Disadur dari: http://kisanak.blogspot.com/2007/02/haji-madu-dan-haji-racun.html

Haji Madu dan Haji Racun
Oleh: Emha Ainun Nadjib

Hari-hari ini adalah hari 'H' di mana rombongan-rombongan awal jamaah
calon haji kita mulai bersiap berangkat.

Ini adalah sebuah keindahan. Kita mengayubagya mereka semua. Kita
semua Umat Islam bagaikan sedang berada di menit-menit yang penuh rasa
penasaran.

Sesaat lagi lagu-lagu rindu keilahian akan terdengar. Lantunan suara
talbiyah cinta akan bangkit dari seluruh permukaan bumi, bagai beribu
gugusan cahaya yang bangkit tegak lurus ke langit.

Gunung-gunung, hutan belantara dan kebun-kebun, angin, dedaunan, akan
menari-nari. Dan langit menyiapkan spiritual receiver-nya yang
terjernih. Ribuan malaikat Allah akan mengangkut di pundak-pundak
mereka lagu-lagu jawaban para hamba Allah atas panggilan cinta, untuk
dihamparkan dan ditata di halaman rumah sejati Allah nun jauh di arasy
laisa kamitslihi syai-un. Ah, betapa bahagianya mereka yang kini mulai
berbondong-bondong ke Baitullah. Mereka bukan saja akan menciumi hajar
Aswad, mengitari Ka'bah dalam emosi cinta yang meluap-luap. Mereka
bukan saja akan berjajar memenuhi Masjidil Haram -- tapi juga siap
berjamaah salat dengan semua Nabi dan Rasul, segenap Aulia, Jin-jin
mukmin-muslim, bahkan dengan debu-debu dan kehangatan matahari yang
semuanya itu bertasbih.

Ya Allah... dan Rasulullah Muhammad SAW yang amat amat amat kita
cintai, berdiri sebagai Imam salat kita semua! Kita yang tertinggal di
tanah air siap menangis. Siap meneteskan airmata, dengan rasa cemburu.

***

Menurut sebuah berita keislaman lama, terdapat sebuah interpretasi
yang mengidentifikasikan ibadah haji dengan lambang air madu.
Besertaan dengan ini salat dilambangkan oleh air hujan yang pangkal
dan ujung maknanya adalah pencahayaan. Puasa disimbolkan oleh khamar
yang mengempasiskan proses peragian rohani atau sublimasi kepribadian.
Sementara zakat dimetaforkan oleh air susu yang inti kearifannya
adalah keberbagian atau kesediaan berbagi.

Haji madu! Haji madu! Saudara-saudara kita yang pergi memenuhi
panggilan cinta itu berangkat memproses pencapaian kualitas madu bagi
kepribadiannya. Nanti kalau mereka kembali ke tengah kita, maka
siap-siaplah mendengarkan betapa setiap ucapannya akan bermutu bagai
madu. Setiap perilakunya, setiap gerak geriknya, setiap keputusan dan
sikap sosialnya -- baik dalam pergaulan kesehariannya maupun dalam
keterlibatan kolektifnya pada sistem-sistem sosial -- akan memancarkan
kualitas madu.

Seandainya seorang Muslim sekadar sampai pada taraf syahadat saja pun
-- berkat ikrarnya atas Allah dan Rasulullah -- pun mestinya ia akan
tak mungkin menyakiti kita. Tak mungkin mendustai kita, menggusur
nasib kita, mengakali kebodohan kita, menindas kelemahan kita.

Apalagi jika hamba Allah itu telah pula melakukan salat. Orang yang
sudah mengangkat tangan dan mengucapkan 'Allahu Akbar' di awal salat,
mana mungkin punya sifat egosentris, mana mungkin memusatkan kehidupan
ini pada kepentingan sendiri, pada kemapanan kekuasaannya sendiri,
atau pada pamrih keuntungan ekonominya sendiri.

Orang yang ketika melakukan salat dan bersujud atau berpose menyerupai
binatang berkaki empat dan mengucapkan ''Maha Suci Allah yang Maha
Tinggi'' dalam kedudukan sebagai 'aku' atau individual (: robbiya);
atau ketika beruku' bagaikan kanguru menunduk dan juga dalam posisi
sebagai 'aku' atau individual; lantas ketika berdiri bersedekap
mengucapkan ''hanya kepadamu kami menyembah...'' atau memposisikan
dirinya tidak sebagai individu melainkan sebagai 'kebersamaan sosial'
-- mana mungkin terlibat dalam ketidakadilan, otoritarianisme,
fasisme, korupsi, manipulasi atau monopoli.

Kalau sudah melakukan salat tapi tetap mengerjakan hal-hal itu, maka
tentu mereka adalah alladzina hum 'an sholatihim sahun -- orang-orang
yang memperlakukan salatnya dengan kelalaian dan pelecehan -- sehingga
neraka Wail yang dijanjikan oleh Allah atas mereka. Sebab yang mereka
produksi di muka bumi adalah neraka-neraka kecil, perusakan dan
penghancuran atas wajib bareng-barengnya kesejahteraan bagaimana yang
diamanatkan oleh Allah SWT.

