----- Original Message -----
From: lufti avianto
Sent: Thursday, February 21, 2008 5:35 PM
Menulis, pekerjaan yang mudah namun penuh perjuangan untuk melakukannya.
Menulis, bukan sekadar menulis seperti yang kerap kita lakukan sejak sekolah
dasar dulu. Tapi lebih dari itu, menggagas ide, menuangkan pemikiran,
menyentuhnya dengan tata bahasa yang baik dan tak lupa menghiasnya dengan
celupan pelajaran yang berharga. Itulah pekerjaan menulis, setidaknya
definisi inilah yang berhasil kuendapkan setelah sekian lama kuliah pada
jurusan Jurnalistik di sebuah universitas swasta di Jakarta Selatan.
Menurutku, menulis adalah tantangan intelektual seseorang yang mengecap
pendidikan dan pengalaman hidup. Ia dituntut mampu menaklukan kata-kata
kemudian merangkainya dalam kalimat lalu menyajikannya dalam sebuah kelompok
paragraf demi paragraf hingga menjadi kumpulan bahasa non verbal yang
bermakna dan mudah dicerna.
Apa yang ditaklukan? Segala sesuatu yang ia lihat, didengar, dirasa, dikecap
dan dihayati selama proses pendidikan dan pengalaman yang ia jalani. Untuk
menaklukan pengalaman itu, seseorang harus mengubah pengalamannya menjadi
'sesuatu' yang lezat dan mudah dicerna, yakni tulisan yang mudah dipahami ;
dan bukan sebaliknya.
Tapi bagi sebagian lain, menulis menjadi pekerjaan sulit, sesulit ketika
orang tersedak. Seperti sulit untuk mengeluarkan sesuatu yang tersumbat.
Salah seorang sahabat pernah bertanya, "Bang, gimana sih resepnya bisa nulis
bagus?". Aku hanya tersenyum. Meski lulusan Jurnalistik, aku belum merasa
tulisanku bagus atau sebagus wartawan dan penulis pada umumnya. Tapi karena
yang tanya berlatar belakang pendidikan radiologi, maka kuberanikan untuk
menjawabnya.
Sambil menghela nafas, kujawab. "Resep yang saya tahu dari baca buku, ikut
pelatihan, dan waktu kuliah dulu cuma satu," ujarku sambil menatap tajam
matanya yang nampak antusias.
"Apa?" tanyanya penasaran.
"Menulis, menulis dan menulislah," jawabku singkat dengan nada rendah ke
tinggi yang berurutan. "Itu artinya kita harus banyak berlatih dengan
berbagai cara untuk memudahkan kita menulis,".
"Misalnya, setting waktu terbaik untuk menulis, buat kerangka tulisan,
banyak membaca agar banyak referensi kata, menulis diary, membuat blog,
siapkan buku saku agar kita mudah menulis di mana saja lalu menulislah dan
terus berlatih,"
"Eiiiit yang terakhir, jangan lupa minum Milo setiap hari," candaku sambil
nyengir.
Apa yang aku sarankan kepada sahabat itu, memang belum sepenuhnya optimal
kujalankan. Sambil mencicil resep itu, aku juga menambahnya dengan ikut
berbagai pelatihan jurnalistik atau kepenulisan lainnya. Selain itu, aku
juga meminta beberapa rekan utnuk menilai dan mengoreksi apabila aku selesai
mengerjakan sebuah tulisan. Dan seperti biasanya, blog pribadiku adalah
tempat dimana semua rekaman perjalanan pemikiranku dituangkan, ditulis dan
diabadikan.
Namun dari tataran teknis itu, ada hal yang jauh lebih besar dan prioritas
untuk diperhatikan, yaitu NIAT. Niat atau motivasi adalah bahan bakar jiwa
yang menggerakkan seluruh potensi untuk menuntaskan pekerjaan ini. Hanya
niat yang akan membedakan antara tulisan yang 'baik' dan 'buruk' pada
akhirnya.
Sebagian orang juga masih meremehkan pekerjaan yang satu ini. Tapi, bukankah
dengan menulis kita mampu menginspirasi banyak orang? Memotivasi si fakir
untuk berusaha meniti tangga kejayaan, menuntun si lemah untuk tetap tegar
di tengah badai kesulitan atau mengingatkan pemimpin yang tiran hanya dengan
sebuah tulisan?
Itulah kekuatan sebuah pekerjaan yang masih dipandang sebelah mata di negeri
ini. Jadi, berbuat sesuatulah untuk mengubah dunia dengan menulis, menulis
dan menulis. Menggagas ide, mengikat makna, dan yang terpenting mengukir
sejarah peradaban manusia dengan kecemerlangan pemikiran yang terekam dalam
semesta literasi dunia. Dan itu hanya bisa dilakukan dengan pekerjaan
sederhana nan mulia : menulislah untuk dunia.
see more articles :
http://manglufti.wordpress.com/2008/02/21/menulislah-untuk-dunia/
Lufti Avianto, S.Sos
www.manglufti.wordpress.com
www.manglufti.blogspot.com
"Kami adalah mata pena yang tajam yang siap menuliskan kebenaran tanpa ragu
ungkapkan keadilan,"
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Rasulullah SAW bersabda, Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian
tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Quran)
dan sunnah Rasulullah saw. (HR. Muslim).