Sent: Monday, February 11, 2008 8:31 AM
Subject: Fw: 7 Indikator Kebahagiaan di Dunia



        7 Indikator Kebahagiaan di Dunia
        Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat 
telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara 
khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah 
hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh 
para Tabi'in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang 
dimaksud dengan kebahagiaan dunia.

        Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :

        Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.

        Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona'ah), 
sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi 
hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas 
memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah 
terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah.

        Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu :

        "Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari 
kita". Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal 
ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar 
lagi. Bila ia tetap "bandel" dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya 
lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi.


        Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!


        Kedua. Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.


        Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu 
agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih 
jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya.


        Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia 
belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah 
dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.


        Semangat memahami agama akan meng "hidup" kan hatinya, hati yang 
"hidup" adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. 
Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.



        Ketiga, Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.


        Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga 
yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan 
diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. 
Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti 
akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. 
Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan 
yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan 
suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri 
yang sholeh.






        Keempat, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.


        Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang 
anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW 
bertanya kepada anak muda itu : "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak muda itu : 
"Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. 
Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan 
ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain 
itu sisanya saya selalu menggendongnya" . Lalu anak muda itu bertanya: " Ya 
Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada 
orang tua ?"

        Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: "Sungguh Allah 
ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku 
ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu". Dari hadist 
tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup 
untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa 
memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada 
orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak 
yang sholeh.




        Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.


        Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi 
halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya.


        Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah 
bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu berdoa 
sudah bagus", kata Nabi SAW, "Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan 
tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan". 
Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah 
dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, 
maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam 
hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga 
kehalalan hartanya.


        Keenam,  yaitu umur yang baroqah.


        Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, 
yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya 
untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak 
bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa 
dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada 
bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan 
terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia 
tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang 
mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal 
ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang 
Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. 
Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap 
untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang 
dijanjikan Allah. Inilah semangat "hidup" orang-orang yang baroqah umurnya, 
maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.



        Ketujuh,  albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman 
kita.


        Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh 
mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, 
haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam 
sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan 
orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada 
kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah.


        Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman 
dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya 
tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya.


        Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang 
sholeh


        Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator 
kebahagiaan dunia.


        Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator 
kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, 
maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu' mungkin membaca 
doa `sapu jagat' , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. 
Dimana baris pertama doa tersebut "Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw" (yang 
artinya "Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia "), mempunyai makna bahwa 
kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang 
disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang 
soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang 
halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah.


        Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam 
genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut 
kita syukuri.


        Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu "wa fil 
aakhirati hasanaw" (yang artinya "dan juga kebahagiaan akhirat"), untuk 
memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga 
tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari 
rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena 
rahmat Allah.


        Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari 
puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. 
Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah 
sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.


        Kata Nabi SAW, "Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan 
kalian ke surga". Lalu para sahabat bertanya: "Bagaimana dengan Engkau ya 
Rasulullah ?". Jawab Rasulullah SAW : "Amal soleh saya pun juga tidak cukup". 
Lalu para sahabat kembali bertanya : "Kalau begitu dengan apa kita masuk 
surga?". Nabi SAW kembali menjawab : "Kita dapat masuk surga hanya karena 
rahmat dan kebaikan Allah semata".


        Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya 
bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah 
itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).



        "Fa maadza ba'da-lhaqq, illa-dl_dlalaal"



       

Legal disclaimer
-------------------------
This email may contain confidential and/or legally privileged information. 
If you are not the intended recipient (or have received this email by error), 
please notify the sender immediately and delete this email. 
Any unauthorized copying, disclosure, or distribution of the material in this 
email is strictly forbidden.

Kirim email ke