Penghasilan dan Rezeki

Oleh Muhammad Rizqon

Mul, pria berusia sekitar separuh baya tetangga saya, adalah seorang buruh
harian lepas. Kadang orang mengatakannya sebagai kerja serabutan, apa saja
dikerjakan. Memperbaiki rumah, kerja bangunan, bongkar muat barang, memperbaiki
peralatan rumah tangga, menjaga rumah yang sedang ditinggal penghuninya, dan
lain-lain. Karena sifatnya yang lepas (freelance) maka tidak setiap
hari ia bisa
bekerja. Ada kalanya libur atau menganggur, tergantung dari ada
tidaknya majikan
yang membutuhkan tenaganya. Imbasnya, penghasilan yang diperolehnya pun menjadi
tidak menentu dan sulit diprediksi besarannya.
Suatu ketika, ia mengalami kekosongan pekerjaan. Satu-dua minggu ia masih bisa
bersabar menunggu. Namun ketika pekerjaan yang diharap-harap tidak kunjung
datang, ia mulai resah. Sebenarnya bukan resah karena khawatir Allah tidak akan
memberikan rezeki kepadanya, ia resah karena pasti isterinya akan mengomel dan
mewanti-wanti dirinya agar lebih agresif dan responsif mencari pekerjaan baru,
jangan sekedar menunggu dan pasrah tanpa upaya maksimal. Padahal menurutnya, ia
sudah berupaya semampunya.
Ketika ia datang ke rumah, ia berinisiatif merapikan barang-barang yang ada di
gudang, atau membenahi sesuatu atau melakukan pekerjaan apa saja yang ia bisa.
Meski ia tidak meminta upah, dengan gelagatnya itu, saya menyadari bahwa
pastilah ia sedang terdesak dengan kebutuhan akan uang atau posisinya sedang
tersudut di depan isterinya. Maka kami pun memberikan uang ala kadarnya.
Terkadang ia terpaksa meminjam uang, yang mana ia akan melunasinya dengan
pekerjaan di kemudian hari.
Demikianlah kondisi ini berjalan silih berganti. Manakala isterinya
mengomel, ia
pun tergerak untuk mencari terobosan-terobosan baru. Seringkali,
datangnya pintu
rezeki itu berasal dari isterinya. Dari kerja ngurut, order membuat
makanan atau
kue, order mendistribusikan kupon zakat atau daging korban, atau jasa lain yang
bisa diberikannya. Namun tragisnya sang isteri menganggap bahwa semua
itu adalah
hasil upaya dirinya dan tidak ada sangkut paut dengan upaya dari suami.
Karena pemahaman seperti itulah yang sering memicu terjadinya percekcokan di
antara mereka hingga kini. Isteri menuduh suaminya sebagai pemalas, sementara
suami tidak merasakannya demikian.
***
Nafkah adalah masalah yang sering memicu keretakan rumah tangga, entah itu
masalah nafkah dhohir (uang belanja) atau nafkah bathin. Masalah
timbul manakala
seorang suami kurang dalam memberikan uang belanja kepada isterinya
atau seorang
isteri kurang dalam memberikan "service" kepada suaminya.
Masalah akan menjadi lebih kompleks jika sang suami yang "belum mampu"
memberikan nafkah yang cukup kepada sang isteri itu, tidak mampu pula
memberikan
kepuasan bathin kepadanya. Atau seorang isteri yang "belum mampu" memberikan
kepuasan bathin kepada suaminya, tidak mampu pula menjaga perasaan suami dengan
sikap-sikap yang menyenangkan (akhlak al-karimah) yang bisa menghibur dirinya.
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS 2:
286). Artinya, masalah kehidupan yang bisa memicu ketidakharmonisan
rumah tangga
itu sebenarnya bisa dicarikan solusinya. Solusi itu sangat bergantung pada
pemahaman pasangan akan esensi kehidupan rumah tangga yang seharusnya dibangun
di atas landasan ibadah dan pemahaman pasangan akan esensi penghasilan dan
rezeki yang menjadi motor kehidupan keluarga.
Rumah tangga yang ditegakkan atas dasar ibadah, maka aktivitas yang terkandung
di dalamnya adalah aktivitas kerjasama dalam membangun ketaatan kepada Allah
