Juni, BBM Bakal Naik? Rabu, 30 April 2008 | 08:18 WIB JAKARTA,RABU - Departemen Keuangan disebut-sebut telah melakukan kajian kenaikan harga BBM bersubsidi sekitar 28,7 persen pada Juni 2008, akibat kenaikan harga minyak dunia yang hampir menembus 120 dollar AS per barrel sehingga mengakibatkan mulai menurunnya kepercayaan terhadap APBN P 2008.
Menurut informasi yang dirilis Antara Rabu (30/4) dengan mengutip sumber Depkeu, harga BBM jenis premium akan naik dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000 per liter, solar naik dari Rp 4.300 menjadi Rp 5.500 per liter, dan minyak tanah naik dari Rp 2.000 menjadi Rp 2.300 per liter. Kenaikan sebesar itu, katanya, akan memberi ruang fiskal yang cukup longgar bagi APBN sebesar Rp 21,491 triliun serta menambah penghematan anggaran menjadi Rp 25,877 triliun. Dia menjelaskan, dari penghematan anggaran akibat kenaikan harga BBM itu, sebagian besar Rp 11,5 triliun akan dialokasikan untuk pemberian program Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada 19,1 juta rumah tangga miskin (RTM) untuk periode Juni 2008-Mei 2009 sebesar Rp 100.000 per masing-masing RTM. Selain itu, ruang fiskal tersebut juga akan digunakan untuk penambahan cadangan risiko Rp 3 triliun dari yang sudah dicadangkan pada APBN P sebesar Rp 8,254 triliun, pengurangan defisit Rp 8,377 triliun atau 0,2 persen sehingga defisit anggaran tinggal 1,9 persen, dan tambahan subsidi beras untuk masyarakat miskin (raskin) sebesar Rp 3 triliun. "Dengan demikian, inflasi bisa ditekan pada 11,1 persen dan pertumbuhan ekonomi dijaga pada 6,4 persen, dengan rasio penduduk miskin menjadi 14,2 persen," katanya. Rasio penduduk miskin 14,2 persen jauh lebih baik daripada kemungkinan 19,5 persen, jika pemerintah tidak melakukan apa-apa, papar sumber tersebut. Dalam perhitungannya, Depkeu menggunakan asumsi nilai tukar Rp 9.000 per dollar AS, SBI 3 bulan 8,5 persen, harga minyak Indonesia 110 dollar AS per barrel, lifting minyak 927.000 barel per hari, dan konsumsi BBM 35,9 juta kiloliter. Dengan kenaikan tersebut, katanya, maka pendapatan negara dan hibah pada 2008 akan menjadi Rp 936,3 triliun, sedangkan belanja negara sebesar Rp1.022,6 triliun, sehingga terjadi defisit Rp 86,3 triliun atau 1,9 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto). Depkeu, jelasnya, juga telah memperhitungkan dua opsi kebijakan lainnya, yaitu penerapan smart card dan subsidi terbatas. Berdasarkan perhitungan tersebut, opsi kenaikan BBM lah yang paling feasible dari sisi administrasi serta dampak ekonomi dan sosial. Namun Meneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta menegaskan hingga saat ini pemerintah belum memutuskan untuk menaikkan harga BBM. "Belum lah," katanya saat ditanya tentang hal itu. Sumber : Kompas.com Legal disclaimer ------------------------- This email may contain confidential and/or legally privileged information. If you are not the intended recipient (or have received this email by error), please notify the sender immediately and delete this email. Any unauthorized copying, disclosure, or distribution of the material in this email is strictly forbidden.

