Asslmkm.Wr.Wb.
Terkait Pilkada Jabar, ada yang tahu tentang kesahajaan para pasangan calon 
(yang tidak direkayasa)?

Wass / Jaerony.-

***********************



Bahan perenungan yang punya niat mau jadi pejabat (pemimpin).


Assalamu'alaikum

Saya ingin mencalonkan diri sebagai bupati, namun dana saya kurang yang 
dibutuhkan 10 M?

1. Bolehkah saya ngutang? Kalau kalah sebenarnya saya juga tidak yakin bisa 
bayar.

2. Sejauh mana saya menilai calon pasangan saya itu bersih hartanya, karena dia 
Mantan Kepala Dinas tetapi punya dana sampai 20 M dan siap membiayai semua 
kampanye asal partai saya mendukung dia?

3. Bolehkah saya misal deklarasi di Hotel mewah sementara kader partai banyak 
yang merana hidupnya?

Syukron
Ani
Umi Hamzah


Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Seharusnya dalam Islam untuk menjadi pimpinan tidak ditentukan berdasarkan 
berapa uang yang dimiliki. Sayangnya, kita sekarang hidup di zaman yang apa-apa 
serba uang, sehingga untuk menjadi pimpinan pun harus pakai uang.

Logika pejabat harus punya uang ini sebenarnya logika yahudi. Dahulu ketika 
bangsa yahudi minta kepada Allah agar di antara mereka ada yang dijadikan raja 
(penguasa), maka ketika Allah sudah tentukan, rupanya orangnya tidak seperti 
yang mereka bayangkan. Ternyata dia miskin tidak punya uang.

Dalam logika yahudi, bagaimana mungkin orang miskin tak beruang bisa jadi 
penguasa.

Nabi mereka mengatakan kepada mereka, "Sesungguhnya Allah telah mengangkat 
Thalut menjadi rajamu." Mereka menjawab, "Bagaimana Thalut memerintah kami, 
padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun 
tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi berkata, "Sesungguhnya Allah 
telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang 
perkasa." Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan 
Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-Baqarah: 247)

Kelemahan sistem ini adalah tiap pejabat akan selalu dalam keadaan berhutang 
dan berpikir bagaimana bisa membayar hutang-hutangnya itu. Sayangnya, yang 
terjadi adalah kongkalikong antara pejabat dan penguasaha. Sang pejabat merasa 
berhutang kepada pengusaha, maka apa pun yang diminta oleh si pengusaha, si 
pejabat pun akan berupaya meluluskannya. Bahkan meski terkadang tidak masuk 
akal atau merugikan masyarakat.

Di masa khilafah Islamiyah rasyidah, ketika Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali 
menjadi khalifah, tidak ada sedikit pun biaya yang dibutuhkan. Sebab kriteria 
pemimpin di masa itu adalah murni pemimpin, yaitu orang yang paling bertaqwa, 
paling mengerti Al-Quran, paling mengerti sunnah dan paling faqih dalam urusan 
mengatur umat. Aklamasi para shahabat memilih para khulafa' rasyidah itu kini 
sudah tinggal sejarah.

Karena itu kalau pun kita harus masuk ke dalam sistem jahiliyah ini, pastikan 
bahwa si pengusaha yang akan jadi sponsor dalam pilkada tidak akan minta 
macam-macam, yang sekiranya akan merugikan rakyat.

Malah kami berpikir, kalau memang hukum dan penegakannya hanya bisa didapat 
lewat menjadikan salah seorang kader muslim ini menjadi pejabat di suatu 
tempat, biayailah dari dana sedekah (baitulmal) yang tidak mengikat. Sedekah 
itu bisa dikumpulkan oleh umat Islam yang prihatin dengan keadaan negara dan 
para pejabatnya yang carut marut, lalu dengan rasa tsiqah dan amanah, dana yang 
dikumpulkan oleh umat itu dijadikan sebagai biaya untuk kampanye dan lain 
sebagainya.

Maka si pejabat ini pun tidak punya hutang apa-apa dengan para pengusaha, yang 
umumnya jarang yang bermoral. Toh si pejabat itu naik ke pentas kekuasaan 
dengan uang sedekah umat Islam yang berpatungan bahu membahu demi tegaknya 
sistem yang bersih.

