Oleh-Oleh dari Islamic Book Fair 1427 H : Aidh Al Qarni, Berdakwah Seumur Hidup 


Ketika berada di balik jeruji penjara, Aidh Al Qarni memilih untuk terus 
menulis. ''Saya masuk penjara karena saya menulis 50 bait qasidah (puisi) yang 
dianggap punya pengaruh politik,'' ujarnya. Berlembar-lembar tulisan pun 
menjadi bukti ketekunan pria yang lahir di tahun 1379 H dan berasal dari 
perkampungan al-Qarn, sebelah selatan Kerajaan Arab Saudi, ini menjalani 
hari-harinya di penjara. ''Sekitar 100 halaman pertama saya tulis di penjara,'' 
katanya. 

Setelah keluar dari penjara, Aidh Al Qarni melanjutkan tulisannya. Untuk 
menyelesaikan lembar-lembar itu, dia membutuhkan referensi 300 judul buku. 
Hingga akhirnya, lahirlah buku La Tahzan yang diterjemahkan dengan Jangan 
Bersedih. Hasilnya sungguh fenomenal. Inilah buku yang telah diterbitkan oleh 
puluhan penerbit dan mencapai angka penjualan fantastis. 

Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam 29 bahasa dunia. ''Di Arab Saudi, buku 
itu sudah dicetak kurang lebih 1,5 juta eksemplar,'' kata Al Qarni Di 
Indonesia, buku ini juga sempat menjadi buku terlaris. Kelebihan buku Al Qarni 
terlihat pada bahasan-bahasannya yang fokus, penuh hikmah, dan selalu memberi 
jeda untuk merenung sebelum berlanjut pada bahasan berikut. Pada bagian 
penutup, hadir pula kata-kata bijak yang menjadi intisari tulisan-tulisan 
sebelumnya.

Dalam bukunya pula, Al Qarni mengajak pembaca agar tidak menyesali kehidupan, 
tidak menentang takdir, atau menolak dalil-dalil dalam Alquran dan sunah. Dalam 
kunjungan kali pertama di Indonesia, Al Qarni yang masih hafal Alquran, 5000 
hadis, dan 10 ribu bait syair Arab klasik hingga kontemporer ini sempat 
bertandang ke sejumlah tempat dan menemui tokoh nasional. Saat itulah wartawan 
Damanhuri Zuhri dan Burhanuddin Bella berhasil menemui sosok yang terkenal 
dengan sikap lembutnya itu. Dengan diperkaya keterangan dari sejumlah sumber, 
Al Qarni pun bertutur tentang buku, kegiatan dakwah, dan kehidupan pribadinya.

Mengapa Anda memberi judul La Tahzan (Jangan bersedih). Apa sesungguhnya yang 
mendorong Anda memberi judul seperti itu?
Pertama, ini alasan dari Alquran. Seperti yang difirman Allah SWT : La tahzan 
wa laa takhof (Janganlah bersedih dan janganlah takut). Ayat ini disampaikan 
Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW ketika bersama-sama sahabatnya Abu Bakar 
Ash-Shiddiq memasuki Gua Tsur sebelum melakukan hijrah ke kota Yatsrib, Madinah 
al Munawwarah. Kedua, sesungguhnya kesedihan itu adalah penyakit alam 
seluruhnya. Muslim atau bukan Muslim, orang pasti mengalami kesedihan. Sedih 
karena sakit, sedih karena meninggal, sedih karena kesulitan hidup dan berbagai 
masalah. Jadi, karena alasan itulah makanya buku ini saya beri judul La Tahzan.

Anda dikenal sebagai seseorang yang banyak menulis dan membaca buku. 
Sebenarnya, apa pedoman-pedoman atau petunjuk-petunjuk praktis supaya lebih 
mudah dalam mendapatkan ilmu?
Kaidah pertama seseorang yang menuntut ilmu bagi kaum Muslimin untuk 
mendapatkan ilmu adalah ikhlasun niat lillahi ta'ala. Karena dengan niat yang 
ikhlas, Allah akan membuka hati seorang Muslim. Kedua, kita mempelajari ilmu 
secara bertahap, berjenjang, tabarruj. Jangan kita langsung kepada 
masalah-masalah besar nanti kita tidak bisa menguasai. Ketiga, hendaklah kita 
membaca. Tapi, membaca saja tidak cukup kita ambil ilmunya dari para masyarih 
(yang menguasai masalah). Orang-orang berilmu yang mengerti masalah, sehingga 
ilmu kita kalau dari buku saja bisa saja pemahaman kita salah. Tapi, ketika 
kita membahasnya dengan orang-orang yang mengerti, insya Allah, pemahaman kita 
akan lebih mantap dan ilmu kita akan lebih lurus. 

