Tak Jera Bersedekah

Mei 25th, 2007 by osolihin

Bersedakah, adalah salah satu amal yang kadang sulit untuk kita lakukan. Ada saja 'halangan' untuk menunaikan amalan mulia itu. Selalu saja kita berhadapan dengan hal-hal lain yang seringkali justru kita prioritaskan. Meski adakalanya sesuatu yang kita dahulukan itu sebenarnya masih mungkin untuk kita tunda, atau kita kurangi konsumsinya. Maaf, rasanya lucu juga jika kita mampu membeli pakaian dengan harga yang mahal, tetapi hanya recehan yang bisa kita masukkan ke keropak masjid. Berkecukupan dalam hidup belum tentu bisa kita nikmati sendiri semuanya, dan rasanya sangat adil jika kita juga bisa memberi kepada saudara kita yang membutuhkan bantuan. Semampu yang kita bisa berikan. Meski barangkali akan 'mengurangi' harta yang kita miliki, tetapi Allah Swt. akan memberikan berlipat-lipat pahala sebagai tabungan kita di akhirat nanti. Insya Allah. Peluang kita untuk memberikan harta milik kita sangat terbuka lebar. Saudara-saudara kita yang tengah mendapat kesulitan hidup, tetangga di kanan-kiri kita yang kebetulan membutuhkan uluran tangan kita, atau mungkin sahabat dan teman kita. Kita bisa berbagi dengan mereka. Pemberian kita, adalah bahagia buat mereka. Sedekah, juga akan menumbuhkan jiwa sosial. Sebab, dengan memberi kepada mereka yang membutuhkan, setidak-tidaknya kita sudah menolong kehidupannya. Sekecil apa pun yang kita berikan, adalah harta tak ternilai bagi mereka. Itu sebabnya, bersedekah juga sekaligus menumbuhkan rasa empati. Kita bisa merasakan, bagaimana seandainya yang sedang mengalami kesusahan hidup adalah diri kita. Pelajaran yang sangat berharga adalah ketika kita pernah merasakan kesulitan hidup. Sehingga kita bisa mengambil 'hikmah' dari apa yang telah kita rasakan. Sangat boleh jadi jika kemudian kita berani berprinsip, "tak jera bersedekah" Ada sebuah riwayat yang mudah-mudahan bisa menggugah semangat kita untuk bersedekah. Salah seorang bibi Abi Hatim ath-Tha'i dikenal sebagai orang yang sangat dermawan. Ia tidak membiarkan harta yang dimilikinya kecuali ia gunakan untuk bersedakah, untuk memberi kepada mereka yang membutuhkannya. Sayangnya, kebiasaan beliau bersedekah itu ditanggapi berbeda oleh beberapa saudaranya. Saudaranya yang tidak setuju atas kebiasaan tersebut kemudian bersepakat untuk tidak memberinya nafkah. Karena mereka berpikir, pasti harta itu malah akan diberikannya kepada orang lain. Akhirnya, bibi Abi Hatim tersebut jatuh miskin dan kelaparan. Saudaranya menyangka, dengan perlakuan seperti itu ia akan jera bersedekah karena sudah merasakan kesulitan hidup. Akhirnya mereka kembali memberi nafkah untuknya, dengan memberinya shirmah (sekumpulan unta yang berjumlah 20-30 ekor). Suatu ketika, seorang pengemis menghampirinya lalu mengiba kepadanya. Kebiasaan memberi sedekah tetap tidak lenyap dari dirinya. Kemudian ia berkata, "Ambillah unta-untaku ini! Sungguh aku telah merasakan derita kelaparan. Maka sungguh aku tidak akan menolak permintaan pengemis-setelah itu-untuk selamanya". Subhanallah. [O. Solihin]
www.osolihin.wordpress.com

*************************************************

Celengan Masjid

SALAH satu berkah Ramadan, celengan masjid lebih
sering diisi oleh jemaah dan jumlahnya juga meningkat.
Hampir semua masjid, paling kurang diisi oleh jemaah dua kali dalam sehari semalam. Satu kali waktu salat tarwih dan satu kali lagi waktu sholat subuh. Bahkan, ada masjid tertentu, jemaahnya mengisi celengan setiap
selesai salat fardu.

Pada umumnya, bentuk celengan mesjid dari dulu begitu-begitu saja, bentuk kubus atau kotak segi empat. Ada celengan terbuat dari kayu, ada yang terbuat dari seng atau aluminium. Celengan seng biasanya cukup "ramai" dengan bunyi tuk tuk tuk karena
diisi bila diisi uang receh logam.

