Mudah-mudahan menjadi pemimpin yang amanah ...

Thursday, 01 January 
Pagi-pagi ba'da shubuh dan bebenah, seperti biasa acara rutin sebagian
ibu-ibu adalah belanja. Demikian pula aku. Udara masih dingin kala itu.
Kuturuni tangga kontrakanku. Kujumpai sebagian ibu-ibu berjalan menuju
titik yang sama, tempat belanja! Tanah kapling di bawah kontrakanku
masih banyak yang belum dibangun. Aku berjalan tepat di samping rumah
ustadz Hidayat Nurwahid, Presiden Partai Keadilan. Di Belakang rumah
beliau, rumput masih banyak tumbuh dan tanah sedikit berair menyisakan
tanda-tanda rawa yang masih belum sepenuhnya teruruk. Aku terus
berjalan. Naik beberapa tangga, melalui pintu gerbang SDIT Iqro' Pondok
Gede yang sudah terkuak. Rumah ustadz Rahmad Abdullah yang asri dan
sederhana kulewati. Rumah yang tiap dua hari sepekan kusambangi sebab
disitulah aku belajar tahsin pada istri beliau. Aku terus berjalan
melalui beberapa rumah para aktivis da'wah hingga akhirnya sampailah ke
tempat belanjaan.

Belum selesai aku memilih-milih, tiba-tiba muncul laki-laki yang di
lingkungan kami sangat dikenal dan tidak asing. Beliau bersama putranya.
Kemunculannya tentu sangat tidak diduga. Kami para ibupun mempersilakan
beliau untuk mendapat pelayanan terlebih dahulu. Beliaulah satu-satunya
laki-laki saat itu. Aku memperhatikannya. Subhanallah, tak ada
kecanggungan.

Sesampai di rumah kuceritakan apa yang kulihat pada suamiku, dengan
penuh kekaguman.

"Ya, begitulah yang terjadi dalam keluarga beliau. Saling taawun antara
suami istri tanpa harus dibatasi oleh pemisahan pekerjaan yang kaku,
"komentar suamiku yang berinteraksi cukup intensif.

Esoknya aku menjalani rutinitas yang sama, belanja. Di jalan aku
berpapasan dengan laki-laki itu kembali, bersama putranya.

"Belanja ustadz?" Aku sengaja menyapa.

"Iya, istri lagi sakit perut dan khodimah (Pembantu) pulang, Jawab
beliau sambil tersenyum.

Aku mengangguk-angguk. Subhanallah, aku jadi teringat Ammar bin Yasir
ketika menjabat sebagai gubernur. Beliau kadang belanja di pasar dan
mengikat serta memanggul sayuran sendirian. Inilah profil yang perlu di
jadikan teladan.

Laki-laki yang saya jumpai itu yang belanja di tukang sayur itu adalah
ustadz Ahmad Heriawan, Lc. Beliau adalah ketua Partai Keadilan DKI
Jakarta dan anggota DPRD DKI Jakarta. Saya tidak akan terheran-heran
jika beliau belanja bersama istri dan anak-anaknya di Supermarket, yang
bagi keluarga muda atau keluarga jaman sekarang hal yang biasa dan
sangat tidak tabu. Tetapi ini harus berbelanja dan ikut antri dengan
para ibu rumah tangga, walau pada akhirnya beliau dipersilahkan untuk
dilayani lebih dahulu.

Lagi-lagi dengan takjub saya menceritakan apa yang saya lihat kepada
suami saya. Sebagai orang yang intensif bertemu dengan beliau bahkan
banyak menimba ilmu kepada beliau, suami saya berkata,

"Ustadz Heriawan memang subhanalloh Dik. Sebagai muridnya, saya
merasakan kedekatan. Ketika sholat jama'ah di masjid misalnya, beliau
kadang-kadang secara tiba-tiba merangkul saya dari belakang. Saya juga
beruntung mempunyai jadwal ronda dengan beliau."

Ya, suami saya memang beruntung, beliau mendapat jadwal ronda bersama
ustadz Ahmad Heriawan dan Ustadz Satori Ismail, sehingga pembicaraan
kala ronda adalah pembicaraan-pembicaraan yang bermutu.

Ah... saya jadi menghayal, seandainya negeri ini dipimpin oleh
orang-orang yang berakhlaq mulia, yang mempunyai keharmonisan keluarga,
yang dekat dengan anak istrinya, yang mempunyai hubungan baik dengan
para tetangga, yang memuliakan wanita dan kaum papa, betapa indahnya
dunia. Saya jadi teringat cerita sederhana dari istri beliau.

"Ayahnya Khobab (ustadz Ahmad Heriawan) sangat suka sayur lodeh nangka.
Suatu saat beliau meminta saya untuk memasaknya. Begitu tahu bahwa
ternyata membuat sayur lodeh nangka itu membutuhkan proses yang begitu
lama, beliau pun berkata, "Sudah Bu, Sekali ini saja. Kalau tahu bahwa
prosesnya begini lama, ayah tak akan meminta dibikinkan. Dari pada waktu
demikian panjang hanya habis untuk bikin sayur, mending buat baca atau
untuk mengerjakan yang lain."

Nampaknya sangat sederhana, namun saya melihat ada satu hal yang luar
biasa, tersirat dalam ungkapan itu, pemberian peluang yang luas bagi
berkembangnya istri.

Saya memang harus banyak belajar dari keluarga pimpinan saya yang sempat
menjadi tetangga saya itu. Yang jika orang-orang terkenal memberikan
tariff dalam ceramah-ceramahnya, beliau malah pernah menolak ceramah
dengan bayaran cukup lumayan karena harus terikat dengan pola yang
diterapkan penyelenggara. Maka jangan heran, jika kita mengundang beliau
dan memberikan "amplop" dengan mengatakan uang transport, maka seluruh
uang yang ada di dalam amplop itu akan beliau gunakan untuk membayar
jasa transportasi, dan tak menyisakan untuk kantong beliau sendiri.

Ah, itukah sibghoh Allah? Sebuah generasi yang dijanjikan oleh Allah
dalam surat Al-Maidah : 54 itu semoga kian dekat di sekitar kita, dan
semoga memang sidah ada di sekitar kita.

Dari buku "Bukan di Negeri Dongeng".
Important:  

This e-mail and any attached files may contain confidential information which 
may also be the subject of legal professional privilege. If you are not the 
intended recipient, any use, disclosure or copying of this e-mail or any 
attachments is unauthorised and strictly prohibited. If you have received this 
e-mail in error, please delete it and any copy of it and notify the sender by 
return e-mail.    

Please consider the environment before printing this e-mail.  

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia bicara 
berdusta, jika ia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah ia khianat. (HR 
Bukhari)

Kirim email ke