***

Jadi betapa indahnya perilaku, ucapan, peran, sosial dan mutu
integritas orang yang telah naik haji.

Tapi kalau ternyata tidak demikian -- menangislah. Kalau ternyata di
sekitarmu bahkan ada haji-haji racun, berlindunglah kepada Allah SWT.

Bermacam-macam dorongan yang membuat orang-orang pergi haji. Ada yang
karena kerinduan bertahun-tahun. Ada yang memang benar-benar karena
ingin mematangkan dan menyempurnakan kemuslimannya. Ada juga yang
kebetulan dapat jatah. Ada yang biaya naik haji baginya sama dengan
makan malam beberapa kali, sehingga pergi ke Mekkah itu tidak
istimewa, dan ketika merancangnya seakan-akan ia akan berpariwisata.

Atau mungkin ada yang buntu hidupnya, dipenjarakan ia oleh
problem-problem, sehingga ia yakini hanya di Baitullah segala
sesuatunya bisa dibereskan.

Seorang kawan hendak naik haji dengan perasaan bahwa bukan tidak
mungkin ia tak akan pernah kembali ke tanah air. Ia mintai saya
menemaninya pada minggu-minggu menjelang berangkat. Ia bereskan semua
hutangnya, ia beredar minta maaf kepada siapa saja yang ia pernah
melakukan kesalahan. Ia jaga perilakunya sebaik mungkin dan ia
hindarkan dari dosa sekecil apapun.

Tapi ada juga seorang kawan lain yang mengeluh kepada saya betapa
calon istrinya mengisi hidupnya pada bulan-bulan menjelang naik haji
dengan cara yang sangat aneh.

''Hampir setiap hari ia menyakiti saya,'' katanya, ''ia selalu
menuntut kejujuran saya tapi ia sendiri mempersembahkan kepada saya
dusta, kebohongan, pengingkaran janji, siksaan, kekejaman. Jangankan
memperlakukan saya sebagai calon suami yang ia janjikan dengan
berbagai komitmen; sedangkan memperlakukan saya sebagai manusia --
nguwongke -- saja ia hampir tak lakukan. Saya bukan membesar-besarkan:
ia benar-benar secara sangat ekstrem melakukan hal itu dari jam ke
jam. Ia seperti sedang dikuasai entah oleh setan atau jin apa. Bahkan
terakhir saya menjumpai -- maaf -- gambar buka aurat dia, dan entah
siapa yang memfotonya. Saya boleh menangis, 'kan, meskipun saya
laki-laki? Juga saya sama sekali tidak mengerti bagaimana mungkin ia
menghimpun kelaliman itu menjelang pertemuan agungnya dengan Allah?
Apakah saya akan tidak mensupport keberangkatannya naik haji?''

Saya merasa tidak mampu meneruskan tulisan ini, sebagaimana saya juga
merasa tidak sanggup memberikan jawaban atau saran apapun kepada teman
kita ini.

Tapi saya mencobanya. ''Mungkin Allah menawarimu kemuliaan tingkat
tinggi. Di puncak sakit hatimu dan hancurnya harga dirimu, engkau
ditantang untuk sanggup memanfaatkannya, karena hanya jika engkau
memaafkannya maka Allah akan juga mengampuninya. Memaafkan adalah
satu-satunya jalan: bukankah engkau sangat mencintainya?''

''Ya,'' jawab kawan ini, dengan nada ragu.

''Islam mengenalkan kepada kita konsep husnul khathimah, akhir yang
baik. Mudah-mudahan ia memang sedang terserap oleh puncak kegelapan
hidupnya, semoga pula Allah nanti membenturnya, kemudian
menganugerahinya hidayah dan cahaya.''

''Tapi bagaimana kalau Allah ternyata membiarkannya?'' ia tampak
sangat cemas, ''di tanah suci ia tak mengalami apa-apa, nanti pulang
juga tidak berubah apa-apa?''

''Satu-satunya jalan yang bisa engkau tempuh adalah tidak
ber-su-udhdhon atau bersangka buruk kepada Allah. Bukankah yang
terindah dalam hidup ini adalah kebesaran jiwa untuk disakiti oleh
kegelapan, kemudian memohonkan kepada Allah perkenan untuk mengubahnya
menjadi cahaya?''....

Ah, teori! Tampaknya aku sendiri seandainya itu semua benar tak mampu
menyangga pengalaman semacam itu. Haji racun. Tapi tak mungkin haji
itu meracuni. Tidak. Bukankah Mike Tyson memperkosa, untuk beberapa
tahun kemudian bersujud syukur di hadapan ratusan juta penonton?

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda,  Barang siapa yang meninggal 
dengan mempunyai kewajiban shaum (puasa) maka keluarganya berpuasa untuknya 
(HR Bukhari dan Muslim)

Kirim email ke