http://www.eramuslim.com/ustadz/hds/8123190021-kapasitas-mendhoifkan-hadits.htm

(nb: si penanya bukan saya lho, walau pun pakai samaran Abu Hafiz. --amin)

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Assalamu'alaikum wr.wb,

Sebelumnya ana berdoa semoga forum ini menjadi semakin exist karena
kita semua umat Islam sering bingung dengan banyaknya pertentangan di
antara sesama muslim sendiri.

Akhir-akhir ini banyak sekali ana melihat perbedaan pendapat di antara
ulama kita sudah semakin melihat khususnya mengenai hadits dhoif.

Sebetulnya sampai sejauh mana kapasitas ulama sehingga bisa
mendhoifkan hadits, seperti Syaikh Al-Albani banyak mendhoifkan hadits
Tirmidzi. Karena menurut ana setiap ulama hadits sebelum menyusun
kitab pasti melalui proses yang panjang dan istikharah terlebih
dahulu. Padahal kalo menurut ana Imam yang empat, Imam Tirmidzi dan
yang lainnya lebih dekat ke zaman para Shahabat dibandingkan Syaikh
Al-Albani sebagai ulama mutaakhir

Abu Hafiz

Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Syeikh Al-Albani memang punya kapasitas sebagai muhaddits, di mana
beliau memang secara tekun dan selama bertahun-tahun melakukan
penelitian dan penelusuran di dalam perpustakaan Damaskus.

Memang seringkali muncul keberatan dari sesama pakar hadits di masa
sekarang ini atas kesimpulan beliau. Sebab bukan hanya hadits yang
dishahihkan oleh At-Tirmizy saja yang pernah beliau dhaifkan, bahkan
yang telah dishahihkan oleh Imam Al-Bukhari pun juga ada.

Barangkali inilah yang kemudian menimbulkan berbagai keberatan dari
para pakar hadits di masa sekarang. Siapa sih seorang Al-Albani, kok
berani-beraninya mendhaifkan hadits yang Al-Bukhari saja telah
menshahihkan? Kira-kira begitulah pertanyaannya.

Apalagi kemudian Al-Albani sering dianggap melewati batas
kapasitasnya. Seorang muhaddits perannya hanya sampai kepada
kesimpulan tentang keshahihan suatu riwayat. Tidak punya kapasitas dan
otoritas dalam menyimpulkanhukum. Namun seringkali beliau juga ikut
berijtihad layaknya seorang ahli fiqih. Bahkan sering mengeluarkan
statetmen bid'ah dan sejenisnya. Dan banyak lagi keberatan-keberatan
yang diarahkan kepada beliau.

Ijtihad Al-Albani

Apa yang beliau simpulkan dari penelaahan tentunya menjadi sebuah
ijtihad pribadi beliau. Kita tentu perlu menghormatinya meski boleh
jadi kita tidak pernah diwajibkan untuk selalu terpaku kepada hasil
ijtihad seseorang.

Maka kalau misalnya suatu ketika beliau mendhaifkan sebuah hadits yang
pernah dishahihkan oleh ulama di masa lalu, kita harus ber-husnudzdzan
kepada beliau.

Pertama, kita yakin bahwa beliau tidak melakukan pendhaifan karena
hawa nafsu, riya' atau keinginan untuk sekedar menonjol-nonjolkan
diri. Orang-orang yang mengenal beliau tahu persis bahwa beliau jauh
dari sikap-sikap seperti itu.

Kedua, kita yakin bahwa beliau adalah seorang yang telah memiliki
kapasitas yang cukup untuk boleh melakukan al-hukmu 'alal hadits.
Maksudnya memberi status hukum atas suatu hadits. Lepas dari masalah
level beliau yang pastinya lebih rendah dibandingkan dengan para
muhaddits di masa lalu seperti Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmizy, Ibnu
Hajar Al-Asqalani dan seterusnya.

Ketiga, kita juga percaya bahwa ijtihad yang dilakukan oleh seorang
ulama tidaklah mengugurkan hasil ijtihad ulama lainnya, apabila
keduanya tidak sama.

Ketika kita lebih cenderung memilih salah satu hasil ijtihad, kita
tidak perlu membenci orang yang memilih hasil ijtihad yang lain.
Apalagi harus sampai memusuhi, mencaci maki, menjelek-jelekkan atau
mengumbar kalimat yang melecehkan.

Kita menghormati Syeikh Al-Albani dengan segala ilmunya, tidak sedikit
hasil ijtihad beliau yang sangat membantu tsaqafah umat Islam.
Tentunya kita harus jujur mengucapkan terima kasih kepada beliau atas
semua ini. Semoga Allah SWT menerima semua amal beliau dan meninggikan
derajat beliau di sisi-Nya.

Kalau pun suatu ketika seseorang tidak setuju dengan hasil ijtihad dan
pandangan beliau, karena barangkali sudah ada hasil ijtihad yang lebih
diyakininya, tentu tidak harus melahirkan rasa tidak suka dari para
murid dan pengikut beliau.

Sayangnya sebagian dari kalangan yang merasa sebagai murid beliau
terkadang agak over dalam bersikap. Seolah-olah Al-Albani adalah
segalanya dan satu-satunya tolok ukur kebenaran. Sama sekali suci dari
kesalahan dan kekhilafan. Siapa pun yang tidak sepaham dengan syeikh
itu, dianggapnya sebagai ahli bid'ah, sesat dan calon penghuni neraka.
Kalau perlu diboikot, tidakdisapa dan kalau bertemu harus buang muka.
Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -


Kirim email ke