---------- Forwarded message ----------
From: Armansyah <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 10 Jun 2008 10:59
Subject: [Milis_Iqra] "Lebah yang Memberi Madu"
To: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>


SWARA KITA



"Lebah yang Memberi Madu"










Dalam riwayatnya beberapa kali Rasulullah SAW mengisyaratkan agar kita
dapat melihat dan mempelajari tata hidup lebah. Lebah binatang kecil
yang terbang dari kuncup bunga yang satu ke kuncup bunga yang lain.
Dari sepak terjangnya itulah bunga berkembang menjadi buah-buahan yang
manis dimakan. Dari sepak terjangnya itu pulalah kita kenal madu.
Tidak ada ranting yang patah manakala sang lebah hinggap di dedaunan.
Lebah juga tidak memakan makanan yang kotor. Lebah tidak seperti lalat
yang hinggap dan menghisap saripati bangkai atau kotoran-kotoran,
sampah dan sebagainya. Keistimewaan binatang lebah sampai-sampai
diangkat Allah SWT dalam sebuah Surah dalam Al-Qur'an yaitu An Nahl
(Lebah). An Nahl terdiri dari 128 ayat. Surah ini dinamakan An Nahl
yang berarti lebah karena didalamnya terdapat firman Allah SWT ayat 68
yang artinya, " Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah : "Buatlah
sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di
tempat-tempat yang dibikin manusia."





Dalam mencari makan atau memenuhi kebutuhan hidupnya, lebah tidak
pernah menjual harga dirinya, menjual bangsanya, apalagi menjual
akidahnya. Dan lebah pun tidak pernah mengaku mulia atau mengaku
sebagai makhluk Tuhan yang dimuliakan, atau paling tinggi derajatnya
karena mendapat ilham atau petunjuk dari Allah SWT tersebut.
Lebah tidak pernah pula memulai permusuhan atau pertikaian. Lebah pun
tidak pernah mencari musuh atau menganggu sarang bangsa lain seperti
bangsa lalat atau bangsa nyamuk sekalipun. Lebah membangun sarangnya
dengan kekuatan sendiri, walaupun ada bangsa lain seperti nyamuk dan
lalat tadi. Lebah tidak pernah jahil walaupun sekedar menengok sarang
bangsa lain. Tetapi apabila sarang dan dirinya diserang, sampai kemana
pun sang lawan akan dikejar. Tidak peduli ada hukum rimba yang
mengisyaratkan siapa yang kuat dia yang menang. Kemenangan lebah
adalah adanya persatuan dalam bangsanya yang kuat dan gemuruh suara
bunyi yang didengungkan, yang menakutkan lawan hingga lari tunggang
langgang.




Pendek kata dari makanan yang dimakan. Mulai dari bagaimana mencari
makanan yang baik. Hingga makanan itu dibuang dalam bentuk madu
memberi pelajaran bahwa semua yang ada dalam diri lebah adalah sebuah
kebaikan.




Begitulah umat Islam yang dikehendaki Rasulullah SAW. Lalu bagaimana
dengan tata kehidupan kita ?





Insiden Monas
Dalam konteks ini adalah sangat naif dan arogan kalau kesalahan atas
terjadinya insiden amuk masa atau terjadinya kerusuhan saat adanya
unjuk rasa di Monas kemarin hanya ditujukan kepada Front Pembela Islam
(FPI) seperti kebanyakan di tulis dan diberitakan mass media.
Kebanyakan orang tidak mau melihat duduk masalah yang terjadi dengan
kepala jernih. Insiden yang terjadi di Monas tersebut harusnya dilihat
dari akar masalahnya apa dan bagaimana ? Tidak banyak orang mau peduli
permasalahan sebenarnya apa dan bagaimana. Orang hanya menyalahkan
mengapa sampai insiden kekerasan terjadi. Begitulah kita selalu. Sama
seperti kejadian dimana ada orang tua yang bunuh diri massal dengan
anak-anaknya. Peristiwa itu tidak dicari akar masalahnya bagaimana,
namun kebanyakan orang hanya menyalahkan kenekatan orang tuanya saja.


Selama ini pun aksi-aksi FPI terjadi terlihat karena lemahnya hukum di
Indonesia. Keputusan hukum atas suatu hal seharusnya tidak punya waktu
tunggu. Karena saat ini belum tentu sama dengan kemarin dan lusa.
Menunda hukum ditegakan berarti membiarkan sebuah kejahatan dan
kejahatan berikutnya terjadi. Sebagai contoh hukum telah melarang
perjudian, prostitusi dan minuman keras beredar secara bebas. Namun
kenyataannya bagaimana ? Tindakan pencegahan terjadinya sebuah
kejahatan harusnya dimulai dari ditegakannya hukum.


