Hanya Doa Basa-Basi
17 Peb 08 09:16 WIB
www.eramuslim.com
Oleh Sabrul Jamil
Apa yang dilakukan seseorang ketika menunggu? Konon, katanya, orang
Jepang mengisi waktu menunggunya dengan membaca buku. Orang Indonesia?
Buka HP dan mengirim SMS. Saya tidak tahu, benar tidaknya anekdot itu.
Tapi memang itulah tepatnya yang saya lakukan. Saya janji dengan
seorang teman, dan seperti yang sering terjadi, teman saya tersebut
terlambat datang. Jadilah saya menunggu, membuka HP, dan mulai
mengirim SMS.
Saya menunggu di halaman Musholla Mall Pondok Gede. Gerimis mulai
turun, membuat panik beberapa pejalan kaki, dan menghentikan langkah
para jamaah yang hendak bergegas meninggal Musholla. Kami memang
berjanji bertemu di sini, sholat dzhuhur berjama’ah. Selama menunggu,
sudah beberapa orang saya SMS, entah sekedar say hello, atau karena
memang ada keperluan yang terlupa (dan baru teringat ketika tak ada
yang harus saya lakukan). Namun teman saya tersebut tak kunjung
datang. Kehabisan cara membunuh waktu, saya pun mencoba
mengulang-ulang hapalan Al-Quran saya yang tidak seberapa banyak.
Sambil menghapal, tak sengaja mata saya mengarah ke seseorang yang
sedang sholat dengan kecepatan menakjubkan. Orang itu berpakaian
seperti cleaning service, dengan seragam berantakan, rambut tak
disisir, dengan gerakan sholat seperti ayam mematuk. Luar biasa!
Ketika ruku, dia hanya membungkukkan badan tak sampai sedetik,
langsung tegak kembali, dan dengan tak kalah cepat, langsung sujud.
Herannya, keningnya berhasil menyentuh lantai tanpa harus cedera.
Sujudnya pun demikian, tak sampai sedetik, langsung bangun lagi.
Begitu seterusnya.
Bukan baru pertama kali saya melihat orang sholat diburu waktu seperti
itu. Tapi jarang yang seekstrim ini. Entah apa komentar para malaikat
yang sibuk mencatat di kiri kanannya.
Sholat sepert ini jelas mempunyai satu tujuan saja: menggugurkan
kewajiban. Asal tidak berdosa, yang penting sholat sudah terlaksana.
Mirip orang mengepel lantai, yang penting lantai sudah basah terkena
kain pel. Perkara ternyata malah meratakan kotoran ke seluruh ruangan,
itu soal lain. Sepertinya ada kelegaan bahwa satu kewajiban sudah
tertunaikan.
Usai sholat, orang itu bergegas pergi, secepat sholatnya. Mungkin
memang banyak pekerjaan yang belum ia selesaikan. Atau ada atasannya
yang sudah menunggu dengan tidak sabar, sambil memilin-milinkan kumis.
Saya mencoba maklum, dan tidak menebak-nebak lebih jauh. Tidak baik
buat kesehatan hati dan kejernihan batin. Saya memang masih terus
belajar untuk jujur kepada diri sendiri, mawas diri. Waspada terhadap
bisikan setan yang menelusup ke dada, yang senang menghembus-hembus
sehingga ego kita menggelembung, membawa kita terbang, dan seolah
sudah sah menjadi kekasih Allah, para ahli waris syurga, hanya
semata-mata karena melihat kelemahan orang lain. Sungguh sikap yang
kekanak-kanakan, mirip seorang anak yang tertawa melihat temannya
terjatuh ketika belajar naik sepeda.
Padahal, boleh jadi orang yang kita anggap ‘cuma kayak begitu’
ternyata punya nilai lebih lain di mata Allah. Nilai lebih yang Allah
hijab dari mata kita. Atau setidaknya, tak ada jaminan bahwa saya
lebih baik dari pada orang itu. Mungkin jauh lebih bijak jika saya
menanyakan kepada diri sendiri, mengapa Allah menakdirkan saya bertemu
dengan manusia bersholat ekstrim seperti itu? Sungguh pertanyaan yang
wajar kan? Kalau kita meyakini bahwa tak ada kejadian kebetulan dalam
hidup ini, sewajarnya kita bertanya, apa pelajaran yang bisa kita
ambil dari kisah nyata barusan? Betul kan?
