Bener Pak, apalagi kalau dengerin omongan Jusuf Kalla. Rasanya bagi dia yang penting bisnis dia aman, mau tetangga sebelah mati gantung diri kek, minum racun kek, nyebur sumur kek, sabodo amat ... Biar dikasih duwit, nggak bakalan milih dia di Pemilu 2009.

----- Original Message ----- From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Thursday, May 15, 2008 3:03 PM
Subject: Re: [Ar-Royyan-7694] 'Bojoloro'



Kalau tidak salah saat ini APBN harus membayar 60 triliun pertahun untuk
bayar obligasi rekap penyehatan bank-bank akibat
krisis moneter tahun1998. Sejumlah 60 triliun rupiah hanya untuk menyokong
kegiatan yang membawa orang masuk neraka jahanam kekal selama-lamanya.
Kenapa itu tidak dihapuskan saja ? Para pemimpin negeri ini sebenarnya jika
kreatif bisa minta penundaan bayar utang dll cara agar BBM tidak perlu
dinaikkan. Kekonyolan ekonom kita adalah mengukur kemakmuran berdasarkan
angka-angka ekonomi makro yang sebenarnya sama sekali tidak diperlukan atau
bahkan tidak dimengerti  oleh kebanyakan rakyat negeri ini. Rakyat cuman
tahu kemakmuran adalah tercermin dari kemudahan mendapatkan barang dan jasa
dengan harga  terjangkau dan pekerjaan yang layak di negeri ini sehingga
orang dapat hidup normal. Apa itu inflasi, angka pertumbuhan, suku bunga,
dan tetek bengek parameter ekonomi itu bagi kebanyakan rakyat  tidak lebih
dari omongan gombal dari penguasa yang tidak becus memimpin negeri ini.
Jadi gimana ? Apakah perlu keadaan yang seperti ini dipertahankan ? Atau
kita persilahkan saja para malaikat menjalankan aksinya mengakhiri
kegombalan ini ? Anda tentu bisa memberikan jawaban sebagai suatu bahan
pertimbangan

alamat email: [EMAIL PROTECTED]



            "Agus Rasidi"
            <[EMAIL PROTECTED]
            .co.id>                                                    To
                                      <[EMAIL PROTECTED]>,
            05/15/2008 02:19          "MILIS DKM AL IKHLAS"
            PM                        <[EMAIL PROTECTED]>, "MILIS
                                      AR-ROYYAN" <[email protected]>
                                                                       cc
            Please respond to
            [EMAIL PROTECTED]                                     Subject
                   om                 [Ar-Royyan-7694] 'Bojoloro'











'Bojoloro'





Beberapa hari yang lalu saya dan beberapa teman secara tak sengaja memasuki
sebuah warung makan yang bernama ''Bojoloro''. Dari namanya tentu si
pemilik  warung adalah seorang yang sangat pro atau bahkan mungkin sangat
menyarankan  poligami.

Sembari makan kami hanya bisa saling tertawa. Maksud kami bertemu adalah
hendak membicarakan masalah rencana kenaikan harga BBM yang sedang menjadi
bahan  polemik. Lha kok malah ketemunya di warung makan yang bernuansa
poligami.  Pembicaraan mengenai BBM dibuka dengan terlebih dahulu membahas
poligami.  Kebetulan di antara kami ada yang pernah hampir saja ber-'bojo
loro'.

Ceritanya begini. Setahun yang lalu teman ini pernah kepincut seorang gadis
ayu yang ternyata adalah bekas pacar lamanya sewaktu kuliah. Kemudian, dia
mengajukan proposal kepada istrinya untuk diizinkan menikah lagi. Kontan
istrinya menangis selama seminggu dan mengadu pada sanak saudara. Dalam
rapat  keluarga, sang mertua juga mengingatkan bahwa ketika meminang
anaknya, teman  saya tersebut pernah berjanji tidak akan pernah beristri
dua atau lebih. Merasa  diingatkan dengan janji tersebut, teman saya
akhirnya mengurungkan niatnya.

Mirip dengan janji gombal ini, kita semua tentu masih ingat bahwa beberapa
waktu yang lalu Presiden SBY pernah berjanji kepada rakyat bahwa tidak akan
ada  kenaikan harga BBM walau harga minyak dunia menembus angka 100 dolar
AS per  barel. Yang jadi masalah adalah apakah Presiden akan bersikap
ksatria seperti  teman saya itu. Kelihatannya sih, janji itu sulit
dipegang.

Perlu diingat bahwa rakyat lapisan terbawah saat ini jauh lebih terpukul
dibanding dengan sewaktu pemerintah menaikkan harga BBM pada 2005.
Sekarang,  masyarakat sudah terpukul lebih dahulu oleh kenaikan harga
pangan dan kebutuhan  pokok lainnya. Walau ada raskin, operasi pasar minyak
goreng murah, dan kedelai  bersubsidi; kondisi perekonomian masyarakat
tetap terpuruk. Kenaikan harga  pangan turut memicu kenaikan harga-harga
kelompok barang lainnya.

