Pedagang yang Istiqomah
15 Mei 08 05:15 WIB

Oleh Regantini Salsabila

Kemarin aku ke kampus, setelah kurang lebih 10 tahun yang lalu aku 
menyelesaikan studi diplomaku di lembaga pendidikan itu. Tak sengaja aku 
bertemu dengan seorang Bapak, usianya sekitar 55 tahun. Ia berjualan snack 
keliling dari satu gedung ke gedung yang lain. Snack yang dijualnya 
bermacam-macam, ada cheese stick, keripik bawang, emping goreng manis, kacang, 
dan lain sebagainya. Bagiku, wajahnya sudah tidak asing lagi. Karena dahulu 
ketika aku masih kuliah pun ia sudah berjualan makanan yang sama, berkeliling 
pula.

Aku jadi teringat masa-masa pertama kalinya aku menjejakkan kaki di kampus. 
Bapak pedagang itu adalah orang pertama yang aku tanya tentang gedung Q, tempat 
di mana aku mendaftarkan diri sebagai mahasiswa baru. Ia menunjukkan gedung Q 
itu, sambil mengantarku pula. Kata-katanya santun. Setiap menawarkan 
dagangannya ia selalu ramah dan tak pernah lepas dari senyum. Meski tak sedikit 
mahasiswa yang tidak membeli snack darinya.

"Assalamu'alaikum mbak, apa kabar?" sapanya padaku ramah. Aku yang sejak tadi 
sibuk merapikan berkas-berkas legalisir ijazah, agak sedikit kaget dibuatnya. 
Karena tiba-tiba ia sudah duduk di sampingku di taman depan Gedung Serba Guna. 
"Oh Bapak, Ehm.kabar saya baik, Alhamdulillah... 
Bapak masih jualan di sini?" balasku bertanya. 
"Alhamdulillah, Allah masih memberi kesehatan, saya masih diberi kesempatan 
mencari rezeki di sini. Yah, untungnya nggak seberapa, tapi saya senang karena 
dekat dengan rumah. Jadi saya bisa pulang sewaktu-waktu tiap waktu shalat untuk 
shalat berjamaah." ucapnya.

Aku tersenyum mendengarnya. Dalam hatiku merasa bangga, karena meskipun ia 
seorang pedagang kecil, namun keikhlasan dan keistiqomahannya untuk menjaga 
shalat tepat waktu sangat tinggi sekali. Jarang kutemui orang-orang seperti 
ini, batinku dalam hati.

"Mengapa Bapak tidak berjualan menetap saja di rumah? Bapak kan bisa sekalian 
mengawas`i anak-anak dan tidak perlu repot berkeliling?" tanyaku padanya.

"Mbak, anak-anak Bapak semakin besar, kebutuhan mereka juga semakin bertambah. 
Bapak tidak mau menunggu rezeki di satu tempat, Bapak ingin mencari rezeki, 
siapa tahu dengan berkeliling ini, Allah memberikan rezeki yang sedikit 
berlebih kepada Bapak. Bapak juga tidak tahu di mana Allah akan menurunkan 
rezekinya kepada Bapak. Mudah-mudahan langkah-langkah kaki ini dihitung Allah 
sebagai amal ibadah usaha Bapak menghidupi keluarga."

Subhanallah, ...aku takjub mendengarnya. Tak kusangka, pedagang snack itu 
begitu paham apa arti mencari rezeki sesungguhnya, keistiqomahan dan keberkahan 
usaha.

Tidak hanya setahun dua tahun ia menekuni profesinya itu. Mungkin sudah lebih 
dari sepuluh tahun ia berdagang dengan caranya yang seperti itu.

"Mbak, bapak permisi dulu yah, sepertinya di gedung H sana, ada mahasiswa yang 
baru selesai kuliah. Bapak mau jualan ke sana, Assalamu'alaikum!" ucapnya 
menyudahi pembicaraan.

"Wa 'alaykum Salam Warahmatullahi Wa Barakatuh, mari-mari pak, silakan.!" 
ucapku spontan. Karena tadi aku sempat termenung sebentar memikirkan usaha dan 
kerja keras pedagang itu.

Bapak itu lalu pergi ke arah Gedung H, gedung jurusan Administrasi Niaga, 
tempat di mana dahulu aku juga pernah duduk di dalamnya untuk menimba ilmu 
selama tiga tahun. Dari kejauhan aku memperhatikannya. Alhamdulillah, ternyata 
tidak sedikit mahasiswa yang membeli snack darinya.

"Ya Allah, berilah kekuatan dan ketabahan kepadanya dalam menjalani hidup. 
Mudahkanlah ia dalam mencari rezeki dan berilah keberkahan dalam usahanya" 
doaku dalam hati, mengiringi langkah pedagang itu yang akan berkeliling lagi ke 
gedung-gedung yang lain di kampusku.

http://www.eramuslim.com/atk/oim/8514180203-pedagang-istiqomah.htm

Kirim email ke