Bukankah ayat-ayatNya terbentang luas dalam berbagai penggalan episode
kehidupan? Ayat-ayat yang terus mengalir, yang tak pernah merasa perlu
menunggu kita untuk membacanya. Ayat-ayatNya tak perlu harus tampil
begitu dahsyat dan mencekam seperti tsunami dan letusan gunung. Pun
tak perlu fenomenal mengharu biru seperti pusaran tawaf mengelilingi
ka’bah. Juga tak perlu selalu heroik seperti perang badr yang
legendaris dan menggetarkan itu.
Ayat-ayatNya bisa jadi menjelma dalam jenak-jenak yang seolah tak
berarti, seperti yang saya saksikan barusan. Laksana rinai hujan yang
tak perlu menunggu kita siap untuk menerimanya. Agaknya malah lebih
sering demikian.
Lalu? Yah, sungguh ceroboh jika merasa diri sudah baik, hanya karena
melihat kelemahan orang lain. Astaghfirullah.
Maka, jika mau jujur, sebenarnya seberapa seringkah saya mampu
bercengkrama denganNya saat-saat sholat?
Bercengkrama? Aduhai, indahnya kata itu! Tidakkah terlalu besar kepala
jika saya menggunakan istilah itu? Mungkin jauh lebih pantas jika saya
gunakan kalimat lain. Misalnya, seberapa seringkah saya mampu
merasakan kehadiran Allah saat sholat?
Mampukah saya merasakan desir kehadiranNya saat mengumandangkan
takbiratul ihram? Mampukah saya merasa bahwa saat itu saya sedang
menghadap Sang Penguasa Jagat, yang kuasanya tak terbatas? Yang
kekayaanNya tak terbayang, yang kehendaknya takkan tertolak?
Atau mungkin standardnya harus diturunkan lagi. Misalnya, seberapa
seringkah saya memperjuangkan diri untuk sholat berjamaah di Masjid?
Menjadi bagian dari orang-orang shalih yang senantiasa memakmurkan
rumahNya? Bukankah orang-orang beriman hendaknya merasa nyaman berada
di Masjid, laksana ikan di dalam air? Bukankah keengganan untuk berada
di Masjid adalah tanda dari bibit-bibit kemunafikan?
Atau sebenarnya saya masih harus menurunkan standard lagi, yaitu,
seberapa seringkah saya mampu sholat tepat waktu? Menjadi orang-orang
yang memprioritaskan panggilan Allah, dan menyingkirkan pekerjaan apa
pun ketika adzan berkumandang?
Betapa banyaknya lapisan atmosfer ketaatan yang belum saya tembus,
untuk dapat menjadi kekasihNya. Mungkin karena selama ini saya hanya
memiliki mimpi-mimpi kecil. Mimpi sederhana tentang hubungan
denganNya. Mimpi menjadi muslim yang ‘biasa saja’, yang sesungguhnya
pengkhianatan terhadap do’a “dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang
yang bertaqwa”.
Mungkin karena selama ini, doa saya pun hanya doa basa-basi. Doa yang
hanya meluncur dari lisan, bukan dari kejernihan hati dan kedalaman
pikiran. Seperti file mp3 yang diputar berulang-ulang, bersuara namun
tanpa jiwa. Atau seperti beo yang sibuk berceloteh, tak paham
sedikitpun apa yang diocehkan.
Aku terhenyak menyadari betapa larutnya aku dalam kontemplasi.
Menyadari kesalahan adalah awal yang baik. Namun meratapi kesalahan
dapat menjadi jalan bagi setan untuk putus asa dan merasa tak berhak
menjadi orang baik.
Yang terbaik adalah selalu mawas diri, menyadari pesan dari
ayat-ayatNya, selalu memohon lindunganNya, karena hanya Dia Yang Maha
Melindungi. Selalu waspada bahwa setan akan menyelinap pada setiap
kesempatan pertama.
Seperti yang dikatakan para salafushsholih, bahwa taqwa adalah
kehati-hatian.