Masjid bukan Hanya Bangunan Fisik
Oleh ADE SUDARYAT 
TERSEBUTLAH di suatu kampung tak memiliki keranda untuk menandu orang yang 
meninggal. Setiap ada orang yang meninggal, hanya menggunakan kain sarung 
dengan dua bilah bambu yang dimasukkan ke dalamnya untuk memudahkan menandunya. 
Sangat berabe dan tidak praktis.

Atas inisiatif sesepuh kampung, mereka bermusyawarah untuk membuat keranda yang 
terbuat dari besi. Warga kampung pun menyepakatinya. Dikumpulkannya sumbangan 
berupa uang. Mulai dari yang ratusan rupiah, ribuan, bahkan puluhan ribu rupiah.

Singkat cerita, selesailah keranda tersebut. Secara bergurau, sesepuh kampung 
menawarkan kepada warganya, "Silakan! Siapakah yang hendak pertama kali memakai 
keranda ini?" Tak ada seorang warga pun yang ingin menggunakannnya. Malahan 
mereka berkata, "Amit-amit, aku belum ingin menggunakannya. Aku ingin panjang 
umur. Biarlah orang lain terlebih dahulu yang menggunakannya". 

Apabila kita jujur mengamati dan menyadari, masjid di sekitar kita banyak yang 
senasib dengan keranda. 

Warga kampung bahu-membahu, bekerja sama untuk mewujudkan bangunan masjid di 
kampungnya. Demikian pula dengan warga kompleks perumahan. Sekecil apapun 
jumlah uang, mereka sisihkan untuk membangun masjid. Mereka yang tidak mampu 
menyisihkan sebagian hartanya, mengorbankan waktu dan tenaganya untuk ikut 
membangun masjid tersebut. 

Di kampung penulis yang penduduknya kurang dari dua ribu orang, sampai saat ini 
telah berdiri kurang lebih tujuh buah masjid dengan jarak yang sangat 
berdekatan. Rata-rata tiga ratus meter dari satu masjid ke masjid yang lainnya. 
Satu pun dari masjid-masjid tersebut, tak ada yang pernah penuh dengan 
jemaahnya. Pada bulan Ramadan, yang diyakini sebagai bulan ibadah, hanya malam 
pertama salat tarawih saja, jemaah masjid tak tertampung. Malam-malam 
selanjutnya kembali seperti biasa. Memang sungguh sangat menyedihkan nasib 
masjid pada saat ini.

"Akan terdapat enam keanehan di akhir zaman. (1) masjid berada di tengah-tengah 
pemukiman penduduk, sementara penduduknya sudah enggan melaksanakan salat di 
dalamnya, (2) setiap rumah/orang memiliki Alquran, tapi jarang membacanya, (3) 
orang-orang fasik berlomba-lomba menghafal Alquran, (4) wanita salehah bersuami 
ahli maksiat, (5) laki-laki saleh beristri ahli maksiat, (6) ulama berada di 
tengah-tengah kaumnya yang sudah enggan lagi mendengarkan fatwa atau 
nasihatnya" (Ibnu Hajar Al'asqolany, Nashoihul 'ibad:42). 

Sampai detik ini, sebagian besar kalangan umat Islam hanya berlomba-lomba 
membangun fisik masjidnya saja. Padahal makna membangun sangatlah luas. Tidak 
terbatas hanya pada fisik semata. Banyak orang yang membangun masjid tetapi, 
lupa membangun sang imam sebagai pengemudinya, lupa memakmurkannya. 

Berangkat dari hal tersebut, para aghniya atau siapa pun yang berminat dan 
berniat membangun masjid, mari kita pikirkan untuk membangun masjid dalam 
bentuk yang lain. Jika di suatu kampung atau suatu tempat masjidnya sudah 
mencukupi atau dapat menampung jumlah warganya, lebih baik tidak lagi membangun 
masjid. Alangkah bijaknya jika uang yang sudah dianggarkan untuk membangun 
masjid tersebut dijariahkan atau dibelikan tanah wakaf untuk kesejahteraan para 
takmir masjid. Sehingga mereka bisa mendapatkan penghasilan. Kemakmuran masjid 
bisa terus berlangsung, imamnya pun dapat tenang melayani jemaah tanpa harus 
membagi dua pikirannya dengan isi dapurnya.

Sampai saat ini, kesejahteraan para imam masjid masih terlupakan. Para imam 
masjid, para takmir dan pengurus lainnya baru bisa "panen" upah agak besar bila 
menghadapi Idulfitri. Tentu saja, hal tersebut belum memadai. Karena kebutuhan 
hidup bukan hanya mengahadapi Lebaran.

Jangan takut kehilangan pahala membangun masjid. Membangun dan memakmurkan 
masjid bukan hanya dengan membangun fisiknya. Membuang sampah dari masjid saja 
sudah merupakan amal yang berpahala besar. Apalagi jika yang kita "buang" 
adalah kesulitan ekonomi para imam, takmir, dan pengurus masjid.

Mari kita pikirkan kesejahteraan para takmir masjid dengan menyisihkan sebagai 
harta kita untuk mereka. Mari kita berusaha memberikan "kail" kepada para 
takmir masjid, jangan hanya memberi ikannya. Insya Allah, mensejahterakan para 
pengurus masjid, imam dan takmir masjid merupakan bagian dari membangun dan 
memakmurkan masjid, juga merupakan upaya mengangkat kemuliaan Islam dan 
umatnya. Tentu saja ini pun merupakan bagian dari jihad membela agama Allah.

"Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman 
kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap melaksanakan salat, menunaikan 
zakat dan tidak takut kepada apa pun kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan 
mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk" (Q. S. 9:18). Semoga. ***

Penulis, Ketua DKM Nurul Hidayah Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut.

sumber : Pikiran Rakyat

Kirim email ke