Dalam teori ekonomi, kenaikan harga secara berantai bisa diakibatkan oleh
hukum harga relatif seperti yang diangkat oleh pemenang Nobel Robert Lucas.
Manakala harga sebuah komoditi naik, maka produsen komoditi lain akan
melakukan  hal yang sama untuk mempertahankan pendapatan relatifnya. Karena
itu, ketika  harga pangan meningkat maka harga barang-barang lainnya ikut
naik. Apalagi,  nanti setelah kenaikan harga BBM, pasti kenaikan harga akan
terjadi secara lebih  serempak.

Dengan demikian, kalaupun kelak harga BBM dinaikkan maka pemerintah harus
memperhitungkan secara cermat dampak sosial ekonominya. Sampai saat ini,
pemerintah masih menyatakan skema kompensasi yang akan diterapkan akan
mirip  dengan yang dilakukan tiga tahun yang lalu. Selain itu, Sri Mulyani
menegaskan  bahwa data base orang miskin yang menjadi dasar penyaluran
kompensasi  adalah masih tetap sama, yaitu hasil pendataan orang miskin
yang dilakukan oleh  BPS tahun 2005. Ini sungguh berbahaya.

Mengasumsikan secara di atas kertas bahwa kondisi sekarang sama dengan tiga
tahun yang lalu adalah kesalahan yang sangat fatal. Hasil survei Danareksa
Institut menunjukkan indeks kepercayaan konsumen telah jatuh sampai ke
tingkat  hampir sama dengan pascakenaikan harga BBM pada 2005. Selain itu,
tingkat  kepercayaan kepada pemerintah juga telah jatuh pada titik terendah
selama enam  tahun terakhir. Implikasinya apa?

Pertama, kemungkinan besar kenaikan harga BBM tahun ini akan  menyebabkan
kepercayaan konsumen menjadi lebih jatuh lagi. Biasanya hal ini  diikuti
dengan melemahnya konsumsi. Rumah tangga akan melakukan pengencangan  ikat
pinggang dan semakin hati-hati menggunakan uangnya. Ini berita buruk bagi
para pengusaha yang juga akan menghadapi tuntutan kenaikan upah dari
serikat  buruh. Selain itu, dunia usaha juga akan diempas kenaikan suku
bunga yang  dilakukan BI. Secara keseluruhan dampaknya terhadap
perekonomian menjadi amat  berat.

Kedua, tingkat keyakinan masyarakat terhadap pemerintah akan semakin
jeblok yang pada gilirannya menambah tingkat pesimisme masyarakat  terhadap
kemampuan pemerintah dalam mengendalikan perekonomian. Hal ini juga
ditunjukkan oleh riset dari beberapa lembaga survei. Kenyataan ini
menunjukkan  bahwa kemungkinan reaksi masyarakat akan mengalami
overshooting atau  berlebihan. Konsekuensinya, dampak sosial ekonomi tidak
bisa diperhitungkan  secara pasti lagi.

Ketiga, adalah tidak bertanggung jawab sama sekali kalau mengasumsikan
jumlah orang miskin sekarang sama dengan 2005. Banyak dari mereka yang
sudah  meninggal, berpindah tempat, atau bahkan ada pula orang miskin baru.
Dalam data  base 2005, ada sekitar 20 persen orang miskin yang tidak
terekam. Kalau  data base itu tidak diperbaharui, akan terjadi kesalahan
penyaluran  kompensasi. Hal seperti ini akan mengakibatkan kekisruhan dalam
eksekusinya yang  kemudian dapat memicu beragam tragedi dan konflik.

Terakhir, pemerintah pernah menyebutkan kalau harga BBM dinaikkan 30
persen maka akan dihemat subsidi sebesar Rp 25 triliun. Dengan kompensasi
yang  direncanakan memakan biaya Rp 11 triliun, maka penghematan bersihnya
hanya Rp 14  triliun. Harap diingat kalau pemerintah bisa menghemat cost
recovery  dalam kontrak production sharing dan sekaligus memberangus
perburuan  rente dalam pengadaan BBM, maka penghematan bisa mencapai Rp 20
triliun.  Intinya, kenaikan harga BBM masih bisa dihindari kalau pemerintah
mau menempuh  jalan lain. Persoalannya bukan bisa atau tidak, tetapi mau
atau tidak.

Sebagai penutup, mungkin ada baiknya pemerintah berpikir ulang. Cobalah
langkah lain dulu. Teman saya tadi sempat menjadi figur yang sangat tidak
disukai di tengah keluarga besarnya. Itulah yang membuat dia kemudian
memenuhi  janjinya dan mengurungkan niatnya ber-'bojo loro'.
(Iman Sugema (InterCAFE, IPB) )

sumber : Republika Online


------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyalaahu anhu ia berkata: Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam biasa bernafas tiga kali sewaktu minum. (HR. Muttafaq alaih) Yaitu bernafas di luar gelas. Beliau melarang bernafas di dalam gelas sewaktu minum dan beliau juga melarang meniup minuman. (Sebagaimana yang disebutkan dalam HR. At-Tirmidzi)


------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyalaahu anhu ia berkata: Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam biasa bernafas tiga kali sewaktu minum. (HR. Muttafaq alaih) Yaitu bernafas di luar gelas. Beliau melarang bernafas di dalam gelas sewaktu minum dan beliau juga melarang meniup minuman. (Sebagaimana yang disebutkan dalam HR. At-Tirmidzi)

Kirim email ke