Nenek Penjual Nasi Kuning dan Wakil Rakyat
14 Mar 08 05:20 WIB

Oleh Yunni Touresia

Wajahnya yang sudah penuh kerutan, tersenyum lebar menyambut langkah kaki saya 
yang mendekatinya. Deretan gigi yang sudah menghitam tampak menyembul ketika 
menjawab salam saya. " Wa'Alaikum salam.", ujar beliau lantang. Sejenak 
kemudian dengan sigap tangannya bergerak membungkusi nasi kuning sesuai 
pesanan. Pagi ini saya memang membeli cukup banyak nasi kuning, ada acara kecil 
di kantor. Kalimat syukur beliau lantunkan demi mendengar jumlah yang saya 
pesan. " Alhamdulillah, pagi-pagi, rezeki dari Allah" ujarnya sumringah.

Nasi kuning. Makanan khas sarapan pagi yang sangat terkenal di Sengata. Di 
masak dengan santan dan diberi warna kuning dari kunyit. Agar lebih wangi dan 
menggugah selera, ketika di tanak, diberi beberapa helai daun pandan. Lauk yang 
paling cocok menemani nasi kuning biasanya ikan gabus, ayam, daging ataupun 
telor ayam rebus yang dimasak bumbu bali dengan warna merah cabai yang mengoda. 
Di sajikan dengan taburan bawang goreng dan serondeng (kelapa parut yang diberi 
bumbu seperti urap ). Mmmhh..sungguh lezat rasanya. Saya sendiri termasuk 
penggemar nasi kuning. Hingga tahu persis di mana saja warung nasi kuning yang 
enak. Ada di Sengata lama, juga ada di daerah teluk lingga. Kali ini saya 
mampir, di langganan saya, di daerah teluk lingga.

Saya sudah kenal sekali dengan nenek penjualnya. Biasanya kami akan bercerita 
tentang berbagai hal. Tentang pekerjaan, tentang bunga, sampai tentang harga 
bahan pokok di pasaran. Kebanyakan beliau yang memulai percakapan. Seperti 
sekarang.

"Maaf ya, ini potongan ayamnya agak kecil. Harga ayam naik betul. Sampai 
bingung aku nih mo jual". Ujar si nenek sambil menaruh potongan ayam di atas 
nasi yang mengepul. 
"Belum lagi harga minyak goreng. Masa seliter sudah limabelas ribu ", ujar 
beliau lagi. Saya mangut-mangut, mengiyakan. Yah, memang begitulah keadaannya 
sekarang .

"Tuh, si Darto, tukang sate yang biasa mangkal kalo malam di depan apotik A 
ngeluh juga. Kata isterinya pusing mau jual berapa lagi setusuk. Ada aja harga 
yang naik setiap harinya. Si Ani jua, yang jual gorengan di sebelah warung itu 
bilang, kalo bisa minyak goreng di ganti air, alangkah senangnya". 
Senyum saya mengembang mendengar ucapannya. Logat Banjar nampak kental 
menghiasi setiap kalimat yang beliau keluarkan.

"Coba wakil rakyat kita di sini, yah, bisa nurunin harga. Wakil rakyat kan 
kerjanya mbantu rakyat yang kesusahan. Termasuk pedagang kecil, kaya nenek ini 
". 
Tangan beliau berhenti membungkus. Di hitungnya deretan nasi kuning yang 
berjejer. Sudah lima bungkus, berarti tinggal lima bungkus lagi untuk pesanan 
saya. Kemudian beliau melanjutkan kalimatnya.

"Ih, coba nenek ya, jadi wakil rakyat itu, yang nomor satu pasti harga sembako 
murah semuanya." 
"Jangan lupa untuk pasang listrik juga ya nek." ujarku. Teringat rumahku yang 
hanya mengandalkan genset sebagai penerangan karena aliran listrik belum ada.

"Iya, pasang listrik juga. Di rumahmu di jalan Pendidikan, belum ada listriknya 
kan? Air PDAM juga nanti di pasang. Biar kita enak kaya orang di perumahan 
(maksudnya di komplek perusahaan yang airnya terkenal sangat bagus dan lancar), 
jadi kita gak usah ngobatin air sumur lagi. Pokoknya untuk masyarakat, Insya 
Allah beres. Nenek juga akan bantu tukang nasi kuning, tukang sate, tukang 
gorengan, pokoknya semua pedagang kecil. Nenek kasih mitsubisi biar harga 
murah, jadi mereka bisa tetap jualan". Ujar beliau mantap. Persis seperti para 
politikus yang sedang berorasi. Ada binar -binar harapan terpancar jelas di 
matanya yang sudah mulai memutih warnanya.

