ISLAMOFOBIA


Islamofobia di Kristen Barat bisa ditarik jauh kebelakang dari sejak Perang 
Salib. Perlu untuk diketahui yang dimaksud dengan Kristen Barat adalah bule 
yang berbeda dengan Kristen Ortodoks di Timur.

Pada sidang Konsili Clermont pada 25 November 1095, Paus Urbanus II membuat 
fatwa konsep Kristen mengenai 'sacrum bellum' (Perang Suci) saat dirinya 
menawarkan pengampunan sempurna (pengampunan dosa atas seluruh dosa masa lalu) 
bagi setiap orang yang bersedia bergabung dengan Perang Salib I untuk menyerang 
dan membantai umat Islam.

Paus Urbanus II mengatakan bahwa seluruh Muslim sebagai "ras terkutuk, tak 
diragukan lagi, tidak mengarahkan hatinya mau memasrahkan jiwanya pada Tuhan". 
Maka dia mendesak calon-calon tentara Salibnya agar "memusnahkan ras yang hina 
ini dari tanah tanah kita". Lalu menutup pidatonya dengan meneriakkan apa yang 
disebut Perang Salib dan menutup pidatonya dengan kata-kata penuh perasaan, 
"Des volt" (Tuhan bersama kita).

Bertolak belakang dengan ajaran kasih Jesus Kristus, tentara Salib Kristen dari 
Barat ini menyerang kaum Muslim, kaum Yahudi termasuk juga kaum Kristen 
Ortodoks di Jerusalem dengan membabi buta. Para penakluk Kristen Barat 
membantai sekitar 40.000 hingga 70.000 orang di Jerusalem yang sebagian besar 
merupakan anak-anak dan perempuan.

Salah satu panglima perang tentara Salib yaitu Raymond of Aguiles berkomentar,

"Pemandangan indah yang harus disaksikan. Beberapa laki-laki diantara kami 
(yang tergolong lebih berbelas hati) memenggal kepala-kepala musuhnya; yang 
lain memanahnya, sehingga mereka jatuh dari menara-menara; yang lain lagi 
menyiksa mereka lebih lama dengan melemparkan mereka kedalam api. Gundukan 
kepala, tangan, dan kaki terlihat di jalanan kota. Perlu berhati-hati mencari 
jalan diantara tubuh-tubuh manusia dan kuda. Namun, ini semua cuma masalah 
kecil dibandingkan dengan apa yang terjadi di Kuil Solomon, sebuah tempat 
lazimnya dilantunkan doa-doa... di Kuil dan beranda Solomon, manusia bergerak 
perlahan dalam genangan darah yang mencapai lutut mereka dan tali kekang kuda".

Menurut Raymond, panglima pendukung setia pasukan Salib Kristen, 'gundukan 
kepala, kaki, dan tangan', penyiksaan terhadap Muslim, Yahudi dan Kristen 
Ortodoks dengan membakar mereka hidup-hidup serta berkendara kuda dalam 
genangan darah orang muslim merupakan 'pemandangan yang indah yang harus 
disaksikan'. Kebrutalan dan kebengisan tentara Salib Kristen sulit untuk 
dibayangkan oleh setiap manusia beradab.

Chanson de Geste
'La Chanson de Roland' yang terdiri dari 4.000 kalimat, kemungkinan ditulis 
oleh Turold dalam masa kejayaan syair epik Prancis dan dipopulerkan oleh para 
troubadour hingga abad ke 17. Cerita fiksi perjalanan pasukan Charlemagne 
melintasi Pyrenees dibawah pimpinan Roland.

Perang Roncevaux, menceritakan perang antara muslim Andalusia dan "Dua belas 
Bangsawan" di wilayah Kristen. Kejahatan dipersonifikasikan dalam bentuk musuh 
beragama Islam, politeistik, dan menyembah berhala, yang secara rutin menyembah 
patung-patung Nabi Muhammad dan Apollo. Nama dewa yang muncul secara ajaib di 
agama Islam diambil dari mitologi dewa-dewa Yunani.

Dante
Selanjutnya, Islamofobia di Kristen Barat membawa kita dari Prancis di awal 
abad ke 12 hingga ke Itali di awal abad ke 14. Dante Alighiere (1265 - 1321) 
adalah seorang penyair asal Florence yang terkenal. Karyanya yang paling 
menonjol adalah "La Divina Commedia" ditulis tahun 1307, bercerita kepada 
pembaca perjalanan ke neraka, gerbang penyucian dosa, dan surga secara 
berurutan.

Pada saat perjalanan ke neraka, di dasar neraka yang paling terdalam, Dante 
menempatkan Nabi Muhammad dan menyebutnya sebagai "pemimpin di kalangan 
jiwa-jiwa terkutuk". Didalam neraka, Nabi Muhammad digambarkan terbelah dari 
kepala sampai pinggang dan mengkoyak-koyak dadanya dengan tangan sendiri.

Chaucer
Setelah dari Itali di awal abad ke 14, kita berpindah ke Inggris di akhir abad 
ke 14. Karya klasik dari Chaucer, seorang penyair istana Inggris, adalah 
"Canterbury Tales". Ini merupakan sastra Inggris klasik yang dipelajari oleh 
pelajar SMA di Amerika. Terdiri dari 24 kisah yang dituturkan menziarahi 
Katedral Canterbury, 8 dari 24 kisah tersebut berlangsung di luar Kristen 
Barat, salah satunya, yaitu Dongeng Man of Law, memetakan Islamofobia di 
wilayah Kristen.