Tentu saja si pejabat juga harus tahu diri, bahwa dirinya bukanlah penguasa 
selamanya. Kalau umumnya rakyat masih harus antri minyak tanah, maka alangkah 
indahnya kalau isteri si pejabat ini pun ikut juga antri minyak tanah. Kalau 
rakyat masih naik kereta api kambing, maka pejabat ini pun juga harus naik 
kereta kambing itu.

Jangan sampai rakyat hidup susah, tapi pejabatnya enak-enakan menginap di hotel 
berbintang, padahal duit dari hasil memeras keringat rakyat. Pejabat ini harus 
berpikir bahwa dirinya dan kedudukannya adalah waqaf di jalan dakwah. Semua 
dibiayai oleh dana sedekah umat Islam. Maka semua itu nanti akan ditanya dan 
dipertanggung-jawabkan di akhirat.

"kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan" (QS. 
At-Takatsur: 8)

Bukankah khalifah Umar bin al-Khattab sekalipun hanya tertidur di atas tanah di 
bawah pohon? Beliau tidak punya istana, apalagi pengawal. Tapi kesaksian 
seorang utusan Romawi tatkala melihatnya tidur di bawah pohon tanpa pengawalan 
sangat menarik kita ingat: 'Adalta fa amanta fa nimta" Kamu telah berlaku adil, 
maka kamu aman dan kamu bisa nyenyak tidur."

Bukankah dahulu Umar bin Abdul Aziz telah menjual semua kereta kuda kerajaan 
yang konon terbuat dari emas, sebagai fasilitas yang disediakan negara untuk 
sang khalifah. Hasil penjualannya diserahkan kepada baitulmal.

Maka nanti kalau anda sudah jadi pejabat, pastikan anda tidak naik mobil 
kecuali yang paling murah, tanpa AC, dan mobil bekas. Karena rakyat anda 
umumnya malah masih berjalan kaki atau menggenjot sepeda.

Pastikan anda tidak menghabiskan uang rakyat sekedar untuk membeli safari dan 
jas, sebab khalifah Umar bin Al-Khattab hanya punya 1 potong baju yang 
tambalannya 40 buah, padahal luas wilayah kekuasaannya meliputi 3 imperium 
dunia.

Pastikan anda tidak tinggal di rumah dinas yang dibangun dengan uang rakyat, 
sementara masih ada gelandangan yang tidur beratapkan langit dan beralaskan 
bumi.

Pastikan anda tidak tidur di waktu malam kecuali rakyat anda semua telah 
kenyang. Sebab khalifah Umar tidak pernah tidur di waktu malam, kecuali beliau 
telah pastikan semua rakyatnya tidak ada yang kelaparan malam itu.

Dahulu khalifah Umar naik unta bergantian dengan pembantunya ketika berangkat 
ke Palestina untuk menerima kunci Baitul Maqdis, sehingga ketika sampai di 
pintu gerbang negeri itu, orang-orang malah mengelu-elukan pembantunya, yang 
kebetulan sedang dapat giliran naik unta dan Umar yang menuntunnya.

Ketika Hasan Al-Banna bepergian untuk berdakwah, konon ada orang yang 
mengenalinya naik kereta kelas tiga. Sebagai pemimpin tertinggi jamaah Islam 
terbesar di dunia, rasanya kurang pantas kalau tokoh itu naik kereta kelas 
kambing. Ada orang bertanya, mengapa naik kelas 3? Beliau hanya tersenyum dan 
menjawab, karena tidak ada kelas yang lebih rendah lagi.

Yang diperlukan pada hari ini untuk menjadi pejabat bukan program aneh-aneh, 
rencana yang muluk-muluk. Tapi yang dibutuhkan adalah kesederhanaan, 
kebersahajaan, keikhlasan dan juga persamaan derajat dengan nasib rakyat yang 
paling bawah.

Kalau belum bisa mensejahterakan rakyat, maka janganlah hidup dengan gaya 
sejahtera sendirian. Tapi tanggalkan semua kemewahan dan hiduplah bersahaja 
seperti rakyat.

2. Mantan kepala Dinas calon teman anda itu perlu diaudit dulu duitnya. Kalau 
duitnya itu halal, karena dia memang mendapatkannya di jalan yang benar, 
silahkan berpartner.

