Kompas, 6 Desember 2006

Sosok
HERI DAN KONSERVASI SITU DI DEPOK
Oleh: R.Adhi Kusumaputra

Awalnya, Heri Syaefudin (38) penasaran melihat areal sempadan situ atau danau 
di seputar Kota Depok, Jawa Barat, dibiarkan menganggur dan ditumbuhi semak 
belukar. Mengapa sempadan situ tidak dimanfaatkan menjadi kawasan agrowisata 
berbasis tanaman hias yang dapat menghasilkan uang?

Heri memulainya dari Situ Pengasinan di Kecamatan Sawangan. Dia melihat Situ 
Pengasinan nyaris lenyap karena berubah menjadi empang dan sawah, bahkan nyaris 
diuruk menjadi perumahan oleh pengembang.

Perusakan lingkungan di Situ Pengasinan dapat dihindari ketika pada tahun 2003 
Wali Kota Depok (waktu itu) Badrul Kamal meminta petugas Dinas Pekerjaan Umum 
mengeruk danau seluas 6,5 hektar itu sehingga Situ Pengasinan kembali pada 
fungsinya. Di sekitar situ, dalam jarak 50 meter, harus menjadi ruang terbuka 
hijau dan tidak diperbolehkan ada bangunan permanen.

Tahun 2004, Heri membeli tanah seluas 3000 meter persegi di tepi Situ 
Pengasinan. Saat itu di sempadan situ dipenuhi semak belukar. Dengan tekad yang 
kuat, Heri mengubah dan menatanya menjadi tempat yang sedap dipandang. Arealnya 
tetap menjadi bagian dari lanskap danau. Di sana ada kolam ikan, penuh tanaman 
hias, dan rerumputan hijau.

Heri merangkul warga Kelurahan Pengasinan yang sebelumnya bertani untuk 
memanfaatkan danau yang saat itu telanjur jadi sawah dan empang. Setelah danau 
dikembalikan pada fungsinya, Heri mengajak warga menjadi petani tanaman hias.

Tentu saja, tidak dengan seketika warga memenuhi ajakannya. Mereka ragu-ragu 
dan ingin melihat-lihat dulu. Namun, Heri tidak putus asa dan terus bekerja.

Setelah warga melihat apa yang dilakukan Heri terbukti ada hasilnya, warga 
Pengasinan dan warga kelurahan lain di Sawangan ramai-ramai mengikuti ajakannya 
untuk bertanam tanaman hias.

Sampai akhir tahun 2006 ini, ada sekitar 500 orang menjadi petani tanaman hias 
dan 100 lainnya menjadi pedagang yang memiliki kios di sepanjang Jalan Raya 
Bojongsari (Sawangan) - Ciputat. Mereka tergabung dalam tujuh kelompok tani dan 
koperasi.

Heri, anak petani yang lahir pada 22 Juli 1968, mengenyam pendidikan di SMP 
Grabag, Magelang, Jawa Tengah, dan SMAN I Temanggung. Heri hijrah ke Jakarta 
tahun 1988, menyelesaikan pendidikan di Akademi Lanskap Jakarta dengan tugas 
akhir tentang konsep penataan sempadan situ pada tahun 1992. Setelah bekerja 
sebagai pekerja lanskap di berbagai tempat, Heri pindah ke Sawangan, Depok, 
tahun 2002.

Menurut Heri, pada saat itu perdagangan tanaman hias sudah ada di Sawangan, 
tetapi jenisnya tidak bervariasi. Hanya palem dan rumput. Petaninyapun tidak 
bertambah.

Kini, Heri merasa bangga karena cita-citanya memberdayakan masyarakat Sawangan 
ada hasilnya. Sekarang, penghasilan seorang petani tanaman hias rata-rata Rp 3 
juta sampai Rp 15 juta per bulan. "Setidaknya anak-anak muda yang dulu kerjanya 
cuma nongkrong kini mempunyai pekerjaan dan penghasilan," ungkap Heri.

Bu'an (41), warga Pengasinan, misalnya, mengaku awalnya ragu mengikuti ajakan 
Heri. Namun, setelah usaha peternakan lele dan ayamnya bangkrut, ia beralih 
menjadi petani tanaman hias. Dari usahanya itu, kini dia mampu menguliahkan 
anaknya di Bogor. "Tetangga saya pedagang bubur, mengerjakan usaha tanaman hias 
ini secara sambilan dan mendapat penghasilan lumayan," tuturnya.

Dilirik perbankan
Yang juga membanggakan Heri, konsepnya membangun Sawangan menjadi kawasan 
agropolitan berbasis tanaman hias didukung kalangan perbankan. Melalui program 
Perbankan Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) Bank Mandiri, seiap petani bisa 
mendapat kredit bank dengan bunga 6-8 persen per tahun.

Usaha Heri memberdayakan warga Pengasinan ini mendapat perhatian tim Program 
Pendanaan Kompetensi Indeks Pembangunan Manusia (PPK IPM) Jawa Barat. Daerah 
ini akan dibangun dengan dana PPK IPM sebagai daerah pertanian tanaman hias. 
Setidak-tidaknya jalan tanah menuju lokasi Situ Pengasinan diharapkan dapat 
segera diaspal.

Heri pun melihat usahanya tidak sia-sia karena Wali Kota Depok Nur Mahmudi 
Isma'il peduli terhadap upaya pelestarian lingkungan, sekaligus upaya 
memberdayakan masyarakat sekitar itu. "Kalau Situ Pengasinan berhasil menjadi 
kawasan agrowisata berbasis tanaman hias, danau ini bisa menjadi proyek 
percontohan bagi 30-an danau lainnya yang ada di seputar Kota Depok," ujarnya.

Suami dari Santi Widya (32) dan ayah dari dua anak itu berpendapat, seharusnya 
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membantu program penyelamatan lingkungan di 
daerah pinggirannya itu. Kalau DKI membantu menyelamatkan situ-situ di Kota 
Depok, Jakarta akan terhindar dari kekeringan di musim kemarau dan tidak 
kebanjiran di musim hujan.

****************

Kirim email ke