Manajemen Muhammad SAW 



Erwin FS
Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta

Pada 12 Rabiul Awal telah ditakdirkan menjadi hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, 
seorang Nabi penutup dan pemimpin yang namanya paling sering diucapkan oleh 
umat manusia setiap saat hingga kini. Kelahirannya di tengah alam yang gersang 
dan jahiliyah memberikan arti baru kehidupan manusia dan memunculkan kembali 
fitrah manusia.

Muhammad adalah pembawa rahmat untuk seluruh alam. Nilai-nilai Islam yang 
universal telah ditegakkannya sehingga membuat dunia terang dengan keikhlasan, 
kejujuran, tolong-menolong, keadilan, kemanusiaan, dan berbagai nilai universal 
lain yang sebelumnya terkunci rapi di gudang kejahiliyahan.

Muhammad SAW adalah sosok yang paradoks bagi kaum kafir pada waktu itu. Mereka 
sangat membenci Muhammad karena menyebarkan Islam, tetapi mereka memercayakan 
harta mereka dititipkan kepada beliau karena akhlaknya yang mulia. Mereka 
sangat ingin membunuh Muhammad karena Islam mengancam jabatan mereka. Namun, 
mereka meminta dipersatukan oleh Muhammad ketika berseteru dalam peletakan batu 
Kabah.

Muhammad menjelma menjadi pemimpin yang mengimplementasikan manajemen 
strategis. Beliau pemimpin yang memiliki etika bisnis tinggi, sangat dipercaya 
kejujurannya. Inilah dunia manajemen strategis yang terdapat pada kehidupan 
Muhammad SAW dan Allah secara tidak langsung meminta hambanya yang shaleh untuk 
melaksanakan manajemen strategis dalam kehidupan umat Islam.

Ketika menjalani perniagaan pun etika bisnis tinggi yang diperlihatkannya 
menjadikannya sebagai pedagang yang berhasil dan memikat hati Siti Khadijah. 
Etika bisnis yang kini banyak dilupakan orang telah membuat perekonomian tidak 
berada pada posisi yang adil bagi masyarakat. 

Misalnya, pedagang kecil semakin terpinggirkan serta sulit mendapat pinjaman 
dan pedagang bermodal besar mudah mendapatkannya. Konsumen banyak ditipu dan 
masyarakat banyak yang dirugikan akibat etika bisnis yang tidak dijalankan 
dengan baik.

Etika bisnis yang luar biasa juga diperlihatkan oleh Muhammad dalam menghadapi 
perjanjian Hudaibiyah. Ini dirasa paradoks oleh kaum Muslimin (termasuk Umar 
bin Khaththab), tetapi diimplementasikan oleh Muhammad SAW. Kelak keputusan 
Muhammad SAW ini yang semakin memperkuat barisan umat Islam. 

Keputusan Muhammad SAW ini sangat strategis bagi perkembangan Islam 
selanjutnya. Dalam perjanjian Hudaibiyah, penduduk yang datang dari Makkah ke 
Madinah bisa dikembalikan lagi ke Makkah dan penduduk yang datang dari Madinah 
menuju Makkah tidak bisa dikembalikan ke Madinah. Muhammad SAW menerima dan 
melaksanakan perjanjian ini karena melihat peluang strategis akibat 
implementasi perjanjian tersebut.

Implementasi lain yang dilakukan Muhammad adalah menjalani kepemimpinan 
strategis. Dalam memimpin ia mendengar dan menerima pendapat dari kaum 
Muslimin. Tradisi ini diteruskan oleh Khulafaur Rasyidin.

Salah satu peristiwa yang cukup diingat sejarah adalah ketika Muhammad SAW 
meminta masukan tentang upaya melindungi Madinah dari serangan kaum kafir 
Makkah. Salman Al Farisi kemudian tampil dengan ide cemerlang, melindungi 
Madinah dengan parit. 

Sejarah mencatat terjadi perang Khandaq antara kaum Muslimin Madinah dan kaum 
kafir Makkah. Kaum Muslimin melindungi dirinya dengan parit.

Implementasi manajemen strategis berikutnya yang dilakukan Muhammad dalam 
perjuangan hidupnya adalah membangun kompetensi inti kaum Muslimin. Kompetensi 
inti biasanya terkait dengan kemampuan atau keahlian. Kompetensi inti yang 
dibangun Muhammad adalah penguatan fondasi pemahaman keislaman dan pembinaan 
diri yang berkelanjutan. 

Tidak heran setelah masuk ke dalam Islam banyak sahabat yang menorehkan 
prestasi besar peradaban, seperti Umar bin Khaththab yang pernah mengubur anak 
perempuannya pada masa jahiliyah, tetapi menjadi pemimpin yang sangat 
bertanggung jawab kepada rakyatnya setelah masuk Islam. Pembangunan kompetensi 
inti ini dipimpin langsung oleh Muhammad SAW. 