SWT. Berkait dengan ini, sangat menarik jika ungkapan yang dilontarkan oleh
Ustadz Hasan Al-Bana disimak sebagai bahan pelajaran. Ia mengatakan bahwa
Kehidupan rumah tangga adalah kehidupan "kerja" yang diwarnai oleh beban-beban
dan kewajiban-kewajiban. Kehidupan rumah tangga dilandasi oleh bukan semata
kesenangan dan romantika, melainkan tolong menolong dalam memikul beban
kehidupan.
Sedangkan pemahaman pasangan yang cukup atas esensi penghasilan dan
rezeki, akan
menjadikan mereka merasa cukup (qonaah) dengan rezeki yang diperolehnya dan
memandang bahwa penghasilan suami boleh jadi adalah rezeki sang isteri atau
sebaliknya. Besar atau kecilnya rezeki yang diperoleh bukanlah menjadi tujuan.
Yang terpenting adalah bagaimana mereka mengupayakan secara maksimal
rezeki yang
halal dan bertawakkal sepenuhnya kepada Allah atas rezeki yang diperolehnya.
Sikap inilah yang bisa melahirkan keberkahan dalam kehidupan rumah tangga dan
kemudahan dalam mengurai benang masalah yang muncul ke permukaan.
Dalam situasi krisis seperti sekarang ini, masalah keuangan rumah tangga sering
menjadi pemicu pertikaian (pergesekan) antara suami dan isteri. Tidak bisa
dipungkiri, yang sering panik dalam menghadapi masalah ini adalah sang isteri.
Bagaimana tidak panik, di depan mata terbayang beberapa pos belanja yang harus
dipenuhi yang masih belum jelas sumber pemenuhannya. Sebagai contoh, anak-anak
yang akan memasuki masa sekolah dan memerlukan uang yang lumayan besar,
kebutuhan untuk aneka cicilan, belanja bulanan, asupan bergizi bagi bayi,
barang-barang elektronik, transportasi, komunikasi, dan lain-lain.
Keluarga yang tidak memahami esensi penghasilan dan rezeki, dalam situasi
seperti itu akan mudah terjerembab dalam situasi kepanikan dan keputus-asaan.
Fenomena orang bekerja membanting tulang hanya mendapatkan penghasilan yang
minimal, sementara ada orang yang bekerja santai mendapatkan hasil yang cukup
besar, jika dilihat dari kacamata yang salah, maka akan menghilangkan rasa
syukur akan nikmat penghasilan yang Allah berikan dan hanya akan
melahirkan rasa
gundah di dalam jiwa.
Hendaknya disadari bahwa penghasilan itu tidaklah sama dengan rezeki.
Orang yang
mendapat penghasilan besar belum tentu besar pula rezekinya. Bisa jadi rezeki
itu pada akhirnya akan jatuh ke tangan orang lain. Namun orang yang mendapat
penghasilan kecil belum tentu kecil pula rezekinya. Bisa jadi rezeki itu
memberikan manfaat lebih besar bagi dirinya, dan sesungguhnya pintu rezeki itu
banyak, tidak sekedar dari penghasilan yang diperolehnya. Dan salah satu hal
yang sering dilupakan manusia bahwa keimanan adalah sebentuk rezeki. Bahkan
boleh jadi rezeki keimanan ini memiliki nilai yang jauh lebih besar dari
penghasilan yang diterimanya.
Kejadian yang menimpa Bapak Mul dan isterinya, di mana mereka selalu dirundung
potensi percekcokan, memberikan pelajaran berharga bagi saya akan pentingnya
pemahaman yang benar akan esensi kehidupan rumah tangga yang harus dilandasi
oleh ruh ibadah dan kerja sama. Dengan ruh inilah bisa dirasakan bahwa
penghasilan atau rezeki yang diperoleh oleh keluarga adalah hasil dari
kerjasama, bukan semata kerja masing-masing individu belaka.
Waallhua'lamu bishshawaab.
[EMAIL PROTECTED]

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, 
Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia 
berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya Ya Allah, 
ampunilah ia.  Ya Allah sayangilah ia (Shahih Muslim no. 469) 

Kirim email ke