Tapi kalau jelas-jelas dia maling yang mengambil uang rakyat, maka jauhilah 
dia. Jangan sekali-kali anda berteman dengan maling, sebab yang anda lakukan 
adalah sebuah misi dakwah. Dan misi dakwah tidak akan bisa bersinergi dengan 
misi para maling.

Jangan kotori dakwah anda dengan dana para maling, sebab selain tidak berkah, 
anda sendiri pun akan dikader untuk jadi maling juga. Naudzu billahi minta 
dzalik.

3. Deklarasi di Hotel Mewah

Wah, itu sih pola pikir konvensioal yang sudah ketinggalan zaman. Sama sekali 
sudah tidak ada daya tariknya menonjolkan kemewahan sebuah partai. Kalau masih 
berpikir kuno seperti itu, percaya deh, orang sudah tidak ada yang tertarik 
lagi.

Kalau mau mendapatkan simpati rakyat, justru deklarasikan partai anda di tengah 
para gelandangan, korban bencana alam, atau di tengah keringat kuli angkut 
pelabuhan. Suarakan langsung aspirasi mereka.

Bahkan kalau perlu, langsung selesaikan masalah mereka, tidak perlu 
mengajak-ajak atau berteriak. Misalnya, di tengah korban lumpur Lapindo itu, 
anda langsung bagian uang sejumlah yang mereka tuntut dan sampai hari ini tidak 
pernah dibayar oleh penguasa.

Beri mereka rumah dan apa yang mereka minta secara ikhlas tanpa minta pamrih 
apa pun. Bukankah dahulu khalifah Utsman bin Affan telah mewakafkan sebuah 
sumur yang dijual mahal oleh yahudi. Padahal saat itu sedang kemarau 
berkepanjangan, orang mati kehausan karena tidak ada air. Maka Utsman pun 
merogoh koceknya dan membayar lunas sumur itu, sambil beliau katakan bahwa 
sumur itu adalah waqaf beliau, siapapun termasuk si yahudi, kalau mau minum, 
silahkan ambil, gratis tidak perlu bayar. Itu baru namanya khalifah, 
menyelesaikan masalah tanpa teriak-teriak.

Ketika melihat Bilal dengan disiksa tuannya, Umayyah, Abu Bakar sepontan 
kerogoh kocek dan membayar dua kali lipat harga budah hitam itu. Tentu saja 
Umayyah menari kegirangan dibayar dua kali lipat. Tapi buat Abu Bakar, dakwah 
itu berarti berinfaq dengan nyata, bukan sekedar berorasi.

Nah, dari pada duit anda habis buat kampanye yang tidak-tidak, mending buat 
waqaf saja memberi korban bencana. Pahala sudah pasti mengalir terus sepanjang 
waktu. Dan ingat, doa-doa mereka yang terdzalimi tidak bersekat di sisi Allah.

Alangkah tidak punya nuraninya ketika ada anak bangsa yang tinggal di 
tenda-tenda darurat, anak mereka lapar, terserang penyakit, lalu kita sebagai 
pejabat malah enak-enakan tidur di kamar suit hotel bintang lima. Kenapa 
dananya tidak dibagikan saja buat orang fakir miskin itu?

Apakah pejabat yang menginap di hotel bintang lima itu akan semakin baik 
pekerjaannya, dibandingkan kalau mereka ikut tinggal berkemah di tengah tenda 
para pengungsi?

Terakhir, sebelum anda putuskan diri menjadi pejabat, pastikan bahwa umur kita 
tidak ada yang tahu. Jadi kalau sewaktu-waktu Allah mencabut nyawa kita, jangan 
protes. Karena bisa saja di tengah kejayaan anda, tiba-tiba Izrail si pencabut 
nyawa nongol di depan hidung anda, terus dia bilang, "Well sir, its time."

Jadi pastikan setiap saat anda tidak punya hutang kepada siapa pun, juga tidak 
pernah menzhalimi siapa pun, tidak punya dosa dan maksiat kepada siapa pun. Dan 
dengan tenang anda bisa menjawab si Izrail itu, "No Problemo."

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

-- 
Andi Priyono


Original Message : Andi Priyono 

Kirim email ke