----- Original Message -----
From: sri mulyani
Berikan, dan Lupakan!
Suatu malam hujan turun dengan lebat diiringi angin kencang dan petir yang
menyambar-nyambar. Malam itu telepon berdering di rumah seorang dokter.
''Istri saya sakit,'' terdengar suara minta pertolongan. ''Dia sangat
membutuhkan dokter segera.
'' Si dokter menjawab, ''Dapatkah bapak menjemput saya sekarang? Mobil saya
sedang masuk bengkel.'' Mendengar jawaban itu, lelaki tersebut menjadi
berang. ''Apa?!'' katanya dengan marah. ''Saya harus pergi menjemput dokter
pada malam yang berhujan lebat seperti ini?''
Coba Anda renungkan cerita inspiratif diatas. Seperti yang sudah saya
paparkan dalam rubrik ini bulan lalu, kita senantiasa meminta sesuatu kepada
orang lain. Sayangnya, kita seringkali lupa untuk memberi. Kita tak sadar
bahwa apapun yang kita berikan sebenarnya adalah untuk diri kita sendiri,
bukan untuk siapa-siapa.
Di dunia ini tak ada yang gratis. Segala sesuatu ada harganya. Seperti
halnya membeli barang, Anda harus memberi terlebih dahulu sebelum meminta
barang tersebut. Kalau Anda seorang penjual, Anda pun harus memberikan
pelayanan dan menciptakan produk sebelum meminta imbalan jasa Anda. Inilah
konsep ''memberi sebelum meminta'' yang sayangnya sering kita lupakan dalam
kehidupan sehari-hari.
Padahal ''memberi sebelum meminta'' adalah sebuah hukum alam. Kalau Anda
ingin anak Anda mendengarkan apa yang Anda katakan, Andalah yang harus
memulai dengan mendengarkan keluh kesah mereka. Kalau Anda ingin karyawan
atau bawahan Anda bekerja dengan giat, Andalah yang harus memulai dengan
memberikan perhatian, dan lingkungan kerja yang kondusif. Kalau Anda ingin
disenangi dalam pergaulan, Anda harus memulainya dengan memberikan bantuan
dan keperdulian kepada orang lain.
Orang yang tak mau memberi adalah mereka yang senantiasa dihantui perasaan
takut miskin. Inilah orang-orang yang ''miskin'' dalam arti yang
sesungguhnya. Padahal, di dunia ini berlaku hukum kekekalan energi. Kalau
Anda memberikan energi positif kepada dunia, energi itu tak akan hilang. Ia
pasti kembali kepada Anda.
Persoalannya, banyak orang mengharapkan imbalan perbuatan baiknya langsung
dari orang yang ditolongnya. Ini suatu kesalahan. Dengan melakukan hal itu,
Anda justru membuat bantuan tersebut menjadi tak bernilai. Anda
mempraktikkan manajemen ''Ada Udang Di Balik Batu.'' Anda tak ikhlas dan tak
tulus. Ini pasti segera dapat dirasakan oleh orang yang menerima pemberian
Anda. Jadi, alih-alih menciptakan kepercayaan pemberian Anda malah akan
menghasilkan kecurigaan.
Agar dapat efektif, Anda harus berperilaku seperti sang surya yang memberi
tanpa mengharapkan imbalannya. Untuk itu tak cukup memberikan harta saja,
Anda juga harus memberikan diri Anda, dari hati Anda yang paling dalam.
Jangan pernah memikirkan imbalannya. Anda hanya perlu percaya bahwa apapun
yang Anda berikan suatu ketika pasti kembali kepada Anda. Ini merupakan
suatu keniscayaan, suatu hukum alam yang sejati.
Sebetulnya semua orang di dunia ini senantiasa memikirkan kepentingan
dirinya sendiri. Namun, kita dapat membedakannya menjadi dua tipe orang.
Orang pertama kita sebut sebagai orang yang egois. Merekalah orang yang
selalu meminta tetapi tak pernah memberikan apapun untuk orang lain. Orang
ini pasti dibenci dimana pun ia berada.
Jenis orang kedua adalah orang yang juga mementingkan diri sendiri, tetapi
dengan cara mementingkan orang lain. Mereka membuat orang lain bahagia agar
mereka sendiri menjadi bahagia. Ini sebenarnya juga konsep mementingkan diri
sendiri tetapi sudah diperhalus. Kalau Anda selalu memberikan perhatian dan
bantuan kepada orang lain, banyak orang yang akan menghormati dan membantu
Anda. Kalau demikian, Anda sebenarnya sedang berbuat baik pada diri Anda
sendiri.
Bagaimana kalau Anda membaktikan diri Anda untuk menolong anak-anak
terlantar dan orang-orang miskin? Ini pun sebenarnya adalah tindakan
''mementingkan diri sendiri dengan cara mementingkan orang lain.'' Anda
mungkin tak setuju dan mengatakan, ''Bukankah saya tidak mendapatkan
apa-apa. Saya kan bekerja dengan sukarela.
'' Memang benar, Anda tidak mendapatkan apa-apa secara materi, tetapi apakah
Anda sama sekali tidak mendapatkan apa-apa? Jangan salah, Anda tetap akan
mendapatkan sesuatu yaitu kepuasan batin. Kepuasan batin inilah yang Anda
cari. Anda membantu orang lain supaya mendapatkan hal ini.
Jadi, apapun yang kita lakukan di dunia ini semuanya adalah untuk
kepentingan kita sendiri. Orang-orang yang egois sama sekali tak memahami
hal ini. Mereka tak sadar bahwa mereka sedang merusak diri mereka sendiri.
Sementara orang-orang yang baik budinya sadar bahwa kesuksesan dan
kebahagiaan baru dapat dicapai kalau kita membuat orang lain senang, menang,
dan bahagia. Hanya dengan cara itulah kita akan dapat menikmati kemenangan
kita dalam jangka panjang. Inilah hukum Menang-Menang (win-win) yang berlaku
dimana saja, kapan saja dan untuk siapa saja.
Oleh: Arvan Pradiansyah, penulis buku You Are A Leader!
e-mail: [EMAIL PROTECTED]
faksimile: 021-7983623
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Bukanlah orang kaya itu yang banyak hartanya, melainkan yang kaya jiwanya
(hatinya) (HR Bukhari dan Muslim).