Sabtu, 03 Februari 2007

Banjir Lagi! Tanya Kenapa? 



Hujan yang melanda Jakarta dan sekitarnya dalam tiga hari terakhir ini membuat 
warga panik. Banjir terjadi di mana-mana. Di perumahan, juga di pusat-pusat 
perekonomian dan pemerintahan. Air mengepung dari segala penjuru. Tidak lumpuh 
benar, tapi sebagian aktivitas terhambat. Tak usahlah diceritakan lagi ribuan 
orang yang menderita akibat rumahnya terendam air.

Banjir kali ini bahkan disebut-sebut melebihi banjir yang menimpa Jakarta pada 
2002 silam. Ini karena kawasan yang terkena lebih luas dari lima tahun lalu. 
Bagaimanapun, hujan sebagai peristiwa alam memang tak bisa kita cegah 
sebagaimana kita mau. Kita hanya bisa memanjatkan doa agar hujan tak lagi turun 
sepanjang hari ini, agar air surut dan keadaan kembali normal.

Terlepas dari peristiwa alam, semestinya musibah banjir yang menimpa warga 
Jakarta, Tangerang, Bekasi ini bisa diantisipasi. Setidaknya kita bisa belajar 
dari banjir hebat sebelumnya. Apalagi kita percaya bahwa alam tak seganas yang 
kita kira bila memang telah mendapat "perlakuan" sebagaimana mestinya. 
Sayangnya, masih banyak di antara kita yang tidak peduli pada alam sehingga 
membuatnya berubah menjadi musibah. Tanya kenapa?

Melihat luasnya kawasan yang terkena banjir, penanganan terpadu menjadi sebuah 
keharusan. Tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah DKI saja, tapi juga 
pemerintah di sekitarnya yakni Tangerang, Bekasi, dan juga Bogor. Pemerintah 
pusat harusnya juga berperan, mengingat Jakarta merupakan Ibu Kota negara. 
Wajah Jakarta adalah wajah Indonesia di mata dunia.

Tim terpadu yang terdiri dari pemerintahan terkait tadi duduk satu meja. 
Buatlah sebuah perencanaan penanganan banjir yang utuh untuk kawasan 
Jabodetabek. Sebab, penanganan banjir yang parsial dan dilakukan 
sendiri-sendiri bukan tidak mungkin hanya memperparah keadaan dan banjir tetap 
datang setiap tahunnya.

Buruknya drainase menjadi penyebab banjir di pusat-pusat kota dan perumahan. 
Air hujan tidak mengalir di saluran-saluran yang ada. Ini memperlihatkan bahwa 
proyek-proyek pembuatan drainase --baik oleh pemerintah maupun developer-- 
tidak dilakukan dengan baik, sehingga curahan air hujan menjadi meninggi dan 
banjir tak terelakkan. Harus ada standar yang baku untuk pembuatan drainase 
tersebut. Yang tak mengindahkan, diberi sanksi tegas.

Selain itu, kantong-kantong yang menjadi penyangga air seperti situ atau 
rawa-rawa sudah banyak hilang diganti dengan perumahan atau gedung perkantoran. 
Tak ada lagi tanah untuk resapan air. Pada musim kemarau kawasan sekitarnya 
mengalami kekeringan. Di musim hujan banjir tak terhindarkan. Di sinilah 
pentingnya melestarikan situ-situ serta rawa-rawa di lingkungan kita. Untuk itu 
diperlukan aturan ketat terhadap developer-developer yang mengubah fungsi 
situ-situ tersebut.

Daerah aliran sungai juga mesti diperluas dan diperdalam. Bukan hanya pada 
musim hujan, tapi juga di musim kemarau. Hal ini dilakukan agar ketika musim 
hujan tiba, air dapat mengalir dengan lancar hingga ke laut dan tidak 
sebaliknya yakni "mengumpul" di kantong-kantong pemukiman dan pusat kota. 
Proyek banjir kanal di Jakarta perlu segera diselesaikan.

Yang tak kalah pentingnya adalah peran serta kita sebagai masyarakat untuk 
sama-sama mengantisipasi terjadinya banjir. Harus kita akui, masih ada 
masyarakat yang membuang sampah seenaknya di aliran sungai atau kali. Padahal 
perbuatan ini memicu terjadinya penyempitan dan pendangkalan sungai. Kalau 
sudah begitu, banjir sudah di depan mata. Tinggal menunggu datangnya hujan 
saja. Semoga saja kita bisa belajar dari banjir kali ini. 

sumber ; Republika

Kirim email ke