Minggu, 17 Februari 2008

Masjid Harus Jadi Pusat Peradaban Islam 

Saat ini, masjid belum menunjukkan fungsi idealnya seperti pada zaman 
Rasulullah. 


JEMBER -- Masjid sebagai tempat ibadah umat Islam mestinya berfungsi pula 
sebagai pusat persemaian peradaban Islam. Hal ini dimungkinkan karena berbagai 
persoalan bisa dibicarakan di masjid. Pendapat ini disampaikan oleh aktivis 
Forum Komunikasi Masjid Peduli Umat (FKMPU) Jakarta, Ustadz Muhammad Tamam, 
dalam seminar di Jember, Jawa Timur, Sabtu (16/2).

''Kalau saya katakan masjid sebagai persemaian peradaban Islam, itu memang 
super ideal, memang seperti itulah yang seharusnya terjadi,'' ujar Tamam dalam 
seminar yang diselenggarakan oleh Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Universitas 
Jember itu. Selain Tamam, seminar bertema: Peran Kantor Berita dalam Membangun 
Peradaban Islam ini juga menghadirkan pembicara lain yakni Direktur Pemberitaan 
LKBN Antara, M Saiful Hadi Cholid.

Menurut Tamam, di zaman Rasulullah SAW, masjid memiliki peran sebagai majelis 
peradilan, juga sebagai tempat pendidikan Islam. Tamam mengatakan, para sahabat 
banyak menyerap ilmu dari Nabi Muhammad SAW saat berada di masjid. Begitu pun 
ketika ada seseorang yang melanggar hukum agama, maka ia akan menghadapi 
majelis peradilan di masjid. 

''Fungsi lainnya adalah, masjid sebagai tempat berakhlak mulia dan berorientasi 
menyelesaikan masalah. Contohnya, ketika ada orang Badui buang air kecil di 
masjid, Rasulullah melarang sahabat menghakimi orang itu karena orang Badui 
tersebut memang tidak tahu etika di masjid,'' tutur Tamam. ''Pada saat itulah, 
Nabi tampil sebagai penyelesai masalah dengan mengambil air untuk membersihkan 
lantai masjid yang terkena najis karena kotoran orang Badui tersebut,'' 
sambungnya.

Namun saat ini, masjid belum menunjukkan fungsi idealnya seperti pada zaman 
Rasulullah itu. ''Padahal kalau diikuti, fungsi masjid di zaman Rasul itu 
sederhana tapi menunjukkan suatu peradaban yang tinggi.''

Dua peradaban tinggi
Mengenai nilai-nilai dalam Islam, Tamam mengemukakan, Islam memiliki sedikitnya 
dua peradaban agung yang mungkin tidak ditemui pada agama atau keyakinan lain. 
Dua peradaban yang dimaksud adalah konsep rahmatan lil'alamin (memberi rahmat 
bagi seluruh alam) dan ukhuwah Islamiah (persaudaraan sesama Islam). ''Saya 
kira konsep rahmatan lil'alamin itu adalah trade mark Islam. Itu adalah 
peradaban tinggi karena Islam melindungi seluruh isi alam ini,'' kata ustadz 
kelahiran Yogyakarta itu. 

Menurut Tamam, ukhuwah Islamiah disebut juga peradaban karena menunjukkan 
adanya ikatan dasar sesama Muslim dalam ketundukan kepada Allah. Selain itu, 
ukhuwah Islamiah juga menghilangkan permusuhan yang tidak perlu. ''Memang ada 
permusuhan yang perlu, yakni terhadap setan. Kalau sesama Muslim, Nabi 
mencontohkan bagaimana beliau menyatukan orang-orang Ansor (penduduk Madinah) 
dengan kaum Muhajirin (orang-orang pendatang).''

Pada kesempatan yang sama, Saiful Hadi mengemukakan bahwa peran masjid dalam 
upaya membangun peradaban Islam dapat dilihat dari konsep rahmatan lil'alamin. 
Menurut dia, konsep tersebut seharusnya dibangun dan dimulai dari masjid. 
''Menurut saya, masjid bukan hanya untuk tempat shalat, tapi juga untuk 
berdiskusi atau bahkan tempat untuk umat Islam. Di sinilah peran masjid harus 
diperluas,'' ujar Saiful. 

Masjid, menurut dia, tidak seharusnya dikunci sehingga umat leluasa keluar 
masuk ke pusat peradaban tersebut. Jika kemudian terjadi hal yang tak 
diinginkan seperti pencurian di masjid, maka hal itu menjadi tugas semua elemen 
masyarakat untuk menyadarkan umat. 

(ant ) 

http://www.republika.co.id/Koran_detail.asp?id=323819&kat_id=375

Kirim email ke