah sapi yang 
akan dipelihara. Ukuran kandang untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5 x 2 
m. Sedangkan untuk seekor sapi betina dewasa adalah 1,8 x 2 m dan untuk seekor 
anak sapi cukup 1,5x1 m. 3) Perlengkapan Kandang
Termasuk dalam perlengkapan kandang adalah tempat pakan dan minum, yang 
sebaiknya dibuat di luar kandang, tetapi masih dibawah atap. Tempat pakan 
dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak/ 
tercampur kotoran. Tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen 
dan sedikit lebih tinggi dari pada permukaan lantai.

Dengan demikian kotoran dan air kencing tidak tercampur didalamnya. 
Perlengkapan lain yang perlu disediakan adalah sapu, sikat, sekop, sabit, dan 
tempat untuk memandikan sapi. Semua peralatan tersebut adalah untuk 
membersihkan kandang agar sapi terhindar dari gangguan penyakit sekaligus bisa 
dipakai untuk memandikan sapi. 



6.2. Pembibitan


Syarat ternak yang harus diperhatikan adalah:
1) Mempunyai tanda telinga, artinya pedet tersebut telah terdaftar dan lengkap 
silsilahnya. 

2) Matanya tampak cerah dan bersih. 

3) Tidak terdapat tanda-tanda sering butuh, terganggu pernafasannya serta dari 
hidung tidak keluar lendir. 

4) Kukunya tidak terasa panas bila diraba. 

5) Tidak terlihat adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya. 

6) Tidak terdapat adanya tanda-tanda mencret pada bagian ekor dan dubur. 

7) Tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit dan kerontokan bulu. 

8) Pusarnya bersih dan kering, bila masih lunak dan tidak berbulu menandakan 
bahwa pedet masih berumur kurang lebih dua hari.


Untuk menghasilkan daging, pilihlah tipe sapi yang cocok yaitu jenis sapi Bali, 
sapi Brahman, sapi PO, dan sapi yang cocok serta banyak dijumpai di daerah 
setempat. Ciri-ciri sapi potong tipe pedaging adalah sebagai berikut:
1) tubuh dalam, besar, berbentuk persegi empat/bola. 2) kualitas dagingnya 
maksimum dan mudah dipasarkan. 3) laju pertumbuhannya relatif cepat. 4) 
efisiensi bahannya tinggi. 

6.3. Pemeliharaan
Pemeliharaan sapi potong mencakup penyediaan pakan (ransum) dan pengelolaan 
kandang. Fungsi kandang dalam pemeliharaan sapi adalah :
a) Melindungi sapi dari hujan dan panas matahari.
b) Mempermudah perawatan dan pemantauan.
c) Menjaga keamanan dan kesehatan sapi.

Pakan merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan dan pembangkit tenaga.. 
Makin baik mutu dan jumlah pakan yang diberikan, makin besar tenaga yang 
ditimbulkan dan masih besar pula energi yang tersimpan dalam bentuk daging. 

Sanitasi dan Tindakan Preventif
Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak 
mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit 
dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas.

Pemberian Pakan
Pada umumnya, setiap sapi membutuhkan makanan berupa hijauan. Sapi dalam masa 
pertumbuhan, sedang menyusui, dan supaya tidak jenuh memerlukan pakan yang 
memadai dari segi kualitas maupun kuantitasnya.

Pemberian pakan dapat dilakukan dengan 3 cara: yaitu penggembalaan (Pasture 
fattening), kereman (dry lot faatening) dan kombinasi cara pertama dan kedua.

Penggembalaan dilakukan dengan melepas sapi-sapi di padang rumput, yang 
biasanya dilakukan di daerah yang mempunyai tempat penggembalaan cukup luas, 
dan memerlukan waktu sekitar 5-7 jam per hari. Dengan cara ini, maka tidak 
memerlukan ransum tambahan pakan penguat karena sapi telah memakan 
bermacam-macam jenis rumput.

Pakan dapat diberikan dengan cara dijatah/disuguhkan yang yang dikenal dengan 
istilah kereman. Sapi yang dikandangkan dan pakan diperoleh dari ladang, 
sawah/tempat lain. Setiap hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak 10% 
dari berat badannya dan juga pakan tambahan 1% - 2% dari berat badan. Ransum 
tambahan berupa dedak halus atau bekatul, bungkil kelapa, gaplek, ampas tahu. 
yang diberikan dengan cara dicampurkan dalam rumput ditempat pakan. Selain itu, 
dapat ditambah mineral sebagai penguat berupa garam dapur, kapus. Pakan sapi 
dalam bentuk campuran dengan jumlah dan perbandingan tertentu ini dikenal 
dengan istilah ransum.

