-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of F Amhar
Sent: 06 Juni 2008 8:11
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]
Subject: 2008 Insiden Monas, Waspadai Adu-Domba Umat Islam!


Insiden Monas, Waspadai Adu-Domba Umat Islam!

[al-Islam Edisi 408]. June 3rd, 2008

Prihatin. Itulah rasa yang ada menyaksikan kondisi umat 
Islam saat ini. Rakyat tengah mengalami keterpurukan 
ekonomi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). 
Berbagai penolakan terus terjadi dimana-mana. Pada 1 Juni 
2008 siang berlangsung demo penolakan kenaikan BBM di 
depan Istana Negara Jalan Medan Merdeka Utara yang 
diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan 
dihadiri oleh berbagai ormas. Sebagaimana dimuat berbagai 
media massa, acara tersebut berlangsung damai. Namun, pada 
saat yang hampir bersamaan terjadi 'Insiden Monas', yaitu 
bentrokan antara Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan 
Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) dengan massa yang 
beratribut Front Pembela Islam (FPI) di Lapangan Silang 
Monas ke arah Jalan Medan Merdeka Selatan. Belakangan 
dibantah bahwa yang bentrok itu bukanlah FPI melainkan 
Komando Laskar Islam (KLI).

Berbagai kecaman langsung bermunculan mulai dari Presiden, 
politisi, dan sebagian tokoh. Reaksi demikian muncul 
karena adanya pemberitaan tentang aksi kekerasan yang 
terjadi. Padahal tidak ada asap kalau tidak ada api.

Provokasi

Pakar komunikasi Universitas Hasanuddin, Aswar Hasan, 
mengatakan, bentrokan antara FPI dan AKKBB adalah efek 
dari "kekerasan simbolik" yang selama ini terjadi. 
Aksi-aksi sporadis kalangan liberal-seperti melecehkan MUI 
dan merendahkan wibawa ulama (ingat pelecehan dan 
penghinaan Adnan Buyung kepada KH Ma'ruf Amien, tokoh NU 
dan Ketua MUI di Radio BBC beberapa waktu lalu)-selalu 
mendapat tempat terhormat di media massa dan TV. "Jadi, 
sesungguhnya 'kekerasan simbolik' itu sudah lama dilakukan 
kalangan liberal terhadap kalangan Islam yang lain," ujar 
Aswar (Hidayatullah.com, 2/6/2008).

AKKBB merupakan kelompok yang giat membela Ahmadiyah. 
Padahal Ahmadiyah telah dinyatakan sesat oleh berbagai 
organisasi seperti keputusan Majma' al-Fiqih al-Islami 
Organisasi Konferensi Islam (OKI) tahun 1985, Fatwa MUI 
tentang Ahmadiyah tahun 2005, termasuk Nahdlatul Ulama dan 
Muhammadiyah. Bahkan Badan Koordinasi Pengawas Kepercayaan 
dan Keyakinan Masyarakat (Bakorpakem) pada 16 April 2008 
menetapkan Ahmadiyah sebagai aliran yang menyimpang dari 
Islam. Namun, surat Keputusan Bersama (SKB) tentang 
pelarangan Ahmadiyah belum juga dikeluarkan oleh 
Pemerintah. Sementara itu, AKKBB terus berusaha mencegah 
keluarnya SKB tersebut.

Di tengah situasi psikologis seperti itu, setidaknya sejak 
15 Mei 2008, terpampang iklan petisi di situs resmi AKKBB, 
yang disebar ke berbagai milis, dan akhirnya dirilis di 
beberapa media massa nasional mulai tanggal 26 Mei 2008. 
Petisi bertajuk "Mari Pertahankan Indonesia Kita!" itu 
dikoordinasikan oleh ICRP dan Aliansi Bhineka Tunggal Ika 
dan disebar di beberapa milis di Indonesia. Sebagaimana 
diketahui, Aliansi Bhineka Tunggal Ika adalah kelompok 
yang pernah menggerakkan kalangan lesbian, homo, para 
pelacur dan penyanyi dangdut untuk menyampaikan sikap 
penolakan terhadap Rancangan Undang-undang (RUU) Anti 
Pornografi dan Pornoaksi (APP). Dilihat dari pendukungnya 
pun terdiri dari ideolog sosialis, aktivis Ahmadiyah, 
sebagian warga non-Muslim dan kaum liberal.

Iklan petisi tersebut berisi pembelaan terhadap Ahmadiyah. 
Bukan hanya itu, petisi itu juga berusaha mengadu-domba 
umat Islam dengan Pemerintah dengan menyatakan, "Kami 
menyerukan, agar Pemerintah, para wakil rakyat, dan para 
pemegang otoritas hukum untuk tidak takut terhadap tekanan 
yang membahayakan ke-Indonesia-an itu."

