Jumat, 29 Februari 2008 Bisnis Buku Islam Sumur yang tak Pernah Kering Karakternya yang unik membuat buku Islam menjadi tambang emas yang pptensial untuk terus didulang.
Ketika banyak penerbit buku-buku umum kesulitan menghabiskan stok buku 3.000 eksemplar per judul dalam setahun, para penerbit buku-buku Islam dapat menjual 3.000-5.000 eksemplar per judul hanya dalam hitungan waktu tiga atau empat bulan saja. Bahkan, dalam setahun mereka bisa menjual puluhan ribu eksemplar untuk satu judul. Tak sedikit penerbit Islam yang berhasil menembus angka penjualan 50.000 sampai 100.000 eksemplar per judul. Sekali sebuah buku Islam terangkat penjualannya, biasanya akan terus-menerus dicari oleh konsumen lainnya. ''Bisnis buku Islam itu bagaikan sumur yang tak pernah kering. Sekali sudah menemukan mata airnya maka akan terus mengalir,'' kata General Manager Gema Insani Press, Iwan Setiawan. Ia menambahkan, ketika buku yang diterbitkan disukai oleh masyarakat, maka pundi-pundi uang pun akan terus mengalir tanpa henti ke kantung penerbit dan juga penulis. Apalagi Islam semakin didalami semakin menarik dan menggugah rasa keingintahuan. ''Karena itu prospek bisnis penerbitan buku-buku Islam sangat terbuka lebar,'' tandas Iwan Setiawan. Hal yang sama diungkapkan Dirut Embun Publishing, Ghalib Al-Katiri. ''Hal terpenting dan tersulit bagi penerbit adalah menemukan mata air, yakni karya terbaik yang disukai oleh pembaca. Bila penerbit sudah berhasil menemukan mata airnya, maka bisnisnya akan terus mengalir,'' tandas Ghalib. Namun, untuk menemukan mata air itu memang bukan perkara yang mudah. ''Penerbit, selain harus mengasah insting/feeling terhadap buku, juga harus melakukan riset dan survei pasar yang matang ketika akan meluncurkan sebuah buku. Selain itu, penerbit harus jeli melihat kondisi pasar dan berani mendobrak alur yang ada di masyarakat,'' tegas Presiden Direktur Penerbit Pena, Eka Rasa Defaira. Ia mencontohkan, salah satu buku terbitan Pena berjudul Khadijah, yang terjual lebih dari 50 ribu eksemplar hanya dalam waktu setahun. Ini merupakan angka yang fantastis dan jarang dicapai oleh buku-buku sejenis, apalagi buku umum. ''Khadijah melalui survei pasar dan riset yang dilakukan selama berbulan-bulan. Bahkan, cover-nya sempat diganti sampai tiga kali,'' ungkap Eka. Karakternya yang unik membuat buku Islam menjadi tambang emas yang potensial untuk terus didulang. Buku Islam memang lebih sering dicetak ulang dibandingkan dengan mencetak buku baru. ''Karena itu, bisnis buku Islam disebut juga sebagai bisnis tujuh turunan. Karena ketika sudah menemukan satu mata air, maka akan terus dicetak mengikuti permintaan pasar,'' ujar Direktur Utama Penerbit Al Mawardi Prima, Afrizal Sinaro. Ia mencontohkan buku Asmaul Husna karya Ust Mawardi Labay (alm) yang sudah 10 tahun dicetak ulang. Sampai sekarang, buku itu masih terus digemari dan dicari masyarakat. ''Ini menunjukkan lifecycle buku-buku Islam cukup panjang, berbeda dengan buku-buku umum lainnya,'' tutur Afrizal Sinaro. Meskipun materinya sama, buku Islam terus diperbaharui dari segi kemasannya. Ini karena penerbit juga terus berubah, berganti generasi. ''Setiap generasi menerjemahkan dengan kemasan yang berbeda, sehingga terus terlihat baru meskipun bahanya sama,'' papar Tatang T. Sundesyah dari Penerbit Media Da'wah. Iwan menambahkan, industri penerbitan buku Islam memiliki sifat yang stabil sehingga membuat banyak penerbit buku agama Islam banyak yang tetap bertahan.''Kita mempercayai bahwa ini adalah bagian dari dakwah. Maka dari itu, meskipun marginnya tipis tidak menjadi masalah. Biar sedikit yang penting halal dan mendapat berkah dari Allah SWT,'' ujarnya. Bicara harga, buku-buku Islam relatif lebih murah dibandingkan buku-buku umum. Iwan mencontohkan, sebuah Alquran dengan ketebalan 600 halaman, memiliki harga yang berbeda dengan buku-buku bacaan umum yang mempunyai ketebalan buku yang sama. Harga buku bacaan bisa mencapai 2-3 kali lipat lebih tinggi dibandingkan Alquran. ( mth/ika ) http://www.republika.co.id/Koran_detail.asp?id=325445&kat_id=147