Menurut kisah Man of Law-nya Chaucer, orang-orang Islam jauh lebih buruk 
dibandingkan pagan. Dia mengatakan para pagan memiliki potensi untuk berpindah 
agama dan ditampung oleh masyarakat Kristen. Sebaliknya, orang-orang Islam 
ditampilkan sebagai pengkhianat-pengkhianat yang terdiri atas bangsa barbarian, 
yang melakukan tingkah laku menjijikkan, terlibat perilaku terkutuk, dan 
sepenuhnya tidak mendapat penebusan dari Tuhan.

Lebih dari itu, kisah tersebut menyebarluaskan mitos bahwa orang-orang Islam 
diasosiasikan dengan ratu Asiria, Semiramia, sehingga membangun asosiasi 
dilegalkannya praktek 'incest' dan perilaku erotis yang amoral. Ringkasnya, 
orang-orang Islam digambarkan sebagai penjelamaan kejahatan.

Voltaire
Setelah dari Inggris, kita sampai di Prancis di abad ke 18 menjumpai Voltaire, 
penulis "Mahomet le Prophete, ou le Fanatisme". Voltaire menggambarkan Nabi 
Muhammad sebagai pedagang unta yang pemberontak dan penghasut, yang merekayasa 
serangkaian wahyu untuk menghasilkan sebuah Al Quran dimana 'setiap lembarnya 
melakukan kebohongan bagi pikiran yang waras'.

Pertama kali drama Islamofobia ini disajikan di Prancis pada tahun 1742, 
sebelum pada akhirnya dilarang. Dalam tulisan-tulisan selanjutnya Voltaire 
sedikit melunakkan hujatannya, setelah tujuannya tercapai dalam melabelisasi 
Nabi Muhammad sebagai sosok keji dan brutal.

Abad Modern
Pada tanggal 6 Oktober 2002, dalam program 'Sixty Minutes', Jerry Falwell, 
seorang pendeta terkenal di Amerika, mengklaim bahwa Nabi Muhammad adalah 
teroris. Pernyataan ini diulang kembali oleh Jerry Falwell pada edisi ABC News 
tanggal 18 November 2002.

Pat Robertson, diacara ABC News tanggal 18 November 2002, mengatakan bahwa apa 
yang ingin dilakukan oleh muslim kepada Yahudi adalah lebih buruk dibandingkan 
dengan perlakuan Adolf Hitler pada mereka.

Jimmy Swaggert berpendapat bahwa Amerika seharusnya mengirimkan 'setiap 
mahasiswa muslim yang bersekolah di setiap universitas di negeri ini... kembali 
ke tempat asalnya'. Namun kebencian luar biasa kepada Islam dikatakan oleh 
Jerry Vines yang mengatakan Nabi Muhammad adalah seorang 'pedofil yang 
kerasukan setan'.

Tuduhan dan fitnah ini dilakukan karena salah satu istri Nabi Muhammad, Aisyah, 
baru saja melewati usia pubertas ketika menikah dengan Nabi Muhammad. Fitnah 
dari Jerry Vines ini mengabaikan fakta bahwa pernikahan perempuan setelah 
mencapai usia pubertas adalah hal yang umum.

Berkenaan dengan komentar Jerry Vines, seharusnya dicatat bahwa Perawan Suci 
Maria ketika melahirkan Jesus berusia 14 tahun. Jadi, terjadi penerapan 
standard ganda tentang Aisyah yang dikawini oleh Nabi Muhammad dan kelahiran 
Jesus oleh Perawan Suci Maria. 'Tuhan Bapa' ataupun Roh Kudus tentu saja 
bersalah, karena satu diantara mereka, yang melakukan pemerkosaan yang 
dilegalkan terhadap Maria di usia 13 tahun. Sebaiknya, orang-orang Kristen 
berpikir dulu lah sebelum membuat perbandingan dan berbicara tentang Aisyah dan 
Perawan Suci Maria.

Kesimpulannya, Kristen Barat, sebagai agresor, dari sejak Perang Salib I sampai 
abad modern saat ini sudah secara sistematis melakukan penindasan dan 
pembunuhan umat Islam dan juga fitnah keji terhadap Islam dan Nabi Muhammad.

Pada akhir abad ke 20 kita menyaksikan pembantaian besar-besaran di Balkan, 
ketika Kristen Serbia membantai dan melancarkan perang genocida terhadap Muslim 
Bosnia dan Kosovo. Pembantaian oleh Kristen Serbia terhadap muslim Bosnia 
mengakibatkan setidaknya 200.000 kematian dan lebih dari dua juta orang diusir 
dari rumah rumah mereka pada tahun 1994. Serangan baru berhenti pada saat 
pasukan NATO turut campur.

Namun, konflik Balkan belum lagi usai. Kristen Serbia kemudian menyerang Kosovo 
pada Juni 1999, yang mengakibatkan korban kematian yang tidak terhitung 
jumlahnya dan mengakibatkan ratusan ribu pengungsi diusir keluar dari Kosovo, 
tanah kelahirannya.

Sekarang ini sedang berlangsung pembantaian dan pembunuhan masal secara 
sistematis di Irak yang mengakibatkan lebih dari 660.000 orang meninggal dan 
mengakibatkan jutaan pengungsi keluar dari kampung halamannya. Dan juga 
pembantaian di Afgahnistan yang tentu saja akan terus bertambah jumlahnya 
karena hal ini belum selesai.

Apakah Muslim melakukan pembantaian dan kekejaman seperti Kristen Barat?


I watched with glee
While your Kings and Queens
Fought for ten decades
For the Gods they made


Original Message :  Leo Susanto 
rezameutia <[EMAIL PROTECTED]> 

Kirim email ke