Begitu pula dengan Ahmadiyah. Ahmadiyah yang sudah sangat jelas sesat
dan menyesatkan umat Islam, ternyata masih dengan gagah menyatakan
dirinya eksis dan kokoh. Hal seperti ini adalah tindakan provokatif.
Dan akibatnya jangan salahkah macan keluar sarangnya.


Insiden Monas lalu kalaupun misalnya ada pelaku aksi yang beratribut
FPI dan ikut melakukan kekerasan, maka hal tersebut adalah suatu hal
yang paling mudah dikenal saja. FPI memang selama ini dikenal keras
dalam sikapnya. Kekerasan sikap FPI seperti itu tentu harus dihargai
ditengah lemahnya hukum kita saat ini. Namun tentu kekerasan sikap
bukan indektik dengan kebrutalan. Karena kebrutalan adalah tindakan
tanpa alasan yang jelas. Membabi buta. Bukankah FPI tidak bertindak
keras kepada orang-orang yang tidak mempunyai kesalahan. Maka untuk
kasus Monas tersebut pihak-pihak yang tergabung dalam AKKBB seharusnya
mampu membuktikan bahwa mereka adalah orang dengan ide dan pemikiran
serta tindakan yang benar pula. Apakah aliansi mereka punya badan
hukum atau sebuah organisasi masa ? Lalu hukum apa yang dipakai mereka
? Mengapa mereka bebas bergerak di negara hukum seperti Indonesia.
Tentu karena lemahnya hukum itu tadi bukan ?




Tindak Kekerasan
Munarman dalam beberapa kesempatan menyatakan bertanggungjawab sebagai
Komando Laskar Islam (KLI) yang di dalamnya terdapat FPI sebagai
bagian kecil massanya atas insiden tersebut. Pertanggungjawaban yang
harus disikapi sebagai sikap yang terbuka. Tentu dalam hal ini bukan
berarti kita menyukai atau mendukung tindak kekerasan yang telah
terjadi. Kita sangat menyayangkan hal tersebut sampai terjadi. Dan
kita menyayangkan kalau kesalahan tersebut dibebankan hanya pada pihak
yang di komandoi oleh Munarman saja. Karena pemerintah seharusnya
mampu mengeliminir kejadian seperti itu. Apalagi kalau ternyata
aliansi yang melakukan pengumpulan massa seperti AKKBB tersebut tidak
memiliki dasar hukum pergerakannya.
Lalu bagaimana dengan penanggungjawab AKKBB ? Kenapa ada senjata api
diantara mereka ? Legalkah semua itu ?



Seperti perumpamaan lebah diatas, lebah tidak akan keluar sarangnya
dan menyerang tanpa sebab yang menyakiti mereka. Dan hal ini sama pula
seperti FPI atau Komando Laskar Islam yang tidak akan bertindak
seperti yang terjadi kemarin kalau tidak ada sebab musabab yang
menjadikan mereka keluar sarangnya. Maka dalam kondisi inilah perlunya
aparatur negara melakukan introspeksi. Begitu pula dengan pemerintah.

Kita tidak perlu terlalu jauh menilik apa yang seharusnya dilakukan
aparat negara dalam menyelesaikan segala laporan masyarakat. Tetapi
apakah aparatur tersebut sudah bekerja sesuai dengan amanat jabatan
yang digenggamnya. Cepat ataukah lambat. Sigap ataukah lemas. Tegas
ataukah gamang.



Semua keadaan tersebut akan menimbulkan persepsi dalam pikiran
masyarakat. Nah ternyata sebagian umat Islam menilai pemerintah
kelihatan bingung dalam menyikapi keberadaan Ahmadiyah yang sepak
terjangnya telah meresahkan kemaslahatan umat Islam. BAKORPAKEM adalah
organ resmi pemerintah sendiri dalam menyelidiki, mengamati,
menganalisa berbagai aliran kepercayaan masyarakat. Dan BAKORPAKEM
telah jelas mengeluarkan rekomendasinya tentang ajaran Ahmadiyah.
Ditambah adanya fatwa MUI saat dipimpin Buya Hamka. Janji SKB
dikeluarkan segera tidak kunjung tiba. Adanya range waktu antara
keluarnya rekomendasi BAKORPAKEM dengan ditandatanganinya SKB Menteri
Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa Agung menimbulkan pertanyaan apa
lagi yang ditunggu ? Kondisi ini akhirnya dinilai tidak lebih memberi
waktu bagi Ahmadiyah untuk melakukan konsolidasi.