Keempat, ketika kita sudah mengetahui satu masalah tentang ilmu kita, amalkan. 
Jangan hanya dijadikan teori hingga akhirnya ilmu kita tidak berkah. 
Sebagaimana orang Yahudi dalam Alquran waktu mereka membatalkan janji-janji 
kepada nenek moyang mereka itu yang membuat hati mereka sesat dan menjadi batu. 
Ini i'tibar bagi kita sekalian. Kelima, kalau kita sudah punya ilmu dan paham 
benar maka ajarkan kepada orang lain. Jangan disimpan untuk diri sendiri. 
Berikan ilmu kita kepada orang lain sehingga banyak manfaatnya untuk masyarakat 
menjadi amal saleh bagi kita.

Aktivitas Al Qarni boleh dibilang tidak jauh dari kegiatan membaca dan menulis. 
Bahkan, ketika masih mendekam dalam penjara, dua aktivitas inilah yang 
membuatnya sibuk. Menimba ilmu adalah hal utama bagi pria yang mendalami ilmu 
syariah dan dakwah. Pria yang kini berusia 48 tahun ini menuntut ilmu di 
Madrasah Ibtidaiyah Ali Salman, dia juga belajar di Ma'had Ilmi sejak bangku 
SMP, hingga meraih gelar S1 dan S2 di tempat yang sama. Gelar doktor dalam 
bidang hadis diraihnya dari Al-Imam Islamic University, Riyadh. 

Selama 25 tahun, dia mengarungi dunia dakwah. Kaset-kaset ceramahnya telah 
beredar dan berkumandang di sejumlah masjid, yayasan, universitas, dan sekolah 
di berbagai belahan dunia. Kitab-kitab karyanya yang berjumlah lebih dari 70 
buah itu telah pula diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Maka, ketika 
terbetik kabar dia akan mengundurkan diri dari dunia dakwah, banyak orang yang 
terkaget-kaget dan bertanya-tanya, ''Apakah ini keputusan terakhir sang tokoh?''

Ada informasi bahwa Anda akan mengundurkan dari kegiatan dakwah. Apa benar?
Saya memang pernah menulis 70 bait dalam bahasa Arab. Dalam salah satu bait 
tersebut ada yang sempat disalahpahami oleh media massa bahwa saya akan 
berhenti dalam berdakwah. Media massa di Arab Saudi menafsirkan sendiri yang 
kemudian dikutip oleh berbagai media massa di beberapa negara bahwa saya akan 
berhenti dalam berdakwah. Padahal sebenarnya tidak begitu. Dakwah itu kewajiban 
syar'i seorang Muslim sejak dia mampu sampai meninggal. Ini seperti firman 
Allah SWT: Hatta ya'tiyakal yaqinu (Sampai maut menjemputmu, red). Jadi, saya 
tidak akan meninggalkan dakwah. Dakwah akan saya laksanakan seumur hidup saya 
sampai saya meninggal.

Berkembangnya berita rencana pengunduran Anda dari dunia dakwah dipicu adanya 
tudingan bahwa masjid yang selama ini digunakan sebagai sarana dakwah dianggap 
sebagai tempat sarang teroris. Bagaimana menurut Anda?
Saya pribadi tidak pernah mengungkapkan masalah ini. Saya pikir ini adalah 
semacam fitnah dari orientalis, dari orang-orang yang tak suka dakwah 
berkembang pesat. Mereka berusaha untuk memecah belah umat Islam. Selama ini, 
alhamdulillah, masjid-masjid kita sebagai markas dakwah, markas orang-orang 
untuk menuntut ilmu, tempat melaksanakan ibadah, tempat melaksanakan ajaran 
Islam dengan baik kondisinya sangat bagus. Jadi, kita harus mewaspadai tipu 
daya dan fitnah yang dilakukan orang-orang yang tidak suka terhadap Islam, yang 
ingin terus berupaya memecah belah umat Islam. 

Dunia dakwah sudah menjadi bagian dari hidup Anda. Sebenarnya, apa saja bekal 
yang harus dipersiapkan demi dakwah?
Seperti mobil yang tidak bisa berjalan kalau tidak ada bahan bakarnya, maka dai 
perlu bahan bakar supaya dia bisa bergerak di dalam dakwah. Apa bahan bakar 
kita? Yaitu, tegakkanlah shalat, banyak bersedekah, banyak berdoa, banyak 
membaca Alquran, banyak zikrullah. Shalat, sedekah, doa, baca Alquran, 
zikrullah adalah bekal seorang dai. Bagaimana dia bisa berjalan kalau tidak 
menjalankan ini. Apakah kamu mengajak orang kepada al birri wat taqwa tapi 
engkau melupakan dirimu sendiri?

