Dari milis hidayatullah ................
Coba bandingkan dengan Garda Bangsa, apa yang pernah mereka lakukan?
*************************************************************************************

http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Box&id=78110


Laskar FPI; Dari Perusak Bar ke Evakuator Mayat



Selasa, 18 Januari 2005

Banda Aceh,- Siapa yang belum mendengar nama Laskar Front Pembela Islam (FPI).

Di Jakarta, laskar itu punya nama besar gara-gara sering menyatroni dan merusak 
klub-klub malam saat Ramadhan (setelah sebelumnya diperingati dengan halus). 
Bagaimana aksi laskar itu di daerah bencana di Banda Aceh?

Laporan Ibnu Yunianto, Banda Aceh

SULIT melihat Habib Riziq Shihab mengenakan jubah dan kafiyeh putihnya selama 
hari-hari pascabencana gempa dan tsunami di Banda Aceh. Atribut kebesaran 
Panglima Laskar Front Pembela Islam itu telah setengah bulan ini bersalin 
dengan kaus tipis dan celana lebar semata kaki. Bahkan, jabatan panglima dia 
tinggalkan ketika pada hari-hari tertentu mendapat jatah masuk menjadi anggota 
tim evakuator mayat. Laskar FPI memang menjadi salah satu relawan evakuator 
mayat di ibukota NAD. Mereka telah datang sejak hari kedua bencana. Hari ini,  
sekitar 1.200 anggota FPI dari Jakarta, Solo, Surabaya dan Makassar telah 
mendirikan posko di Banda Aceh. Lokasinya pun istimewa, Taman Makam Pahlawan 
Banda Aceh. Di halaman makam yang berlapis marmer hitam itu, tiga tenda 
lapangan dan dua tenda logistik didirikan 'laskar garis keras' itu.

"Emang ente pikir Laskar FPI hanya bisa merusak bar, kami juga punya organisasi 
penanggulangan pascabencana," tukas Habib Riqizk, ketika ditanya motivasinya 
terjun ke NAD.

Habib itu mungkin tak sedang bergurau. Meski mengaku datang dengan modal 
dengkul, FPI termasuk kelompok relawan yang cukup disegani di Banda Aceh.

Laskar itu bukan cuma ringan tangan, tapi juga pintar mengambil hati orang 
Aceh. Tentang ringan tangannya laskar itu juga cukup legendaris di kalangan 
relawan.

Soalnya, hanya FPI yang berani menyentuh kawasan Syiah Kuala. Kawasan di 
pinggiran Universitas Syiah Kuala dan makam raja-raja Aceh itu memang menjadi 
momok, karena lokasinya yang berawa-rawa, banyak paku bekas rumah yang telah 
berkarat dan ratusan ekor ular. Di kawasan itu juga terkenal dengan mayat yang 
sangat berbau dan anggota tubuhnya tidak utuh karena terus-menerus terendam air.

"Bukan Ane bermaksud sombong, banyak relawan yang muntah-muntah begitu masuk 
kawasan Syiah Kuala. Tapi, FPI berhasil membersihkan mayat-mayat di daerah itu. 
Sekitar 600 mayat sudah kami angkat dari sana selama 22 hari ini," kata Habib 
Riziq. Untuk membersihkan kawasan bekas padat penduduk itu, Ketua Pelaksana 
Operasi FPI Ja'far Sidiq mengatakan, kalau Laskar FPI memulainya dengan 
menyiapkan "peralatan perang" yang lengkap. Mereka menggedor setiap pintu 
instansi pemerintah sehingga berhasil mendapatkan 4 ton logistik, ribuan masker 
standar TNI, ribuan pasang sarung tangan, dan ratusan pasang sepatu boot. 
"Pokoknya gaya gebug dulu khas FPI kami pakai untuk mendapatkan perlengkapan 
evakuasi, tapi mereka beruntung karena ada yang mengerjakan evakuasi mayat di 
kawasan yang tak tersentuh relawan lain," kata dia.

Setelah itu, mereka lantas menyiapkan kamp relawan di Taman Makam Pahlawan. 
Kawasan elit itu mereka sulap menjadi kamp relawan dengan dapur umum 24 jam, 
kamar mandi portabel dan tempat sanitasi terbaik diantara kamp relawan lainnya. 
Kamp itu juga dilengkapi dengan tempat untuk mencuci anggota tubuh relawan dan 
alat perlengkapan evakuasi dengan cairan kimia khusus. Bahkan, meski pun 
kawasan makam, seluruh kamp itu juga dinyatakan sebagai daerah bebas rokok dan 
daerah wajib berbusana muslim.