Pemberian pakan sapi yang terbaik adalah kombinasi antara penggembalaan dan 
keraman. Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi
menjadi 3 katagori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase. Macam 
hijauan segar adalah rumput-rumputan, kacang-kacangan (legu minosa) dan tanaman 
hijau lainnya. Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, rumput 
raja (king grass), daun turi, daun lamtoro.

Hijauan kering berasal dari hijauan segar yang sengaja dikeringkan dengan 
tujuan agar tahan disimpan lebih lama. Termasuk dalam hijauan kering adalah 
jerami padi, jerami kacang tanah, jerami jagung, dsb. yang biasa digunakan pada 
musim kemarau. Hijauan ini tergolong jenis pakan yang banyak mengandung serat 
kasar.

Hijauan segar dapat diawetkan menjadi silase. Secara singkat pembuatan silase 
ini dapat dijelaskan sebagai berikut: hijauan yang akan dibuat silase ditutup 
rapat, sehingga terjadi proses fermentasi. Hasil dari proses inilah yang 
disebut silase. Contoh-contoh silase yang telah memasyarakat antara lain silase 
jagung, silase rumput, silase jerami padi, dll.

Pemeliharaan Kandang
Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2 minggu) 
dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi 
tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya 
berjalan lancar.

Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum 
sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan 
dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau 
tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen 
berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan 
pula peralatan untuk memandikan sapi. 


7. HAMA DAN PENYAKIT 

7.1. Penyakit
1. Penyakit antraks
Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, 
makanan/minuman atau pernafasan.
Gejala: (1) demam tinggi, badan lemah dan gemetar; (2) gangguan pernafasan; (3) 
pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; (4) 
kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, 
mulut, anus dan vagina; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6) 
limpa bengkak dan berwarna kehitaman.
Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang 
terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.

2. Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)
Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air 
susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE.
Gejala: (1) rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta 
terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu 
badan menurun drastis; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama 
sekali; (4) air liur keluar berlebihan.
Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara 
terpisah. 

3. Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)
Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan 
minuman yang tercemar bakteri.
Gejala: (1) kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah 
dan kebiruan; (2) leher, anus, dan vulva membengkak; (3) paru-paru meradang, 
selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua; (4) demam dan sulit 
bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi 
akan mati dalam waktu antara 12-36 jam.
Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa. 

4. Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)
Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor.
Gejala: (1) mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih 
keruh; (2) kulit kuku mengelupas; (3) tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa 
sakit; (4) sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh. 

7.2. Pengendalian
Pengendalian penyakit sapi yang paling baik menjaga kesehatan sapi dengan 
tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan untuk menjaga kesehatan sapi adalah:
1. Menjaga kebersihan kandang beserta peralatannya, termasuk memandikan sapi.
2. Sapi yang sakit dipisahkan dengan sapi sehat dan segera dilakukan 
pengobatan. 

3. Mengusakan lantai kandang selalu kering. 

4. Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai 
petunjuk. 



8. P A N E N 

8.1. Hasil Utama
Hasil utama dari budidaya sapi potong adalah dagingnya 

8.2. Hasil Tambahan
Selain daging yang menjadi hasil budidaya, kulit dan kotorannya juga sebagai 
hasil tambahan dari budidaya sapi potong. 



9. PASCA PANEN 

9.1. Stoving
Ada beberapa prinsip teknis yang harus diperhatikan dalam pemotongan sapi agar 
diperoleh hasil pemotongan yang baik, yaitu:
1. Ternak sapi harus diistirahatkan sebelum pemotongan 
2. Ternak sapi harus bersih, bebas dari tanah dan kotoran lain yang dapat 
mencemari daging. 

3. Pemotongan ternak harus dilakukan secepat mungkin, dan rasa sakit yang 
diderita ternak diusahakan sekecil mungkin dan darah harus keluar secara 
tuntas. 

4. Semua proses yang digunakan harus dirancang untuk mengurangi jumlah dan 
jenis mikroorganisme pencemar seminimal mungkin. 



9.2. Pengulitan
Pengulitan pada sapi yang telah disembelih dapat dilakukan dengan menggunakan 
pisau tumpul atau kikir agar kulit tidak rusak. Kulit sapi
dibersihkan dari daging, lemak, noda darah atau kotoran yang menempel. Jika 
sudah bersih, dengan alat perentang yang dibuat dari kayu, kulit sapi dijemur 
dalam keadaan terbentang. Posisi yang paling baik untuk penjemuran dengan sinar 
matahari adalah dalam posisi sudut 45 derajat. 