Berbagai potensi yang muncul dari sahabatnya dan kaum Muslimin diaktualisasikan 
pada posisi-posisi kenegaraan dan kemasyarakatan yang ada dengan mengacu kepada 
kompetensi inti. Kompetensi inti ini yang membuat orang seperti Umar bin 
Khaththab bersikap amanah. Demikian juga sahabat yang lain. Kompetensi inti ini 
yang sekarang hilang dari umat Islam, digerus oleh materialisme dan 
sekularisme. 

Etika bisnis yang tinggi, kepemimpinan strategis, dan membangun kompetensi inti 
dilakukan oleh Muhammad SAW yang tidak bisa membaca, tetapi memiliki kecerdasan 
dan akhlak yang mulia. Keberhasilan Muhammad menyampaikan Islam dalam sudut 
pandang ilmu manajemen adalah mengimplementasikan manajemen strategis. 

Kaum kafir yang memusuhi Muhammad SAW begitu banyak menyusun rencana strategis 
melenyapkan Muhammad SAW, keluarganya, kaum Muslimin, dan ajaran Islam. Namun, 
karena Muhammad SAW juga mengimplementasikan manajemen strategi (yang langsung 
dibimbing oleh Allah SWT), akhirnya bisa memenangkan pertarungan dengan 
membangun kompetensi inti yang sangat bagus sehingga Allah menyatakan bahwa 
kamu adalah umat terbaik, yang menyeru kepada kebaikan dan mengajak 
meninggalkan kemungkaran.

Ketika terjadi penaklukan Makkah oleh kaum Muslimin, sebagai pemenang perang 
Muhammad SAW berhasil meniadakan pertumpahan darah. Kaum kafir yang berada di 
ujung tanduk begitu senang ternyata Muhammad SAW tidak membunuh mereka. 

Tertarik Islam
Akibat dari kebijakan ini, banyak penduduk Makkah masuk Islam. Nilai pada diri 
Muhammad sebenarnya telah diketahui oleh kaum kafir Makkah. Namun, ketika 
mereka melihat sendiri bagaimana Muhammad SAW memperlakukan mereka sewaktu 
kalah perang, mereka mengakui nilai-nilai Islam yang dibawa Muhammad SAW. 

Kemenangan Muhammad dalam penaklukan Makkah tanpa pertumpahan darah membuktikan 
Islam begitu menghormati manusia dan bukan haus darah yang selama ini banyak 
dihembuskan oleh pihak-pihak Barat. Kenyataannya justru darah umat Islam yang 
banyak tumpah saat ini. 

Kehidupan Muhammad bukanlah kehidupan yang biasa saja. Beliau menerapkan 
manajemen strategis dalam perjuangan hidupnya saat menyampaikan Islam bersama 
sahabatnya dan kaum Muslimin. Ini sesuai dengan sunatullah, setiap suatu 
keberhasilan disertai dengan kerja keras dan pemikiran yang cerdas.

Kita yang hidup saat ini bisa mengambil pelajaran dari kehidupan Muhammad SAW. 
Kita sebagai bagian dari umat Islam menginginkan umat menjadi maju, sejahtera, 
dan berperadaban tinggi. Ini perlu didorong dengan menjalani manajemen 
strategis, tidak bisa asal berjalan saja. Manajemen strategis adalah alat bantu 
yang sangat berharga bagi para pemimpin umat untuk membawa umat kepada 
kehidupan lebih baik yang diridhai oleh Allah SWT, keadilan ditegakkan dan 
nyawa manusia sangat dihargai.

Muhammad SAW dalam 23 tahun masa kenabiannya telah melakukan perombakan besar 
terhadap tatanan kehidupan manusia. Muhammad SAW berhasil menunjukkan kepada 
dunia indahnya syariat Islam. 

Al Ghazali menyebutkan bahwa tujuan utama syariat adalah mendorong 
kesejahteraan manusia yang terletak pada perlindungan kepada keimanan, 
kehidupan, akal, keturunan, dan kekayaan mereka. Apa pun yang menjamin 
terlindungnya lima perkara ini akan memenuhi kepentingan umum dan dikehendaki.

Berbagai peristiwa dalam kehidupan Muhammad SAW telah dikaji oleh berbagai 
pakar berbagai bidang ilmu. Dari perspektif ilmu manajemen, Muhammad SAW telah 
mengimplementasikan manajemen strategis dalam kehidupannya menyampaikan Islam 
dan memimpin umat serta menjadi teladan yang mengagumkan. Sudah sepatutnya para 
pemimpin umat mengimplementasikan manajemen strategis dalam mengajak umat 
kembali kepada ajaran Islam yang mulia dan menjadi rahmat untuk seluruh alam. 

Ikhtisar:
- Muhammad berhasil karena memiliki akhlak mulia. - Umat hanya sukses bila 
mampu bersatu.

( ) 

sumber : Republika Online

Kirim email ke