AHMADIYAH

Salah satu bentuk konsolidasi dalam wujud dukungan baik moril maupun
materiil tersebut terindentifikasi oleh kalangan Laskar Islam adalah
dengan adanya aksi masa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama
dan Berkeyakinan (AKKBB) dengan dalih peringatan hari lahir Pancasila
di Monas.

Siapapun akan simpati dan mendukung tema kebebasan beragama dan
berkeyakinan, karena negara kita memang secara de facto dan de jure
adalah negara yang terdiri atas berbagai agama. Islam, Protestan,
Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu adalah agama-agama resmi yang telah
diakui keberadaannya sebagai agama yang dianut rakyat Indonesia.
Sementara Jemaat Ahmadiyah Indonesia dengan faham Mirza Ghulam Ahmad
tersebut tidak berani mendeklair dirinya sebagai agama baru yang
seharusnya kita hormati pula. Kalau Ahmadiyah berani mendeklair
dirinya sebagai agama baru dengan nabi baru, maka kita akan hormati
dan hargai itu sebagai pengakuan adanya kebebasan beragama dan
berkeyakinan. Dan percayalah FPI atau KLI tidak akan pernah melirik
atau melakukan kekerasan terhadap Ahmadiyah dan pendukungnya tersebut.

Design dan strategi yang manis dengan nama aksi kebebasan beragama dan
berkeyakinan merupakan bentuk kamuflase yang ternyata tidak mampu
mendustai Laskar Islam. Kasihan Ibu-ibu dan kaum lemah yang dijadikan
tameng. Sementara ada oknum dari peserta aksi (AKKBB) yang dengan
gagahnya membawa senjata api. Lalu apa maksudnya seperti itu kalau
bukan untuk memancing ? Jangan memancing di air keruh, begitulah
pepatah mengatakan.


Insiden yang timbul memang sudah diperhitungkan dan terlihat ada unsur
kesengajaan disini. Hal ini tentu dengan tujuan akhir untuk meminta
perhatian dunia atas buruknya ormas Islam di Indonesia. Jadilah
menangis kepada dunia bahwa Islam itu adalah kekerasan dan perang.
Momen ini ada unsur kesengajaan untuk mendiskreditkan Islam secara
keseluruhan. Padahal orang-orang yang berdemo itupun kebanyakan
diikuti oleh orang Islam pula.

Mengapa antara orang Islam sendiri mau diadu domba hanya untuk
kepentingan sesaat ??? Apalagi misalnya dana untuk aksi seperti itu
dari luar negeri. Kita sudah tahu darimana dana organisasi yang
menghembuskan pluralisme dalam agama, dan dana-dana untuk LSM-LSM yang
merupakan bagian dari pendukung aksi tersebut. Tengok saja rekening
salah satu organisasi tersebut pada BCA KCP Pondok Indah Jakarta
Selatan.


Buktinya sudah ada bukan? Kedutaan AS langsung mengeluarkan pernyataan
sikapnya.







Sungguh kita perlu mengambil hikmah dari kehidupan lebah. Kelemahan
kita adalah mudahnya diadu domba.
Sebagai bangsa, kita belum mampu mengikuti cara hidup lebah, binatang
kecil yang memberi madu buat kesehatan kita.


















Muhammad Thoha
Management of Kocakholieks (MaS)
Sumber : http://www.kocakholieks.com/

-- 
Salamun 'ala manittaba al Huda
Khud al hikmah walau min lisani al kafir


ARMANSYAH
http://arsiparmansyah.wordpress.com
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125


Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63


Gabung : [EMAIL PROTECTED]
  Keluar : [EMAIL PROTECTED]
 Situs 1 : http://myiqra.co.cc
 Situs 2 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
     Mod : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyalaahu anhu ia berkata: Rasulullah 
Shalallaahu alaihi wasalam biasa bernafas tiga kali sewaktu minum. (HR. 
Muttafaq alaih) Yaitu bernafas di luar gelas. Beliau melarang bernafas di dalam 
gelas sewaktu minum dan beliau juga melarang meniup minuman. (Sebagaimana yang 
disebutkan dalam HR. At-Tirmidzi) 

Kirim email ke