Provokasi terus terjadi. Majalah Tempo edisi 5-11 Mei 2008 
menulis, "Kecemasan di mana-mana. Ketakutan merajalela. 
Majelis Ulama Indonesia harus bertanggung jawab atas semua 
ini." Di bagian lain Tempo menulis, "Majelis Ulama sudah 
selayaknya meminta maaf kepada warga Ahmadiyah. 
Menjatuhkan fatwa sesat pada aliran itu berarti memberikan 
lampu hijau kepada gerombolan penyerang Ahmadiyah untuk 
bertindak anarkistis."

Ingat, pemilik majalah Tempo adalah Goenawan Mohamad yang 
juga penggiat AKKBB dan apel akbar. Kalau bukan provokasi 
terhadap umat Islam, lantas untuk apa tulisan menghina 
ulama itu?

Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol. Heru Winarko mengatakan 
kepada media massa pada 1 Juni 2008 bahwa AKKBB menurut 
rencana hanya berdemo di Cempaka Barat, lalu ke depan 
Kedubes AS, dan berikutnya ke Bundaran Hotel Indonesia. Di 
ketiga tempat tersebut polisi sudah menyiapkan pengamanan. 
Di Monas, mereka tidak meminta pengamanan. "Tapi, mengapa 
mereka malah masuk Monas?" ujarnya.

Ada keanehan di sini. Selain itu, Juru Bicara Ahmadiyah 
Mubarik mengatakan, sebenarnya dia sudah memperkirakan 
akan terjadinya insiden tersebut. Namun, dia mengaku 
enggan untuk membatalkan rencana aksinya (Hidayatullah, 
2/6/2008).

Bukankah ini berarti pembiaran terjadinya insiden 
tersebut? Lebih dari itu, seorang anggota AKKBB tertangkap 
kamera membawa pistol dalam Insiden Monas. Dalam 
konferensi KLI diputar sebuah video yang memperlihatkan 
seorang peserta aksi berkaos putih, dengan sebuah pita 
merah putih di lengan kirinya, sempat mengeluarkan sebuah 
senjata api. (Hidayatullah, 2/6/2008). Lebih dari itu, 
menurut pengakuan peserta dari FPI, ada provokasi dari 
panitia (Detik.com, 3/6/2008).

Berdasarkan hal tersebut, benar apa yang dikatakan oleh 
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amidhan bahwa insiden 
di Silang Monas tersebut tidak serta-merta kesalahan massa 
beratribut FPI saja. Amidhan menilai apa yang selama ini 
dilakukan AKKBB juga amat provokatif alias 
memancing-mancing kemarahan umat Islam. Salah satunya 
adalah tindakan AKKBB yang menyertakan wakil-wakil agama 
lain selain agama Islam untuk ikut-ikutan membela kelompok 
sesat Ahmadiyah (Eramuslim, 2/6/08).

Pertanyaannya adalah mengapa Pemerintah dan DPR begitu 
sigap bersikap dalam insiden tersebut tetapi cenderung 
abai terhadap SKB pelarangan Ahmadiyah? Kalau terhadap 
mereka yang luka fisik dalam insiden Monas pemerintah 
dengan sigap bereaksi, tentu saja seharusnya pemerintah 
lebih sigap lagi terhadap persoalan Ahmadiyah yang telah 
menodai ajaran Islam dan melukai perasaan jutaan umat 
Islam.

KH Hasyim menyatakan, "Sebenarnya, masalah Ahmadiyah ini 
bukan masalah kebebasan beragama dan berkeyakinan, tetapi 
masalah penodaan agama tertentu, dalam hal ini adalah 
Islam." Beliau juga menyesalkan sikap Pemerintah yang 
tidak tegas terhadap persoalan Ahmadiyah. 
(Republika.co.id, 3/6/2008).
Rois Syuriah PWNU Jawa Timur, KH Miftahul Akhyar, juga 
menyatakan insiden Monas membuktikan SKB Ahmadiyah 
mendesak dikeluarkan (RCTI, 3/6/2008).

Menghancurkan Islam

Melihat pola masa lalu, insiden seperti ini akan 
melahirkan beberapa hal.

Pertama: pengalihan isu. Semula isu yang dominan adalah 
tuntutan kenaikan harga BBM dan pembubaran Ahmadiyah yang 
telah dinyatakan menyimpang oleh Bakorpakem. Kini, isu 
seakan bergeser menjadi isu pembubaran ormas Islam 
tertentu. Ketua Lembaga Penyuluh Bantuan Hukum PBNU, M 
Sholeh Amin mengingatkan jangan sampai pengalihan isu 
demikian dibiarkan. (Republika.co.id, 3/6/2008).

Kedua: stigmatisasi ormas Islam. Dari banyak komentar dan 
opini media massa digambarkan betapa buruknya wajah kaum 
Muslim yang sebenarnya justru membela kemurnian akidahnya.