Apa pandangan Anda terhadap penghinaan Rasulullah SAW yang dilakukan media 
Barat, sehingga menimbulkan reaksi demonstasi di berbagai belahan dunia Muslim?
Demonstrasi untuk membela hak-hak kaum Muslimin dan penghormatan terhadap 
simbol-simbol Islam --seperti yang kita lihat dilakukan Denmark kepada 
Rasulullah SAW-- ketika dilakukan dengan baik adalah sesuatu yang patut 
disyukuri. Saya bersyukur kepada dunia Islam atas sikap mereka yang baik untuk 
membela Islam. Tapi, saya menyayangkan kalau demonstrasi bersifat anarkis, 
merusak, membakar, dan menghancurkan. Islam tidak mengajarkan begitu. Dan saya 
melihat Anda sekalian saudara-saudaraku di Indonesia berdemonstrasi dengan baik 
dan sangat tertib seperti yang saya lihat di televisi dan insya Allah itu 
menjadi demonstrasi yang dapat dicontoh dengan baik oleh masyarakat dunia 
Islam. Saya sebagai dai dan seorang Muslim bersyukur atas aktivitas yang baik 
yang dilaksanakan itu. 

Selama berada di Indonesia, Al Qarni sempat beristirahat selama dua hari di 
kawasan Puncak, Jawa Barat. ''Dia sangat kagum dengan air terjun dan pepohonan. 
Biasanya, setelah menyaksikan air terjun dan pohon-pohon, dia merenung. Kalau 
sudah begitu, dia tidak mau diganggu,'' tutur Anis Mas Tuhin, chief editor 
Qisthi Press, yang selalu menemani Aidh Al Qarni. Qisthi Press adalah pemilik 
hak cipta untuk menerbitkan buku La Tahzan versi bahasa Indonesia.

Saat berada di Puncak, kata Anis, Al Qarni tampak mengagumi pemandangan yang 
dipenuhi banyak gunung. Dia biasanya menatap pemandangan sambil menulis 
catatan. Kerap makan nasi kebuli, tidak jarang Anis melihat Al Qarni hanya 
memesan roti. ''Dia paling senang buah-buah Indonesia, seperti pisang,'' 
tuturnya. Anis menangkap kesan, Aidh Al Qarni adalah seorang moderat dan 
terbuka. Al Qarni, disebutnya, sangat responsif terhadap orang-orang yang 
menemuinya. ''Orangnya ramah,'' Anis menuturkan. Terhadap bencana beruntun yang 
menimpa bangsa Indonesia, Al Qarni, kata Anis, berpesan kepada umat Islam 
Indonesia,''Jangan bersedih. Insya Allah ada jalan keluar.''

Bagaimana latar belakang keluarga Anda?
Orang tua saya seorang tokoh masyarakat di daerah saya. Saya berasal dari 
keluarga ulama. Sejak kecil ayah sudah membawa saya ke masjid untuk shalat 
berjamaah. Saya juga sudah terbiasa dengan bacaan sejak kecil. Tampaknya saya 
dididik menjadi pejuang dakwah. Ayah selalu membelikan buku bacaan untuk saya. 

Ada berapa anggota keluarga Anda?
Anak saya enam, dari dua istri. Saat bersama keluarga, biasanya saya isi dengan 
bermain bola bersama anak-anak. Saya selalu menyediakan waktu khusus untuk 
keluarga.

Bagaimana Anda mendidik anak-anak, apakah mereka diarahkan seperti Anda menjadi 
penulis?
Saya tidak mengarahkan anak-anak saya seperti diri saya. Saya serahkan 
anak-anak menentukan masa depan mereka sendiri. Terserah mau jadi apa nantinya. 
Itu tergantung mereka sendiri. Yang saya selalu tekankan adalah pendidikan 
agama, terutama menyangkut akhlak dan moral.

Biasanya, nama Aidh itu dipakai oleh orang-orang Yaman atau khadhari. Apakah 
Anda termasuk keturunan Yaman?
Kakek-kakek saya dari Al-Anshari di Yaman. Jadi, saya keturunan Yaman. Ini 
untuk perkenalan saja. Kalau khadhari, mereka mempunyai jasa yang besar, mereka 
kebanyakan pedagang-pedagang yang sukses dalam usaha mereka baik di bidang 
dakwah. Mereka menjadi dai, ahli ilmu yang sangat banyak jasanya bagi Islam 
khususnya di Indonesia.

Bagaimana Anda mengisi waktu luang?
Tiap sore saya selalu menyiapkan waktu untuk keluarga selama 2-3 jam. Tiap 
Jumat saya libur total, kecuali kegiatan dakwah. Di luar itu, pagi saya membaca 
di perpustakaan. Usai shalat Dzuhur saya menulis, 4-5 halaman. Habis Maghrib 
biasanya saya berdakwah. Saya mengisi acara dakwah di televisi (Saudi Arabia). 
Kegiatan dakwah ini biasa juga dimulai selesai Ashar hingga Isya. Saya mengisi 
acara dialog interaktif di televisi. (Republika Online)

sumber : www.mualaf.com 

Kirim email ke