Bahkan, setiap pekan anggota FPI juga wajib disuntik tetanus dan malaria, 
karena tingginya risiko bekerja di rawa-rawa yang penuh puing-puing bangunan.

Mereka juga membagi sekitar 1.200 anggota laskar menjadi 3 tim, yaitu tim 
pengendus mayat, evakuator mayat, tim sholat jenazah dan tim logistik.

Tim pengendus bertugas mencari mayat diantara tumpukan puing, tim evakuasi 
menggali puing untuk mencari mayat, tim pensholat jenazah khusus mensholatkan 
setiap jenazah yang ditemukan sementara tim logistik mengurus konsumsi relawan.

"Dengan begitu, tim logistik dan tim sholat jenazah tidak menyentuh mayat, 
sehingga kebersihan makanan dan kesucian anggota tim pensholat jenazah selalu 
terjaga," kata Ja'far.

Di daerah kos-kosan mahasiswa itu, anggota Laskar FPI juga kerap menemukan 
keanehan-keanehan.

Diantaranya, Sabtu lalu mereka menemukan tubuh utuh seorang ibu muda yang 
tengah hamil tua.

Mayat itu utuh, kulitnya masih segar dan sama sekali tidak berbau meski 
terendam air selama 21 hari.

Namun, hanya berselang 1 meter ada jenazah yang tidak utuh organ tubuhnya serta 
sangat berbau.

"Apa maknanya, saya kira Allah hendak menunjukkan kekuasaannya," kata habib.

Karena nama besarnya dalam urusan evakuasi mayat, Laskar FPI juga kerap 
dimintai tolong untuk mengevakuasi mayat di daerah konflik. Di kawasan Lhok 
Nga, sekitar 20 kilometer dari Banda Aceh, FPI bahkan dihubungi langsung 
Panglima GAM wilayah itu untuk mengurus jenazah di sana. "Ada ratusan mayat 
yang sempat terbengkalai di daerah itu. Soalnya, GAM takut ditembak TNI kalau 
dia keluar untuk mengurus mayat, sementara TNI juga nggak mau ditembak GAM. 
Karena itu, FPI yang diminta turun," kata Ja'far Shodiq.

Kini FPI juga mulai menyentuh reruntuhan Pasar Atjeh, kawasan pertokoan tepat 
di belakang Masjid Baiturahman, Banda Aceh. Di kawasan yang terkenal karena ada 
rekaman video yang mengabadikan datangnya tsunami di kawasan itu, ratusan 
jenazah diperkirakan masih tertimbun tumpukan puing dan barang dagangan. Bau 
busuk menyengat begitu memasuki kawasan yang hanya berjarak 300 meter dari 
Meuligae (Pendapa) Nanggroe Aceh Darussalam, kompleks kantor gubernur NAD yang 
juga Posko

Satkorlak PBA NAD itu. "Dari jam 9 hingga dhuhur, sudah 48 mayat kita temukan.

Entah berapa lagi yang tersisa. Mayat seakan tidak ada habisnya," kata Habib 
Riqizk, menambahkan. Karena hanya tukang gedor fasilitas penyelamatan, FPI kini 
masih kesulitan mengangkut jenazah ke tempat pemakaman masal di daerah Lambaro, 
Aceh Besar. Mereka hanya mengandalkan angkutan milik TNI dan Dinas PU yang 
tidak seberapa banyak. Padahal,
sekitar 100 mayat per hari ditemukan laskar yang di Jakarta gemar menghunus 
pedang dan golok di kelab malam itu.

Lantas, apa rahasia sehingga dalam 23 hari hanya 6 orang anggota laskar yang 
pulang ke daerah masing-masing? "Kontrak kami ke Aceh adalah bebas pergi kapan 
saja tapi jangan harapkan uang saku untuk pulang. Kami ke sini tidak ada yang 
bayari, jadi tidak ada yang kami beri uang saku untuk pulang.

Kalau mereka bisa pulang sendiri silahkan. Akibatnya, hanya enam orang saja 
yang pulang," jelasnya.

Selain piawai mengumpulkan mayat, laskar FPI juga piawai mengambil hati orang 
Aceh. Laskar yang meliburkan operasi setiap hari Jumat untuk membersihkan 
masjid dan madrasah itu dikenal keras melindungi kesucian masjid. Mereka pernah 
membuat larangan bagi orang asing untuk masuk ke lingkungan Masjid Baiturrahman 
dengan alasan kawasan masjid haram bagi non muslim. Peraturan keras itu rupanya 
sangat didukung oleh rakyat Aceh. Tak heran, Laskar FPI justru menuai pujian di 
Banda Aceh. [jpnn]

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke