Salaam.

Sedikit tanggapan untuk bu Mimin. Maaf kalau dirasa dangkal mengingat
keterbatasan saya. Toh kita sama-sama lagi belajar ..

Setahu saya dakwah meliputi dua komponen: amar ma'ruf dan nahyi
munkar. Menyuruh ke arah kebaikan dan mencegah keburukan. Dua komponen
itu harus sama-sama diimplementasikan. Tidak boleh pincang mengabaikan
salah satu komponen. Rasulullah mengajarkan demikian. Memang kedua
komponen mengharuskan sikap santun dan menghargai, tapi harap diingat
bahwa komponen nahyi munkar lebih bernuansa 'perang'. Meski perang
tapi santun dan 'mengikuti prosedur' gitu loh ... :-). Ada riwayat
ketika seorang shahabat bersiap memenggal leher musuh, eh si musuh
malah meludahi shahabat tadi. Maka shahabat tadi justru meninggalkan
musuh, karena dia tidak ingin membunuh lawannya dalam keadaan
marah/didorong rasa marah karena diludahi ...

Kalau ada da'i atau organisasi dakwah yang mengkhususkan kegiatannya
pada salah satu komponen sejatinya kurang sempurna. Tapi kalau
'terpaksa' boleh saja, ASAL jangan sinis dan menjelekkan da'i lain
yang melakukan komponen dakwah lainnya. Contohnya: boleh saja
teman-teman Jama'ah Tabligh atau kelompok zikir berdakwah amar ma'ruf
secara persuasif dan 'damai', tapi jangan lantas kita memandang
sinis/menghujat kelompok dakwah lain yang menspesialisasikan (atau
lebih tepatnya secara proporsional) lebih ke arah nahyi munkar
memberantas kemaksiatan. Itu tidak adil dan salah mempersepsikan
dakwah.

Dalam konteks AKKBB dan Ahmadiyah, silakan saja ber-amar ma'ruf dan
mendoakan hidayah kepada mereka. Tapi harap diingat bahwa mereka
sejatinya sudah menabuh genderang perang. Jadi dalam hal ini saya
lebih sepakat pendekatan nahyi munkar, bukan amar ma'ruf lagi. Dan
medan perangnya bukan hanya di jalanan/lapangan Monas, tapi juga di
ranah media massa (pembentukan opini), di gedung parlemen, kantor
bupati, bahkan di istana presiden. Mari berperang sesuai medan kita.

Wallahu a'lam.
Wassalam,
--amin


Pada tanggal 12/06/08, Mimin Aminah <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
> Mohon maaf,
>
> Kadang saya bingung ya dengan sikap dan komentar teman-teman semua dalam
> menyikapi semua peristiwa baik itu kejadian Monas, JIL atau sebangsanya.
>
> Apakah komentar seperti ini memang diajarkan rosulullah? Sampai mendoakan
> orang lain meninggal ato apalah. Setau saya, Rosulullah saja tidak pernah
> mendoakan yang buruk pada orang lain. Beliau selalu mendoakan kebaikan dan
> hidayah bahkan kepada musuhnya sekalipun.
>
> Memangnya kalo jihad itu, kita boleh ya mendoakan keburukan buat orang lain?
> Karena orang itu kita anggap musuh Allah, seperti firaun misalnya?
>
> Mohon pencerahannya nih, saya orang awan yang dangkal pengetahuan islamnya.
> Bagaimana sih sebenarnya Jihad fi sabilillah yang diiajarkan Rosulullah?
>

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, 
Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia 
berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya Ya Allah, 
ampunilah ia.  Ya Allah sayangilah ia (Shahih Muslim no. 469) 

Kirim email ke