Salaam. Mungkin beberapa hadits sbb bisa direnungkan sebagai jawaban:
----------------------------------------------------------------------------------------------------------- 1. Diriwayatkan Abu Darda' ra. Beliau berkata aku mendengar Rasulullah saw bersabda: "Apabila tiga orang dalam suatu desa dan tidak didirikan diantara mereka sholat, maka pasti syetan telah menguasai mereka. Maka hendaklah kalian BERJAMA'AH, karena sesungguhnya serigala itu hanya makan domba yang sendirian." (HR. Abu Daud). 2. Dari Abu Darda' radhiallaahu anhu, ia berkata, 'Aku mendengar Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda, 'Tidaklah berkumpul tiga orang, baik di suatu desa maupun di dusun, kemudian di sana tidak dilaksanakan shalat berjama'ah, terkecuali syaitan telah menguasai mereka. Maka hendaklah kamu senan-tiasa bersama JAMA'AH (golongan yang banyak), karena sesungguhnya serigala hanya akan memangsa domba yang jauh terpisah (dari rombongannya)'. (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan lainnya, hadits hasan ) 3. "Sesungguhnya setan itu serigala bagi manusia seperti halnya serigala bagi kambing, yang menerkam domba yang jauh terpisah. Maka jauhilah perpecahan, dan hendaklah kalian BERJAMA'AH!" (HR. Ahmad) 4. Ibnul Jauzy al-Baghdadi dalam bukunya Talbisul Iblis menjelaskan bahwa Imam Ahmad meriwayatkan dari Mu'adz bin Jabal ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya syetan itu serigala (yang memangsa) manusia seperti serigala (yang memangsa) domba, Dia mengambil domba yang menjauh dan memencil. Jauhilah jalan di antara dua bukit, hendaklah kalian mengikuti AL-JAMA'AH, orang umum dan berada di masjid". 5. Dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu Ta'ala Anhu berkata: Manusia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan menimpaku. Maka aku bertanya: Wahai Rasulullah, sebelumnya kita berada di zaman Jahiliyah dan keburukan, kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah ini ada keburukan ? Beliau bersabda : 'Ada'. Aku bertanya : Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan ?. Beliau bersabda : Ya, akan tetapi didalamnya ada dakhanun (polusi). Aku bertanya : Apakah dakhanun itu ?. Beliau menjawab : Suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka maka ingkarilah. Aku bertanya : Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan ?. Beliau bersabda : Ya, da'i - da'i yang mengajak ke pintu Jahannam. Barangsiapa yang mengijabahinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya. Aku bertanya : Wahai Rasulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku. Beliau bersabda : Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita. Aku bertanya : Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya ?. Beliau bersabda : Berpegang teguhlah pada JAMA'AH MUSLIMIN dan IMAMnya. Aku bertanya : Bagaimana jika tidak ada jama'ah maupun imamnya ? Beliau bersabda : Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu". (Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399). --------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Intinya, kalau kita 'sendirian', maka kita akan senantiasa terombang-ambingkan oleh pemikiran/wacana aneh-aneh yang bersliweran di depan kita. Apalagi kalau kita termasuk yang doyan melahap informasi. Berjuta informasi yang kita serap tidak bisa kita saring, klarifikasi dan validasikan terlebih dulu kepada 'imam' kita, dan akhirnya meninggalkan residu yang membentuk pola pikir (fikrah) dan pola tindakan (amaliyah) kita. Bahkan mungkin menular ke istri dan anak-anak kita. Setelah berjama'ah pun bukan berarti kita lantas taqlid buta, karena di dalam jamaah pun bisa jadi ada 'serigala-serigala'. Bukankah di Muhammadiyah ada Abdul Munir Mulkhan, Dawam Raharjo, Sukidi, Ahmad Fuad Fanani, dll yang liberalis (yang saat ini tersingkir dari struktural Muhammadiyah di bawah Din Syamsudin). Demikian juga di NU ada mbahnya liberalis Durrahman dan anak-cucunya seperti Ulil Abshar Abdalla (yang saat ini juga sedang konfrontasi dengan struktural NUnya Hasyim Muzadi soal Ahmadiyah).. Wallahu a'lam, Wassalam, --amin Pada tanggal 11/06/08, A. Yahya Sjarifuddin <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > Assalamu'alaikum wr wb. > Mungkin ada yang bisa bantu beberapa pertanyaan dari Bapak > Abdullah Pupung ini?. Trims. > > ---------- Pesan Yang Diteruskan ---------- > Assalamu'alaikum wr.wb > > Kreteria apa yg menjadikan seseorang dimasukan kelompok JIL...? > Bagaimana menyikapi perkembangan tokoh - tokoh yg menamakan > dirinya tokoh Islam. Adapun pertanyaan saya sbb: > > 1. Bagaimana menyikapi pemahaman seperti ini > 2. Bagaimana kita supaya tidak terjerumus terhadap pemahanan yg tidak > berpedoman terhadap Ahlu Sunnah waljam'ah > 3. Penomena apa yg terjadi akhir-akhir ini pemahaman terhadap agama > Islam ...semakin liar & kontroversial dan banyak sekali fitnah terhadap > agama Islam baik dari dalam maupun dari luar Islam > 4. Apakah ini masuk dalam arena Aqidah atu Furu'iah > 5. Bagaimana kita membentengi anak, Istri, saudara-saudara kita dari > Fitnah ini , karena mereka berkeliaran di Media Masa, Seminar-seminar, > buku-buku, partai-partai, Sekolah-sekolah,Perguruan > tinggi,dilembaga-lembaga Formal maupun Non Formal ..? > > Mungkin kalau kita bahas dengan Ustad/Ulama dgn referensi yg jelas kita > mempunyai sikap yg jelas bagaimana kita menjawab pertanyaan - pertanyaan > yg timbul dalam diri kita, sehingga akhirnya kita terselamatkan dari > pemahaman yg sesat. > > Salam, > Pupung ------------------------------------------------------------------ - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 - - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com - Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyalaahu anhu ia berkata: Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam biasa bernafas tiga kali sewaktu minum. (HR. Muttafaq alaih) Yaitu bernafas di luar gelas. Beliau melarang bernafas di dalam gelas sewaktu minum dan beliau juga melarang meniup minuman. (Sebagaimana yang disebutkan dalam HR. At-Tirmidzi)