9.3. Pengeluaran Jeroan
Setelah sapi dikuliti, isi perut (visceral) atau yang sering disebut dengan 
jeroan dikeluarkan dengan cara menyayat karkas (daging) pada bagian perut sapi. 

9.4. Pemotongan Karkas
Akhir dari suatu peternakan sapi potong adalah menghasilkan karkas berkualitas 
dan berkuantitas tinggi sehingga recahan daging yang dapat dikonsumsipun 
tinggi. Seekor ternak sapi dianggap baik apabila dapat menghasilkan karkas 
sebesar 59% dari bobot tubuh sapi tersebut dan akhirnya akan diperoleh 46,50% 
recahan daging yang dapat dikonsumsi. Sehingga dapat dikatakan bahwa dari 
seekor sapi yang dipotong tidak akan seluruhnya menjadi karkas dan dari seluruh 
karkas tidak akan seluruhnya menghasilkan daging yang dapat dikonsumsi manusia. 
Oleh karena itu, untuk menduga hasil karkas dan daging yang akan diperoleh, 
dilakukan penilaian dahulu sebelum ternak sapi potong. Di negara maju terdapat 
spesifikasi untuk pengkelasan (grading) terhadap steer, heifer dan cow yang 
akan dipotong.

Karkas dibelah menjadi dua bagian yaitu karkas tubuh bagian kiri dan karkas 
tubuh bagian kanan. Karkas dipotong-potong menjadi sub-bagian leher, paha 
depan, paha belakang, rusuk dan punggung. Potongan tersebut dipisahkan menjadi 
komponen daging, lemak, tulang dan tendon. Pemotongan karkas harus mendapat 
penanganan yang baik supaya tidak cepat menjadi rusak, terutama kualitas dan 
hygienitasnya. Sebab kondisi karkas dipengaruhi oleh peran mikroorganisme 
selama proses pemotongan dan pengeluaran jeroan.

Daging dari karkas mempunyai beberapa golongan kualitas kelas sesuai dengan 
lokasinya pada rangka tubuh. Daging kualitas pertama adalah daging di daerah 
paha (round) kurang lebih 20%, nomor dua adalah daging daerah pinggang (loin), 
lebih kurang 17%, nomor tiga adalah daging daerah punggung dan tulang rusuk 
(rib) kurang lebih 9%, nomor empat adalah daging daerah bahu (chuck) lebih 
kurang 26%, nomor lima adalah daging daerah dada (brisk) lebih kurang 5%, nomor 
enam daging daerah perut (frank) lebih kurang 4%, nomor tujuh adalah daging 
daerah rusuk bagian bawah sampai perut bagian bawah (plate & suet) lebih kurang 
11%, dan nomor delapan adalah daging bagian kaki depan (foreshank) lebih kurang 
2,1%. Persentase bagian-bagian dari karkas tersebut di atas dihitung dari berat 
karkas (100%). 

Persentase recahan karkas dihitung sebagai berikut:
Persentase recahan karkas = Jumlah berat recahan / berat karkas x 100 %
Istilah untuk sisa karkas yang dapat dimakan disebut edible offal, sedangkan 
yang tidak dapat dimakan disebut inedible offal (misalnya: tanduk, bulu, 
saluran kemih, dan bagian lain yang tidak dapat dimakan). 



10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN 

10.1. Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya sapi potong kereman setahun di Bangli skala 25 ekor 
pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:

1) Biaya Produksi
a. Pembelian 25 ekor bakalan : 25 x 250 kg x Rp. 7.800,- Rp. 48.750.000,- b. 
Kandang Rp. 1.000.000,- c. Pakan
- Hijauan: 25 x 35 kg x Rp.37,50 x 365 hari 
- Konsentrat: 25 x 2kg x Rp. 410,- x 365 hari 
Rp. 12.000.000,-
Rp. 7.482.500,- d. Retribusi kesehatan ternak: 25 x Rp. 3.000,- Rp. 75.000,- 
Jumlah biaya produksi Rp. 69.307.500,-

2) Pendapatan
a. Penjualan sapi kereman
Tambahan >Rp. 75.000,- Jumlah biaya produksi Rp. 69.307.500,-

