Jumat, 15 Februari 2008

Kadar Hujan 




"Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antar 
(bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih maka kelihatanlah 
olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan 
(butiran-butiran) es dari langit, ..."(QS An-Nur [24]:43) 

Para ilmuwan yang mempelajari jenis-jenis awan mendapatkan temuan yang 
mengejutkan berkenaan dengan proses pembentukan awan hujan. Terbentuknya awan 
hujan yang mengambil bentuk tertentu, terjadi melalui sistem dan tahapan 
tertentu pula. Tahap-tahap pembentukan kumulonimbus, sejenis awan hujan, adalah 
sebagai berikut:

Tahap pertama adalah pergerakan awan oleh angin. Awan-awan dibawa, dengan kata 
lain, ditiup oleh angin. 

Tahap kedua adalah pembentukan awan yang lebih besar: Kemudian awan-awan kecil 
(awan kumulus) yang digerakkan angin, saling bergabung dan membentuk awan yang 
lebih besar. 

Dan tahap ketiga berupa pembentukan awan yang bertumpang tindih. Ketika 
awan-awan kecil saling bertemu dan bergabung membentuk awan yang lebih besar, 
gerakan udara vertikal ke atas terjadi di dalamnya meningkat. Gerakan udara 
vertikal ini lebih kuat di bagian tengah dibandingkan di bagian tepinya. 
Gerakan udara ini menyebabkan gumpalan awan tumbuh membesar secara vertikal, 
sehingga menyebabkan awan saling bertindih-tindih. Membesarnya awan secara 
vertikal ini menyebabkan gumpalan besar awan tersebut mencapai wilayah-wilayah 
atmosfir yang bersuhu lebih dingin, di mana butiran-butiran air dan es mulai 
terbentuk dan tumbuh semakin membesar. 

Ketika butiran air dan es ini telah menjadi berat sehingga tak lagi mampu 
ditopang oleh hembusan angin vertikal, mereka mulai lepas dari awan dan jatuh 
ke bawah sebagai hujan air, hujan es, dan sebagainya. 

Fakta lain yang diberikan dalam Alquran mengenai hujan adalah bahwa hujan 
diturunkan ke bumi dalam kadar tertentu. Hal ini disebutkan dalam Surat 
Az-Zukhruf sebagai berikut, ""Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar 
(yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti 
itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur)." (QS Az-Zukhruf [43]: 11) 

Kadar dalam hujan ini pun sekali lagi telah ditemukan melalui penelitian 
modern. Diperkirakan dalam satu detik, sekitar 16 juta ton air menguap dari 
bumi. Angka ini menghasilkan 513 trilyun ton air per tahun. Angka ini ternyata 
sama dengan jumlah hujan yang jatuh ke bumi dalam satu tahun. Hal ini berarti 
air senantiasa berputar dalam suatu siklus yang seimbang menurut "ukuran atau 
kadar" tertentu. Kehidupan di bumi bergantung pada siklus air ini. Bahkan 
sekalipun manusia menggunakan semua teknologi yang ada di dunia ini, mereka 
tidak akan mampu membuat siklus seperti ini. 

Per tahunnya, air hujan yang menguap dan turun kembali ke Bumi dalam bentuk 
hujan berjumlah tetap, yakni 513 triliun ton. Jumlah yang tetap ini dinyatakan 
dalam Alquran dengan menggunakan istilah "menurunkan air dari langit menurut 
kadar". Tetapnya jumlah ini sangatlah penting bagi keberlangsungan keseimbangan 
ekologi dan, tentu saja, kelangsungan kehidupan ini. 

Bahkan satu penyimpangan kecil saja dari jumlah ini akan segera mengakibatkan 
ketidakseimbangan ekologi yang mampu mengakhiri kehidupan di bumi. Namun, hal 
ini tidak pernah terjadi dan hujan senantiasa turun setiap tahun dalam jumlah 
yang benar-benar sama seperti dinyatakan dalam Alquran.

(harunyahya ) 

sumber : Republika

Kirim email ke