-------- Original Message --------
From: esmaila1 <[EMAIL PROTECTED]>

Republika: Jumat, 22 Juni 2007

Awas Celeng (Lagi)!

Daging ini didatangkan dari Palembang dan hendak diselundupkan ke
Jakarta. Diduga celeng tersebut merupakan hasil buruan di beberapa
hutan di wilayah Sumatera. Sebuah modus yang mirip dengan kejadian-
kejadian sebelumnya yang pernah ditemukan petugas.


Alasannyapun klasik. Apa lagi kalau bukan karena faktor harga dan
keuntungan sesaat. Babi hutan yang hampir tidak ada harganya di
Sumatera itu biasanya dioplos dengan daging sapi. Campuran darah
sapi ini akan menghilangkan jejak sebagai daging celeng. Daging
oplosan ini dijual di pasar-pasar becek dengan harga daging sapi
yang sudah di atas Rp 40 ribu. Sebuah keuntungan yang menggiurkan,
meskipun untuk itu harus mengorbankan kepentingan masyarakat.

Sejauh ini pihak karantina, polisi dan instansi terkait lainnya
telah berkali-kali melakukan razia. Namun sepertinya para pelaku
kejahatan ini tidak pernah jera. Hampir setiap tahun kasus ini
secara sporadis muncul kembali dan menimbulkan keresahan.

Membedakan asal daging
Kasus daging celeng ini merupakan pelajaran penting bagi konsumen
Muslim untuk mengenal lebih baik ciri-ciri penampakan berbagai jenis
daging agar tidak tertipu. Konsumen biasanya terjebak dalam
membedakan jenis-jenis daging hewan ternak besar karena memiliki
penampakan yang mirip. Sedangkan hewan ternak kecil (unggas) mudah
dibedakan karena jenis dagingnya sangat berbeda dengan hewan ternak
besar.

Daging sapi yang masih baik berwarna merah terang, seratnya halus
dan lemaknya berwarna kekuningan. Daging yang kaku dan berwarna
gelap menunjukkan bahwa penyembelihan dilakukan pada kondisi yang
tidak tepat, misalnya hewan dalam keadaan stres atau kehabisan
tenaga. Daging sapi yang berwarna coklat menandakan bahwa daging
tersebut sudah terkena udara terlalu lama.

Daging kerbau yang baik berwarna merah tua, seratnya lebih kasar
dibandingkan serat daging sapi, sedangkan lemaknya berwarna kuning
dan keras. Umumnya tekstur daging kerbau lebih liat dari daging
ternak lainnya karena disembelih pada umur tua.

Daging kambing berwarna lebih gelap dibandingkan warna daging sapi,
dengan serat yang halus dan lembut. Lemaknya keras dan kenyal
berwarna putih kekuningan. Daging kambing mudah dikenali karena
baunya yang khas dan cukup keras.

Daging babi yang baik berwarna merah pucat (merah mawar) dengan
serat yang halus dan kompak. Lemaknya berwarna putih jernih, lunak
dan mudah mencair pada suhu ruang. Sedikit berbeda dengan daging
babi hutan atau celeng yang memiliki tekstur lebih kasar dan warna
lebih gelap. Sepintas lalu daging celeng ini lebih mirip dengan
sapi. Namun daging tersebut memiliki aroma khas babi yang lebih
kuat. Bau inilah yang bisa kita pergunakan untuk mengidentifikasi
babi hutan.

Campuran
Para pelaku kejahatan daging ini mencoba berbagai cara untuk
mengelabui konsumen. Caranya adalah dengan mencampur (mengoplos)
daging celeng dengan daging sapi, sehingga aroma babi hutan bisa
tertutupi oleh daging sapi yang dicampurkan tersebut. Untuk itu
perlu kiat lain agar bisa mengidentifikasinya.

Dalam membuat oplosan daging tersebut biasanya dilakukan pencampuran
berbagai asal daging (paha, punggung, dada, dan seterusnya). Oleh
karena itu daging oplosan biasanya terdiri dari berbagai bagian
tubuh hewan. Kadang malah sudah dipotong-potong kecil, sehingga
tidak terlihat jelas lagi bagian daging apa yang ditawarkan penjual.
Sementara daging sapi yang benar-benar berasal dari sapi disajikan
dalam potongan-potongan besar yang mudah dikenali. Misalnya bagian
paha, iga, singkil, atau punggung.

Inilah yang bisa kita kenali untuk membedakan antara daging sapi dan
daging oplosan (sapi dan celeng). Oleh karena itu ketika akan
membeli daging sebaiknya dipilih yang masih kelihatan wujudnya.
Biasanya oleh pedagang daging tersebut digantung sesuai dengan
bagiannya masing-masing. Sebaiknya dihindari daging campuran yang
sudah tidak bisa diidentifikasi bagian-bagiannya. Apalagi jika sudah
dicacah atau dipotong kecil-kecil dengan bentuk yang beraneka ragam.

Masalahnya yang sulit dibedakan adalah pada daging giling. Pada
kasus tersebut sulit membedakan antara daging sapi asli dan daging
oplosan. Dengan mata biasa keduanya akan terlihat sama saja.
Sebenarnya dengan analisa laboratorium kita bisa mengenali daging
oplosan ini. Namun bagi masyarakat awam hal ini sulit dilakukan.
Oleh karena itu informasi asal-usul daging giling ini perlu
ditelusuri secara lebih hati-hati.

Kasus yang terus berulang terjadi ini memang harus mendapatkan
perhatian serius. Pemerintah dan instansi terkait diharapkan terus
meningkatkan pengawasan daging ilegal tersebut. Di sisi lain
masyarakatpun diharapkan ikut waspada dengan tidak mudah tergiur
oleh penawaran daging dengan harga murah. Sebab biasanya daging
celeng dan daging oplosan ini dijual dengan harga yang lebih murah
dibandingkan daging sapi.

Nur Wahid, Auditor dan Ketua Bidang Sosialisasi LPPOM MUI.

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW 
bersabda, Jika seorang Imam membaca ghairil maghdhuubi alaihim waladh 
dhaalinn, maka ucapkanlah oleh kalian aamiin, karena barangsiapa ucapannya
itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang
masa lalu (Shahih Bukhari no. 782)

Kirim email ke