Asslmkm.Wr.Wb. Pengajian rutin kantor Jum'at kemarin (28/3) lain dari biasanya karena hampir tidak ada ayat-ayat Qur'an dan Hadits yang dibacakan selain pembacaan Qur'an dan sari tilawah di awal pembukaan acara dan beberapa yang ditampilkan di slide serta tidak sarat dengan petitah-petitih. Pengajian tersebut lebih banyak berupa olah nafas yang diambil (diderivasi) dari gerakan shalat yang dibawakan oleh Drs. Madyo Wratsongko, MM.
Setelah selesai mengikuti betapa segar badan ini terasa. Wassallam / Jaerony.- ******************************************** Minggu, 09 Maret 2008 Madyo Wratsongko TERAPI GERAKAN SHALAT Sekali waktu, Sri Suhasih menderita sakit. Di paru-parunya ada flek, membuat tubuh perempuan itu kerap terasa dingin. Selain berobat medis, Madyo Wratsongko, sang suami, mencoba memberikan pengobatan dengan terapi lain. Madyo lalu mempelajari banyak ilmu, dari akupunktur, refleksi, sampai ilmu tentang energi. Pengetahuan itu satu demi satu ia diterapkan kepada istrinya. Tapi, hasilnya tidak membahagiakan. Penyakit yang diderita sang istri tidak menunjukkan tanda-tanda perubahan yang berarti. Pencarian itu berlangsung cukup lama, sekitar 12 tahun. Toh, Madyo tak patah arang. Ia terus mencari dan mencari. Ia yakin, ada terapi penyembuhan penyakit selain pengobatan medis. Bukan tak percaya pengobatan medis, tapi itu dianggapnya dapat menyebabkan ketergantungan. Sempat gamang, ia berenung, ''Apa lagi yang harus saya pelajari?'' Ia lalu sampai shalat Tahajud. Sekitar dua bulan dalam kebingungan, ia membuka internet. Di situs mesin pencari, Google, ia menulis satu kata: Sehat. Di layar monitor muncul tulisan dr Isran yang mengulas soal sehat tanpa obat dengan gerakan shalat. Kebetulan, di tulisan itu tertera nomor kontak sang penulis yang menetap di Bandung. Tak pikir panjang, Madyo segera menghubunginya. Keduanya terus berhubungan, saling kunjung. Sekali waktu Isran ia minta ke Jakarta, kali lain Madyo yang bertandang ke Bandung untuk belajar. Sekitar dua bulan menimba ilmu, ia kemudian menerapkan kepada Sri Suharsih, istrinya yang menderita sakit. Kali ini ia tidak kecewa lagi. Dalam tempo 4-5 bulan mempraktikkan terapi gerakan shalat, sang istri sembuh dari penyakitnya. Madyo lega. ''Ternyata ilmu itu berkhasiat. Sekarang aktivitas istri saya tinggi,'' ujar mantan karyawan BNI 46 ini. Merasa banyak manfaatnya, Madyo ingin membagi pengetahuannya kepada teman-teman sekantornya. Ia lalu membuat seminar internal dan mempraktikkan pengetahuan itu dengan mengundang sekitar 30 orang. Tak ia nyana, ternyata yang hadir sekitar 150 orang. Rupanya, undangan sederhana di secarik kertas yang ia sampaikan, difotokopi oleh orang lain lalu diteruskan kepada para karyawan di kantor itu. ''Mereka berkomentar, kok beda, ya,'' kata Madyo. Ada banyak penyakit yang bisa disembuhkan lewat terapi gerakan shalat ini. Madyo bercerita, ada dokter yang dijadwalkan melakukan bedah, karena bayi pasiennya sungsang di dalam kandungan. Tapi, sebelum dilakukan bedah, suster yang merawat pasien itu rupanya mengetahui terapi gerakan shalat yang ditularkan Madyo. Selama 10 menit, pasien itu pun diminta mempraktikkan terapi gerakan shalat itu. ''Dokter itu menelepon saya, memberi tahu bahwa ia tak jadi melakukan operasi, karena terapi gerakan shalat yang dilakukan oleh pasien itu telah membantu bayinya berapa posisi sebagaimana mestinya, sehingga bis alahir dengan selamat,'' jelas Madyo. Buku Tak lama berselang, Madyo mulai mencoba menyusun pengetahuan itu dalam bentuk tulisan. Ia ingin berbagi pengetahuan terapi sehat, pengembangan dari gerakan shalat, kepada lebih banyak lagi orang. Madyo mengembangkan tulisan Isran, gurunya, dengan memadukan pengetahuan lain yang sudah dimilikinya, termasuk ilmu silat yang ia pelajari sejak masih belia. Sekali waktu, di tengah penulisan itu, ia bertugas ke Surabaya dalam kapasitas sebagai pengawas di BNI. Di hotel tempatnya menginap, ia mengisi waktu merampungkan draf buku cara sehat tanpa obat dengan senam dan pijat getar. Saat sarapan, draf buku itu ia bawa ke meja makan. Tanpa ia sadari, seorang karyawan hotel melirik draf buku itu. Terjadi pembicaraan singkat di antara keduanya, lalu bertukar nomor kontak. ''Siangnya saya dikontak, minta bertemu. Saat itu juga ada penerbit yang ingin menerbitkan,'' kata dia. Rupanya, hotel itu satu grup dengan penerbit yang ada di Jakarta. Hanya selang dua pekan, draf itu diterbitkan dalam bentuk buku. Pasar pun antusias menyambut buku berjudul Sehat tanpa Obat dengan Senam & Pijat Getar Syaraf itu. ''Dalam waktu dua tahun sudah delapan kali cetak ulang,'' katanya. Toh, ayah tiga anak ini tidak berdiam diri. Ia terus mengembangkan pengetahuannya dan membagikan kepada orang lain dalam bentuk pelatihan. Belakangan ia kerap diundang ke berbagai kota di Indonesia untuk melakukan pelatihan. Kerepotan meladeni permintaan untuk pelatihan membuat ia memutuskan pensiun dini dari BNI, enam tahun sebelum masa yang semestinya ia pensiun. ''Saya pensiun Agustus 2006,'' ujarnya. Semangat berbagi tak hanya ia lakukan dalam bentuk pelatihan dan seminar-seminar. Madyo juga terus mengembangkan pengetahuannya dan menuliskannya. Kini sudah ada enam judul buku sehat tanpa obat yang ia tulis. Selain buku Sehat tanpa Obat dengan Senam, lainnya adalah Cara Cerdas untuk Sehat yang sudah diterbitkan di Malaysia, Mukjizat Gerakan Shalat, 205 Resep Pencegahan Penyakit dengan Senam Ergonomik, Menyingkap Rahasia Gerakan Shalat, dan Revolusi Sehat. Belakangan ia menemukan banyak buku sejenis yang beredar di pasar. Madyo mengetahui sedikitnya ada 17 buku serupa dengan bukunya yang ditulis oleh orang lain. Isinya hampir sama, tapi sampul dan penulisnya berbeda. Kok, tidak keberatan? Pria kelahiran Klaten, 10 Oktober 1958 ini menggeleng. Dia menganggap, ''Itu ilmu Allah, berarti ini harus menyebar,'' ucap mantan Tim Tanding Internasional Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) dan Pendekar Kelatnas Indonesia Perisai Diri ini. Dengan berbagi pengetahuan, dia mengaku menemukan kenikmatan yang besar. Kenikmatan itu, tanpa ia sadari, datang dari upaya pencarian terapi pengobatan untuk Sri Suharsih, istrinya yang kala itu menderita sakit. bur http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=326238&kat_id=405