Ketiga: menghancurkan organisasi Islam yang memperjuangkan 
syariah Islam dan secara terbuka menentang 
pornografi-pornoaksi, dan kemungkaran. Lihatlah, pasca 
Insiden Monas, Adnan Buyung Nasution dan Goenawan Mohamad 
menuntut pembubaran beberapa ormas Islam yang tidak 
terkait sama sekali dengan insiden tersebut. Bahkan mereka 
mendesak Menteri Hukum dan HAM untuk mengajukan permohonan 
ke pengadilan lalu meminta hakim untuk membubarkan Majelis 
Ulama Indonesia (Hidayatullah.com, 2/6/2008).

Tuntutan serupa pernah dilontarkan saat Munas MUI 
mengeluarkan fatwa haramnya sekularisme, liberalisme dan 
pluralisme; bahkan saat isu pornografi-pornoaksi. Padahal 
MUI tidak terlibat dalam insiden tersebut.

Jadi, yang sedang terjadi sebenarnya adalah upaya 
membungkam orang dan organisasi yang secara tegas 
menyuarakan Islam. Lantas siapa yang diuntungkan? Tentu, 
mereka yang tidak menginginkan Islam kuat dan mereka yang 
tidak menginginkan Indonesia kuat. Mereka ingin 
putra-putri negeri Muslim terbesar ini terus 
porak-poranda. Mereka yang diuntungkan adalah kaum kafir 
imperialis dan para kompradornya. Menarik dicatat, 
sebagian tokoh pendukung Ahmadiyah itu adalah para tokoh 
penting di balik Reformasi 1998 yang mendapat bantuan dana 
26 juta dolar AS dari USAID untuk menjalankan agenda AS.

Bantuan dana ini dapat dilihat dalam The New York Times 
(20 Mei 1998). Bahkan, salah satu rekomendasi The Rand 
Corporation dalam menundukkan Islam adalah mencegah 
aliansi antara kaum tradisionalis dan kaum fundamentalis. 
Caranya adalah dengan mengadu-domba.

Karena itu, sungguh bijak pernyataan Ketua Umum PBNU KH 
Hasyim Muzadi yang menyesalkan penggunaan dan pelibatan 
nama NU dan kelompok NU dalam masalah ini. "Karena 
relevansinya tidak ada antara NU dan Monas, NU dan FPI. 
Tapi, kenapa lalu ditulis korban itu adalah orang NU?" 
ujarnya. Oleh karena itu, KH Hasyim mengingatkan 
pihak-pihak yang ingin menggiring NU, terutama badan 
otonom NU seperti GP Ansor, Ikatan Pencak Silat Pagar 
Nusa, Lakpesdam NU agar menghentikan provokasinya. 
(Detik.com, 3/6/2008).

Wahai kaum Muslim:

Hendaknya kita tidak mudah terprovokasi dan diadu-domba 
oleh kafir penjajah yang memang sangat ingin memecah-belah 
kesatuan umat Islam. Kita pun jangan sampai terdorong 
untuk memprovokasi dan mengadu-domba sesama Muslim karena 
Rasulullah saw. bersabda:

Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu-domba 
(Mutaffaq 'alaih).
Rasulullah saw. teladan kita pun telah mengingatkan, bahwa 
umat Islam tidak akan pernah hancur oleh kekuatan luar 
yang berasal dari musuh-musuh Islam, kecuali ketika kita 
sudah saling menghancurkan satu sama lain:

Sungguh, aku telah memohon kepada Tuhanku bagi umatku agar 
mereka tidak binasa karena wabah kelaparan dan agar musuh 
dari kalangan selain mereka sendiri tidak dapat menguasai 
mereka hingga masyarakat mereka terjaga. Sungguh, Tuhanku 
kemudian berfirman, "Wahai Muhammad, sesungguhnya jika Aku 
telah menetapkan suatu putusan maka putusan itu tidak 
dapat ditolak. Sungguh, Aku telah memberimu bagi umatmu 
bahwa mereka tidak dibinasakan oleh wabah kelaparan dan 
musuh selain dari kalangan mereka tidak dapat menguasai 
mereka sehingga masyarakat mereka terjaga sekalipun 
dikepung dari berbagai penjuru, hingga mereka saling 
menghancurkan satu sama lain dan saling menawan satu sama 
lain." (HR Muslim).



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
You received this message because you are subscribed to the Google Groups
"FORUM.ALUMNI" group.
To post to this group, send email to [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe from this group, send email to
[EMAIL PROTECTED]
For more options, visit this group at
http://groups.google.com/group/forumalumni?hl=en
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---


------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyalaahu anhu ia berkata: Rasulullah 
Shalallaahu alaihi wasalam biasa bernafas tiga kali sewaktu minum. (HR. 
Muttafaq alaih) Yaitu bernafas di luar gelas. Beliau melarang bernafas di dalam 
gelas sewaktu minum dan beliau juga melarang meniup minuman. (Sebagaimana yang 
disebutkan dalam HR. At-Tirmidzi) 

Kirim email ke