"Maksud nenek subsidi, kan? Artinya dana bantuan dari pemerintah, sehingga 
harga yang sampai ke rakyat bisa lebih murah harganya. Kalau Mitsubishi itu 
merk mobil, nek ". Ucap saya sekedar membenarkan. Lucu juga mendengar beliau 
salah menyebut kata itu.

"Oh iya, maksudnya itu. Maklum sudah tua, pendengaran nenek waktu nonton di TV 
ya, mitsubisi. Ujar beliau tersipu.

"Tapi nanti kalo sudah jadi wakil rakyat, jangan lupa sama janjinya ya, nek." 
saya menggoda beliau. " Insya Alloh. Nenek kan sudah banyak merasakan sulitnya 
kehidupan rakyat kecil"

" Alhamdulillah, Amiiin.." Saya mengamini harapan beliau. 
" Tapi...". Tiba-tiba nenek berhenti berucap. Tangannya menghitung jumlah nasi 
kuning pesanan saya sudah lengkap jumlahnya. Sambil tangannya meraih plastik 
putih untuk menampung bungkusan nasi kuning, beliau berujar lagi. 
"Tapi sayang di sayang ..., nenek cuma pedagang nasi kuning., " kali ini sambil 
terkekeh. Kerutan di wajahnya bergerak-gerak. Saya juga tak mampu menahan 
senyum.

"Gayanya nenek itu, kaya orang ngerti politik aja." 
"Iya dong. Kaya orang politik. Yang ngomong-ngomong kalo mau pemilu itu loh. 
Nanti kalo sudah terpilih, diam deh.". Senyum masih ada di bibirnya.

Saya termangu. Rupanya itulah batas wakil rakyat dan politik di mata beliau. 
Sederhana sekali. Beliau juga seolah sudah makhfum sekali dengan kondisi yang 
terjadi.

Nasi kuning pesanan saya sudah siap, tersusun rapi dalam kantong plastik di 
hadapan saya. Kalimat syukur kembali terlontar dari beliau, ketika lembaran 
rupiah sudah berpindah ketangannya. Menurut beliau, walaupun keadaan serba 
sulit sekarang, kita harus banyak bersabar, dan jangan sampai lupa bersyukur. 
Karena mengeluh juga tak mengubah keadaan.

" Alhamdulillah, biarpun untungnya kecil, masih bisa jualan. Masih bisa 
bantu-bantu keluarga. Maaf ya, nenek tadi cuma curhat, daripada di pendam, 
bikin sakit hati ".

Begitulah kalimat terakhir yang saya dengar tadi darinya. Kalimat yang sarat 
dengan optimisme dan keikhlasan.

Saya sudah jauh meninggalkan beliau menuju ke arah kantor ketika percakapan 
kami tadi kembali berputar di kepala saya. Membuat senyum kembali tercipta. 
Dari ucapannya, saya menangkap bahasa halus khas rakyat yang meminta 
konsistensi ucapan yang dilontarkan para wakil rakyat sebelum duduk di kursinya 
dengan tindakan riil yang dapat di rasakan oleh rakyat kecil, seperti beliau. 
Para wakil rakyat yang beliau pilih namanya setiap lima tahun pemilihan, pun 
ketika beliau tidak tahu persis siapa mereka.

Duhai nenek! Ternyata begitulah nasib pedagang kecil. Mungkin benar, banyak 
juga yang bernasib sepertimu. Berusaha tetap tegar menggapai rezekiNya, merayap 
perlahan di tengah harga-harga yang semakin tinggi berlari. Saya salut padamu, 
nek! Karena begitu banyak kalimat syukur yang dapat kau cipta di atas himpitan 
yang kau rasakan. Engkau masih bersabar walau di tengah kepayahan.

Kita memang dapat belajar dari siapa saja, tentang apa saja. Hari ini saya 
telah mendapatkan sebuah pelajaran lagi dari seorang nenek penjual nasi kuning.

*Insya Alloh tambah laris ya, nek! Semoga harapan nenek juga di dengar oleh 
para wakil rakyat, nun jauh di sana . 

http://yunnytouresia.multiply.com

Kirim email ke