2) Pendapatan
a. Penjualan sapi kereman
Tambahan berat badan: 25 x 365 x 0,8 kg = 7.300 kg
Berat sapi setelah setahun: (25 x 250 kg) + 7.300 kg = 13.550 kg
Harga jual sapi hidup: Rp. 8.200,-/kg x 13.550 kg 

Rp. 111.110.000,- b. Penjualan kotoran basah: 25 x 365 x 10 kg x Rp. 12,- Rp. 
1.095.000,- Jumlah pendapatan Rp. 112.205.000,-


3) Keuntungan
a. Tanpa memperhitungkan biaya tenaga internal keuntungan Penggemukan 25 ekor 
sapi selama setahun. Rp. 42.897.500,-


4) Parameter kelayakan usaha
a. B/C ratio = 1,61 10.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Sapi potong mempunyai potensi ekonomi yang tinggi baik sebagai ternak potong 
maupun ternak bibit. Selama ini sapi potong dapat mempunyai kebutuhan daging 
untuk lokal seperti rumah tangga, hotel, restoran, industri pengolahan, 
perdagangan antar pulau. Pasaran utamanya adalah kota-kota besar seperti kota 
metropolitan Jakarta.

Konsumen untuk daging di Indonesia dapat digolongkan ke dalam beberapa segmen 
yaitu :


a) Konsumen Akhir
Konsumen akhir, atau disebut konsumen rumah tangga adalah pembeli-pembeli yang 
membeli untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan individunya. Golongan ini 
mencakup porsi yang paling besar dalam konsumsi daging, diperkirakan mencapai 
98% dari konsumsi total. 

Mereka ini dapat dikelompokkan lagi ke dalam ova sub segmen yaitu : 

1. Konsumen dalam negeri ( Golongan menengah keatas )
Segmen ini merupakan segmen terbesar yang kebutuhan dagingnya kebanyakan 
dipenuhi dari pasokan dalam negeri yang masih belum memperhatikan kualitas 
tertentu sebagai persyaratan kesehatan maupun selera.


2. Konsumen asing
Konsumen asing yang mencakup keluarga-keluarga diplomat, karyawan perusahaan 
dan sebagian pelancong ini porsinya relatif kecil dan tidak signifikan. Di 
samping itu juga kemungkinan terdapat konsumen manca negara yang selama ini 
belum terjangkau oleh pemasok dalam negeri, artinya ekspor belum dilakukan/jika 
dilakukan porsinya tidak signifikan.


b) Konsumen Industri
Konsumen industri merupakan pembeli-pembeli yang menggunakan daging untuk 
diolah kembali menjadi produk lain dan dijual lagi guna mendapatkan laba. 
Konsumen ini terutama meliputi: hotel dan restauran dan yang jumlahnya semakin 
meningkat
Adapun mengenai tata niaga daging di negara kita diatur dalam inpres nomor 4 
tahun 1985 mengenai kebijakansanakan kelancaran arus barang untuk menunjang 
kegiatan ekonomi. 

Di Indonesia terdapat 3 organisasi yang bertindak seperti pemasok daging yaitu :
a) KOPPHI (Koperasi Pemotongan Hewan Indonesia), yang mewakili pemasok produksi 
peternakan rakyat.
b) APFINDO (Asosiasi Peternak Feedlot (penggemukan) Indonesia), yang mewakili 
peternak penggemukan c) ASPIDI (Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia). 

11. DAFTAR PUSTAKA 1. Abbas Siregar Djarijah. 1996, Usaha Ternak Sapi, 
Kanisius, Yogyakarta. 2. Yusni Bandini. 1997, Sapi Bali, Penebar Swadaya, 
Jakarta. 3. Teuku Nusyirwan Jacoeb dan Sayid Munandar. 1991, Petunjuk Teknis 
Pemeliharaan Sapi Potong, Direktorat Bina Produksi Peternaka 4. Direktorat 
Jenderal Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta Undang Santosa. 1995, Tata 
Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi, Penebar Swadaya, Jakarta. 5. Lokakarya 
Nasional Manajemen Industri Peternakan. 24 Januari 1994,Program Magister 
Manajemen UGM, Yogyakarta. 6. Kohl, RL. and J.N. Uhl. 1986, Marketing of 
Agricultural Products, 5 th ed, Macmillan Publishing Co, New York. 

12. KONTAK HUBUNGAN 1. Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan - 
BAPPENAS
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829 2. Kantor 
Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan 
Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 
10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web: 
http://www.ristek.go.id 

Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas | User 
Online : 8 | Kamis, 30 November 2006 |



Kirim email ke