17 Juta, Aku Kaya?
16 Apr 08 15:32 WIB

Oleh Meralda Nindyasti

Entah bagaimana ceritanya, akhir bulan lalu aku merasa tercekik oleh perbuatan 
sendiri. Dua minggu sebelum tanggal 31 Maret 2008, aku sudah tidak bisa lagi 
mengambil uangku yang ada di ATM Swasta Nasional. Tak lain alasannya karena 
saldo uangku di bank sudah di bawah nominal 50 ribu.

Aku bingung, dua minggu ke depan harus makan apa dan dapat uang darimana. Bulan 
ini aku sungguh tak bisa mengontrol keluar-keluarnya uang dari saku dan 
dompetku. Heran terhadap diri sendiri, mahasiswa semester 4 macam apa dalam 
tempo 2 minggu sudah bisa menghabiskan uang di atas setengah juta? 
Namun sungguh, tak kuniatkan sedikitpun untuk merengek meminta uang transferan 
pada papa. Cukup, aku harus terima konsekuensinya!

Kuputuskan untuk mengambil sejumlah uang dari bank syari'ah yang berisi uang 
tabunganku untuk ke tanah suci. Ragu, sungguh aku ragu... uang ini insyallah 
kuniatkan untuk masa depan, tapi dipakai sebelum waktunya.. justru karena 
aku-lah yang lalai terhadap hidupku!!

Belajar mengenal diri sendiri, aku terkesima dengan nominal yang kutemui. 
Sehari aku sanggup menghabiskan 12 ribu rupiah untuk makan pagi, siang dan 
malam. Dalam sebulan, sudah habis 360 ribu. Kalau dikalikan 12 bulan, berarti 
dalam setahun ada jatah 4, 32 juta untuk menghidupi tubuhku. Itu artinya, pada 
akhir tahun ke-4 (ideal kuliah di Perguruan Tinggi di Indonesia), aku adalah 
anak kost yang menghabiskan 17, 28 juta hanya untuk mengisi perut kecilku..

Innalillah..
Ampun, sungguh aku mohon ampun...
Batapa Allah melapangkan rejeki bagiku dan keluargaku.. Sekali lagi, aku 
mahasiswa yang belum berpenghasilan. Melihat dalam tempo 4 tahun aku 
menghbiskan 17-an juta hanya untuk makan dan minum, hanya untuk menambah 
ataupun menurunkan berat badan, dan bisa jadi hanya untuk memuaskan nafsu 
kenyang... ah, betapa ini sungguh tak sebanding!

Aku masih belum tega melihat nominal 17, 28 juta dalam kalkulatorku. Angka itu 
sungguh dahsyat! Apa itu artinya dengan berani aku mengatakan: "Aku kaya"..?

Tidak, kawan.
Kaya bukan dalam nominal uang yang aku gunakan untuk keegoisan diriku sendiri. 
Kaya bukan dalam takaran seberapa banyak aku menimbun kemakmuran pribadi untuk 
jiwa lemahku ini..

Duhai, Rabb..
Apa kelak aku bisa mempertanggungjawabkan, dari sekian banyak rejekiMu, telah 
seberapa sering aku mengajak anak jalanan merasakan nikmatnya makanan yang 
kumakan, kala sehari-harinya mereka merintih pedih menahan lapar dari siang 
sampai malam?

Apa kelak aku bisa memperanggungjawabkan, dari dari sekian banyak rejeki-Mu, 
telah seberapa sering aku menyisihkan uang saku untuk sekadar memberi anak-anak 
yatim piatu hadiah-hadiah mungil penghibur hati, kala mama dan papaku begitu 
rutin melantunkan doa dan menghadiahkan kado tercantik saat hari kelahiranku?

Terkadang aku berpikir, haruskah semua kenikmatan dunia ini diukur dalam bentuk 
nominal uang, agar lebih mudah kita mencerna bahwa Allah telah melapangkan dan 
menundukkan semua ini untuk kita?

Maka nikmat Tuahnmu manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar-Rahman:13)

[EMAIL PROTECTED]

http://www.eramuslim.com/atk/oim/8415060158-17-juta-aku-kaya.htm?other

Kirim email ke