Cara mengedarkan celengan secara umum ada dua macam. Pertama, cara yang sudah turun-temurun dari dahulu, celengan diedarkan oleh seseorang, disodorkan pada
jamaah. Kalau celengannya terbuat dari seng, biasanya
sambil diketuk-ketuk agar jemaah tahu celengan sedang diedarkan. Soalnya, kata pengurus mesjid, adakalanya jemaah kurang tergerak untuk mengisi celengan, makanya diedarkan sambil diketuk-ketuk.

Untuk menyiasati pengedaran celengan, pengurus masjid punya kiat macam-macam. Ada mesjid mengedarkan celengan pada hari jumat persis ketika imam selesai mengucapkan salam mengakhiri salat. Dengan sigap petugas celengan bergegas mengedarkan celengan, saat jemaah masih sedang berzikir dan berdoa. Katanya, dengan cara itu, jemaahnya belum beranjak bubar, dan ada harapan yang mengisi celengan lebih banyak.

Namun ada juga pengurus masjid mengedarkan celengan biasa-biasa saja. Bahkan kebiasaan mengedarkan celengan oleh petugas sudah diganti dengan memberi roda pada celengan. Dengan begitu, celengan tinggal didorong dari satu jamaah ke jamaah lainnya. Perkara jemaah mau isi atau tidak, diserahkan pada kesiapan dan keikhlasan masing-masing.

Namun ada pula masjid punya celengan yang cukup unik.
Bentuknya bukan kotak segi empat, tapi miniatur keranda jenazah. Di sisinya ada tulisan kalimat laa ilaaha illallah. Pada saat pertama kali celengan model itu diedarkan, setiap jamaah yang melihatnya tersentak
kaget, lalu spontan merogoh kantong mengeluarkan uang
mengisi sang celengan.

Rupanya kiat celengan model keranda itu cukup ampuh
juga. Model itu sebenarnya beredar sambil seolah-olah
mengingatkan, "ingat, semua orang akan mati. Manfaatkan kesempatan menyisihkan sedikit harta selagi masih ada kesempatan".

Barangkali kiat seperti itu juga memang ada baiknya.
Soalnya, banyak diantara kita sangat berat menyisihkan
uang untuk isi celengan masjid. Padahal isi celengan itu, dipakai untuk pemeliharaan mesjid, kegiatan dakwah, pendidikan, bahkan juga santunan-santunan sosial. Kalau celengan mesjid terus-menerus seret tentu saja fungsi mesjid agar tidak sekedar jadi tempat salat, tidak bisa dikembangkan.

Barangkali sekarang sudah masanya ada robot celengan.
Itu robot celengan berjalan sendiri dan berhenti di
depan setiap jamaah. Mata robot diberi sensor yang bisa mendeteksi jemaah berdompet tebal tapi bakhil. Pertama kali sang robot berhenti dahulu di depan jemaah. Kalau dia tidak bereaksi, sang robot
menyentuh bahunya untuk mengingatkan. Kalau dengan
begitu dia masih belum bereaksi, padahal dia punya uang banyak, sang robot lalu mengulurkan tangannya merogoh sendiri dompet si jamaah. Sambil merogoh
dompet, sang robot menasihati, jadi orang jangan terlalu kikir ah, he he he.

Celengan masjid memang adalah sebuah tradisi yang sudah amat tua umurnya. Itulah sebuah cara manajemen keuangan yang sebenarnya patut diacungkan jempol.

Melalui celengan masjid, masyarakat atau ummat dengan
sendirinya terpanggil membangun kebersamaan , mendanai
berbagai program mesjid.

Satu keunikan lain dari pengelolaan dana model ini,
yaitu transparansi dan akuntabilitasnya. Di bulan-bulan biasa, pengurus mesjid mengumumkan isi
celengan setiap jumat. Bahkan ada diantaranya secara
rinci menyebut, sekian lembar uang seratus ribu, sekian lembar uang lima puluh ribu dan seterusnya sampai sekian ratus keping uang receh lima puluh rupiah. Pada umumnya, uang pecahan besar lembarannya hanya satu dua. Pecahan seratus ribu nyaris tidak pernah ada. Yang banyak adalah kepingan uang receh. Lalu ada yang berseloroh, itu namanya mau beli surga dengan uang receh, he he he he.

www.fajar.co.id

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda: Artinya: perumpamaan orang yang berdzikir dengan
orang yang tidak berdzikir adalah seperti orang yang hidup dan orang yang
mati. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al-Asyari).

Kirim email ke